
Hari ini adalah hari dimana Yola dan Bimo menikah. Saat ini Yola terlihat sangat cantik. Ia dan ke tiga sahabat lainnya ikut bahagia atas menikahnya Yola. Mereka semua berpasangan. Safira dengan Kevin, Vivian dengan Axel, Adinda di dampingi Raka.
"Bunda.. Katanya mau liat Akuarium besar." rengek Arkana.
"Iya sayang. Nanti kita bakal kesini lagi buat main. Nanti sore kita harus pulang ke Bandung sayang. Besok bukannya kamu ada fashion show ya di sekolah?"
"Tapi aku kan gak ada Ayahnya. Masa sama Bunda."
"Kalo sama om gimana? Mau ga?" Tanya Raka
"Mau om. Tapi kan yang lain manggilnya Ayah atau Papah bukan manggil om."
"Kamu boleh manggil om dengan sebutan papah."
"Beneran om?" Ujar Arkana dengan mata berbinar
"Beneran sayang."
"Ok Papah.. Asik Aku punya papah." Arkana langsung memeluk Raka
Acara berlangsung dengan meriah. Yola dan Bimo tampak sangat bahagia. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Para balita sudah mulai mengantuk. Vivian dan Axel sudah pulang. Disusul Safira dan Kevin. Tinggal Adinda dan Raka yang masih berada di tempat resepsi. Namun mereka pun hendak pulang karena Adinda juga harus bersiap siap untuk kembali ke Bandung, tentu saja dengan Raka yang mengantarkan. Karena Raka dan Arkana akan ikut acara fashion show di sekolah Arkana besok pagi.
"Yola selamat menempih hidup baru ya sayang ku."
"Makasih Din. Lo kapan nyusul?"
"Gimana gue mau nyusul. Calonnya aja gak ada."
"Di sebelah lo jomblo kayaknya. Ya kan dok?"
"Lo tuh ya. Punya lidah lemes amat. Asal jeplak aja."
"Papah ayo pulang. Arkana ngantuk." Ujar Arkana
"Tuh kan udah manggil papah juga. Gercep lah naik pelaminan."Ujar Yola
"Ini juga kita di pelaminan ya kan kak?"
"Iya. Kita udah naik pelaminan ini." Sahut Raka
"Maksud gue tuh nikah maemunah. Bukan sekedar naik pelaminan doang."
"Gue mau nyiapin hati gue dulu. Masih takut gue. Udah ah. gue pulang ya. Gue juga nanti sore langsung balik Bandung."
"Yah.. gue kan masih kangen."
"Nanti kalo Arkana liburan sekolah gue janji bakal liburan di sini."
"Janji ya."
__ADS_1
"Iya. Udah ya kita pamit. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Raka, Adinda dan Arkana sedang dalam perjalanan menuju apart Raka setelah mengambil barang Adinda dan Arkana di butik. Karena Raka akan membawa beberapa pakaian untuknya saat ia menginap di Bandung. Sesampainya di apart Arkana langsung Raka tidurkan di kamarnya. Sebenarnya Raka memiliki perasaan lebih dari sekedar adik kepada Adinda. Namun ia takut akan di tolak oleh Adinda. Jadi Raka hanya memberikan perhatian dengan alasan ia menganggap Adinda sebagai adiknya sendiri.
"kenapa gue ngerasa seperti memiliki keluarga gue sendiri. Seolah olah gue, Adinda dan Arkana adalah keluarga kecil yang bahagia. Semoga gue bisa melepas Adinda dan memiliki keluarga gue sendiri. Gue harus bisa melepas Adinda. Semoga aja gue bisa." Batin Raka
"Udah selesai Kak?"
"Udah. Tinggal nunggu Arkana bangun kita bisa berangkat ke Bandung."
"Aku siapin makanan ya kak. Biar nanti gak usah beli lagi."
"Boleh. Liat aja ada apa di kulkas. Soalnya kakak belum sempat belanja lagi."
Adinda berjalan menuju dapur. Ia membuka lemari pendingin dan melihat lihat isinya. Ia melihat ada pasta dan beberapa bahan untuk membuat saus.
"Kak pastanya aku masak ya. Boleh?"
"Boleh Din. Masak aja." Ujar Raka sambil duduk di meja bar tepat di depan kompor.
