
Maaf. Sebuah kata yang terdengar simpel. Tapi butuh hati yang besar untuk bisa memaafkan ataupun meminta maaf. Karena sejatinya, meminta maaf itu, untuk sebagian orang, melukai harga dirinya. Sedangkan memaafkan, butuh kelapangan hati, dan tak semua orang mempunyai itu. Begitupun dengan Nara. Dia belum bisa untuk memaafkan Arumi, terlebih lagi Abi. Kedua nama itu, sudah terpatri dalam hati Nara sebagai pengkhianat.
"Gue gak bisa Nov. Bagi gue, yang mereka lakukan ke gue itu udah sangat keterlaluan. Udah gak termaafkan. Gue bukan orang yang memiliki kelapangan hati untuk melakukan itu. Gue gak bisa." Jawab Nara sambil menatap langit langit kamar.
"Gue ngerti kok. Semua itu balik ke elo lagi Ra. Sebagai sahabat, gue hanya ingin yang terbaik buat kalian. Karena jujur, gue berada diposisi yang sulit Ra. Kalian berdua sahabat gue. Dan sebenarnya, gue lebih memihak ke elo. Tapi saat Arumi datang sambil nangis nangis, gue gak bisa mengabaikan itu. Maafin gue ya Ra." Ujar Nova sambil menggenggam tangan Nara.
"Gue ngerti kok Nov. Yang bermasalah, gue sama Arumi. Dan lo gak perlu ikut ikutan musuhin Arumi."
"Sekali lagi, maafin gue ya Ra. Gue hanya gak tega sama Arumi. Rumi gak punya siapa siapa. Saat dia butuh gue, gue gak tega buat nolak. Amel juga gak ada, dia udah betah diluar negeri dan ogah pulang." Nova memang tak memihak pada Arumi. Tapi saat wanita itu datang sambil nangis nangis, mencurahkan sakit hatinya karena suami dan mertua. Sudah pasti Nova tak tega mengabaikan.
Obrolan mereka terhenti saat ponsel Nara berdering. Dan betapa senangnya Nara, saat tahu jika yang menelepon adalah Septian.
"Assalamualaikum Abang." Jawab Nara sambil tersenyum.
"___"
"Lagi dirumah Nova. Udah gak sama Abi kok. Cemburu ya???" Goda Nara.
"Siapa, suami lo?" Tanya Nova kepo. "Atau jangan jangan lo ngibulin gue. Kayak lo ngibulin Abi tadi." Ledek Nova sambil menyebikkan bibir.
Nara menelan tombol loudspeaker agar Nova percaya.
"Ra, kamu masih disanakan?" Terdengar suara Septian.
"Iya bang. Ini aku loudspeaker, Nova gak percaya kalau yang nelfon abang." Jawab Nara.
Terdengar suara gelak tawa Septian diseberang sana.
"Eh abang, video call dong." Nova ikut bicara. Dia penasaran banget dengan wajah suami Nara.
"Apaan lo manggil suami gue abang." Salak Nara sambil melotot.
"Gue gak tahu namanya Ra. Dih, galak banget sih jadi istri." Cibir Nova.
"Mau video call nih?" Tanya Septian.
"Enggak, enggak, gak usah bang. Entar si Nova naksir lagi sama abang. Udah dulu ya bang. I Love you, emmmuucchhh."
"Love you too."
tut tut tut....
"Uweekk." Nova terasa mau muntah mendengar nya.
Sedangkan Nara, dia hanya terkekeh saja melihat tanggapan Nova.
"Lebay lo Ra. Gak malu lo bilang I Love you duluan?"
__ADS_1
"Ngapain malu, orang sama suami gue, wekk." Cibir Nara sambil menjulurkan lidahnya.
"Lo yakin cinta sama suami lo?" Tanya Nova ragu ragu.
"Yakin lah."
"Lo gak lagi dipelet kan Ra?"
"Dih, dipelet kata lo. Lo sekata kata sama gue Nov. Dulu lo bilang gue depresi, sekarang gue dipelet. Lo yang gila kayaknya, karena kelamaan jomblo sih." Ejek Nara.
Nova membuang nafas kasar sambil memasang wajah melas. Benar juga kata Nara, dia kelamaan jomblo, sampai lupa gimana rasanya pegangan tangan sama cowok.
"Eh Ra, cowok yang waktu itu dimall, deketin sama gue dong."
"Siapa? Diego?"
Nova mengangguk dan Nara segera menggeleng.
"Jangan, dia itu play boy. Ceweknya dimana mana. Istilahlahnya apa itu????" Nara mengingat ingat.
"Casanova?" tebak Nova.
"Yups, bener banget."
"Wajarlah di kayak Gitu, orang cakep banget, tajir lagi. Yang tak wajar itu, udah jelek, miskin, playboy, tak tahu diri."
...*******...
Nara sibuk memilih baju. Dia dibuat bingung soal baju hanya karena mau ke coffe shop untuk bertemu Septian. Dia sengaja tak bilang karena ingin memberikan kejutan. Dan dia ingin penampilannya perfect malam ini.
