Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
EMPAT PULUH TUJUH


__ADS_3

Hari ini seperti biasa Adinda sudah mulai bergelut dengan peralatan dapur untuk menyiapkan sarapan. Rencana nya hari ini Adinda akan mengunjungi rumah Raka untuk bertemu dengan Ayah dan Ibu Raka. sekalian menjemput Arkana. Setelah menyiapkan sarapan Adinda menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah selesai Adinda segera menuju meja makan untuk sarapan. Terlihat semua sudah menunggu Adinda. Adinda lalu mendudukan dirinya di sebelah Vino. Dengan sigap Adinda mengisi piring dari Papah, Mamah tak lupa Vino dan terakhir untuk dirinya.


"Makasih sayang." Ujar Papah.


"Makasih sayang." Kini giliran Mamah.


"Makasih sayangku." Vino pun mengucapkan terima kasihnya.


"Lah kenapa pake sayang segala?" Tanya Papah.


"Calon isteri loh ini Pah. Bebas dong mau panggil sayang atau apapun." Balas Vino


"Terserah kamu deh. Hari ini kamu ikut rapat kan Vin?"


"Ikut lah Pah. Bukannya semua dokter harus ikut kan?"


"Ya bagus deh. Takutnya kamu lebih milih bareng Adinda dari pada ikut rapat."


"Emang boleh Pah? Kalau boleh sih aku mending milih pergi sama Anak sama calon isteri aku."


"Ya gak boleh lah mas. Kamu harus lakuin kewajiban kamu." Kini Adinda yang berbicara.


"Tuh dengerin apa kata puteri Papah."


"Iya deh iya. Vino ikut rapat. Udah yuk mending makan."


Mereka makan dengan lahap mengingat masakan Adinda selalu enak. Setelah selesai mereka bersiap siap untuk melanjutkan aktifitasnya masing masing. Adinda akan bersiap ke rumah Raka. Sedangkan Mamah hari ini ada arisan dengan ibu ibu komplek. Vino dan Papah sudah jelas akan menghadiri rapat di rumah sakit. Vino mengantar Adinda terlebih dahulu ke rumah Raka sebelum pergi ke rumah sakit.


"Aku bisa naik taksi padahal mas. Jadi ngerepotin kan."


"Ga apa apa sayang. Tolong pakein dasi aku dong. Udah lama loh kamu gak pakein dasi aku."


"Manja.. Biasanya juga sendiri."


"Kalau ada kamu ya gak mau sendiri lah."


"Ya udah sini. Setelah ini berangkat ya. Biar kamu gak telat ke rumah sakit."


"Siap sayang."


Adinda memasangkan dasi di leher Vino. Vino hanya tersenyum melihat wajah Adinda yang sedang serius.


"Selesai." Ujar Adinda


CUP. tiba tiba Vino mengecup kening Adinda.


"Dih.. Jangan cium cium. Bukan muhrim loh kita."

__ADS_1


"Bentar lagi juga muhrim."


"Ya udah ayo berangkat." Adinda lalu berpamitan kepada Mamah dan Papah diikuti Vino.


Sekarang mereka sedang berada di perjalanan menuju rumah Raka. Setelah sampai Adinda segera masuk dan menemui Ibu dan Ayah dari Raka.


"Aku masuk ya mas. Makasih udah nganterin."


"Sama sama sayang."


Adinda hendak keluar dari mobil Vino dengan segera Vino menahan lengan Adinda dan menyodorkan tangannya untuk di cium Adinda. Adinda hanya tersenyum sambil membawa tangan Vino untuk ia salami. Dengan segera Vino mencium kening Adinda.


"Udah sana. Takut khilaf." Ujar Vino sambil terkekeh.


"Dari tadi juga mau keluar, tapi kamu yang nahan nahan aku."


"Iya iya.. Udah sana tuh Ibu sama Ayah diluar. Kayaknya dia nungguin puteri cantiknya."


"Aku masuk dulu ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Setelah Adinda keluar, tiba tiba Raka masuk ke dalam mobil Vino.


"Gue nebeng ya. Nanti juga lo ke sini lagi kan jemput Dinda sama Arkana?"


Vino segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sedangkan di rumah Raka, Adinda masuk ke dalam rumah langsung menghampiri Ayah dan Ibu yang sedang memperhatikan Arkana bermain di halaman.


"Assalamualaikum. Ayah, Ibu." Ujar Adinda sambil mencium punggung tangan Ayah dan Ibu dari Raka.


"Wa'alaikum salam." Jawab Ayah dan Ibu secara bersamaan.


"Maaf ya aku baru ke sini."


"Iya Din. Nih Ayah kamu nanyain kamu terus." Ujar Ibu sambil melirik Ayah.


