
Setelah usai dengan urusan Jesper aku pun segera menuju ke rumah sakit dimana Hellen di rawat . Kulihat beberapa orang menatapku penuh minat dan aku hanya mengabaikan mereka semua aku hanya terus berjalan menuju ruangan tempat Hellen berada.
Aku masuk kedalam ruangan VIP yang sengaja dipesan oleh Bruce , aku segera membuka pintu tersebut dan mendapati Wanita itu yang kini tengah tertidur dengan nyamannya di ranjang rumah sakit ini.
" Bagaimana keadaan nya ? " Tanyaku saat tiba di dalam
" Semalam dia mengamuk ketakutan dan menangis histeris , Tuan " ucap Bruce
" Aku mengerti . Bruce , siapkan penerbangan untuk pagi ini Aku tidak bisa menggunakan Icon Aircraft A5 ku " ucapku memerintahkan Bruce
" Siap , Tuan " sahutnya patuh
" Oya , Siapa Dokter yang bertanggung jawab atas kondisi Hellen ? " Tanya ku
" Dokter Ivan , Tuan " sahutnya
" Persiapkan juga surat layak terbang untuk Hellen " Suruhku lagi Bruce pun menangguk paham dan segera pergi meninggalkan ku
Aku pun menatap sejenak kearah Hellen dan segera pergi untuk menemui Dokter Ivan . Setelah bertanya pada Suster yang berjaga aku pun langsung menuju ruangan Dokter tersebut . aku mengetuk pelan pintu tersebut dan segera masuk saat Dokter Ivan menyuruhku untuk masuk .
" Silakan duduk , apa ada yang bisa saya bantu ? " Tanya Dokter Ivan , aku pun mendudukan diriku pada kursi yang berada dihadapan nya
" Saya Wali Hellen , bagaimana keadaannya saat ini ? " Tanyaku berbohong.
" Dia baik-baik saja secara fisik namun mentalnya tidak terlalu baik . Dia sedikit Shock bahkan dia tidak bisa menatap orang dengan benar , dia berbicara dengan ketakutan " Jawab nya datar seraya menatapku penuh curiga
" Aku memiliki seorang teman yang sepertimu , dalam hal ini dia tidak separah dirimu " Sambung nya tiba-tiba hingga membuat ku menaikkan sebelah alisku
" Tidak semudah itu menebak kepribadian seseorang , Dokter . bukankah itu tidak sopan " ucap ku mencoba tetep tenang
" Sayangnya Hellen sendiri yang memberitahuku dengan ketakutannya , Tuan Thomas " ucap Dokter Ivan namun aku masih tetap tenang dan tersenyum santai.
" Oh benarkah ? , Baiklah , Bisakah aku mendapatkan obat penang atau obat bius karna aku harus membawa Hellen kembali dan aku tidak ingin ada keributan di dalam pesawat nanti " Ucapku sambil tersenyum kuda
" Dia akan sadar sore nanti , aku sudah lebih dulu menyuntikkan obat bius padanya " ucap Dokter tersebut.
" Baik , terima kasih " ucapku dan segera pergi meninggalkan Dokter ivan yang dengan terang-terangan menatapku penuh minat .
__ADS_1
Dia menatapku dengan tatapan menilai . jelas sekali aku bisa melihat bahwa Dokter itu tengah membaca pribadi diriku saat ini .
Kini aku tengah mengendong tubuh Hellen untuk masuk kedalam pesawat ada beberapa pramugari yang sempat menanyakan keadaan Hellen saat ini namun aku segera memberikan surat layak terbang yang berhasil diurus oleh Bruce tadi .
Aku menatap Hellen yang saat ini masih tertidur lelap ,( lebih tepatnya di paksa untuk tidur ) dengan selimut yang diberikan oleh pihak rumah sakit tadi . aku kembali menatap lurus kedepan dan mencoba untuk memejamkan mataku sekedar mengistirahatkan tubuhku namun seketika sebuah gambaran terlihat jelas dalam pikiran ku .
———
Thitan itu nama kembaranku,
Thitan adalah anak baik , itulah yang mereka kira .
" Thitan " Panggilku saat Thitan tengah memainkan pisau kecil di tangannya , pisau itu tidak terlalu tajam karena itu hanya pisau mainan yang terbuat dari besi ringan
" Ya, Thom ? " Sahutnya namun aku hanya menggelengkan kepalaku dengan kaku setelah melihat perbuatan Thitan sebelumnya aku selalu merasa takut saat bersamaan dengannya
Aku kembali menatap layar televisi di hadapanku , saat ini aku hanya tinggal berdua dengan Thitan karena Ibu kami sedang berada di rumah bibi Mary .
