Dokter Cantik Itu Bundaku

Dokter Cantik Itu Bundaku
kesibukan hari ini


__ADS_3

Pagi ini aku dikejutkan suara orang yang memanggil namaku, aku lagi terburu2 menuju ruanganku dipoli anak. ku toleh kearah kiri tidak ada seseorang yang ku kenal, lalu siapa yang memanggilku lalu ku toleh arah kanan. aku melihat zaskia melambaikan tangan dan tersenyum ke arahku. lalu ku hampiri mereka, dan sedikit mengobrol. aku senang orang yang aku tolong sudah dinyatakan sehat dan boleh pulang. namun tak disangka tak di duga ditengah2 obrolan mereka mengundangku untuk makan malam sebagai ucapan terima kasih. sudah ku tolak dengan halus, tapi putra mereka membuat pernyataan yang membuatku terpaksa mengiyakan. entah perasaan apa ini, tiba2 hatiku ada getaran aneh saat mendengar suaranya untuk kedua kalinya setelah dia bersuara ketika siuman pertama kali bertemu.


" arrrgh ... perasaan apa ini?? lemah sekali sih aku, masak baru disuruh mama dan papa memikirkan masalah jodoh bikin aku tegang begini. dan kenapa rasa aneh ini tumbuh bersama dengan aku membantu laki2 itu?? suaranya, matanya, ah tidak tidak jangan memikirkan yang aneh2, fokus fokus.. kalau sudah digariskan allah siapapun bisa menjadi jodohmu baik dia atau bukan " batinku berkecamuk sambil terus berjalan tatapan mataku seakan kosong.


Ku lihat di kursi antrian banyak sekali pasien yang menunggu kedatanganku, mereka rela antri berjam2 berharap agar anaknya segera sembuhe. mereka melihatku sambil tersenyum, lalu ku balas mereka dengan senyum yang paling manis yang ku miliki dan ku anggukan kepalaku sesekali tanda hormat pada pasien2ku.


Ketika aku sampai di depan ruanganku, terlihat suster santi sudah menantiku dengan seabrek map kuning dan map merah kasus kesehatan pasien mungilku. map kuning untuk pasien yang akan ku periksa pagi ini, dan map merah untuk jadwal visite ku ke ruang inap anak anak. biasanya perawat jaga yang di ruang inap anak anak memberikan ke pada mbak santi untuk kupelajari sebelum berkeliling dari brankar pasien satu ke yang lain.


" selamat pagi mbak santi, wah kelihatannya hari ini kita akan sangat sibuk sekali. apakah sudah siap semuanya?? " tanyaku pada suster santi. aku sudah akrab sekali denganya karena sejak aku bekerja dirumah sakit ini, dia sudah menjadi asisten ku di ruang poli anak guna membantuku menimbang berat badan pasien mungilku sebelum aku mulai periksa mereka satu persatu.


" sudah dok, sudah saya siapkan semua data kasus pasien pagi ini. tinggal kita memulai sesuai dengan kesiapan dokter " jelas mbak santi.


" oke kalau begitu, 5menit lagi kita mulai ya. panggil satu persatu pasien kita dengan lembut, karena anak anak adalah malaikat kecil yang berharga. bahkan orang tua nya rela melakukan apapun untuk kesembuhan nya " sambil ku angkat jempolku memberi semangat untuk mbak santi.


" siaaaap dok " mbak santi tersenyum.


aku masuk ke dalam ruanganku, ku ambil sneli ( jas dokter lengan panjang/pendek ) yang tergantung di dalam lemari gantung yang berada di pojok ruangan, dan duduk dengan tenang tanpa memikirkan 20menit yang telah berlalu ketika bertemu dengan mereka. ku tarik nafas perlahan, dan ku hembuskan, cara itu membuatku merasa tenang. dan kebiasaan itu sudah ku lakukan semenjak pertama kali aku kuliah kedokteran karena aku yakin banyak tugas yang akan menjemputku ketika aku memutuskan untuk mengambil fakultas kesehatan.


Setelah 5menit berlalu, mbak santi memulai memanggil satu persatu pasienku. ku dengarkan dan ku layani mereka dengan sepenuh hati. setiap ku dengar keluhan orang tua mereka tentang sakit anaknya, seperti ada gemuruh dihatiku, apa itu jiwa keibuan ku yang menggema menyeruakkan rasa kasihanku pada mereka malaikat2 kecil yang sedang sakit.


Setelah semua pasien mungilku sudah ku periksa, aku memanggil kembali mbak santi.aku pastikan lagi tidak ada pasien yang ku lewatkan satupun. ketika sudah yakin tidak ada satu pun yang terlewat, aku beranjak dari kursi kebesaranku dan masuk kedalam toilet diruanganku untuk membasuh muka dan buang air kecil.


