
Aku dan ridho memasuki cafe yang telah ditunjuknya dan agus sebagai tempatku dan dokter anita makan malam.
Cafe ini cukup besar, cafe ini mempunyai dua private room (VIP Room) yang pertama ada di dalam (indoor) persis di sebelah ruangan utama akan terlihat ada sekat yang di dalamnya ada ruangan lagi, kemudian di lantai dua (outdoor) juga private room, bedanya yang di lantai dua itu khusus yang smoking area. Dari segi interior dan desain, sepertinya cafe ini menerapkan konsep modern industrial dengan sentuhan daun-daun terkesan cozy, chill & comfortable.
Area makan outdoor yang berada di bawah atap kaca dan dikelilingi oleh berbagai macam tanaman membuat suasana menjadi nyaman, dan sejuk.
Noach cafe and bistro ini, terletak di jalan pregolan no 4 tegalsari surabaya. aku dan ridho memilih tempat duduk yang letaknya jauh dari pengujung yang lain, dan mulai memesan minuman.
" agus kok belum datang? "
" sebentar lagi, mungkin mereka dijalan.. "
" oke "
" sal.. nanti tolong jaga sikapmu agar tidak membuat dokter anita males sama kamu.. jangan cuek, dan jangan buat aku dan agus kecewa.. "
" iyaa.. " jawabku sekenanya, sambil kumainkan ponselku.
" berterima kasihlah dengan benar.. "
" iyaaa iyaa.. "
Waitress mengantar pesanan kami, bersamaan dengan datangnya agus dan dokter anita. dari jauh ku lihat agus nampak tersenyum dan tertawa tipis, ketika berjalan ke arah kami bersama dengan seorang wanita yang tak lain adalah dokter anita.
Wanita itu memakai kemeja polos lengan panjang berwarna orange dengan rok panjang warna putih bermotifkan bunga bunga. namun, ada hal lain yang menyilaukan mataku dan membuat ada sedikit gelenyar dihatiku. aku mencoba biasa saja, karena aku tidak harus menghiraukan gelenyar itu.
" wanita itu sejak kapan berjilbab? " batinku.
" sal.. " ridho menyenggol lenganku, ketika ku lihat agus dan dokter anita sudah berdiri tepat didepanku dan ridho.
__ADS_1
" ah iyaaa.. " aku dibuat kikukk, dengan penampilannya.
" maaf ya macet tadi.. " agus dan dokter anita duduk berhadapan dengan kami. aku hanya mengulas senyum simpul kearahnya, dan dia menatapku sekilas.
" yasudah.. dokter anita sudah datang, aku dan agus akan langsung saja pindah ke sana. kamu dan dokter anita silahkan makan berdua.. "
" kok gitu.. kita rame rame saja dok. saya gak papa.. " elaknya, karena mungkin dia sedang tidak nyaman jika harus berdua denganku.
" gak papa.. kalian ngobrol berdua. aku dan dokter ridho gak akan jauh dari kalian. kita akan duduk di situ tuh.. " agus menunjukkan padaku dan dia, tempat mana yang akan dibuatnya duduk mengawasi kami. mereka pikir mereka sedang apa, aku tidak mungkin berbuat aneh aneh bahkan menyakitinya namun aku tau alasan mereka seperti itu.
" baiklah.. " jawabnya. agus dan ridho berlalu meninggalkan kami.
Aku masih diam membisu, sedikit ku aduk aduk minumanku yang tidak lama aku dan ridho pesan.
" sejak kapan kamu berjilbab? sepertinya terakhir ketemu sama kami.. kamu belum memakainya.. " aku membuka obrolan pertama kami.
" sejak hari ini dok.. " jawabnya singkat.
" kamu ingin pesan apa? nih kamu lihat daftar menunya.. " aku menyerahkan daftar menu yang terletak didepanku padanya. dia menjulurkan tangannya lalu tersenyum ke arahku.
Aku memanggil waitress yang sudah standby tidak jauh dari kami.
" silahkan ingin memesan apa? " tanya waitress kepada kami.
" Beef Spaghetti With Black Pepper Sauce, minumnya Lemongrass Cooler" jawabnya singkat sambil melihat waitress yang menulis pesanan kami.
" masnya?? "
" samakan saja mas.. " waitress itu mengangguk dan berlalu meninggalkan kami yang sibuk dengan fikiran masing masing.
__ADS_1
" Apa kamu dokter spesialis di IGD??" tanyaku memulai obrolan lagi, agar tidak nampak kaku sesekali aku melihat dan tersenyum santai padanya.
" tidak dok, aku hanya dokter umum.. "
" kenapa belum ambil spesialis??sepertinya umurmu tidak terlampau jauh dariku.. ? "
" pingin sih.. tapi gak ada yang nyemangatin.. "
" kok?? " aku keheranan akan jawabannya.
" sepertinya kalau ambil spesialis saya gak akan mampu dok.. "
" finansial?? "
" bukan.. "
" lalu?? " tanyaku lagi. dia melihatku secara seksama. matanya yang bulat dan berwarna biru karena memakai soflens itu sejenak mengingatkanku akan seseorang yang masih ada di dalam hatiku.
" ada hal yang harus dikejar tidak hanya bermodalkan pengetahuan saja dok, dan aku belum mendapatkan semangatku untuk itu.. "
" maksudmu dengan semangat? "
" sama seperti dokter yang kehilangan semangat hidup karena seorang wanita, aku juga kehilangan semangatku dok.. " bagaikan tersedak makanan, kerongkonganku seakan tercekat. tak bisa ku keluarkan suaraku, aku tak menyangka dia akan mengatakan hal itu. dia? darimana dia tau.. dukun kah dia? apa dia dokter yang menyambi pekerjaan sebagai dukun. ataukah dia peramal? batinku berkecamuk mencoba menebak nebak ucapannya. tapi aku masih diam melihatnya, sesekali melirik sekeliling.
Waitrees menghampiri kami, mengantar pesanan yang telah disiapkan nya untuk kami.
" silahkan.. "
" terima kasih mas.. " ucapnya, dan waitress itu meninggalkan kami.
__ADS_1
Ku lihat dia mulai mengaduk spageti yang masih panas di depannya, kepulan asap panas itu berterbangan diudara.
" kamu sudah menikah? " tanyaku padanya. wanita berbalut jilbab itu melihat ke arahku. tatapan matanya tajam namun terlihat santai.