
Tak terasa kehamilan Adinda menginjak tujuh bulan. Hari ini hari Minggu. Vino sedang bebas dari dinas di rumah sakit. Hari ini rencananya mereka akan membeli perlengkapan bayi mereka.
"Mas Ayo mas. Nanti keburu siang."
"Baru juga jam 9 sayang. Tenang aja."
"Ayo berangkat sekarang."
"Iya iya ayo. Kamu tuh ya. Makin manja aja."
"Biarin manja sama suami ini. Atau kamu mau aku manja sama orang lain mas?"
"Ya jangan dong. Kamu cuma boleh manja sama aku seorang."
"Siap mas. Ya udah hayu berangkat."
"Iya sebentar sayang. Aku ambil dompet sama kunci mobil dulu sebentar."
Adinda menuju garasi dan mendekati mobil mereka. Tak lama Vino keluar dari rumah dan segera membuka pintu untuk Adinda. Setelah Adinda masuk barulah ia memutari mobilnya dan masuk ke tempat mengemudi. Tak lama mereka telah sampai di salah satu mall di kota itu. Adinda masuk ke dalam mall dengan tangan yang terpaut dengan tangan Vino. Mereka memasuki toko pakaian dan peralatan bayi.
"Mas aku mau itu."
"Apa?"
"Box bayi nya lucu mas."
"Boleh. Kereta bayinya mau yang mana?"
"Kayaknya yang warna abu itu bagus mas."
"Kenapa gak yang biru atau pink gitu?"
"Kita kan gak tau jenis kelamin anak kita apa. Kalo beli yang dominan mending nanti setelah anak kita lahir."
"Kamu beneran gak pengen tau jenis kelamin anak kita apa?"
"Gak mas. Biar surprise aja gitu. Kita juga harus punya cadangan nama. Antara cewek atau cowok."
"Iya sih surprise. Tapi kan aku penasaran. Gimana kalo anak kita kembar?"
"Ya ga apa apa dong. Jadi langsung punya 2 anak."
"Ya makanya nanti tanyain ke Raka. Aku penasaran."
"Aku udah bikin perjanjian sama dokter Raka. Dokter Raka gak boleh bilang anak ini kembar atau tunggal ataupun jenis kelaminnya. Aku cuma pengen tau perkembangan bayi kita aja mas. Selebihnya biar jadi surprise."
"Baiklah. baiklah.. Lebih baik aku mengalah."
"Ya harus dong. Sama isteri itu harus mengalah."
"Baiklah. Udah pilih pilihnya?"
"Udah tuh mas. Keranjang juga udah penuh. Pulang yuk. Eh jangan dulu deh. Makan aja yuk. Laper mas."
"Baiklah isteriku tersayang. Mau makan apa?"
__ADS_1
"Apa aja deh. Bebas."
"Ok kalo gitu aku bayar dulu ya. Sekalian kasih alamat rumah kita dulu. Biar di anter semua peralatannya."
Setelah masalah pembayaran selesai Vino dan Adinda langsung menuju salah satu restoran untuk mengisi perut mereka yang mulai keroncongan. Adinda memilih sampai 4 menu. Vino hanya melongo melihat porsi makan isterinya.
"Kok gitu sih liatnya? Gak boleh ya aku makan banyak?"
"Boleh sayang boleh. Apapun untuk kamu."
"Soalnya aku bingung. Aku pngen semua menu yang aku pesan."
"Iya pesen aja. Aku gak bakal bangkrut kok sayang. tenang aja."
"Kalo gak abis kamu yang abisin ya."
"Siap sayang."
Mereka memakan makanan yang udah tersaji di atas meja. Adinda makan dengan semangat. Vino hanya tersenyum.
"Pelan pelan sayang. Nanti tersedak."
"Iya mas. Hehe.. Aku terlalu senang." Ujarnya sambil terkekeh.
"Iya sayang. Tapi pelan pelang ya sayang. Aku gak mau kamu kenapa napa."
"Siap mas ku sayang."
Setelah selesai makan mereka berencana pulang ke rumah. Di tengah perjalanan Adinda melihat pohon buah mangga. Tiba tiba Adinda menyuruh Vino berhenti.
"Kenapa sayang? Kamu pengen sesuatu?"
"Aku pengen buah mangga mas."
"Baiklah kita cari super market buat beli buah mangga."
