Dokter Cantik Itu Bundaku

Dokter Cantik Itu Bundaku
Fakta


__ADS_3

" mantan kekasih?? " aku dan mbak medina hanya diam menyimak obrolan mereka saja, tanpa ikut bersuara. dokter mira dan dokter ridho menjauh dari brankar dan mendekat kearah pintu kaca ICU. meski suara mereka pelan, namun sangat terdengar jelas ditelingaku.


" bawa dia kesini dho.. mungkin dengan membawanya kesini. dokter faisal segera sadar.. "


" tidak mungkin mir.. "


" kenapa.. ?? "


" wanita itu tidak akan kesini.. "


" cobalah membujuknya.. kasian dokter faisal.. apa hubungan mereka tidak baik setelah berpisah ?? " dokter ridho hanya menganggukan kepalanya.


" keduanya saling menghindar mir.. mungkin mantan kekasihnya sudah benar benar mencoba melupakanya.. tapi.. dia.. " dokter ridho berbalik, dan menatap dari kejauhan dokter faisal yang masih enggan juga membuka matanya.


" tapi apa dho?? "


" dia sendiri masih terjebak cinta dan masa lalunya.. bahkan dia mencoba bunuh diri karena putus asa tidak bisa memiliki mantan kekasihnya itu lagi. wanita itu sudah menikah mir.. "


" lalu?? "


" mereka sudah lama berpisah kurang lebih hampir 4tahun.. sekitar 2hari yang lalu tanpa sengaja kami bertemu dengannya.. "


" lalu.. "


" dia tidak bisa membendung rasa rindu dan kecewanya.. "


" siapa mantan kekasihnya itu?? apa dia juga seorang dokter?? " dokter ridho mengangguk.


" apa kamu pernah kenal, lihat atau tau dokter anggieta dari rumah sakit xxx, salah satu dokter spesialis anak terfavorit dirumah sakit itu.. ?? "


" maksudmu, dokter anggieta dewi ?? "


" betul.. dokter anggieta dewi syahfitri.. dia mantan kekasihnya dokter faisal " aku kaget sekali ketika mendengarnya, tak kusangka cintanya pada mantan kekasihnya itu begitu dalam. aku jadi ingat mbak kasih yang asal menebak, dia kemungkinan seperti ini karena diputuskan oleh pacarnya. ternyata dugaan mbak kasih benar adanya.


" dokter faisal mencintainya dan menjalin hubungan dengannya ketika sudah menikah dan beristri. jadi itu alasan utama dokter anggieta melepaskan dan memilih tidak melanjutkan hubungannya.. "


" lalu ?? " dokter mira, semakin penasaran akan cerita dokter faisal. aku dan mbak medina masih berdiri menatap keduanya, sambil sesekali menoleh dan melihat ke arah brankar tempat dokter faisal terbaring lemah.


" dokter faisal tidak pernah mencintai istrinya, walau awalnya dia sudah berusaha mencobanya. dia menikah karena perjodohan kedua orang tuanya.. setelah memutuskan berpisah, dan gak melanjutkan hubungan mereka kembali. dokter faisal bukan malah kembali ke istrinya malah menceraikannya.. jadi semenjak kurang lebih 4tahun yang lalu dia sudah menjadi duda, dan berharap bisa kembali ke dokter anggita. dia pergi keluar negeri alih alih melupakan, eh dia malah hidup dengan bayang bayang mantan kekasihnya.. disana di terus mengikuti kabar dokter anggieta.. sampai akhirnya.. "


" sampai akhirnya, dokter faisal tau kalau sekarang dokter anggieta sudah menikah.. dan tidak ada kesempatan apapun untuk bisa memilikinya lagi "


" tepat, betul sekali mir "

__ADS_1


" apa dia sudah mencoba konsultasi ke psikiater?? "


" sudah pernah, aku dan dokter agus sendiri yang mengantarnya.. tapi hasilnya nihil.. "


" ya allah.. kasian sekali.. " sambut dokter mira, aku yang sengaja hanya jadi penguping pembicaraan mereka ikut terhanyut akan ceritanya.


Kurasa kan sesak didada, tanpa ku sadari air mata menetes di pipiku. dengan cepat kuhapus air mata itu sebelum yang lain mengetahuinya, dan aku segera pamit pada dokter mira dan dokter ridho untuk kembali IGD tempatku bertugas. entah kenapa aku turut merasakan kesedihnya, entah hatiku yang lemah karena mudah berempati terhadap sesama atau ada hal lain. aku jugah tidak mengerti. ku tepuk pelan dadaku berkali kali.


" permisi dokter mira, kalau begitu saya pamit kembali ke IGD dulu.. saya kesini hanya ingin melihat dan memeriksa kondisinya.. "


" sekali lagi terima kasih dokter anita.." dokter ridho menundukan kepalanya.


" untuk?? " tanya dokter mira belum mengerti.


" dokter anita yang sudah mendonorkan darahnya untuk dokter faisal mir, dia satu satunya orang yang sudah menolongnya melalui masa kritis.. "


" oiyaaa... kamu hebat sekali.. " sambung dokter mira, dengan senyum simpul kearahku.