Raka melihat Adinda yang sangat asik dengan kegiatan memasaknya. Raka menopang dagu dengan kedua tangannya. Ia melihat pergerakan Adinda yang sangat lincah kesana kemari. Seolah olah Adinda adalah seorang koki yang sangat handal yang terbiasa dengan peralatan dapur. Jika ada yang melihat pasti merasa Raka dan Adinda adalah keluarga bahagia. Adinda ibarat seorang isteri yang sedang memasak dan Raka ibarat seorang suami yang dengan setia menunggu isterinya yang sedang memasak.
"Selesai." Ujar Adinda membuyarkan lamunan Raka
"Bisa aja. Arkana belum bangun kak?"
"Belum. Dia kayaknya cape banget."
"Ya udah kita makan duluan aja kak. Mumpung masih panas."
Adinda ikut duduk di samping Raka dengan membawa 2 porsi pasta. yang satu untuk Raka dan yang satu untuk dirinya sendiri. Di tengah tengah Adinda menyantap masakannya, Arkana bangun dan langsung ingin di gendong oleh Adinda.
"Sayang. makan dulu yuk. Bunda buatin pasta kesukaan Arkana. Setelah itu kita pulang."
Tanpa banyak berkata Arkana langsung duduk di tengah tengah antara Raka dan Adinda. Dengan mata yang masih setengah terpejam ia mulai memakan pasta kesukaannya.
"Buka dulu dong Kan matanya. Nanti salah masuk loh pastanya." ujar Raka
"Salah masuk kemana Pah?" Tanya Arkana polos
"Nanti sendok kamu malah masuk hidung kalau kamu makan dengan mata tertutup."
"Suapin Pah."
"Manja nya jagoan papah. Sini papah suapi."
Dengan telaten Raka menyuapi Arkana. Setiap ada saus yang belepotan dengan sigap Raka langsung menyeka bibir Arkana dengan tisu. Melihat pemandangan di depannya, hati Adinda mulai mengahangat. Adinda sedang membayangkan jika Vino yang sedang menyuapi Arkana. Namun Adinda langsung menggelengkan kepalanya setelah membayangkan itu.
__ADS_1
"Kenapa Din?"
"Ga apa apa kok kak."
"Yakin ga apa apa?"
"Yakin."
Raka tetap menyuapi Arkana karena ia telah selesai menyantap makanan nya. Sedangkan Adinda langsung mencuci alat bekas ia pakai saat memasak dan membersihkan area dapur. Setelah selesai mereka menonton televisi sejenak sebelum mereka berangkat ke Bandung.
"Pah nanti kita ke mini market dulu ya. Aku mau beli makanan."
"Siap jagoan. Yuk berangkat sekarang."
Mereka berjalan menuju mobil Raka. Arkana dengan anteng duduk di kursi belakang. Mobil Raka pun mulai berjalan membelah jalanan ibu kota. Tak lupa ia mampir ke minimarket sesuai pesanan Arkana. Arkana sangat senang saat masuk ke minimarket. Ia langsung berlari ke tempat makanan ringan.
"Arkana mau beli apa? Ambil aja." Ujar Raka
"Pah aku mau beli ciki ini boleh ya."
"Ambil aja sayang. Ambil apa pun yang kamu mau."
"Asik.. Makasih Pah."
"Kebiasaan deh. Pasti manjain Arkana." Ujar Adinda.
"Biarin lah Din. Kali kali."
"Ia nanti jadi kebiasaan. Kalo semua yang dia mau di turuti."
Tiba tiba ada seorang ibu ibu yang menyahuti obrolan Adinda dan Raka.
"Seorang Ayah selalu gitu. Selalu manjain anaknya. Pasti bilang nya ga apa apa kali kali. Tapi nanti kita sebagai isteri yang kerepotan kalau Ayahnya lagi kerja. Semoga hubungan kalian langgeng ya Nak."
"Makasih bu doanya." ucap Adinda sambil tersenyum menanggapi ucapan ibu itu.
"Pah. Aku udah beli banyak ini. Ayo pah kita bayar." Ajak Arkana.
"Bunda. Arkana pengen ice cream boleh gak Bun?"
"Boleh.. Tapi belinya yang pake cup ya. Biar gak netes nanti di mobil."
"Siap bunda." Ujar Arkana sambil berlari ke arah tempat ice cream.
"Kita duluan bu." Pamit Adinda kepada ibu tersebut.
"Iya Nak. Hati hati. semoga selamat sampai tujuan." Ujar ibu itu.
Setelah membayar mereka melanjutkan perjalanan. Arkana di bangku belakang asik dengan semua makanan ringan yang ia pilih sendiri.
__ADS_1