Ditalak Sebelum 24 Jam

Ditalak Sebelum 24 Jam
SUAMI LUAR BIASA


__ADS_3

Nara mulai gelisah saat Septian kembali membahas hal kemarin. Apalagi wajah pria itu tampak serius. Padahal dia pikir, masalah itu udah selesai. Tapi kenapa malah dibahas lagi.


Septian bukan tak tahu jika Nara tampak gelisah. Tapi dia mencoba tenang. Berharap istrinya itu berkata jujur kali ini


"Aku kan udah bilang sama Nova." Jawab Nara berusaha menyakinkan. Toh memang dia perginya sama Nova.


"Yakin cuma sama Nova? gak sama cowok?"


Deg


Jantung Nara terasa merosot keperut mendengar pertanyaan Septian. Dia mengatur nafasnya, berusaha untuk tetap bersikap tenang.


"Abang apaan sih, nanyanya kok gitu? Cowok, cowok siapa?" Jawab Nara sambil tersenyum absurd, pura pura tak paham.


"Kok nanya abang? Bukankah kamu lebih tahu dengan cowok mana kamu pergi kemarin." Septian masih berusaha untuk mengontrol emosi. Walaupun jujur, rasanya ingin meledak.


Nara makin gelisah. Dia menunduk sambil meremas roknya dan menggigit bibir bawahnya.


"Jujur sama abang Ra." Septian memegang kedua bahu Nara. "Jangan bikin abang mikir yang macem macem."


Nara langsung mendongak mendengar ucapan Septian.


"Jadi, abang mikir aku macem macem?" Mata Nara mulai berkaca kaca. Dadanya mulai sesak. Rasanya tak terima jika dia dituduh macem mecem. Dan beberapa detik kemudian, cairan bening mulai jatuh dari sudut matanya. Wanita itu menangis. Dan hal itu, adalah kelemahan Septian.


Septian menghela nafas lalu duduk disebelah Nara. Dia meraih bahu Nara dan membuat wanita itu menghadap kearahnya.


"Abang gak suka lihat kamu nangis." Tangannya bergerak menghapus air mata yang membasahai pipi Nara. "Ya udah, gak usah dibahas lagi. Abang pergi kerja dulu." Daripada tak bisa menahan emosi. Jadi lebih baik, dia pergi saja.


Septian beranjak lalu berjalan menuju meja belajar untuk merapikan buku bukunya. Dibahas juga gak ada gunanya. Toh Nara tak mau jujur.


Tiba tiba sepasang lengan memeluknya dari belakang. Nara menyandarkan kepalanya dipunggung Septian sambil menangis.


Septian perlahan lahan menguraikan pelukan Nara. Membalikkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Nara.


"Abang berusaha untuk selalu berfikir positif. Tapi saat melihat foto kamu dan Diego di sebuah toko laptop. Abang mulai menerka nerka Ra. Pikiran abang mulai kacau. Ditambah lagi parfum pria yang menempel dibaju kamu."


"Foto? foto apa bang?" Nara kaget mendengar perihal foto. Dia sama sekali tak tahu apa apa soal itu.


"Yakin kamu tak tahu? gak lagi bohongin abang lagi kan?"


Nara menggeleng cepat.


"Foto yang di unggah Diego di instastorynya. Foto dia dan kamu yang duduk bersebelahan di toko laptop."


Nara mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bisa bisanya dia tak tahu jika Diego mengambil foto mereka. Bahkan sampai di unggah di Instastory.


"Udah ketahuan kayak gini, kamu masih gak mau jujur sama abang?"

__ADS_1


Nara menundukan wajahnya. Dia malu untuk menatap Septian yang jelas jelas sudah tahu tentang kebohongannya.


"Maaf bang, maaf. Tapi aku berani sumpah. Aku gak ada niatan pergi dengan Diego. Kita cuma gak sengaja ketemu dimall. Terus dia nawarin nganter aku dan Nova ke toko laptop yang bagus. Aku udah nolak, tapi Nova malah ngeiyain." Nara menjelaskan sambil menangis sesenggukan.


Septian mengangkat wajah Nara lalu menghapus air mata yang kian deras mengalir melalui sudut matanya.


"Kalau masalah bau parfum dibaju aku. Diego nolongin aku saat mau jatuh di lift. Awalnya dia cuma nahan tubuh aku yang mau jatuh. Tapi karena terdesak orang yang mau keluar. Dia jadinya meluk aku. Tapi aku langsung dorong dia. Aku gak diem aja bang. Semua itu hanya kecelakaan. Percaya sama aku bang." Nara mendongak untuk menatap wajah Septian.


"Terus, kenapa bohong?"


"Aku....aku takut abang marah kalau tahu aku dipeluk cowok lain. Sumpah semua hanya kecelakaan."


"Abang kecewa Ra sama kamu. Pernikahan kita baru dimulai. Tapi kamu udah memulainya dengan kebohongan."


"Maaf. Aku salah, aku udah ngecewain abang."


Septian memeluk tubuh Nara yang bergetar karena tangis. Dia juga membelai kepala Nara dan sesekali menciumnya.


