
Menangis . itulah yang aku lakukan saat ini , rasa sakit dalam dadaku semakin membuat air mata ku terus terjatuh .
Aku menutup mataku menggunakan kedua telapak tangan ku yang terbuka , aku menangis dengan isakan yang semakin lama semakin pelan .
Setelah meninggalkan Thomas aku langsung berlari menuju kamar jaga milik mahasiswa magang seperti ku .
Ayah..
Ibu..
Aku semakin terisak saat gumaman bibirku tanpa sadar menyebutkan dua orang yang paling berharga untukku .
" Kau hanya Dokter bedah Ellen . tidak , lebih tepatnya calon Dokter bedah " ucap seseorang tepat di sisi kanan ku
Aku hanya mengabaikan suara itu dan memilih untuk menghentikan isak tangis memalukan yang aku keluar kan .
" Kenapa air mata ini tidak berhenti " ucapku dengan Isak tangis sambil mengelap sisa-sisa cairan pada kedua pipi ku hanya saja itu semua sia-sia , semakin aku ingin menghilangkan jejak air mata ku semakin deras pula air mata itu mengalir di kedua pipi ku .
" Aku mendengar pembicaraan kalian , pembicaraan mu dengan Dokter Charles . Aku tidak sengaja mendengarkan nya saat aku ingin memberikan laporan pasien padanya " ucapnya lagi
Aku menghentikan kegiatanku dan menatap orang yang berada di samping ku , orang itu adalah Gina teman magang ku .
" Benar yang di katakan oleh Dokter Charles , kau hanya Dokter bedah tidak lebih , kau bahkan belum mendapatkan predikat itu Hellen . untuk menyembuhkan seseorang dengan kelainan psikis harus mengumpulkan banyak team , termasuk psikiater . kau bukan Dokter yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan pasien dengan kelainan mental seperti itu " jelas Gina panjang lebar
Gina yang semula menatap lurus ke arah depan kini menolehkan kepalanya kearah ku dan menatapku saat aku hendak menangapi ucapannya , Gina kembali menyelanya dan melanjutkan kembali ucapan nya .
" Kita memerlukan hasil scan otak pada pasien dan lagi mereka harus melewati serangkaian test lainnya Ell . Sekalipun kau seorang Dokter , kau tidak bisa seenaknya karna itu bukan area mu . Kau hanya calon Dokter bedah yang tidak bisa terlibat pada kasus seperti itu , aku berbicara seperti ini untuk membuka pikiran konyol mu itu . Tugas kita hanya mengoperasi , membelah dan menjahitnya kembali , hanya itu " Sambungnya datar seolah tengah memarahi ku
Aku kembali memejamkan mataku dan membuka nya saat di rasa diriku sudah mulai tenang seperti sebelumnya .
" Bukankah tugas seorang Dokter untuk menyembuhkan pasien ?? , Lalu apa alasanmu untuk menjadi Dokter Gina ?? " Tanyaku datar
" Gina , Aku memiliki impian untuk menyembuhkan semua orang yang berada disekitar ku , tidak perduli dia orang yang sangat aku benci sekalipun aku tetap ingin menyelamatkan hidup seseorang dengan kedua tanganku " Ucapku lagi
__ADS_1
Beberapa saat hanya keheningan yang menyelimuti ruangan tersebut hingga akhirnya aku pun bangkit dari dudukku dan meninggalkan Gina yang hanya diam tak bersuara sama sekali .
Aku terus berjalan sampai akhirnya aku tiba di teras rumah sakit . kulihat langit-langit yang kini sudah mendung , dengan langkah pelan aku berjalan hingga aku benar-benar menjauh dari rumah sakit itu . aku pun kemudian berhenti di halte bus namun aku hanya duduk terdiam di kursi halte bus tersebut .
" Seberapa banyak kau mencampuri kehidupan ku , Thomas "
Pikiran itu tidak pernah menghilang dari kepalaku serasa terus terus berputar di dalam pikiran ku . Seharusnya aku bisa mengendalikan diriku tadi , seharusnya aku tidak mengatainya pembunuh , aku sama saja seperti hakim yang menghakimi terdakwanya pikirku .
Aku hanya terdiam menatapi jalanan yang dipenuhi sesak kendaraan yang berlalu lalang , aku sedikit teringat tentang kejadian masa lampau hingga tanpa sadar aku kembali meneteskan air mataku .
Flashback...
" Ayah , kenapa ada orang yang membunuh ?? " Tanyaku polos
Kala itu aku sedang menonton televisi yang menyiarkan kasus pembunuhan satu anggota keluarga penuh . Ayah yang sedang menonton pun menatapku lalu tersenyum lembut saat mendengar pertanyaan ku .
