Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
EMPAT PULUH SATU


__ADS_3

Tak terasa sudah dua Minggu sejak Arkana dan Raka mengikuti fashion show di sekolah Arkana. Arkana menjadi lebih sering menelfon Raka. Sudah dua Minggu juga Raka tidak mengunjungi Arkana karena ia sangat sibuk dengan pasien pasiennya.


"Bunda. Besok kan Arkana mulai libur sekolah. Katanya mau ke Jakarta. Kapan Bunda?"


"Besok kita ke Jakarta oke sayang. Mau naik mobil atau kereta api lagi nih?"


"Naik kereta api lagi Bunda. Aku seneng naik kereta api."


"Ok. Sekarang kamu main dulu ya. Bunda mau bikin makan malam dulu."


Tak lama ponsel Adinda berdering, saat di lihat nama Vino yang terpampang di layar ponselnya. Memang Vino belum pernah menemui Arkana secara langsung. Namun Vino selalu video call dengan Arkana beberapa hari belakangan ini. Adinda pun menggeser ikon berwarna hijau. Dan tampaklah wajah Vino di layar ponsel Adinda.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam. Mau ngobrol sama Arkana?"


"Iya. Boleh gak?"


"Ya boleh lah. Bentar ya."


Adinda memberikan ponsel ke pada Arkana dan memberitahukan bahwa Ayahnya sedang ingin berbicara dengan dirinya.


"Halo Ayah."


"Salam nya mana?"


"Oia lupa. Assalamualaikum Ayah."


"Wa'alaikum salam jagoan Ayah. Lagi apa kamu Nak?"


"Aku lagi main Ayah. Aku seneng deh, besok kata Bunda kita bakalan ke Jakarta. Aku juga pengen ketemu sama Ayah. Kan mau pergi ke akuarium raksasa."


"Iya sayang. Kamu berangkat besok sama siapa?"


"Berdua aja sama Bunda."


"Naik apa?"


"Naik kereta. Soalnya kalau naik mobil nanti Oma marah sama Bunda."


"Gimana kalau sama Ayah aja perginya?"


"Mau Ayah."


"Gak usah ngasih harapan sama anak kecil mas. Kalo kamu nanti bakal bikin dia kecewa lagi." Ujar Adinda saat mendengar penawaran dari Vino


"Aku gak bercanda Din. Aku udah di depan rumah kamu malah. Bukain dong pintunya."


Adinda berjalan menuju depan rumah untuk memastikan omongan Vino. Saat di buka ternyata benar Vino sedang duduk di salah satu kursi yang ada di teras Adinda.


"Beneran disini ternyata. Kirain cuma bercanda."

__ADS_1


"Aku gak bohong kan sama ucapan aku."


"Kok bisa dateng kesini. Bukannya lagi sibuk ngurusin Tissa ya? Nanti Tissa marah lagi kamu nemuin aku sama Arkana. Sampe bela belain ke sini."


"Please percaya sama aku Din. Aku sama Tissa gak ada hubungan apa apa. Aku juga gak tau gimana Tissa sekarang. Aku gak tau dan gak mau tau. Aku mau memperbaiki hubungan kita Din. Aku ingin kita balikan seperti dulu."


Saat Adinda hendak menjawab, terdengar suara teriakan dari Arkana.


"Ayah.. "Teriak Arkana sambil berlari ke arah Vino dan memeluk tubuh Vino.


"Halo sayang."


"Aku kangen Ayah."


"Ayah juga kangen kamu sayang. Maaf ya Ayah baru bisa datang ke sini nemuin kamu."


"Ga apa apa Ayah. Papah bilang Ayah sibuk karena Ayah seorang dokter yang hebat. Terus kata Bunda juga Ayah sibuk cari uang buat beliin aku pesawat terbang." Vino sudah mengetahui panggilan Papah untuk Raka. Awalnya Vino tidak terima. Namun lama kelamaan ia menerima dengan alasan untuk melindungi Arkana dari ejekan teman sekolahnya.


"Masuk dulu mas." Ujar Adinda


"Makasih."


Adinda melangkah masuk ke dalam rumah di ikuti Vino di belakangnya sambil menggendong Arkana.


"Aku siapin makan malam dulu ya." Ujar Adinda sambil berlalu ke arah dapur.


"Iya. Biar aku yang jaga Arkana disini."


"Ayah nanti tidur sama aku ya." Pinta Arkana


"Iya sayang. Nanti kamu tidur sama Ayah."


"Asik. Aku tidur sama Ayah."


Vino yang melihat Arkana senang sambil berjingkrak hanya tersenyum. Tak lama Adinda memberitahu untuk makan malam karena ia telah selesai menyiapkan makan malamnya.