"Aku juga gak pengen dipeluk dia. Aku cuma mau dipeluk abang. Dipeluk seperti ini sama abang." Nara kian mempererat pelukannya.


"Yakin gak cuma mau dipeluk abang? Diego cakep loh." Septian malah menggoda Nara.


"Gak lucu." Gumam Nara ditengah isakannya.


"Tapi benerkan, dia keren, banget malahan. Abang mah apa, gak ada apa apanya dibanding dia."


"Udah jangan nangis, jelek banget." Septian menyeka air mata yang membasahi kedua pipi Nara.


"Abang udah gak marah?" Tanya Nara.


"Kenapa abang harus marah? Bukankah hanya kebetulan bertemu. Dan pelukan itu, juga cuma kecelakaan kan?"


Nara mengangguk.


"Tapi jangan diulangi lagi. Abang gak suka dibohongi. Rumah tangga itu harus didasari dengan kepercayaan. Jadi tolong, jangan bikin abang tak bisa lagi percaya sama kamu." Pintanya sambil menatap wajah sembab Nara.


Lagi lagi Nara mengangguk.


"Aku janji gak bakal bohong lagi."


"Harusnya, diperjanjian pranikah kita dulu. Ditambah satu poin lagi. Yaitu harus terbuka, gak boleh membohongi pasangan. Dan harusnya, ada hukuman buat yang udah bohong."


Nara mengerutkan keningnya.


"Jadi abang pengen menghukum aku maksudnya?"


"Yes, of course. kenapa tidak?"

__ADS_1


"Ih, abang tega. Aku itu lagi hamil. Anak kamu loh bang ini." Seru Nara sambil mengusap perutnya. "Masak mau dihukum." Protes Nara sambil mengerucutkan bibir.


"Dihukum dikerjain sepuluh ronde." Bisik Septian di telinga Nara. Takut kedengaran readers soalnya. Entar malah minta nobar, wkwkwk.


"Abang." Nara melotot sambil mencubit pinggang Septian.


"Kenapa melotot? abang salah ngomong? Astaga." Septian menepuk jidatnya sendiri. "Itu sih namanya bukan hukuman, iya gak? Tapi malah anugerah buat kamunya." Lanjut Septian sambil ngakak.


"Teroosss.... teross... terus aja ngetawain aku." Salak Nara sambil berkacak pinggang. "Gak aku kasih jatah baru nangis nangis kamu entar."


"Bwa... ha hahaha.. " Tawa Septian pecah seketika. "Yakin abang yang nangis. Bukan kamu yang nangis?" Godanya sambil menoel dagu Nara.


"Abang Ih... " Nara kembali mencubit pinggang Septian. "Sumpah, nanti malam gak ada jatah buat kamu." Tekannya sambil melotot.


"Gak papa sih entar malam gak dapat jatah. Tapi sore ini dapat jatah kan?" Septian langsung meringsek maju. Membenamkan wajahnya diceruk leher Nara sambil memberikan kecupan basah disana.


"Bang.... geli... " Lirih Nara sambil memejamkan mata menikmati rasa geli campur nikmat itu.


Tangan Septian mulai bergerilya menelusup kedalam blouse yang dipakai Nara. Mer mas dua buah gundukan kenyal yang begitu dia sukai. Membuat Nara tak bisa menahan lenguhannya.


Septian benar benar sudah hafal diluar kepala titik titik kelemahan istrinya. Sentuhannya sungguh bisa melambungkan Nara.


Ciuman yang awalnya dileher beralih naik kebibir. Mulai menjelajah bagian itu. Saling mengecap, mengulum, menghisap dan membelai lidah.


Tapi kenikmatan itu mendadak berhenti karena Nara mendorong dadanya. Membuat ciuman mereka terlepas tapi tidak dengan tangannya yang masih bertengger ditempat tadi.


"Udah hampir jam 5 bang."


"Sial." Septian segera melepaskan benda kenyal kesukaananya itu lalu meraih tasnya.


"Ra, tolong beresin buku buku abang ya." Titahnya sambil mengecup kening Nara lalu segera berangkat bekerja. Dia bahkan tak sempat mandi dulu.


"Gak usah nungguin abang pulang Ra." Teriaknya sebelum menutup kembali pintu kamar.


Nara tersenyum sambil geleng geleng. Dia benar benar merasa beruntung memiliki suami luar biasa seperti Septian. Disaat ada fotonya bersama pria lain. Suaminya itu masih bisa bertanya dengan halus tanpa bentakan apalagi ayunan tangan.


Mungkin, Septian bukanlah orang yang diharapkan hadir dalam hidupnya. Tapi nyatanya, Septian mampu menjungkir balikkan hatinya.


Nara mendekati meja belajar lalu membereskan buku buku serta mematikan laptop. Tapi tiba tiba, terbesit sebuah keinginan. Keinginan memberikan kado istimewa untuk suaminya.


Nara lalu mengambil ponsel dan mencari sesuatu di market place. Dia senyum senyum sendiri sambil memilih, yang mana yang kiranya cocok.


.


**UDAH UP 2 NIH. JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE SAMA HADIAHNYA.


SALAM CINTA DARI ASEP DAN NARA**

__ADS_1


__ADS_2