" Thom " Panggil Thitan hingga membuat aku menoleh kearahnya
" Thitan sangat sayang pada Thomas " ucap Thitan sendu
Aku pun menatap sosok Thitan dengan senyum hangat ku , seketika aku melupakan sosok Thitan yang seperti Monster saat itu setelah mendengar penuturannya . Aku membiarkan Thitan menyentuh tanganku .
" Thom juga menyanyangi Thitan " ucapku membalas ucapannya .
Namun saat aku hendak melanjutkan ucapanku tiba-tiba aku menjerit kesakitan karena sesuatu merobek lengan kananku saat itu , aku menatap Thitan yang tengah melukai tanganku dengan pisau kecil miliknya hingga membuat aku meringis dan menangis kesakitan namun Thitan hanya terdiam tak mendengarkan nya.
" Thitan " teriakku marah sambil memegangi luka pada tangan ku namun Thitan hanya menatapku dengan tatapan polosnya sambil tersenyum
" Thitan suka warna merah " ucapnya padaku dengan polosnya
Aku terus menangis menahan sakit dan mendorong tubuh Thitan dengan kuat , sebisa mungkin aku berlari menuju kamar dan mengunci diriku di dalam kamar . aku berlari menuju bawah ranjang untuk bersembunyi dari sosok Thitan yang mengerikan saat itu .
Kudengar suara ketukan dari luar kamar milikku dan Thitan kami memang tidur bersama saat itu . Kudengar suara langkah kaki yang semakin menjauh hingga membuat aku menghela nafasku dengan lega namun aku kembali menahan nafasku saat mendengar langkah kaki yang mendekat kearah kamarku.
" Thom.." Panggil Thitan dari luar dan aku semakin menahan nafasku saat suara kunci diputar dari luar , aku lupa bahwa rumah ini memang memiliki kunci duplikat yang disimpan oleh Ibu di lantai bawah .
__ADS_1
" Thom " Panggil Thitan lagi
Namun aku hanya terdiam tak menjawab panggilannya , aku terus menahan nafasku saat kaki Aiden sudah berada disamping ranjang .
" Thitan akan menemukan Thom " ucapnya senang seolah aku tengah mengajaknya bermain saat itu
Aku menahan tangisku saat melihat Thitan hendak menarik seprai yang menutupi kolong ranjang bahkan aku sampai mengigit tanganku sendiri agar tidak menangis ketakutan .
Ku lihat Thitan menatap kearahku saat dia berhasil menyikap seprai yang menutupi Kolong ranjang bahkan kini dia tersenyum seram namun di detik berikutnya senyum Thitan berubah menjadi senyum polos.
" Thitan " ucap seorang wanita yang tak lain suara Ibu seketika aku menghela nafas lega secara pelan saat mendengar suara wanita itu
" Kenapa kau disini ? Dimana Thomas ? " Tanyanya
" Thom sedang di bawah kasur Ibu , kami sedang bermain petak umpat " ucap Thitan polos yang membuat ku tak habis pikir dengan saudara kembarku
Aku bahkan tak mengenali Thitan saat ini setelah menyaksikan semua perbuatannya saat itu .
Tiba-tiba aku kembali menahan nafasku saat Thitan berjalan kearah sisi ranjang dan menarik kakiku untuk keluar . aku merasakan cengkaraman kuat pada tungkai kakiku saat itu bahkan aku sampai meringis namun Ibu tidak menyadarinya .
Ibu malah tersenyum hangat dan mencium pucuk kepala Thitan tanpa tau bahwa Aku anak nya tengah terancam bahaya saat itu , Ibu tidak pernah tau sosok yang dia kasihi dan dia cium sekarang adalah sosok monster berwajah malaikat .
———
Seketika aku terbangun dari tidurku dengan keringat yang membasahi seluruh wajahku dan sesaat aku melirk kearah tangan kananku , Aku tersenyum miris saat mendapati bekas luka pada tangan kananku , aku langsung mengenyahkan bayang-bayang Thitan yang kini tengah memenuhi isi kepalaku .
" Thom akan merasakan senang jika menjadi seperti Thitan , Thitan merasa senang saat berhasil membunuh Anjing yang melukai Thom , Thom bisa mencoba nya kapan-kapan " ucap Thitan yang selalu terngiang-ngiang dalam benak ku hingga saat ini
Aku pun mengusap wajahku dengan kasar dan menatap kearah sampingku , kulihat Hellen yang masih terpejam dengan wajah tenangnya , seketika aku menyentuhkan tangan ku pada pipi Hellen yang terlihat memar karna ulah si brengs*k jasper .
" Apa setelah ini kau akan takut padaku , Hellen ? " Ucapku pelan sambil menatap wajah Hellen dengan tatapan sayuku
Aku terus menatap wajah Hellen lekat-lekat seolah tengah merekamnya pada otakku saat ini sambil terus mengelus lembut pipi Hellen yang memar .
.
.
__ADS_1