
Adinda sedang tertidur di sofa ruang tv saat Vino pulang dari Bandung. Namun Vino hanya membiarkan Adinda tertidur di sofa. Vino segera masuk ke kamar dan membersihkan dirinya lalu beranjak ke atas ranjang dan tertidur. Adinda terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 12 malam.
"Apa Vino belum pulang ya? Padahal ini udah malem. Vino kemana ya? Apa aku telfon aja ya?" batin Adinda.
Adinda mencari ponselnya di ruang tv. Lalu ia tersadar jika ia meninggalkan ponselnya di meja nakas di kamar. Ia lalu beranjak menuju kamar. Ia heran melihat Vino yang sudah tertidur dengan pulas. Biasanya Vino akan menggendongnya ke kamar atau bahkan membangunkannya jika tahu Adinda tertidur di sofa. Namun kali ini Adinda sedikit heran dengan perubahan sikap Vino.
"Loh ternyata udah pulang. Sejak kapan ya? Tumben banget gak pindahin aku ke kamar. Mungkin dia terlalu kecapekan ya itu alasannya. Tapi kan dia juga bisa membangunkan aku. Tapi mungkin juga aku yang susah di bangunkan. Ya pasti itu jawabannya. Vino gak mungkin membiarkan dia tidur dengan tidak nyaman." Batin Adinda
Adinda segera mendekat ke arah ranjang dan ikut merebahkan dirinya di samping Vino. Adinda langsung memeluk Vino dan mencium dalam dalam aroma tubuh Vino yang sangat ia rindukan dan ikut terlelap.
Keesokan harinya Adinda sudah bangun terlebih dahulu dan segera membersihkan dirinya. Setelah itu ia membangunkan Vino.
"Mas bangun mas.. Ini udah jam 6."
Vino mengerjapkan matanya. Tanpa berkata apapun ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Saat ia keluar, Adinda sudah tidak terlihat karena Adinda pasti sedang membuat sarapan di dapur.
"Gue harus bisa bersikap seperti biasanya. Gue gak boleh bikin Adinda curiga. Tapi kenapa buat nyentuh dia aja gue ngerasa bersalah ke Tissa." Batin Vino.
Vino melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju meja makan.
"Pagi Dinda."
"Pagi mas."
"Kok mas Vino gak manggil sayang seperti biasanya ya?" Batin Adinda
Vino duduk di kursi biasanya. Ia mulai memakan sarapan yang di buatkan oleh Adinda. Adinda melirik ke arah Vino. Ia kaget melihat memar di wajah Vino.
"Kamu kenapa mas? Kok wajah kamu memar? Kaya yang habis dipukul."
"Kemaren gak sengaja jatuh. Ga apa apa kok. Aku udah obatin. Ya udah aku berangkat ya. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikum salam."
Adinda hanya menatap punggung Vino dari tempatnya duduk. Ia merasa Vino berubah. Tak ada lagi kecupan di keningnya. Tak ada lagi panggilan sayang padanya. Tak ada lagi usapan untuk kandungannya. Bahkan Vino seperti menghindar dari Adinda. Namun Adinda masih berfikiran positif ia berfikir mungkin saja Vino sedang terburu buru.
Vino sudah memasuki rumah sakit. Saat itu ia bepapasan dengan ke 3 sahabatnya.
"Muka lo kenapa?" Tanya Raka melihat lebam di beberapa tempat di wajah Vino.
"Kecelakaan kecil aja kemaren" Balas Vino.
"Iya kecelakaan kecil akibat kemurkaan seseorang" Sahut Axel sambil pergi berlalu.
"Maksud lo apa Xel?" Tanya Kevin namun Axel segera berlalu tanpa memberikan jawaban.
"Dia kenapa sih?" Lanjut Kevin.
"PMS kali" Balas Vino. "Udah buruan pada ke poly masing masing. Udah siang." Lanjutnya.
Mereka berjalan terpisah menuju poly masing masing.
"Mas mau makan? Biar aku siapin"
"Ga usah. Aku udah makan kok."
"Aku siapin air untuk mandi ya mas."
