
Setelah puas berkeliling dan hari pun sudah beranjak sore, mereka memutuskan untuk pulang dan mencari tempat makan agar mereka bisa mengisi perut mereka. Sesuai rencana Raka dan Arkana ikut dengan mobil Axel. Agar Adinda dan Vino bisa berbicara berdua. Di saat mereka sudah dekat dengan para lelaki, tiba tiba Adinda meminta izin untuk pergi ke toilet terlebih dahulu.
"Gue izin ke toilet sebentar. Tolong bawa dulu Arkana ya Fir." Ucap Adinda sambil menyerahkan tangan Arkana ke tangan Safira dan Adinda berlalu ke arah toilet.
Setelah mereka sampai ke para lelaki, Anak anak mereka langsung memeluk para Ayahnya. Termasuk Arkana yang langsung memeluk Vino sebelum beqq"ralih pada Raka.
"Kan, gimana kalau kamu sama Papah ikut di mobil om Axel? Biar kita barengan sama Bianca dan Nathan juga. Mau gak?" Tanya Raka kepada Arkana.
"Ayah boleh gak aku ikut mobil om Axel?"Tanya Arkana kepada Vino.
"Boleh sayang, nanti kalau mau pindah bilang ya." Jawab Vino
"Hore..Ayo Pah, kita masuk ke mobil om Axel." Arkana sambil menarik Raka untuk menuju mobil Axel.
"Semangat bro.." Ujar Kevin dan di angguki oleh Axel.
"Doain aja." Balas Vino.
Mobil Axel sudah melaju meninggalkan area Taman Safari. Tak lama Adinda datang sambil mencari keberadaan yang lainnya.
"Loh yang lainnya mana mas?" Tanya Adinda saat berada di depan Vino
"Mereka udah jalan duluan."
"Arkana ikut mereka juga?"
"Iya, katanya Arkana ingin barengan sama Bianca dan Nathan. Biarin lah ada Papahnya ini."
"Yakin dia gak akan nangis jauh dari aku?"
"Ada Raka disana. Tenang aja Din. Kalau Arkan nangis kita bisa susul mereka. Yuk kita pulang."
__ADS_1
Adinda mengikuti Vino di belakangnya. Vino membukakan pintu untuk Adinda, setelah Adinda masuk Vino memutari mobilnya dan menuju ke kursi kemudi. Vino segera melajukan mobilnya keluar area Taman Safari. Tak lama Vino memberhentikan mobilnya di salah satu cafe saat ia berada di perjalanan menuju Jakarta.
"Loh ngapain kita kesini mas?"
"Mau makan lah. Masa iya mau numpang buang air kecil. Aku laper. Ga apa apa kan kita makan dulu?"
"Ya udah. Tapi yakin Arkana gak akan kenapa napa?"
"Yakin, Tenang aja. Ada Raka yang bisa nenangin dia. Mau masuk atau pulang aja?"
"Ya udah masuk aja. Kasian kamu laper kan."
Vino segera turun dan segera membuka pintu untuk Adinda. Adinda yang masih merapikan dirinya kaget karena pintu terbuka secara tiba tiba.
"Kamu kenapa?"
"Kaget mas.. hehe.." Adinda terkekeh dan Vino hanya tersenyum
"Din sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu."
"perihal apa mas?" Tanya Adinda. Namun sebelum Vino sempat menjawab, Adinda sudah menjawabnya sendiri. "Jangan bilang ini pembahasan soal yang tadi pagi saat kita di perjalanan. Aku gak mau mas. Pokoknya aku gak mau nikah dengan Kak Raka ataupun orang lain. Tolong jangan paksa aku mas. Kalau memang kita akan membahas ini lebih baik aku pergi." Adinda hendak beranjak dari kursinya namun tangannya di tarik oleh Vino dan Vino mendudukan kembali Adinda di kursinya.
"Dengerin dulu dong. Aku aja belum sempet jawab, malah kamu yang jawab sendiri."
