
" kamu sudah menikah?? " tanyanya padaku.
Ku lihat laki laki ini sudah membaik, dari wajahnya dia terlihat segar sekali dan satu yang membuat hatiku bergejolak, tatapan matanya ketika melihatku itu membuatku seakan meleleh dari bekunya kesendirian.
Aku masih melihatnya, namun aku masih diam.
" kamu sudah menikah?? " tanyanya lagi kepadaku, membuat diriku tersentak.
Ku ambil minuman yang ada di depanku, dan meminumnya. buliran air lemon dengan sensasi dingin menyejukkan kerongkonganku yang haus malam ini. ku pikirkan jawaban apa yang akan ku beri padanya, agar dia tertarik padaku. kini menemaninya berjuang dan memberi kebahagiaan untuknya ada visi dan misi hidupku. maka, sudah kuputuskan bahwa keputusanku berjilbab kini tak akan membuatku menyesalinya.
" belum.. dokter mau menikah dengan saya??? "
kini, dokter tampan yang berada di depanku tersedak akan makanan yang telah dimakannya. disuapan pertamanya, aku membuatnya kaget. dia terbatuk batuk sambil melihat tajam ke arahku dan melihat kearah sekeliling kami. lalu dia menatapku lagi. namun, kupasang wajah santai walau hatiku bergetar dan jantungku berdetak tidak lebih lambat dari biasanya.
" kamuuuu kalau bercanda jangan kayak gini.. " dia menunjukku dengan garpu yang telah dipegangnya, dan runcingnya garpu itu mengarah tepat kearahku.
" kalau saya seriuss.. apa garpu itu akan melayang padaku??? " aku melihatnya masih dengan tatapan santai, walau sebenarnya aku benar benar takut dan gugup. entah, bagaimana aku seberani ini? namun ku sadari aku seperti didorong dengan kekuatan besar agar mampu menahlukkannya. diusia ku yang sudah menginjak kepala tiga aku tau ucapan yang keluar dari mulutku bisa saja yang ketika di dengar orang lain bukan hal main main, tapi laki laki ini dengan entengnya berkata aku sedang bercanda.
Dia tidak menjawab, dan segera menurunkan garpu itu dari pandanganku. dan menaruhnya lagi dipiring, lalu meminum minumannya dengan gusar.
" aku tau kamu sedang bercanda.. kita belum lama saling kenal. tujuanku kesini hanya untuk berterima kasih dengan benar padamu.. dan aku tidak tertarik untuk menikah lagi ! " jawabnya dingin padaku.
" oh iyaaaa.. jika bukan aku yang mengajak dokter menikah. lalu dokter berharap siapa yang akan menikah dengan anda?? masa lalu anda?? " dia mendelik kearahku, dengan sorot matanya yang tajam aku mengerti aku sudah membuatnya menahan emosi.
Aku masih bersikap santai, tak ku turunkan pandangan mataku darinya. kemudian aku menyendok spageti lalu menyuapakannya sendiri kemulutku. dia diam seribu bahasa. dibalik kunyahan makanan ini, gigiku seakan gemeretak.
" kenapa diam dok? " tanyaku lalu tersenyum padanya.
" apa benar dokter berharap, dapat menikahi masa lalu dokter?? " dia masih diam dan tak melanjutkan makan dan minumnya. aku semakin intens menatap tajam kearahnya.
__ADS_1
" apa dokter mampu menghancurkan kebahagiaan orang dimasa lalu dokter?? "
" kamuuuuuu ?? " ucapnya.
" saya sudah tahu semuanya dari kedua teman dokter faisal. saya tidak habis pikir, kenapa laki laki seperti dokter, tidak mampu berfikir jernih bahkan sampai memutuskan bunuh diri? apa yang dokter harap lagi dari masa lalu dokter.. " dia masih saja diam, dan hendak bangkit berdiri.
" maaf, aku rasa kita tidak bisa melanjutkan makan malam ini.. "
" kenapa?? " tanyaku menghentikan langkahnya yang mencoba menghindariku.
" masa lalu tidak harus membuat dokter tersiksa seperti sekarang ini, cobalah untuk mengikhlaskan dia dengan orang lain.. dia dan dokter faisal berhak untuk bahagia.. "
" tau apa kamu tentang bahagiaku? " tanyanya padaku sambil mengebrak pelan meja dengan kedua telapak tangannya, lalu membungkuk kan setengah badannya dan mendekatkkan wajahnya kearahku. orang yang berada tidak jauh dari kami, melihat kami dengan tatapan tajam dan penuh dengan rasa penasaran.
" lupakan dia.. carilah kebahagiaanmu yang lain.. " jawabku lirih, kutatap matanya yang merah karena aku tau dia sedang menahan emosi dan amarah.
" kamu tidak tau apa apa.. dan kamu tidak akan pernah tau.. "
Dengan cepat, dia mengalihkan wajahnya dariku dan berdiri lagi diatas egonya.