Setelah berganti baju untuk kesekian kalinya. Akhirnya, dia mantap memilih gaun off shoulder warna tosca yang panjanganya sedikit diatas lutut.
Dia mengcurli rambutnya agar tampak beda dari biasa. Memberikan sentuhan Make up natural ala ala korea. Setelah merasa penampilannya sempurna. Dia meraih sling bag diatas ranjang lalu turun kebawah untuk berpamitan pada orang tuanya.
"Anak mama cantik banget. Kalau dandan kayak gini, pasti dikira mahasiswa. Atau mungkin, malah dikira anak SMA." Goda mama Tiur sambil memperhatikan penampilan Nara.
"Ish, mama bisa aja deh." Nara tersipu malu.
"Mau kemana kamu?" Tanya papa satrio.
"Ke coffee shop pah. Abang hari ini kerja 2 shift. Jadi mau Nara samperin." Jawab Nara.
"Tapi ini udah jam 8 malam loh Ra. Kamu bawa mobil sendiri? Apa papa anterin aja?" Tawar papa Satrio.
"Baru jam 8 Pah. Nara berangkat sendiri aja. Ntar pulangnya sama abang. Biar motor abang ditinggal dicafe aja." Jawab Nara.
"Ya udah, kalau gitu hati hati, gak usah ngebut." Pesan papa Satrio.
__ADS_1
"Siap Pah."
Setelah mencium takzim tangan kedua orang tuanya. Nara segera meluncur menuju coffee shop tempat Septian kerja. Sesampainya disana, Nara menyempatkan touch up dulu sebelum masuk.
Hampir semua mata, terutama kaum adam terpusat pada seorang wanita yang baru memasuki coffee shop. Siapa lagi kalau bukan Nara. Dengan dress off shoulder yang sedikit diatas lutut. Rambut curli bagian bawah, dan make up flawless. Pesonanya mampu membius para pria. Tapi dia sama sekali tak melirik pria pria disana. Pandangannya hanya tertuju pada seorang pria yang tampak sibuk didepan coffee maker.
Nara ingin mencari meja terdekat dengan barista. Tapi sayangnya, udah penuh semua. Membuat dia terpaksa duduk dimeja yang berada ditengah. Hari ini ada live band, jadi lumayan ramai.
"Busyet... cantik banget." Celetuk Firman yang berdiri didekat meja bar. Sedang menunggu Septian membuatkan kopi untuk pelanggan.
Disebelah lain, tampak Kevin dan Tyo berebut untuk menarik order dimeja Nara. Pekerja shift ini memang tak tahu kalau Nara istri Septian. Shift yang kerja tadi pagi yang waktu itu sudah kenalan dengan Nara.
"Fir, Firman." Septian menepuk pundak Firman. "Ngeliatin apa sih lo, sampai cengo kayak Gitu? Nih anterin pesenan dulu."
"Bidadari Sep, gue lagi ngeliatin bidadari. Langit lagi bocor kali ya Sep. Sampai Sampai, tuh bidadari jatuh kebumi. Berasa jadi jaka tarub gue." Jawab Firman dengan mata yang masih menatap kearah Nara.
Septian terkekeh mendengarnya. "Jaka tarub pala lo peyang. Jaka tarub disungai, bukan di cafe." Ledeknya sambil menoyor kepala Firman biar tak error.
"Sama aja, yang pentingkan ngeliat bidadari."
"Mana sih, pengen lihat juga gue?"
Seketika mata Septian melotot saat melihat siapa yang ditunjuk Firman. Nara, wanita itu adalah Nara. Sejak kapan dia ada disini. Dan sekarang, wanita itu tampak sedang dikerumui oleh Kevin dan Tyo.
Septian menggaruk garuk tengkuknya. Sejak kapan narik order disatu meja aja harus dua orang? Dan tunggu, Nara, kenapa malam ini dia tampak begitu cantik, dan satu lagi, sedikit seksi. Bikin Septian seketika kalang kabut.
Septian hendak menghampiri Nara, tapi Kiki lebih dulu memanggilnya.
"Sep, espresso 1, latte 1."
Karena sedang ada manager yang mengawasi, terpaksa Septian menunda keinginan menemui Nara. Dia segera membuatkan pesanan agar bisa cepat cepat mendatangai meja Nara.
"Latte art 1 Sep. Kasih yang spesial ya, buat cewek bening nih." Ujar Tyo.
Septian tahu siapa yang dimaksud. Karena tadi, Tyo dan Kevin yang narik order dimeja Nara.
"Eh, Entar gue yang nganterin." Ucap Kevin.
"Enak aja, gue yang nganter." Salak Tyo.
Kedua cowok itu berantem rebutan nganterin pesanan Nara. Bikin Septian makin panas aja.
"Gue yang nganter." Sela Septian.
"Enak aja main serobot kerjaan gue." Protes Tyo dan Kevin hampir barengan.
Sedang dimeja Nara, tampak seorang laki laki tiba tiba duduk didepannya.
__ADS_1