"Ya terus mau bahas apa? Pasti bahas itu kan. Akhir akhir ini kamu selalu bilang aku harus nikah sama Kak Raka. Apa kamu gak ngerti perasaan aku gimana mas? Apa kamu gak mikirin perasaan aku dulu sebelum kamu ngomong kayak gitu?" Vino hanya terdiam mendengar ocehan Adinda. "Sekarang aku yang balik nanya sama mas. Emang mas udah gak ada rasa apapun sama aku mas sampe mas relain aku buat orang lain? Kalau emang kamu udah gak punya perasaan apapun, baik aku terima akan dinikahkan dengan siapapun itu pilihan kamu mas."
"Udah ngomongnya? bisa biarin aku ngomong dulu?Kamu tuh selalu menyimpulkan semuanya sendiri. Gimana kalau yang mau aku bahas tentang kita. Tentang aku yang ingin kita seperti dulu."
"Ya habis itu kan yang akhir akhir ini selalu kamu bahas."
"Sekarang denger aku Din. Aku sungguh sungguh berharap kita bisa balikan kayak dulu. Aku masih sangat mencintai dan menyayangi kamu Din. Tapi entah kenapa perasaan ini selalu bikin aku takut. Sesungguhnya aku juga menahan sesak di dada ini saat menyuruh kamu dan Raka menikah. Tapi aku takut apa yang aku rasa nanti jadi kenyataan. Gimana sama kamu dan Arkana jika aku beneran pergi jauh."
__ADS_1
"Ya kamu berusaha jangan pergi dong mas. Kamu harus berusaha mengganti waktu kamu yang hilang untuk Arkana dan aku. Aku juga belum bisa melupakan kamu mas. Karena ego aku kita jadi kayak gini. Arkana juga kena imbasnya di ejek teman sekolahnya. Kalau saja aku bisa menurunkan sedikit ego aku. Mungkin Arkana gak akan tertekan di sekolahnya." Tanpa terasa Adinda menitikan air matanya.
"Udah dong jangan nangis." Ujar Vino sambil mengulurkan tangannya mengusap pipi basah Adinda. "Aku juga mau minta maaf atas semua kesalahan aku. Aku terlalu terpaku pada masa lalu. Aku merasa sangat kehilangan setelah kamu pergi." Vino beranjak dari kursinya dan duduk di sebelah Adinda yang masih terisak. "Udah dong jangan nangis lagi. Aku minta maaf atas semua nya. Baik itu perbuatan yang dulu ataupun perkataan aku akhir akhir ini. Aku sungguh sungguh minta maaf Din. Kamu mau kan maafin aku Din?" Tanya Vino sambil membawa Adinda ke dalam pelukannya.
"Aku udah maafin kamu atas sikap kamu yang terdahulu. Namun untuk perkataan kamu akhir akhir ini aku gak akan maafin kamu kalau kamu masih bahas soal ini."
"Makasih sayang."
"Apa mas?" Tanya Dinda sambil mengurai pelukannya.
"Sayang. Kenapa gak suka? Bukannya kamu mau balikan sama aku?"
"Siapa bilang aku mau?"
"Jadi gak mau ya? Salah dong aku."
"Emang kamu nanya aku mau balikan sama kamu atau enggak? Gak ada pertanyaan kayak gitu kan."
"Ok ok. Adinda Maheswari maukah kamu kembali padaku. Menjalin suatu hubungan penuh kasih. Saling melengkapi satu sama lain. Saling mengerti satu sama lain dan membesar Arkana serta anak anak kita kelak?" Tanya Vino sambil mengeluarkan cincin pernikahan mereka yang sengaja Vino simpan selama ini.
"Aku mau mas. Kamu maksa sih soalnya." Ucap Adinda sambil terkekeh.
"Baiklah baiklah.. Aku yang maksa kamu sekarang. Makasih sayang. Makasih sudah mau menerima aku lagi."
"Sama sama mas."
"Aku bakal bikin pesta pernikahan lagi yang lebih mewah dari yang pertama."
"Apa sih mas. Gak usah berlebihan. Cukup dengan ijab saja. Gak usah berlebihan. Gak malu sama anak?"
"Baiklah sesuai keinginan kamu sayang."
__ADS_1
Mereka larut dalam obrolan masa depan mereka. Hari ini adalah hari yang sangat bahagia bagi Vino dan Adinda. Setelah selesai makan mereka lantas kembali melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk memberitahukan rencana mereka kepada kedua orang tua Vino.