" Karena mereka sendirian " ucap Ayah menjawab pertanyaan ku
Tak berapa lama Ibu datang dengan cookies yang baru keluar dari oven dan segelas coklat panas , Ibu mengambil tempat di sebelah Ayah sementara aku duduk di bawah tepat kaki Ayahku .
" Semua hal di dunia ini bisa dimaafkan Hellen , Banyak hal dan alasan yang menyebabkan mereka membunuh . salah satunya lingkungan dan kesepian " ucap ayahku menjelaskan
" Apa yang sedang kalian bicarakan , hm " tanya ibuku yang mulai penasaran dengan obrolan kami
Aku pum menjawab pertanyaan Ibu dan langsung menanyakan sesuatu padanya.
" Ibu , kenapa ada orang yang membunuh ?? , Dan Kenapa mereka melakukan itu ?? " Tanyaku yang mengulangi ucapan ku pada ibu
Ibu pun tersenyum hangat sambil mengusap lembut kepalaku dengan sayang.
" Apapun yang menjadi alasan mereka , itu memang hal yang salah . Tapi pernahkan Hellen berfikir tentang Pelampiasan ? " Tanya nya sambil menatap ku namun aku menggeleng tanda aku tidak pernah berpikir seperti itu,
" Bagaimanapun mereka salah Ibu , bukankah mereka memang pantas di jatuhkan eksekusi mati " ucapku sambil mulai memakan Cookies yang dibuat Ibuku
__ADS_1
" Tidak ada yang pantas untuk menentukan kehidupan seseorang dengan eksekusi mati . Mereka butuh kehidupan yang layak dan tentu saja mereka juga perlu di bimbing , Mereka –pembunuh- namun tidak akan suka di katai pembunuh oleh orang -orang terdekatnya " ucap Ibu panjang lebar
Aku menoleh kan kepalaku pada Ibu lalu menelan kunyahan pada mulutku dan menelan hingga habis .
" Kenapa begitu ? , bukankah Itu memang kenyataan bahwa dia seorang pembunuh ?? " Tanyaku bingung
" Karna itu akan menambah merusak mental mereka . Seorang pembunuh pun masih tetap ingin di akui , bukan di akui karena ulah nya . Mereka hanya ingin sembuh namun tidak tau bagaimana cara nya . Mereka memiliki sisi baik dan hal itu yang membuat mereka menangis dan hancur saat orang terdekat mengatainya sebagai pembunuh " Jelas Ibu padaku
Aku hanya terdiam seolah berpikir namun aku mengerti tentang itu semua .
" Jadi Hellen , apa kau sudah menentukan ingin menjadi apa , hm ? " Tanya ayah membuyarkan lamunanku
Pertanyaan ayah membuat aku merubah pikiran ku , saat pikiran yang semula berpusat pada penjelasan Ibu kini berpusat pada pertanyaan Ayah , aku berpikir sejenak lalu tersenyum cerah kearah kedua orang tua ku.
" Dokter , Aku ingin menjadi Dokter " ucap ku sambil tersenyum senang
" Wow , impian yang sangat luar bisa . Kenapa kau ingin menjadi dokter , nak ? " Tanya Ayah sembari mengusap pucuk kepalaku dengan sayang
" Karena Aku ingin , aku tidak memiliki alasan Ayah " ucapku polos hingga membuat mereka tertawa karena jawabanku .
Aku tersenyum senang saat melihat kedua orang yang paling berharga di kehidupanku tersenyum cerah .
" Jadilah Dokter yang hebat nak dan gunakan hatimu untuk menyembuhkan banyak orang . tidak peduli jika kau sangat membenci orang itu , sekalipun orang itu adalah seorang pembunuh mereka tetap manusia dan seorang manusia berhak untuk hidup bagaimanapun kondisi dan latar belakang mereka . Mengerti " jelas sang ayah dengan tatapan lembut
" Aku mengerti Ayah " ucapku paham
flashback off...
Aku menata kearah langit-langit yang kini kian mendung aku berusaha untuk tidak menangis kembali . Andai saja Ayah dan Ibu masih di sisiku aku akan memberikan jawaban pada Ibu kenapa aku ingin menjadi Dokter .
" Ayah , Bukankah aku sudah seperti seorang Dokter yang Ayah inginkan ? . Aku bahkan tidak membunuh orang yang membunuh kalian dan Rayhan , aku bahkan ingin menyembuhkan nya " ucapku dalam hati
" Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang ? " Sambung ku lirih sambil mengalihkan pandangan ku ke bawah seolah aku merasa sangat lelah dengan keadaan ku saat ini .
__ADS_1
.
.