
Saat ini mereka tengah merayakan ulang tahun bersama di sebuah restoran , Ibu mereka kini kembali seperti semula tidak ada yang berubah bahkan saat usia Thomas dan Thitan beranjak 8 tahun kejadian kemarin sudah ia lupakan walaupun tak sepenuhnya terlupakan untuk mereka .
Tina memberikan hadiah yang sama untuk kedua anaknya tanpa membeda-bedakannya , Thitan menatap tangan Thomas yang terluka dan menyentuh tangan Thomas seraya menatap nya .
" Thom terluka ?? " tanya Thitan kala itu memecahkan kesunyian
Tina yang melihat itu pun hanya tersenyum hangat saat melihat Thitan yang benar-benar menyayangi saudaranya .
" Hanya luka kecil " sahut Thomas pelan
" Apa Ayah yang melukai Thom ?? " Tanya Thitan namun Thomas hanya tersenyum biasa
Thomas menatap Thitan sambil tersenyum . walaupun bibirnya tersenyum pikiran nya terus memikirkan wajah datar Thitan yang membuat Thomas takut dan khawatir .
Luka itu memang Thomas dapatkan dari sang Ayah , itu memang bukan luka besar hanya memar karena pukulan . saat itu Thomas mengatakan pada pihak sekolah untuk menghubungi Ayahnya saja karena Ibunya sedang bekerja kala itu . Pria yang berstatus ayah Thomas dan Thitan pun marah besar setelah mengetahui bahwa Thomas berkelahi di sekolah , ia pun memukul tangan Thomas dengan keras hingga menimbulkan memar di tangannya .
" Apa Thitan perlu melukai Ayah juga ?? " Tanyanya dengan suara sangat pelan mungkin seperti gumaman karena Thomas segera berlari untuk menyambut Ayahnya yang saat itu sudah datang .
Namun seketika senyum Thomas yang lebar menghilang dan digantikan dengan wajah murung hingga membuat Thitan menatap kearah Ayahnya dan mencari tau hal apa yang membuat wajah bahagia Thomas berubah
Ternyata sang ayah tidak datang sendiri saat itu beliau datang dengan istri dan juga anak perempuan nya . Dan yang lebih menyakitkan lagi sang ayah memperkenalkan dirinya sebagai teman dekat dari ibu Thitan dan Thomas .
__ADS_1
" Ayah tidak boleh menyakiti Thomas " ucap Thitan dengan suara pelan seraya menusuk daging steak nya dengan kuat menggunakan garpunya
" Thitan sangat tampan " ucap Bibi Lily istri pertama ayahnya
" Thitan tampan karena Thomas juga tampan " ucap Thitan datar dan dingin
Mereka pun tersenyum lucu atas ucapan Thitan tanpa tau Thitan yang tengah berfikir banyak hal terutama mengenai Pria yang membuat saudara kembarnya menunduk sedih dan terluka.
" Apapun yang menganggu Thomas harus dimusnahkan " Batin Thitan sambil meminum air putih miliknya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang itu Thitan tengah duduk di ruang tamu seorang diri sedangkan Thomas , anak itu tengah tidur siang dikamar milik mereka . Saat tengah menatap datar layar televisi tiba-tiba suara bel berbunyi hingga membuat Thitan bangkit dan menuju pintu depan .
Thitan hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan sang ayan , Liam sang ayah pun mengangguk paham dan masuk kedalam rumah tersebut .
Liam mendudukan dirinya di sofa senyaman mungkin tanpa Liam sadari Thitan beranjak dari posisinya dan berjalan menuju dapur .
" Ayah " panggil Thitan saat sudah berada didepan Liam
Liam membuka matanya untuk melihat kearah sang anak yang telah memanggilnya namun suaranya hanya bertahan diujung tenggorokan bersamaan dengan pisau yang menancap tepat pada jantung Liam .
__ADS_1
Thitan menarik pisaunya keluar membuat Liam meringis kesakitan lalu kembali ia tancapkan lagi secara berulang hingga akhirnya teriakan Thomas menghentikan perbuatan Thitan.
Thomas berlari kearah mereka berdua dan memeluk Ayahnya yang sudah tak bernyawa Thomas berteriak memohon pada sang ayah untuk sadar bahkan Thomas sampai mendekatkan wajahnya pada jantung Liam yang saat itu sudah tidak berdetak lagi .
Darah segar yang tertinggal pada baju dan wajahnya Thomas tak lagi ia hiraukan seketika Thomas meraih pisau yang tertangkap di dada sang ayah dan semua berubah.
Kejadian itu membuat sosok Thomas yang hangat menghilang . Ia harus masuk penjara di usianya yang sangat kecil dan ia harus merasa tidak dipercayai lagi oleh Ibumu sendiri , hal tersebut membuat Kepribadian Thomas berubah kini tidak ada senyuman di wajah tampan nya saat itu yang ada hanyalah kehampaan dan rasa sakit yang sangat kentara .
Thomas bahkan tidak marah saat orang-orang disekitarnya menyebut dirinya sebagai pembunuh , yang saat itu Thomas butuhkan adalah tumpuan untuk bersandar ia namun Thomas tidak menemuka tumpahan tersebut .
Ibu yang Thomas anggap sangat luar biasa malah menatapnya dengan tatapan takut dan jijik , Ibu yang Thomas kasihi tidak menyayanginya bahkan dia diabaikan di sana , Ibu yang harusnya mempercayai apapun kata anaknya justru menyerangnya dengan kalimat yang meruntuhkan sisi kuat dirinya bahkan Ibunya yang justru menjadi orang nomor satu yang mengatainya sebagai pembunuh menjijikan .
Thomas yang berusia 13 tahun sudah tidak memiliki apapun lagi yang dapat menjadi harapan nya sekedar untuk hidup dan menata kembali hidupnya yang hancur . Bahkan semuanya hancur tanpa sisa tidak ada kepercayaan , tidak ada kasih sayang , yang ia terima hanyalah pengucilan dan penghinaan tidak berdasar yang membuat Thomas merasa semakin hancur dan terpuruk .
Thomas berjalan dengan pisau yang ia sembunyikan di jaket miliknya . Thomas berjalan kerumah yang sudah 5 tahun tidak ia tempati , tidak sulit bagi Thomas untuk menghancurkan gembok yang berada pada pintu dapur ia juga tidak sulit untuk mendobrak pintu kayu yang memang sudah lapuk .
Thomas masuk kedalam rumahnya dan berjalan menuju kamar saudara kembarnya , saat Thomas membuka pintu kamar milik mereka dulu ia tidak menemukan apapun hanya kamar kosong yang dipenuhi barang-barang tidak terpakai , Thomas menaiki anak tangga menuju kamar selanjutnya dan membuka pintu yang tidak terkunci dan akhirnya ia menemukan Thitan yang kini tengah menatap dirinya saat pintu terbuka .
" Thom " ucap Thitan
Thitan berdiri dari posisinya dan berjalan kearah Thomas yang hanya diam menatap datar sosok pembunuh sesungguhnya .
__ADS_1
" Jangan bermain dengan barang tajam itu bisa melukaimu , Thom " ucap Thitan seraya melirik pisau yang adadi tangan Thomas
Thomas tertawa geli lalu mendorong Thitan hingga tubuh saudaranya terjatuh kelantai dan Thomas menekankan kakinya pada saluran pernafasan Thitan hingga membuat Thitan kesulitan bernafas .