
Keesokan harinya saat terbangun Adinda tersenyum karena ia bisa melihat wajah suami tampannya. Adinda memperhatikan setiap lekuk wajah Vino dan ia tersenyum. Adinda mengangkat jari telunjuk tangan kanannya untuk mengikuti alur wajah Vino. ia mengikuti alur mulai dari kening turun ke hidung sampai ke bibir dan turun sampai ke dagu lelaki itu. meskipun ia meraba dengan sangat hati hati agar Vino tidak terbangun. Tiba tiba suara Vino mengintrupsi kegiatan Adinda.
"Udah puas mandangin wajah aku yang ganteng ini." Ucap Vino sambil membuka matanya. "Kalau mau meraba seperti ini." Lanjut Vino sambil menyentuh wajah Adinda mengikuti alur yang Adinda buat.
Adinda hanya menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. ia merasa malu karena ketahuan memperhatikan dan meraba wajah suaminya.
"Kenapa sayang? Wajah kamu merah loh. kamu sakit?" Ucap Vino sambil tersenyum karena Vino tahu jika Adinda tengah merasa malu.
"Aku malu tau. kamu malah ngeledekin aku." Ucapnya sambil mengeratkan pelukannya ke Vino.
"Kenapa mesti malu sayang? Aku suami kamu sekarang. kamu mau liatin aku sepuasnya juga boleh. Aku gak akan larang kok." Lanjutnya sambil makin mengeratkan pelukan kepada istrinya.
"Kamu mau bunuh aku. sesek nih."
"Maaf sayang" Ujarnya sambil terkekeh.
"Sayang salat subuh dulu sana."
"Iya sayang. ini juga mau bangun kok."
Vino berlalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan mengerjakan sembahyang subuh. Setelah selesai ia kembali masuk ke dalam selimut mengikuti istrinya yang masih setia bergelung dengan selimut. Ia memeluk Adinda dari belakang. karena Adinda tidur membelakanginya. Mereka pun kembali berselancar ke alam mimpi.
Adinda mengerjapkan matanya saat ada sinar matahari yang masuk melewati jendela gorden yang sedikit terbuka. Ia lalu bangun dan ia terkejut saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
"Kenapa aku bisa tidur senyenyak ini dalam pelukan Vino?" Gumamnya namun masih bisa di dengar Vino.
"Karena kamu merasa nyaman di dalam pelukan aku sayang." Ucapnya sambil mengecup puncak kepala Adinda.
"Iya mungkin ya. Karena aku merasa terlindungi saat ini. padahal biasanya aku cuma tidur 5 sampai 6 jam dalam sehari. lah sekarang lebih dari 8 jam malah." Jawab Adinda sambil terkekeh.
"Berarti aku harus terus meluk kamu biar kamu tidur dengan sangat nyenyak."
"Sayang lepas tangannya. aku pengen buang air kecil."
"Gak mau. aku lagi nyaman kayak gini."
__ADS_1
"Ayo dong. nanti aku ngompol disini lagi."
Vino langsung menggendong Adinda dan membawanya ke kamar mandi. ia mendudukan Adinda di atas closet. lalu ia keluar dari kamar mandi. Sedangkan Adinda hanya tersenyum mendapat perlakuan manis dari Vino. Setelah sekitar setengah jam Vino mendengar teriakan dari istri tercintanya.
"Sayang.. bisa minta tolong bawain handuk gak? disini gak ada handuk."
"Iya sayang sebentar." Vino mengambil handuk di laci dekat kamar mandi. "Ini sayang handuknya. buka dong pintu kamar mandinya." Ujar Vino. saat pintu sedikit terbuka Vino menyodorkan handuk kepada Adinda.
Adinda keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang hanya menutupi bagian dadanya dan setengah pahanya saja. Vino yang sedang menelfon dengan menggunakan telfon hotel, lantas memperhatikan Adinda. Vino mendekati Adinda yang hanya di balut handuk. ia pun memeluk Adinda dari belakang dan menciumi bahu Adinda membuat darah Adinda berdesir dan degup jantung Adinda seolah sedang lari maraton.
"Vin.. geli tau."
"Abis kamu wangi. Aku jadi pengen makan kamu. Sayang masih lama gak sih tamunya dateng? Kapan sih perginya?"
"Sabar sayang. kalau udah selesai aku pasti kasih ke kamu kok."