" dokter ridho berlebihan dok.. baiklah kalau begitu, saya permisi "


" iyaaa.. terima kasih ya dokter anita " ucap dokter mira. aku menganggukan kepalaku dan berniat pergi, sebelum ku tinggalkan ruang ICU ku toleh sekilas laki laki diatas brankar itu.


Kenapa kamu bodoh sekali, untuk apa kamu jadi dokter?? jika sakitmu tidak bisa kamu sembuhkan sendiri. batinku


Dan aku pergi meninggalkan mereka yang masih di dalam ruang ICU itu.


" sudah dok, kenapa lama sekali?? untung aku telfon dokter koas disana.. IGD lagi sepi.. " aku tak mengubris omongan mbak kasih dan masih memikirkan semua yang dengan sengaja aku dengar tadi.


" dokter anita gak papa?? kok diem aja dok.. " aku masih berjalan lurus dan fokus kedepan. mbak kasih mengikuti begitu saja.


" dok..? "


" dokter anitaaa !! " hardiknya, sambil menepuk pundakku.


" ah iyaaa mbak.. maaf "


" dokter anita kenapa matanya berair?? nangisss.. kenapa.. ?? "


" gak papa mbak.. kelilipan.. "


" beneran.. mana ada di ICU kelilipan.. ?? " tanyanya padaku dengan wajah yang terheran heran. dan kami lanjutkan jalan.


" mbak.. "

__ADS_1


" iyaa dok.. "


" mbak kasih benar.. "


" benar.. tentang apa dok?? "


" pasien itu.. dokter faisal diputuskan oleh pacarnya ! "


" Hah... " mbak kasih kaget, dan berdiri tepat di depanku.


" ada gitu, wanita yang mutusin laki laki seganteng itu dan dokter lagi.. apa gak rugi..?? " mataku menerawang sekeliling, malam ini rumah sakit nampak lengang tidak seperti biasanya. aku hanya mengangguk dan memutuskan berjalan agar cepat sampai di IGD, tiba tiba aku merasakan tubuhku lelah sekali padahal IGD tak seramai biasanya.


Sampai disana, ku sandarkan tubuhku pada brankar pasien yang kosong paling pojok. kutatap langit langit IGD, kupejamkan sebentar mata ku yang sudah tidak fokus melihat objek di depanku.


Merelakan memang sulit, tapi lebih sulit lagi mencari cara untuk dia yang benar-benar Memilih Ingin Pergi.


Semua orang tak ada yang menginginkan dirinya kehilangan apalagi jika harus merelakan. Namun tak semua yang kita inginkan sesuai dengan harapan. Adakalanya kita dihadapkan dengan pilihan yang sulit yang harus kita ambil.


Jika tidak, maka kita hanya akan melukai diri kita sendiri. Memilih tak selamanya mudah, adakalanya pilihan itu menyulitkan dan tak jarang kita sendiri yang harus menanggung resiko karena adakalanya pilihan kita menyakitkan.


Kita sangat menyanyanginya, kita tidak mau kehilangannya. Namun disisi lain dia sudah tidak menyanyangi kita bahkan dia sudah memilih untuk pergi dari hidup kita.


Ketika dia sudah memilih untuk pergi, maka tak ada yang bisa kita lakukan selain merelakan kepergiannya.


Karena sekeras apa pun kita mencoba untuk meyakinkan untuk tetap tinggal, dia tidak akan pernah tinggal, ia akan tetap pergi dari hidup kita.


Semuanya sama-sama menyakitkan. Ketika kehilangannya kita akan merasa sedih dan tersakiti, ketika kita yang mencoba menahan kepergiannya pada akhirnya kita hanya menunda sebuah perpisahan dan menjadikan luka semakin mendalam.


Maka biarlah ia pergi, semakin kita mencoba untuk menahannya, maka semakin kuat pula keinginannya untuk pergi dari kita.


Akhirnya kita pasti akan kehilangannya dan kitalah yang akan semakin terluka karena telah berusaha menahan kepergiannya.


Percuma saja kita ingin menahannya. Toh tekad dia sudah benar-benar bulat.


Kita boleh memperjuangkan asal dia juga mau memperjuangkan, jangan hanya kita saja yang ingin berusaha memperjuangkan sedangkan dia enggan untuk berjuang.


Kita bisa saja tetap memperjuangkan namun jangan pernah lupa pada akhirnya dia akan terlepas juga dari genggaman kita. Karena sekeras apa pun kita ingin menahan kepergiannya, yang memilih untuk pergi akan tetap pergi.


Kehilangan hanya akan membuat kita terluka, namun akan lebih terluka lagi jika kita berusaha menahan seseorang yang ingin pergi dari hidup kita.


Akan lebih menyakitkan lagi jika kita ingin meyakinkan dia agar tetap bersama kita.


Sedangkan dia telah memilih untuk pergi dari kehidupan kita. Maka biarkanlah ia pergi, meski tak pernah mudah untuk merelakannya. Karena lebih baik sakit merelakan dari pada sakit karena memperjuangkan.

__ADS_1


Jangan menahan kepergiannya, jangan menunda sebuah perpisahan, karena pada akhirnya kita sendiri yang akan terluka.


Maka lebih baik merelakannya dari pada harus mencari cara untuk meyakinkan dia yang benar-benar ingin pergi. Karena meyakinkan lebih sulit dari pada merelakan.


__ADS_2