
Aku buru buru sekali melajukan mobilku dijalanan kota. mengingat ini sudah sore hari dan sebentar lagi memasuki waktu magrib. tapi di jam2 ini banyak sekali karyawan pulang kerja, jalanan menjadi sangat macet.
Aku mengetuk2kan jariku diatas kemudi, melirik kesisi jendela mobil rasanya aku tak sabar bertemu dengannya. aku yang kebetulan berada di dekat lokasi yang dia kirimkan, merasa bersyukur sekali. aku tidak harus berputar arah atau mencari tempat untuk kita bertemu. ini akan menjadi pertemuan ku dengannya untuk ketiga kali.
Pasti kalian bertanya2, ada maksud apa sampai aku seperti ini. mengajak nya bertemu, lalu mengemudi terburu2, dan cemas. yaaa aku cemas, aku takut dia wanita yang tak sabaran menunggu. aku takut dia meninggalkan tempat itu karena hal sepele yaitu macet tapi itu kan bukan kesalahanku, macet sudah umum terjadi dimana mana bahkan sudah jadi warisan turun temurun dikota2 besar. dimana ada gedung2 tinggi ya disitu letak kemacetan.
Aku meraih ponselku yang berada diatas dashbor mobil. aku meneleponnya, untuk memastikan apakah dia masih berada disana atau tidak karena aku sudah 15menit terjebak kemacetan. ternyata dia masih disana, katanya dia akan menungguku. dia bilang jangan terburu buru, dan hati hati. suaranya lembut sekali.
Aku terpesona dan mungkin sudah jatuh hati padanya, aku yakin dia wanita yang baik. entah sejak kapan tepatnya aku jatuh hati padanya, aku bahkan tak pernah mengiriminya pesan dan menelepon nya. bertemu setiap hari juga tidak. rasa ini mengalir begitu saja tanpa saling bertemu. aku ingin memilikinya sebagai istri bukan sebagai teman. berteman adalah alasanku, supaya aku dekat dengannya.
Aku sudah mengenalnya selama kurang lebih 2minggu berawal dari insiden kecelakaanku sampai hari ini. kita hanya sebatas mengenal biasa. jadi kamu ( pembaca ) taukan maksud dan tujuanku mengajaknya bertemu hari ini untuk apa?? ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengannya, pertama mengenai masa laluku, kedua mengenai traumaku, ketiga mengenai zaskia putriku dan terakhir mengenai kedekatanku dengannya.
Sebenarnya aku sudah melupakan luka yang di beri mantan istriku, tapi karena aku tak pernah dekat dengan wanita manapun beredar berita jika aku tak pernah bisa move on dari nya. padahal itu tidak sama sekali, ada alasan kenapa aku tak ingin dekat dengan wanita lagi. lagian untuk apa aku mengingatnya dan tak bisa move on darinya toh dia jugah sudah menikah lagi dan meninggalkan negara ini. kamu ( pembaca ) pasti juga tau apa alasan itu? aku ini seorang duda, punya anak satu tidak bisa sembarang memilih wanita yang akan menjadi ibu sambung untuk anakku. banyak yang harus aku pertimbangkan.
Aku tak ingin menikahi wanita yang mau denganku, dan hartaku saja. aku ingin wanita yang juha menginginkan anakku berada disisinya. ketika seorang duda menikah, bukan hanya dia saja yang menikah, tapi juga menikahkan dua keluarga. aku tak mau seperti keledai, yang jatuh lagi dilubang yang sama, maksudku aku tak ingin nanti gagal lagi dalam membina rumah tangga.
Akhirnya setelah sekian puluh menit aku terjebak macet, aku sampai juga didepan restauran itu bertepatan dengan adzan magrib.
" ya allah, sudah adzan. hampir sejam aku dijalan kejebak macet. apa dia masih disana?? " aku melirik jam tanganku dan ku langkahkan kakiku masuk kedalam restauran mewah ini.
