
Malam semakin larut, tepat pukul 22.35 wib kami akhirnya sampai dirumah. ku rasakan angin berhembus semakin menambah hawa dingin, seolah dirinya ingin menyentuh tubuh ini. membelai setiap inci wajah wajah nestapa yang butuh arah.
" alhamdulilah, sampek.. yuk sayang turun.. " aku hanya menanggukan kepalaku, ketika mas baim mengajakku keluar dari dalam mobil. kutoleh ke belakang ternyata putri kesayanganku sudah terlelap tidur, entah sejak dimana dia sudah tidur aku pun tak tahu karena di dalam mobil aku dan mas baim banyak diam. kita terbuai akan pikiran masing masing, entah dia sedang memikirkan apa, kerjaan ataukah memikirkan aku yang tadi dilihatnya sedang berada di pelukan orang lain. hatiku berdebar debar menantikan setiap pertanyaannya. sungguh mas faisal benar benar membuatku seperti terkena serangan jantung.
" nak.. sayang.. bangun yuk " ku goyangkan badannya berulang kali, namun zaskia tidak membuka matanya.
" mas, adek gak mau bangun nih.. "
" biar sayang, biar tak gendong aja.. " ku geser tubuhku kesamping, memberi ruang untuknya meraih tubuh zaskia dan menggendongnya. aku mengambil beberapa paperbag berisikan buku yang sudah kami beli di mall tadi. aku mengikuti mas baim dari belakang sambil memegang paperbag dan tas ransel berukuran kecil milik zaskia.
" wahhh.. berat sekali sekarang. gak kerasa dia tumbuh secepat ini. dulu masih kecil sekali aku menggendongnya, yang sering menangis ketika mommynya gak pulang pulang kerumah.. anak gadis daddy.. maafkan daddy ya sayang, belum bisa membahagiakan kamuuu " sayup sayup ku dengar mas baim berbicara dengan zaskia yang tertidur digendongannya, jantungku seperti ditusuk tusuk belati.
ya allah, bagaimana ini.. batinku
Ku bukakan pintu rumah, mas baim berjalan begitu saja dengan aku yang masih dibelakangnya, aku kembali menutup pintu dan menguncinya. lalu menyusul mas baim, masuk kedalam rumahnya.
Tepat di depan tangga, mas baim memintaku berjalan di depannya.
__ADS_1
" sayang, kamu duluan.. "
" iya mas mas.. " aku menaiki tangga dengan cepat, dan akhirnya kita sampai di depan kamar zaskia. aku membukakan pintu kamarnya, mas baim berjalan menuju ranjang dan dibaringkannya anak kesayangannya itu. aku menaruh paperbag, dan ransel di atas nakas lalu membantu mas baim melepaskan sepatu yang masih di pakai zaskia.
Zaskia mengeliatkan tubuhnya.. kami pun tersentak kaget.
" bunda.. daddy.. jangan tinggalin zaskia " anak gadis itu sedang bermimpi rupanya, entah mimpi apa yang di dapatkannya aku mengelus rambut dan mencium keningnya bergantian dengan mas baim.
" yuk sayang, kita ke kamar. biar zaskia istirahat.. kita juga harus istirahat " aku mengangguk dan mengikuti mas baim keluar dari kamar zaskia.
Sesampainya dikamar, mas baim langsung menuju ke kamar mandi. kulihat dia mencopot sepatunya di depan pintu. aku mengikutinya, mengambil sepatu lalu berjalan menuju walk in closet. ku taruh sepatu mas baim ditempat yang kosong dilemari koleksinya.
" masss.. " aku mendongak, dan menatap matanya. dia masih mengelus rambutku, lalu dia berjongkok di depanku dan mencium kilas kening dan bibirku.
" sayang apa mas ada yang kurang dimatamu ?? "
" maksud mas apa...?? " tanyaku, ku arahkan kedua tanganku menyentuh pipi kanan dan kirinya.
__ADS_1
" aku sangat mencintai kamu, jangan pernah tinggalin aku dan zaskia yaa. kita tidak akan bisa hidup tanpamu.. hatiku dan hati anakku telah memilih hatimu sebagai tempat ternyaman didunia ini, izinkan hatimu selamanya menjadi milik ku dan anak anakku.. "
Tak terasa bulir air mata menetes dipipiku. ketika melihat tatapan matanya, sinar penuh pengharapan terlihat jelas disana. mata itu saksi segala luka yang pernah dia rasakan, dan hatinya adalah korban dari segala tipu daya duniawi.
Aku memeluknya, ku dekap erat badannya yang kekar ini. ada rasa nyaman dan tenang ketika aku memeluknya, dia laki laki yang memilihku, dan hatiku. laki laki yang telah menyelamatkan aku dari bekunya hati ini. sekian lama, aku memendam lukaku sendiri. mencintai tanpa bisa memiliki ternyata begitu menyakitkan, mencintai namun harus pula mencoba melupakan bahkan harus membencinya sama rasanya seperti kematian membayang dipelupuk mata.
Aku yakin takdir yang mempertemukan kita, tidak bukan sengaja melainkan dengan kehendak sang pemilik jiwa dan raga. mungkin bukan mas faisal yang ditakdirkan untukku, melainkan laki laki yang juga terluka hatinya membersamaiku agar saling menyembuhkan.
Ku rasakan tetes air matanya mengenai pundakku. ku usap kepalanya menyalurkan rasa cinta yang sudah kumiliki untuknya. sungguh, dari awal aku mengenalnya dan anaknya tidak ada rasa ingin membuatnya kecewa, namun hari ini aku mungkin sudah melukai hatinya bahkan mengecewakannya. tubuh ini dilihat dengan matanya, telah di rengkuh dan di peluk laki laki lain.
haruskah aku jujur, dan menceritakan semuanya mas.. batinku.
" hari itu dan detik itu pula hatiku sudah menjadi milikmu mass. tidak ada hal apapun yang akan memisahkan kita, kecuali kematian. izinkan aku yang lemah ini, menjadi pertahanan, bahkan kekuatanmu.. miliki hati ini seutuhnya, semoga syurgaku tetap bersamamu "
" lalu, siapa laki laki itu ?? "
deg..
__ADS_1
Aku melepaskan pelukanku, dan kembali melihat matanya.