"Bener ya." Ujar Vino semangat sedangkan Adinda hanya menganggukan kepalanya.
Adinda pun memakai pakaian nya dengan susah payah. karena Vino selalu saja mencoba menyentuh bagian sensitif Adinda.
"Nelfon siapa tadi?"
Vino melenggang ke kamar mandi. sedangkan Adinda duduk di sofa sambil menonton tv. Tak lama ia mendengar ketukan di pintu. Saat membuka pintu ternyata pesanan sarapan Vino sudah sampai. Ia pun mempersilahkan pelayan itu menyimpan sarapan mereka di dalam. Tak lama kemudian Vino keluar dari kamar mandi mereka pun memulai sarapan mereka. Setelah selesai makan mereka hanya duduk di sofa sambil membicarakan hal hak ringan.
"Setelah kita keluar dari sini. kita tinggal di butik aku aja ya. biar aku gak susah kalau ada kerjaan."
Vino merubah posisi duduknya menjadi tiduran di pangkuan Adinda. Adinda lalu mengelus rambut di kepala Vino.
"Mamah udah nyuruh kita tinggal di rumah mamah sayang. Padahal aku juga udah beli rumah. Tadinya itu untuk kita tempati setelah menikah. tapi mamah ingin kita tinggal di rumah mamah. Ga apa apa kan sayang?"
"Ya udah. aku ikut kamu aja. Kemanapun suami pergi. Istri tentu harus mengikutinya. Walau ke ujung dunia sekalipun aku pasti ikut kamu."
"Dih.. Udah bisa gombal. Belajar dimana hmm?"
"Dari kamu lah. kamu kan guru gombal yang paling handal."
__ADS_1
Mendengar jawaban Adinda, Vino langsung mencubit hidung mancung Adinda.
"Sakit sayang."
"Maaf. Abis kamu ngegemesin sih. Sini aku obatin." Vino langsung mencium hidung Adinda. "Itu obat paling mujarab loh sayang."
"Itu sih kamunya aja yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. modus itu namanya."
"Biarin lah sama istri sendiri itu modus di haruskan."
Mereka hanya menghabiskan hari ini di dalam kamar hotel sambil menceritakan kehidupan masing masing. Saat sore tiba mereka cek out dari hotel dan kembali ke rumah. Dengan sebelumnya mereka mampir ke tempat tinggal Adinda untuk mengambil beberapa pakaian. Di rumah Mamah Falia dan Papah Andrew sudah menunggu kedatangan pengantin baru itu. Tak lama mobil Vino sudah memasuki halaman rumah.
"Selamat datang di rumah sayang." Ujar mamah Falia kepada Adinda.
"Makasih mah."
"Ya udah kalian istirahat aja dulu. Vin ajak istri kamu ke kamar." Ujar mamah Falia.
"Siap bos." Jawab Vino dengan posisi tangan memberi hormat. "Ayo sayang." Lanjutnya sambil menggenggam tangan Adinda.
Sesampainya di kamar, Adinda langsung menuju tempat pakaian. Ia langsung memasukan pakaian yang ia bawa ke dalam lemari pakaian Vino.
"Nanti aja beres beres nya sayang. Mending tidur yuk."
"Kamu ini, udah sore ini. Sebentar lagi ashar loh. Mending ambil wudhu sana."
"Baiklah tuan puteri. Sesuai perintahmu."
Setelah Vino mengerjakan salat ashar Vino menghampiri Adinda yang masih membereskan pakaian nya. Vino langsung memeluk Adinda dari belakang. Adinda hanya tersenyum dengan perilaku Vino.
"Kamu manja juga ya ternyata."
"Biarin sama isteri sendiri ini. Asal jangan sama orang lain aja."
"Kalau kamu manja sama orang lain. Adik kamu aku sunat lagi loh. Mau?"
__ADS_1
"Jangan dong sayang. Makanya aku cuma manja sama kamu. gak mungkin lah aku manja sama yang lain."
Mereka bercengkrama sampai waktu makan malam. Mereka makan malam bersama kedua orang tua Vino. Setelah itu mereka kembali ke kamar untuk beristirahat. Vino sudah merebahkan dirinya. Ia merentangkan tangan kirinya. Dan tangan kanan nya mengisyaratkan agar Adinda masuk ke dalam pelukannya. Mereka pun tertidur dengan posisi saling berpelukan.