"Ayah kan kangen sama puteri ayah. Emang gak boleh?"


"Boleh Ayah. Sini aku peluk." Ujar Adinda sambil memeluk Ayah.


Ayah dan Ibu Raka sudah menganggap Adinda seperti puteri kandung mereka .


Tiba tiba Arkana menghampiri Adinda dan juga kakek dan neneknya.


"Bunda... " Ujar Arkana sambil berlari ke arah Adinda. "Gak Opa gak Kakek selalu seneng pelukin Bunda." Mendengar penuturan Arkana semua yang ada disana hanya bisa tertawa.


"Kamu selama sama Kakek sama Nenek gak nakal kan?"

__ADS_1


"Aku gak nakal kok Bunda. Iya kan Nek?" Ibu hanya menganggukkan kepalanya. "Bunda, tadi malem aku telfon Ayah. Katanya besok kita ke akuarium besar sama Bianca sama Nathan juga. Tadinya aku pengen sekarang. Tapi kata Ayah, hari ini Ayah ada pekerjaan di rumah sakit. Jadi berangkatnya Sabtu aja."


"Iya sayang, sekarang Ayah sama Papah kamu lagi ke rumah sakit dulu. Ada yang harus di selesaikan. Makanya kamu harus sabar ya. Masih lama juga kita disini."


Kini Adinda, Arkana serta Ibu dan Ayah masih mengobrol di halaman.


Tak terasa hari sudah mulai sore, Arkana sedang tidur tak lama Vino dan Raka pulang.


"Assalamualaikum." ujar Raka danVino hampir bersamaan saat memasuki rumah Raka.


"Wa'alaikum salam." Jawab Adinda dan Ibu secara bersamaan.


Vino dan Raka langsung mencium punggung tangan Ibu.


"Jagoan aku mana Bu?" Tanya Raka.


"Iya Din, kemana jagoan aku?" Tanya Vino tak mau kalah.


"Lagi tidur sama Ayah." Jelas Ibu. Membuat Raka dan Vino menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, Raka menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Sedangkan Vino duduk di sebelah Adinda. Tak lama Ayah ikut bergabung dengan Ibu, Adinda dan Vino. Tiba tiba Vino mengutarakan maksudnya kepada Ayah dan Ibu Raka.


"Ayah, Ibu, Aku mau minta izin buat nikahin anaknya lagi." Ujar Vino


"Kamu mau nikah sama Raka Vin?" Ujar Ayah sambil terkekeh.


"Ya gak lah Ayah, aku masih normal. Maksud aku, aku mau nikahin lagi Adinda puteri Ayah sama Ibu." Jelas Vino


"Kalau Ayah sih terserah sama Adinda saja. Dia sudah dewasa. Dia juga pasti sudah memikirkannya matang matang. Jadi gimana Din?" Tanya Ayah.


Ibu hanya menyimak perbincangan saat ini. Dan tersenyum saat melihat Adinda menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah. Ingat ya Vin. Jangan kamu sia siakan lagi anak Ayah." Nasehat Ayah.


"Siap Ayah. Vino janji bakal membahagiakan Adinda. Makasih masih mau nerima Vino sebagai menantu kalian."


"Gak perlu janji janji Vin. Buktiin. Kalo sampe Adinda nangis karena sakit hati lagi. Gue yang bakal mukul lo paling pertama." Ujar Raka yang baru tiba dari kamarnya dan duduk di sebelah Adinda.


Posisi Adinda di tengah tengah antara Raka dam Vino. Adinda langsung merebahkan kepalanya ke pundak Raka. Karena sudah menjadi kebiasaan Adinda yang akan manja kepada Raka.


"Pundak aku dari tadi di anggurin. Pas Raka dateng langsung aja nemplok sama dia." Ujar Vino sambil memberenggut


"Berarti pundak gue lebih nyaman dari pundak lo." Ucap Raka sambil menaik turunkan alisnya.


"Ada yang cemburu tuh Din." Ejek Ayah.


"Bayi besar kamu nanti ngamuk loh Din." Timpal Ibu. "Adinda emang manja banget sama Raka. Meskipun mereka bukan saudara kandung. Malah gak ada ikatan apa apa. Tapi mereka bener bener dekat saat kalian bercerai. Tapi Ibu yakin hati dia masih bertahan untuk kamu Nak Vino. Gak usah cemburu ya." lanjut Ibu sambil terkekeh melihat ekspresi Vino.

__ADS_1


Adinda hanya tersenyum menanggapi Ayah dan Ibu. Sedangkan ia masih menempel kepada Raka. Setelah Arkana bangun mereka pamit untuk pulang ke kediaman orang tua Vino.


__ADS_2