__ADS_1
Mataku menyapu sekeliling restoran, aku melihatnya memegang gelas jus. jus itu sudah habis. aku sudah pasrah ketika nanti dia akan marah. aku tau sebagai seorang dokter waktu sangat berarti baginya. tapi seperti yang ku bilang tadi macet bukan kesalahanku. salahkan saja pemerintah yang masih belum bisa menangani kasus kemacetan.
Aku menghampiri nya dengan langkah tergesa gesa..
" maaf ya lamaa, macet sekali dijalan. beneran aku gak bohong !! " aku seperti remaja yang takut dimarahi pacarnya akibat telat datang saat kencan.
" bisakah kita sholat dulu pak, ini sudah adzan magrib. nanti kita kembali lagi kesini. bagaimana ?? " pintanya.
" baik, kita cari masjid dulu. atau mungkin kamu mau sholat magrib di mussolah restauran ini?? " aku menawarkan alternatif agar tak perlu keluar restauran. aku yakin sekali bahwa disini ada mussolah tempat karyawan menunaikan ibadah ketika masuk waktu sholat.
" jika memang disini ada mussolah, maka akan lebih baik kita segera kesana pak mengingat waktu magrib sangat sedikit dan adzan pun sudah berlalu lama " pintanya lagi.
" ayo kita ke kesana pak, untuk menanyakan letak musollahnya " dia meninggalkanku melangkah terlebih dahulu. aku mengikutinya dari arah belakang.
" bahkan diliat dari belakang pun, dia terlihat cantik dengan kemeja dan hijabnya " batinku.
" permisi mas, apakah disini ada mussolah atau semacamnya agar saya bisa sholat tanoa keluar dari restaurant ini " tanya nya pada seorang waitress laki laki.
" oh ada bu, mari saya antar " jawab waitress itu.
__ADS_1
Dan kami pun mengikuti waitress itu menuju belakang kitchen, menembus ruang yang tersekat oleh tembok mainan terbuat dari kayu berhias beberapa bunga.
" disana bu, pak tempat sholatnya. dan itu tempat kami karyawan berwudhu " waitress itu menunjukan ke arah tempat wudhu. sebuah dispanser terbuat dari tanah liat yang di atasnya terdapat tandon air berukuran sedang.
" terima kasih ya mas " dia menganggukkan kepalanya tanda mengerti. waitress itupun berlalu pergi.
" silahkan pak baim berwudhu dulu " dia menyuruhku berwudhu.
" kamu aja duluan, saya setelah kamu " diapun mengangguk lalu pergi. setelah dia selesai dan masuk ke dalam mussolah itu, aku pun bergegas untuk berwudhu.
Ketika selesai berwudhu, aku masuk kedalam mussolah itu. aku pikir dia akan sholat duluan, ternyata dia menungguku.
" silahkan pak, menjadi imam. saya akan menjadi makmum dibelakang. akan lebih baik jika berjamaah. dapat pahala 27 derajat " dia tersenyum. aku menganggukan kepalaku tanda setuju.
" ya allah takdirmu indah sekali, aku terjebak kemacetan. lalu datang bersamaan waktu magrib dan sekarang aku menjadi imam sholat nya. jika memang dia benar2 wanita yang aku cari selama ini. dekatkan aku dan dia pada kebaikan2 seperti ini " batinku.
Aku mengambil sajadah yang tergantung diujung tembok, lalu menggelarnya. sebelum ku mulai sholat jama'ah magrib ini ku toleh kebelakang dia sudah bersiap dan tersenyum manis. aku merasa ini bahagia yang sesungguhnya, aku seperti sedang mengimami sholat istriku. aku tersenyum padanya. lalu kami memulai sholat magrib berjama'ah.
Pertemuan ketiga ini, semakin meyakinkan aku bahwa ini saatnya aku bangkit dari keterpurukan, rasa kecewa dan trauma.
__ADS_1