Adinda berjalan menuju kamarnya, Ia segera menyiapkan air hangat untuk mandi Vino. Ia heran dengan sikap Vino yang berubah dingin setelah pulang dari Bandung. Setelah air terisi Adinda memanggil Vino untuk segera mandi. Vino hanya berlalu tanpa memberikan jawaban apapun untuk Adinda. Setelah 15 menit Vino selesai dengan ritual mandinya. Lalu ia segera merebahkan tubuhnya di sisi ranjang kosong di sebelah Adinda. Adinda hanya bisa menatap punggung Vino. Karena saat ini Vino sedang tertidur dengan membelakanginya.
Waktu terus bergulir. Sikap dingin Vino tidak berubah. Ia tetap mendiamkan Adinda. Hari ini adalah jadwal ia memeriksakan kandungan. Ia lalu mengajak Vino untuk mengantarnya cek kandungan.
"Mas, hari ini jadwal aku cek kandungan loh. Temenin yuk mas."
__ADS_1
"Aku sibuk"
"Sebentar aja mas. Setelah aku cek kamu bisa kembali bekerja seperti biasa."
"Kamu bisa gak sih gak usah ganggu orang. Aku punya kesibukan sendiri selain nemenin kamu cek. Kamu gak bisa berangkat cek sendiri? Gak usah nyusahin orang bisa gak?"
"Kamu kenapa sih mas? Aku cuma ajak buat cek. Biasanya kamu yang paling antusias saat cek kandungan."
"Kamu mau tau aku kenapa? Aku capek ngikutin semua keinginan kamu. Aku muak dengan semuanya."
"Apa mas? Kamu muak? Ok kalo gitu. Maaf karena selama ini aku udah nyusahin kamu. Aku udah ganggu kehidupan kamu. Maaf mas. Aku gak ada niat seperti itu. Kalo gitu aku permisi" Balas Adinda sambil berlalu di hadapan Vino dan pergi keluar dari rumah.
Adinda segera menghentikan taksi yang secara gak sengaja melintas di hadapannya. Adinda menangis di dalam taksi karena penuturan Vino. Dadanya terasa sakit. Ia merasakn sesak yang luar biasa di dalam dadanya. Vino mencoba mengerjar Adinda keluar rumah. Namun ia terlambat karena Adinda sudah masuk ke dalam taksi. Vino merutuki kebodohannya. Ia merasa sangat bersalah terhadap Adinda atas ucapan yang ia lontarkan. Vino segera menancap gas dan segera ke rumah sakit menyusul Adinda. Saat Vino sampai di parkiran saat itu juga Adinda keluar dari taksi yang ia tumpangi. Vino segera mengejar Adinda dan menarik tangan Adinda menuju ruangannya.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku." Ujar Vino sambil memeluk Adinda saat mereka telah sampai di ruang kerja Vino.
"Ya aku udah maafin kamu. Udah kan. Aku ada janji sama dokter Raka. permisi." Ucap Adinda setelah berhasil melepaskan pelukan Vino. Adinda segera keluar dari ruang Vino dan berjalan menuju kamar periksa dokter Raka.
Saat nama nya dipanggil ia segera masuk ke dalam ruang periksa dokter Raka. Vino segera ikut masuk. Raka heran dengan pandangan Adinda yang dingin kepada Vino. Raka bisa menebak jika sahabatnya ini sedang ada masalah.
"Kamu harus jaga kesehatan. Jangan terlalu banyak pikiran. Ok." Ujar dokter Raka.
"Iya dok." Balas Adinda sambil tersenyum ke arah dokter Raka. "Aku permisi dok." Lanjutnya.
Vino segera menahan tangan Adinda. "Aku antar pulang ya."
"Gak usah, aku bisa sendiri kok. Aku gak akan nyusahin kamu lagi." Balasnya sambil menghempaskan tangan Vino dan berlalu ke luar ruang periksa.
"Lo lagi ada masalah?" Tanya Raka hati hati.
Lalu Vino menceritakan kejadian sebelumnya di rumah.
__ADS_1
"Lo emang berengsek Vin. Gue emang belum nikah. Tapi yang gue tau perasaan wanita hamil itu sangat sensitif. Lo gak takut dia pergi dari hidup lo?" Ujar Raka sedikit membentak.
Vino hanya menunduk lesu mendengar ucapan Raka. Ia merasa sangat bersalah dengan semua yang sudah dia ucapkan. Ia hanya bingung. Ia sangat mencintai Tissa. Dan ingin memiliki Tissa seutuhnya. Namun ia juga tak mau kehilangan Adinda dan anak dalam kandungan Adinda. Ia mengalami perang batin atas apa yang harus ia prioritaskan.