"Makan malam dulu mas. Ayo Kan." Ajak Adinda.


"Ayo." Ujar Arkana sambil berlari ke arah meja makan.


Adinda dan Vino mengikuti Arkana dari belakang. Saat ini mereka makan dengan khidmat. Tanpa ada yang mengeluarkan suara, hanya terdengar bunyi dentingan sendok yang bergesekan dengan piring.


"Hebat ya anak Ayah udah bisa makan sendiri." Ujar Vino saat mereka telah selesai makan malam.


"Iya Ayah, kata Bunda aku harus belajar mandiri. Soalnya kan aku laki laki." Ujar Arkana sambil membusungkan dadanya.


"Iya sayang. Anak Ayah sangat hebat."


Arkana mengajak Vino untuk ke ruang televisi, Vino duduk di sofa sedangkan Arkana di karpet dengan segala mainan miliknya. Sedangkan Adinda sibuk membersihkan meja makan dan peralatan makan ataupun bekas ia memasak tadi. Setelah selesai, Adinda mengikuti Arkana dan Vino ke ruang televisi.


"Besok berangkat jam berapa Din?" Tanya Vino saat Adinda sudah mendudukan dirinya di ujung sofa.

__ADS_1


"Belum tau mas."


"Loh kok gak tau? Bukannya udah di rencanain?"


"Rencana aku berangkat pakai kereta sih. Tapi karena udah ada kamu ya berarti aku berangkat sama kamu."


"Kalau pagi gimana?"


"Iya boleh deh. Pagi aja. Sekitar jam 8 deh. Biar bisa sarapan dulu."


"Kita sarapan di luar aja."


"Ya udah terserah kamu mas. Aku siapin kamar buat tidur kamu dulu ya mas."


"Gak usah Din, Arkana pengen tidur bareng aku katanya. Aku tidur di kamar Arkana aja."


"Ya udah kalau gitu."


Tak ada obrolan lagi dari mereka. Vino menatap layar televisi, sedangkan Adinda sibuk dengan sketch book miliknya. Karena ada yang pesan gaun pengantin. Adinda sedang membuat beberapa gambar untuk diperlihatkan ke klien tersebut.


"Ayah ngantuk." Rengek Arkana.


"Ayo tidur. kamu duluan ke kamar ya. Ayah ambil tas dulu di mobil."


"Aku tunggu Ayah aja."


"Ya udah kalo gitu tunggu sebentar ya."


Vino segera mengambil tas ranselnya dari dalam mobil. Arkana masih setia menunggu Vino. Setelah Vino masuk, Arkana dengan tidak sabar segera mengajak Vino. Saat tiba di kamar Arkana, Vino langsung merebahkan dirinya di samping Arkana setelah membersihkan diri tentunya. Arkana tidur dalam dekapan Vino. Vino merasa senang karena ia bisa dekat dengan Arkana. Setelah Arkana tertidur pulas, Vino bangkit dari tidurnya untuk mengambil air minum. Vino sedikit terkejut melihat Adinda masih terduduk di sofa ruang televisi. Adinda masih harus membuat setidaknya 2 sketsa untuk di perlihatkan ke kliennya. Vino menghampiri Adinda


"Belum tidur? Ini udah malem banget loh."


"Bentar lagi mas. Nanggung."


Tiba tiba Vino duduk di samping Adinda. Tak lama Adinda selesai membuat sketsa.


"Akhirnya selesai juga." Ujar Adinda sambil sedikit merenggangkan badannya.


Tanpa aba aba Vino langsung memeluk Adinda dari samping.


"Mas." Ujar Adinda tersentak kaget.


"Sebentar aja Din. Tolong biarkan seperti ini sebentar saja."


Adinda hanya diam menerima perlakuan Vino. Selang beberapa menit terdengar suara Vino yang berbisik di telinga Adinda.


"Sungguh aku sangat merindukan mu. Aku sangat ingin kita bersama lagi. Aku janji akan memperbaiki semua kesalahan yang pernah aku perbuat. Aku mohon biarkan aku masuk lagi di kehidupanmu Din."


Adinda hanya terdiam mendengar perkataan Vino. Tak lama Vino melepaskan pelukannya.


"Tidur sana. Udah malem. Besok kan kita berangkat ke Jakarta. Aku juga mau masuk nyusul Arkana." Ucap Vino sambil melenggang ke arah kamar Arkana.

__ADS_1


Adinda hanya menghela nafasnya. Pasalnya perasaan ia kepada Vino tak pernah berubah. Adinda memilih tidur daripada memikirkan perkataan Vino barusan.


__ADS_2