Lepas aku keluar dari toilet, tiba2 saja aku dikejutkan dengan mbak santi yang sudah berada diruanganku dengan raut muka yang menandakan kecemasan.


" dok, apakah dokter masih ada waktu. ada satu pasien lagi yang akan kesini. mereka sudah berjalan menuju poli anak " mbak santi menjelaskan perihal kecemasannya.


Aku melirik jam masih menunjukkan pukul 12.40 wib. masih ada waktu sedikit mengingat ada jadwal visite hari ini.


" tenang, ada apa ?? masih ada waktu sekitar 20menit sebelum jam 1 siang. tapi aku belum menunaikan sholat dzuhur. pasien atas nama siapa? ya sudah aku tunggu " aku tersenyum.


" aku di telpon oleh temanku, anaknya tiba2 ditengah perjalanan muntah2 dok, sehabis makan mie instan bersama teman teman nya dikantin sekolah nya. sekarang keadaanya pucat dan lemas " mbak santi menjelaskan.


" ehmm begitu, berapa usianya?? " tanyaku.


" sekitar 12 tahunan, cowok dok " mbak santi menjawab singkat.


" oke, kita tunggu semoga tidak terjadi apa2 selama perjalanan kesini " ku coba menenangkan mbak santi. aku paham mungkin dia khawatir mengingat itu anak teman baiknya, anak yang dikenalnya dengan baik dari kecil dan tak ingin terjadi apa apa padanya.


tok tok


terdengar suara pintu diketuk..


" intan, ayoo ayo cepat masuk. ya allah kasian wajah devan pucat sekali " mbak santi menyapa temannya yang tak bisa berkata apa2 melihat kondisi anaknya.

__ADS_1


" silahkan, baringkan disini. siapa namanya?? tanyaku sambil menunjuk bed periksa pasien yang tepat berada disamping kursi kebesaranku.


" Devan dokter " jawab intan ibunya.


" sampai seperti ini, apa dia makan atau minum sesuatu?? " tanyaku lagi.


Ku ambil stetoskop dari mejaku, dan memeriksa bagian dada dan perutnya. ku dengarkan baik2 irama detak jantung, suara paru paru dan suara usus anak tersebut.


" ya dokter, dia memakan mie instan dengan campuran seafood yang dijual dikantin sekolahnya. biasanya juga dia makan mie instan tapi tidak pernah seperti ini dok. tiba2 pas saya jemput didepan sekolah, dia muntah2 terus menerus sampai pucat seperti ini " jelas intan sambil terisak tangis.


" oh begitu, setelah saya periksa sepertinya adek devan ini mengalami keracunan makanan bu " aku tidak salah lagi ususnya menandankan lain.


" ya allah devan " intan mulai menangis melihat anaknya lagi.


" begini bu, Keracunan makanan adalah kondisi yang ditandai dengan munculnya mual, muntah, atau diare setelah mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Kontaminasi tersebut dapat disebabkan oleh kuman atau racun yang masuk ke dalam makanan. gejala keracunan makanan dapat terlihat setelah beberapa menit, jam, atau hari setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Kecepatannya tergantung dari jenis makanan dan penyebabnya. mungkin si adek makan mie instan barengan sama seafood yang kondisinya waktu itu kualitasnya tidak baik, dan si adek ini pucat lemas karena kekurangan cairan akibat muntah secara berlebihan tadi " jelasku.


" lalu dok, bagaimana ini?? apa yang harus saya lakukan " imbuh intan.


" begini melihat dari kondisi si adek, devan harus rawat inap bu. adek kehilangan banyak cairan dan itu menyebabkan dehidrasi. akan lebih membahayakan jika harus dipaksa pulang kerumah. jika dirawat inap nanti bisa di pasangkan infus guna mengembalikan cairan tubuhnya. bagaimana apa ibu intan setuju ?? " anggita menunggu keputusan si ibu anak yang terbaring disampingnya.


" iya dok, lakukan. lakukan yang terbaik untuk anak saya " jawab intan


" harusnya tadi langsung ke IGD bu, dari sana langsung di infus. mbak santi tolong pasang infus untuk adek ini dan segera pindah keruang inap selebihnya nanti saya yang laporan " anggita menjelaskan.


" saya orang awam dok, saya khawatir melihat keadaan anak saya tanpa pikir panjang "


" ya sudah ndak papa, nanti setelah di infus akan baikan. setelah itu nanti saya buatkan resep obatnya sekalian visite ya bu. dan maaf saya harus permisi untuk sholat dzuhur terlebih dahulu " anggita berpamitan.


