
Keesokan harinya.
Adinda sudah terbangun sejak tadi. Ia hanya menonton drama korea di ponselnya. Tak lama suster Mira masuk membawakan sarapan untuk Adinda.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk." Ujar Adinda.
"Nih gue anterin sarapan. Dimakan ya."
"Makasih. Gue bakalan usahain. Tapi gak janji. Hehe." Balas Adinda sambil cengengesan.
"Ya udah gue balik kerja dulu ya."
"Ok.. Makasih ya Mir."
Adinda sebenarnya sudah merasa lapar Ia ingin sekali memakan bubur ayam. Tapi Vino sejak tadi sangat susah di bangunkan.
"Dia pasti sangat kelelahan. Makanya susah banget di bangunin." Batin Adinda
Adinda mencoba untuk memakan apa yang ada di hadapannya saat ini. Tapi baru makan 3 suap perut nya sudah bergejolak ingin memuntahkan kembali apa yang barusan ia makan. Ia segera berjalan menuju kamar mandi ia memuntahkan isi perutnya di sana. Vino langsung terbangun saat mendengar Adinda muntah muntah.
"Sayang.. Maaf aku baru bangun. Cape banget soalnya kemarin." Ucapnya sambil memijat lembut tengkuk Adinda.
"Iya ga apa apa. Aku tau kok kamu pasti cape banget. secara kemarin jadwal kamu padet banget."
"Masih mau muntah?"
"Engga Vin. aku mau ke ranjang aja."
Tiba tiba Vino menggendong Adinda.
"Di makan lagi sarapannya. Aku ke kamar mandi dulu sebentar ya sayang." Adinda hanya menganggukkan kepalanya.
Vino langsung melesat ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selang 15 menit Vino keluar dengan keadaan yang sudah sangat segar.
"Kok gak di makan sarapan nya?"
"Liat nasi aku jadi mual Vin."
"Trus kamu mau sarapan apa? Biar aku beliin." Ucap Vino sambil mengelus sayang rambut Adinda.
"Kayaknya bubur ayam enak deh Vin. Beliin ya. Makanan ini buat kamu. Boleh?"
"Iya sayang. Aku beli dulu sebentar ya. Iya nanti makan ini aku yang makan."
Vino beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah kantin untuk memesan bubur untuk Adinda. Tak selang berapa lama Vino kembali dengan membawa seporsi bubur di tangannya.
"Nih sayang makan dulu."
"Iya Vin. Makasih ya. Makan bareng yuk."
"Kamu makan ya bubur nya. Nasi ini biar aku yang makan."
Saat sedang makan ponsel Vino berdering tanda adanya panggilan masuk.
__ADS_1
"Siapa yang telfon?"
"Mamah.. Ada apa ya? Halo Assalamualaikum mah."
"Wa'alaikum salam. Gimana keadaan menantu dan cucu mamah?"
"Baik kok mah. Mau ngobrol sama Dinda?"
"Iya Vin. Tolong kasihin telfon kamu ke Dinda."
Vino langsung menyerahkan telfon nya kepada Adinda. Adinda yang mengerti maksud Vino langsung mengambil ponsel yang berada di tangan Vino.
"Assalamualaikum Mah."
"Wa'alaikum salam sayang. Kamu pa kabar hari ini?"
"Alhamdulillah udah lebih baik dari kemarin mah. udah gak terlalu lemes juga."
"Ya bagus kalo gitu sayang. Sekarang mamah sedang di perjalanan menuju rumah sakit. Ada yang ingin kamu makan gak sayang?"
"Ga usah mah. Aku lagi gak pengen apa apa."
"Ya udah kalo gitu. Mamah tutup telfonnya ya."
"Iya mah. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah sambungan telfon tertutup, Adinda langsung menyerahkan ponsel Vino.
"Apa sayang kata mamah?"
"Oh. Kirain ada apa. Makan lagi sayang."
"Iya. Kamu gak ada jadwal operasi hari ini?"
"Gak ada. Hari ini aku free. Makanya aku mau nemenin kamu aja disini. Loh kok diem. Dimakan lagi dong bubur nya. Biar kamu ada tenaga buat beraktifitas."