" aku harap aku tidak akan bertemu lagi denganmu.. terima kasih karena kamu telah menyelamatkanku waktu itu. aku harap malam ini, mampu menebus hutangku padamu.. "
Ketika dia hendak melangkahkan kakinya, tanganku segera meraih tangannya begitu cepat. kugenggam jemari tangannya, dan aku berdiri dari tempat dudukku berhadapan dengannya.
" berbagilah penderitaanmu bersamaku dok.. " ku rasai jemari tangannya, satu kata HANGAT yang dapat aku ceritakan padamu ( pembaca ), yaaa laki laki ini terlihat kuat namun rapuh di dalamnya. terlihat dingin diluarnya, namun aku yakin akan terasa hangat jika kamu berada didekatnya. dia menatapku, diam seribu bahasa.
" Kita sering lupa bagaimana caranya untuk bahagia, karena kita sendiri lebih senang berteman dengan luka dan kecewa.. tapi mulai hari ini, bagilah luka dan kecewamu denganku, akan aku tunjukkan dimana letak kebahagiaan yang sedang menantimu.. saya akan menemani dokter berjuang melupakan serta meninggalkan semua kenangan tentangnya... karena jika kita bersama, kita akan mampu melaluinya.. " tak kulepas genggaman tanganku ini, dan satu telapak tanganku yang lain ku letakkan tepat di dada bidangnya.
Ku angkat telapak tanganku yang menempel didadanya, dan ku tunjuk tunjuk dadanya dengan jari telunjukku tiga kali.
__ADS_1
" karena hati ini, butuh teman.. bukan sendirian.. "
Tes.. bulir air matanya lolos jatuh tepat mengenai telapak tanganku yang telah ku tempelkan lagi didada bidangnya.
Seketika, laki laki tampan ini terjatuh tak berdaya ditopang dengan kedua kakinya. duduk bersimpuh tepat diantara kedua kakiku.
Dia menangis , laki laki ini benar benar terisak diantara kedua kakiku. sungguh hatiku, terasa teriris mendengar senggan sengguk tangisnya. sebegitu dalamnya dia mencintai wanita yang sekarang telah menjadi masa lalunya. aku yakin wanita itu banyak memberikan kebahagiaan padanya, hingga akhirnya dia tidak bisa mengendalikan hatinya. aku yakin, wanita itu tak pernah mengores hatinya sehingga kehilangannya lah yang mampu memporak porandakan kekuatannya hingga rasanya dia tidak mampu untuk bertahan. kini telah ku temukan alasannya , kenapa dia ingin mengakhiri hidupnya kala itu.
Aku menurunkan bobot tubuhku, agar sebanding dengan tubuhnya yang masih bersimpuh. ku raih pundaknya dengan kedua tanganku, ku usap pundaknya dengan pelan seakan membagikan seluruh kekuatan yang ku punya untuknya.
" kini di dalam darahmu, telah mengalir darahku. saya tidak akan membiarkan dokter faisal membuatnya berhenti mengalir. jadi jangan berfikir, atau mencoba untuk memutuskan mengakhiri hidup dokter lagi, karena saya tidak akan mengikhlaskannya.. " dia tidak menjawab kata kataku , dia masih terdiam dan masih ku dengar lirih isak kesedihannya.
Ku putuskan untuk membantunya berdiri, sekali lagi ku raih pundaknya dan mengangkatnya bangun berdiri dengan kedua kakinya.
Kini laki laki dingin itu, meleleh dengan sendirinya. tidak ada ucapan atau kata kata yang keluar dari bibirnya. dia hanya menatapku sendu, air mata masih nampak jelas disudut matanya dan aku mengerti apa yang mungkin dia inginkan.
Aku kembali meraih tangan dan menggenggamnya, aku menuntunnya meninggalkan meja yang berisi makanan yang bahkan baru kusentuh sekali.
Dokter ridho, dan dokter agus yang sejak dari tadi mungkin melihat kami dari jauh, kini mereka juga berdiri menghadang kami di tengah langkah kami pergi meninggalkan cafe dan resto ini.
" dok, apa kalian baik baik saja?? " dokter agus menanyakan hal yang tidak ku mengerti. mungkin dia mengkhawatirkan keadaan kami dari kejauhan yang tadi jelas sedang nampak bersitegang.
" alhamdulilah baik dok.. bisa saya meminjam salah satu mobil dari kalian?? "
" silahkan pakai mobil saya dok.. " dokter ridho menawarkan mobilnya padaku.
" biarkan saya berdua dengan dokter faisal dulu malam ini.. boleh?? "
" silahkan dok..
__ADS_1
" terima kasih.. permisi " pamitku pada keduanya, dokter faisal hanya diam dan mengikuti kemana genggaman tangan dan langkah kakiku pergi.