
Adinda menjadi lebih murung dari biasanya. Meskipun ia ikut tertawa bersama dengan yang lainnya. Namun Yola bisa menangkap rasa sakit Adinda di balik tawanya.
"Lo baik baik aja kan Din?" Tanya Yola.
"Gue baik baik aja kok. Ini udah malem. Mending kalian pulang. Besok kan kalian harus beraktifitas lagi." Balas Adinda sambil melihat satu per satu orang di dalam kamarnya.
"Biar gue yang jaga. Kebetulan gue juga harus stay di rumah sakit soalnya pasien yang baru di operasi masih harus di pantau sampai pagi." Ujar Axel.
"Gak usah. Aku sendiri aja. Aku udah gede loh. Udah jadi seorang ibu juga. Masa masih harus di temenin." Ujar Adinda sambil tersenyum.
Tiba tiba Raka menghampiri Adinda. "Kakak tau kamu lagi hancur. Kamu butuh seseorang di samping kamu saat ini. Biar kakak temani ya. Sama Axel yang sekalian jaga pasien nya. Kevin juga masih harus mantau perkembangan Arkana. Yola sama Safira pulang aja. Percayakan Adinda sama kita." ujar Raka.
"Dok. boleh bicara sebentar gak? di luar tapi." Ujar Yola sambil berbisik di telinga dokter Raka.
"Ayo. Kita bicara di depan aja." Ajak dokter Raka sambil berlalu ke arah luar ruangan.
"Ada apa Yola?" Tanya dokter Raka saat keduanya sudah keluar dari ruangan Adinda.
"Tolong hibur dia dokter. Aku gak mau kejadian beberapa tahun lalu keulang lagi." Ujar Yola
"Kejadian apa?" tanya Raka dengan alis yang saling bertautan.
"Beberapa tahun lalu kedua orang tua Adinda meninggal di waktu yang bersamaan akibat kecelakaan. Dia begitu terpuruk sampai sampai dia terlihat sangat murung. Dia terlihat gak bersemangat."
"Kita duduk di sana. Terus kamu jelasin secara gamblang."
"Pernah sekali waktu saat aku menginap di tempat dia setelah kedua orang tua nya meninggal. Dia selalu menangis di setiap waktu. Dia juga kehilangan nafsu makannya sampai sampai badan dia kelihatan seperti tulang yang di bungkus kulit. Dia juga sering mencoba bunuh diri karena dia berfikir jika dia ikut meninggal dia bisa bersama dengan kedua orang tuanya. Itu mungkin akibat dari kesedihan yang mendalam karena ditinggal oleh kedua orang tuanya secara bersamaan. Namun dia bisa kembali bangkit setelah beberapa kali terapi. Aku gak mau kejadian waktu itu terulang kembali. Aku bener bener takut dia akan kembali seperti itu. Karena kurang lebih keadaan dia sekarang hampir sama. Dia di tinggalkan oleh anaknya dan di hianati oleh suaminya. Aku yakin perasaan dia sangat hancur saat ini. Meskipun aku gak tau pasti. Tapi yang aku liat dari kepergian dokter Vino dia terus menangis. Udah berbagai cara aku lakuin biar dia bisa ketawa. Tapi bener bener gak ada respon apapun. Aku minta bantuan dokter. Tolong kembalikan semangat Adinda lagi Masih ada Arkana di sini."
"Aku bakal berusaha Yol. Semoga kejadian itu gak terulang lagi."
"Iya dok. Makasih."
"Ga usah sungkan gitu dong. Aku udah anggap Adinda seperti adik aku sendiri."
"Aku bilang gini karena aku liat Adinda sangat dekat sama dokter. Makanya aku berani mengutarakan ini."
__ADS_1
"Ya udah. Mending sekarang kamu sama Safira pulang. Ini udah malem. Biar kita yang jaga Adinda."
"Ya udah aku pamit dulu sama Adinda sambil mengajak Safira masih di dalam."
Mereka masuk kembali ke ruang rawat Adinda.
"Din, gue sama Safira balik dulu ya. Lo kalo butuh apa apa bilang sama gue. Ok."
"Iya Yol. Makasih lo selalu ada buat gue."
"Gue balik ya. Besok harus pemotretan juga soalnya."
"Ok. Hati hati ya kalian. Kabarin kalo udah sampai di rumah."
"Siap." Ujar Yola dan Safira bersamaan.
"Halo ponakan aunty. Aunty pulang dulu ya ganteng." Ujar Safira pada Arkana.
"Ini yang di sebelah Arkana gak ganteng?" Tanya dokter Kevin
"Kapan kalian jadian? Wah ada pajak jadian nih. Asik dong kita makan makan." Ujar dokter Axel.
"Iya kita pacaran. Sirik ya lo." Ujar Kevin pada Axel.
"Gak kok. cuma iri aja." Ujar Axel sambil tertawa.