"Bukan beli mas. Aku pengen mangga yang itu." Ujarnya sambil menunjuk pohon yang di depannya."
"Itu punya orang sayang."
"Mintain buat aku. Ya ya. Please.." Ujar nya sambil memohon kepada Vino.
"Kalah sudah. Aku gak akan mungkin menolak liat muka kamu yang menggemaskan sayang."
"Asik.. Ayo turun. Kita bilang sama sama."
Kini Vino dan Adinda berada di depan gerbang rumah yang memiliki pohon mangga tersebut. Vino melihat ada seorang satpam yang menjaga gerbang tersebut.
"Maaf pak permisi. Bisa bertemu dengan pemilik rumah ini?" Tanya Vino kepada satpam penjaga rumah
"Maaf ada apa ya?" Tanya satpam tersebut
"Istri saya kebetulan sedang hamil dan ia menginginkan buah mangga dari pohon ini. Bisa saya bertemu dengan pemilik rumah ini?"
"Sebentar pak. Biar saya panggilkan."
__ADS_1
Setelah menanyakan maksud kedatangan Vino satpam tersebut masuk menemui majikannya. Tak lama Satpam tersebut keluar dengan seorang wanita paruh baya.
"Maaf ada yang bisa Ibu bantu Nak?" Tanya ibu tersebut.
"Maaf Bu jika sayang mengganggu waktu Ibu. Isteri saya kebetulan sedang hamil dan menginginkan mangga yang ada di pohon Ibu. Bisakah saya membeli beberapa buah mangga nya bu?" Ujar Vino
"Ambil saja Nak. Tak perlu sungkan. Biar ibu suruh orang buat ambilkan." Balas Ibu itu sambil memberi perintah kepada satpam yang tadi berjaga di depan gerbang
"Terima kasih banyak bu." Ucap Adinda sambil memegang tangan ibu tersebut.
"Sama sama Nak. Sudah berapa bulan kandungan kamu Nak?" Tanya Ibu
"Sudah masuk 7 bulan bu. Cuma kadang masih suka banyak inginnya." Jawab Adinda.
"Sebentar lagi dong ya. Semoga lancar ya Nak saat persalinan nanti."
"Terima kasih bu atas doanya."
"Ini Bu buah mangga nya." ujar satpam tersebut.
"Wah.. Banyak banget." Ucap Adinda dengan mata yang berbinar.
"Ambil saja semua Nak. Disini juga tak ada yang memakan. Kalian tinggal dimana?"
"Kita tinggal di komplek ini juga bu. Gak jauh dari sini." Vino yang menjawab.
"Jika masih menginginkan buah mangga. Kesini lagi saja ya Nak."
"Terima kasih banyak ya bu. Berapa yang harus saya bayar Bu?" Vino berujar
"Tak usah di bayar Nak. Ibu ikhlas."
"Tapi ini banyak sekali Bu." Lanjut Vino
"Ga apa apa Nak. anggap saja itu hadiah dari Ibu."
"Terima kasih banyak Bu. Kalau begitu kami pamit pulang bu." Vino sambil mengambil tangan Ibu itu dan mencium punggung tangan ibu tersebut di ikuti Adinda di belakangnya.
"Sama sama Nak. Hati hati saat berkendara Nak."
"Iya Bu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam Nak."
Vino dan Adinda menuju mobil mereka. Sedangkan Ibu tersebut masuk kembali ke dalam rumah.
"Seneng banget sayang."
"Ya jelas seneng lah. Aku udah gak sabar pengen makan ini."
"Iya sebentar lagi juga kita sampai."
"Makasih ya mas. Kamu udah lakuin apapun yang aku inginkan."
"Apapun untuk kamu sayang."
__ADS_1
Setelah mereka sampai ke rumah, Adinda langsung menuju dapur dan membuat bumbu rujak untuk buah mangga muda yang sudah ada di tangannya. Setelah itu Adinda sangat menikmati memakan buah mangga muda tersebut. Sedangkan Vino hanya menemani Adinda. Karena Vino kurang menyukai rasa asam. Di tengah tengah Adinda memakan rujaknya, perlengkapan bayi yang mereka beli sudah sampai. Adinda langsung memasukan barang tersebut ke kamar bayi yang mereka sediakan. Dengan antusias Adinda menata barang yang di belinya tadi.