"Mual Vin. Nanti deh aku lanjutin lagi. Daripada nanti harus muntah lagi kalo di paksain."
"Ya udah kalo gitu. Jangan di paksa."
"Ke taman yuk. Aku bosan di kamar terus."
"Bentar sayang. aku ambil kursi roda dulu."
"Jalan kaki aja boleh gak?"
"Kalo kamu kenapa kenapa gimana?"
"Kan ada kamu yang nemenin aku."
"Ya udah. Tapi pelan pelan ya."
"Iya lah pelan pelan. gak mungkin juga aku lari lari."
__ADS_1
Mereka berjalan keluar menuju taman rumah sakit.. Sesampainya di taman Adinda melihat seorang anak kecil yang sedang terduduk di bangku taman seorang diri. Adinda menghampiri anak tersebut diikuti Vino di belakangnya.
"Kamu lagi apa disini sayang? Kamu sendirian? Ibu kamu mana?"
"Aku bosan di kamar terus tante. Mamah lagi beli kue buat aku."
"Ya udah. Tante jalan dulu ya. Kamu jangan pergi kemana mana. nanti mamah kamu nyariin. Ok sayang."
"Iya tante."
Adinda melanjutkan jalan jalan pagi nya bersama Vino. Tak lama Vino menerima telfon jika mamah dan papah sudah berada di kamar rawat Adinda. Adinda dan Vino langsung kembali ke kamar rawat Adinda. Saat sampai di dalam kamar Adinda langsung di sambut dengan hangat oleh kedua orangtua Vino.
"Dari mana sayang?"
"Dari taman mah." Ucap Adinda sambil mencium tangan mamah Falia diikuti oleh Vino.
"Gimana kabar kamu dan cucu papah?" Tanya papah Andrew.
"Sudah jauh membaik pah." Adinda mencium punggung tangan Papah Andrew disusul Vino yang mencium tangan Papah Andrew.
"Jangan terlalu lelah sayang. mamah takut kamu sama cucu mamah kenapa napa."
"Gak akn cape kok mah. Aku juga bosan di kamar terus."
"Mah. Papah mau ke ruangan papah dulu ya. Papah pengen istirahat dulu." Ujar papah Andrew sambil berlalu keluar ruangan Adinda.
"Iya pah. Nanti mamah menyusul." Jawab Mamah.
Mereka lantas mengobrol sampai waktu tak terasa sudah jam makan siang.
"Sayang mamah ke atas dulu ya. Liat papah kamu dulu."
"Iya mah." Jawab Adinda.
Suster Mira masuk ke ruangan Adinda membawa makan siang untuk Adinda.
"Nih makan siangnya. Dimakan ya." Ujar suster Mira
"Kamu mau makan itu apa yang lain?" Tanya Vino kepada Adinda.
"Aku gak mau makan itu Vin. Gak tau kenapa liat nya aja aku udah mual." Balas Adinda
"Ya udah sus. Dibawa lagi aja."
"Tapi dok. Nanti kalo Dokter Raka marah gimana?"
"Saya yang akan tanggung jawab. Daripada nanti dia muntah muntah lagi. Mending turutin aja."
"Ya udah kalo gitu dok. Saya akan membawanya kembali." Suster Mira membawa kembali makan siang Adinda sambil berlalu keluar kamar Adinda.
"Terus kamu mau makan apa dong?"
"Aku lagi pengen makan ketoprak sayang. boleh gak ya?"
"Boleh.. Nanti aku beli dulu ya. Siapa tau di kanti ada. Kalo gak ada kamu harus nunggu soalnya pasti harus pesen via aplikasi."
__ADS_1
"Iya. Ya udah sana beliin. Sekalian beli juga buat makan siang kamu ya. Kita makan barengan."
Vino keluar dari kamar rawat Adinda menuju kantin rumah sakit untuk membelikan makanan yang sedang di inginkan oleh Adinda. Beruntungnya di kantin rumah sakit tersedia makanan yang sedang ingin di makan Adinda. Dengan segera Vino membeli makan tersebut dan langsung menuju kamar rawat Adinda.