Yang lain ikut tertawa mendengar penuturan Axel. Kecuali Adinda. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ya udah kita pamit ya. Tolong jaga sahabat aku." ujar Safira sambil memandang Kevin
"Hati hati ya. Kalo udah nyampe rumah kabarin." Ucap Kevin sambil membelai rambut Safira.
"Iya. Nanti aku kabarin." Balas Safira.
Yola dan Safira keluar ruangan Adinda. Mereka menuju rumah masing masing. setelah perjalanan panjang hari ini. Banyak drama dan air mata yang terjadi hari ini. Baik Yola maupun Safira sangat menghawatirkan keadaan psikis Adinda. Namun mereka semua percaya jika Arkana bisa menjadi obat mujarab bagi Adinda saat ini.
__ADS_1
"Din istirahat dulu. Ini udah malem loh." Ujar Raka sambil berdiri di samping Adinda.
"Kakak kalo mau istirahat di ruang kakak boleh kok. Disana pasti nyaman gak kaya disini." Balas adinda. "Dokter Axel sama dokter Kevin juga balik ke ruangan kalian aja. Aku ga apa apa kok di sini sendiri." Lanjutnya.
"Kita bakal jagain kamu pokoknya. Gak boleh ada penolakan." Kali ini Axel yang berbicara.
"Aku udah ngerepotin kalian. Maaf ya. Kalian juga harus menyaksikan gimana hancurnya aku saat ini." Lanjut Adinda sambil menangis.
"Ada kita disini. Kamu gak perlu nangisin yang gak penting."Ujar Raka lagi. "Kita disini di samping kamu. Ada Arkana juga yang setia di samping kamu Din. Kamu yakin mau gugat Vino?" Lanjutnya.
Adinda tidak mampu berucap. Ia sudah menahan sesak di dalam dadanya. Tanpa aba aba Adinda langsung memeluk dokter Raka. Dengan memeluk pinggang dokter Raka. Dokter Raka membalas dengan mengusap lembut kepala Adinda.
"Din. kamu harus kuat. Demi Arkana. Demi orang orang yang sayang sama kamu." Ujar Kevin.
"Kita disini sayang sama kamu. Kita disini udah anggep kamu adik kita. Kamu juga berharga buat kita. Kamu harus bangkit Din. Jangan terpuruk seperti ini. Kita semua sedih liat kamu kayak gini." Kini Axel yang berbicara
"Kak apa keputusan untuk menggugat Vino bakal berpengaruh buruk sama kehidupan Arkana kelak? Tapi kalau kita tetap bersama aku gak bisa kak. Sudah cukup penghianatan yang dia kasih buat aku." Ujarnya sambil masih menangis di dalam pelukan Raka.
Axel ikut merangkul Adinda untuk memberikan ketenangan sekaligus bukti bahwa mereka akan selalu ada di sisi Adinda.
"Pikirkan baik baik Din. Semua pasti ada resikonya. Semua keputusan kamu ada di tangan kamu." Ujar Raka
"Tapi nanti Arkana pasti kurang kasih sayang dari seorang ayah." Lanjut Adinda.
"Lihat aku Din." Ujar Axel sambil mengalihkan kepala Adinda dari pelukan Raka untuk melihat ke arahnya. "Apa yang kamu inginkan?" Tanya Axel
"Aku hanya ingin berpisah dari Vino. Sudah cukup beberapa bulan ini dia nyakitin aku. Aku sebenarnya tau dia ada main dengan seseorang meskipun aku gak tau pasti. Karena aku sempat membaca beberapa chat dia. Aku gak tau itu Tissa karena gak ada namanya. Hanya no ponsel nya yang tertera. Saat aku tau semua hari ini. Aku rasa aku gak mau sakit hati lagi." ujar Adinda. "Tapi aku bingung gimana psikis Arkana kelak jika dia tumbuh tanpa Ayah." Lanjutnya
"Ada kita yang bisa gantiin kasih sayang Ayahnya. Bahkan dia langsung dapat 3 Ayah sekaligus. Kasih sayang buat Arkana pasti melimpah." ujar Axel. Adinda tak henti menangis mendengar ketulusan dari para sahabat suaminya itu.
"Makasih.. Makasih kalian udah dukung aku saat ini." Ujar Adinda.
"Mending kamu tidur. Aku juga udah suruh suster bawa kasur lipat untuk kita tidur. Kita bakalan jaga kamu disini. Kita bakal nemenin kamu." Ujar Kevin.
"Iya Din kamu istirahat ya." Ujar Axel sambil membaringkan Adinda dan menyelimutinya sampai sebatas dada.
__ADS_1
Adinda pun tertidur. Raka pun tidur di sofa kamar itu. Sedangkan Axel selalu mengecek pasiennya yang berada di ICU setiap satu jam sekali. Dan Kevin hanya perlu mengecek perkembangan Arkana.