" iya dok terima kasih yaa " intan mengenggam tangan anggita.


" sama sama bu " tersenyum lalu pergi ke melaksanakan ibadahnya.


Setelah infus terpasang, santi memindahkan devan ke brankar dan mendorongnya menuju ruang inap anak anak sesuai dengan saran dokter cantik. di perjalanan mereka asik mengobrol.


" san, santi.. " intan menepuk pundak santi.


" ada apa " santi sekilas menoleh.


"dokternya ramah ya san, cantik lagi. pantesan kamu krasan jadi asisten nya selama ini. apa dokter anggita sudah punya pasangan??? kekasih atau suami gitu?? " intan bertanya


" belum ada, masih sendiri " jawab santi.


" aku punya sepupu duda loh tan anaknya satu, perempuan. usianya anaknya 2tahun lebih tua dari devan. kasian sepupuku ditinggal selingkuh mantan istrinya dihotel lihat pakai mata kepalanya sendiri lagi. kira2 kalau ku kenal sama dokter anggita gimana ya??? " intan mencoba meyakinkan santi.

__ADS_1


" gundulmu itu, mana mau dokter anggita yang cantik dan baik hati sama sepupumu itu?? palingan sepupumu tua, jelek apalagi duda ?? hahaha " santi menggoda intan.


" halaaaahh kamu menghina, kalau kamu lihat sepupu ku itu. pasti kamu juga mau meskipun duda " intan memanyunkan bibirnya.


" hahahaha , jangan marah aku bercanda. emang siapa sih sepupumu itu??? " tanya santi.


" tuhkan kamu aja penasaran, gitu aja tadi menghina. sekarang aku rahasiakan donk " intan mencibir.


" karepmuu wis ntan " santi tertawa.


Sampailah mereka di ruang inap anak anak. santi mendorong brankar masuk kedalam ruang dan menguncinya agar tidak bergerak ke kanan dan ke kiri.


" aku tinggal dulu ya tan, balik ke poli anak. nanti dicariin dokter anggita "


" oke deh, makasih ya " jawab intan.


santi berjalan keluar meninggalkan intan dan anaknya untuk kembali ke poli anak menemui dokter anggita.


" maaf dok lama, dokter sudah mau pindah ke ruang anak untuk visite " tanya santi melihat dokter anggita membereskan mejanya, memasukan smartphone kedalam tas mahalnya dan melingkarkan stetoskop dilehernya.


" iyah nih mbak santi, duluan ya. buru2 udah jam 1 lebih 10 menit. gak enak sudah ditunggu, terima kasih untuk hari ini sekalian aku pamit nanti lepas visite aku langsung pulang. oh ya apa map merahnya sudah sekalian dibawah ke ruang inap?? tanya anggita.


" sudah dok " sambil mengancungkan 2jempol tangannya.


" oke deh, siip " anggita mengajak santi tosh.


Anggita berjalan menuju ruang inap anak anak. setelah menemui perawat yang jaga siang itu, anggita mulai berkeliling memeriksa pasien2 mungilnya dari ruang satu ke ruang lainnya. didalam ruangan terkadang ada 5 sampai 4 orang pasien dengan kondisi bermacam2 keluhan sakit. memberi saran, arahan dan selalu mendoakan kesembuhan pasien2 nya secara langsung. terakhir anggita berjalan memeriksa ruang anak VVIP dan bertemu dengan intan.


" ini anak devan dok, status keracunan makanan " jelas suster jaga yang menemani anggita berkeliling. anggita menanggukkan kepalanya.


" bagaimana bu intan, apa devan masih muntah?? apa ada keluhan lain saat ini?? " tanya dokter anggita sambil memeriksa devan menggunakan stetoskopnya.


" alhamdulilah tidak dok, sudah tidak muntah dan tidak ada keluhan lagi " jawab intan


" baik, sepertinya sudah agak membaik dari sebelumnya. nanti kalau ada keluhan segera hubungi perawat diruang jaga ya bu. devan cepet sembuh ya sayang. " doa anggita sambil mengelus kepala devan.


" terima kasih dok " intan mengangguk.


" sama sama, saya permisi dulu " pamit anggita.


Anggita kembali menuju ruang jaga perawat untuk menulis resep, menentukan obat dan mengatur dosisnya sesuai dengan berat badan anak. setelah dirasa pekerjaan nya selesai, anggita melirik jam nya, waktu sudah menunjukan pukul 16.00 wib. anggita berpamitan pada suster jaga untuk sholat ashar dan sekalian pulang.


" aku harus cepat2 sampai rumah, istirahat sebentar lalu bersiap2 kerumah tante ratna " batin anggita.

__ADS_1


__ADS_2