
Vino dan Tissa telah sampai di rumah sakit. Vino langsung menanyakan dimana kamar isterinya berada. Tak lama Vino dan Tissa sudah berdiri di depan kamar rawat Adinda. Vino membuka pintu dan masuk ke dalam di ikuti Tissa di belakangnya. Adinda di temani oleh Safira dan dokter Kevin yang sedang memeriksa keadaan Arkana.
"Ngapain kamu kesini?" Tanya Adinda dengn ketus Vino hanya terdiam. "Mending kamu pergi dari sini. Aku gak mau liat kamu." Lanjutnya.
"Aku berhak sayang ada di sini. Aku suami kamu. Ayah dari anak kita." Balas Vino.
"Suami?? Ayah??" Ujar Adinda sambil tertawa sinis.
"Maafin aku sayang. Kalian tuh sangat berarti untuk aku. Maaf karena aku baru menyadarinya."
"Bukannya kamu bilang perempuan itu yang sangat berarti buat kamu. Sedangkan aku dan anak aku gak berarti apa apa kan buat kamu. Terus ngapain kamu capek capek harus ke sini? Di paksa perempuan itu kan? Pasti kalian mau minta maaf kan?"
"Iya aku ajak Vino ke sini ingin meminta maaf sama kamu. Aku bener bener gak tau kalau Vino sudah menikah. Dia gak cerita." Jawab Tissa.
"Ya pasti dia gak akan cerita. Karena dia takut kehilangan kamu. Tenang aja. Sebentar lagi kita akan berpisah dan kamu bisa memiliki dia seutuhnya." Ujar Adinda sambil menahan tangis dan rasa sesak di dadanya.
"Gak sayang. Kamu gak boleh bilang gitu." Vino berkata dengan suara bergetar menahan tangis.
"Gak usah panggil aku sayang. Aku muak dengan panggilan itu." Ujar Adinda.
Safira dan dokter Kevin hanya terdiam karena mereka tidak tahu apa permasalahan yang ada. Karena baik dokter Raka maupun Adinda belum bercerita apapun pada mereka.
"Aku mohon maafin aku. Aku janji bakalan menjauh dari Vino." Kini Tissa yang bersuara.
"Gak perlu. Kamu sangat berarti buat Vino. Sedangkan aku gak berarti apa apa buat dia. Aku yang bakalan mundur." Keukeuh Adinda.
"Aku mohon.." Ujar Tissa lagi.
"Kalian udah selesai? lebih baik kalian keluar dari sini. Aku mau istirahat." Ujar Adinda.
__ADS_1
"Kita datang kesini baik baik. Kenapa kamu malah usir kita?"Ujar Vino sedikit membentak.
"Tolong posisikan diri kamu sebagai aku. Di saat aku kesakitan memperjuangkan anak kita kamu malah bersama wanita lain. Di saat aku kehilangan salah satu anak kita. Kamu gak bisa di hubungi. Bahkan aku sangat membutuhkan kamu saat ini. Tapi aku malah mendapat fakta yang sangat tidak enak. Hati aku yang sudah hancur kamu buat semakin hancur. Bahkan tak bersisa." Hiks.. Hikss. Adinda menangis sambil memukul mukul dadanya. "Kamu gak bakalan ngerti perasaan aku. Awalnya aku bertahan karena kamu dan Arkana. Tapi sekarang kamu bahkan gak peduli sama aku. Sekarang prioritas aku hanya Arkana. Aku bakal coba buat melepaskan kamu. Seperti aku mencoba mengikhlaskan Azkana." Ujarnya sambil terisak.
Safira langsung memeluk Adinda. Dan dokter Kevin menggendong Arkana yang menangis karena keributan orang tuanya. Vino hanya tertegun mendengar semua ucapan Adinda.
"Tolong maafin aku. Aku bener bener gak tau kalo Vino udah mempunyai isteri. Kalau aku tau, aku gak bakal deket sama dia. Aku janji aku bakal pergi dari kehidupan kalian. Namun aku mohon kalian harus tetap bersatu. Kasian anak kalian." Ujar Tissa.
"Lebih baik kalian keluar terlebih dahulu. Tunggu Adinda tenang. Dia sedang sangat terpuruk saat ini. Aku khawatir dengan kondisi Adinda yang sedang gak stabil." Ujar Raka saat masuk ke dalam.
Tiba tiba Adinda gak sadarkan diri. Dirinya sangat rapuh karena beberapa kenyataan pahit yang ia terima saat ini. Vino secara refleks berlari ke arah Adinda dan memeluk tubuh Adinda. Vino merasakan suhu badan Adinda meningkat. Raka yang baru datang langsung memeriksa kondisi Adinda setelah Vino membaringkan tubuh Adinda. Tissa yang melihat hal itu segera pergi dari ruangan tersebut. Ia merasa semua yang terjadi karena dirinya. Karena dirinya hadir kembali ke kehidupan Vino. Tissa berencana akan pindah kembali ke tempat tantenya di Singapura.
Kini di ruangan Adinda ada Safira, Yola, dokter Raka, dokter Kevin, dokter Axel dan dokter Vino yang tengah menunggu Adinda sadar. Tak lama Adinda mulai mengerjapkan matanya dan ia mulai sadarkan diri. Terlihat Vino tengah menggendong Arkana. Dengan segera tatapan benci di layangkan kepada Vino oleh Adinda.
"Kembalikan anakku."
"Dia juga anak aku sayang."
"Sayang jangan seperti itu aku mohon."
Adinda tidak menghiraukan perkataan Vino. Lalu Adinda memanggil Yola untuk mendekat kepadanya.
"Yola sini bentar. Gue mau ngomong." Ujar Adinda.
"Kenapa Din?" Tanya Yola.
"Tolong ajukan gugatan cerai gue untuk Vino. Dan tolong bawa Arkana ke sini." Jelas Adinda dengan nada suara dingin. itu semata untuk menutupi rasa sesak di dadanya.
Yola membawa Arkana dari gendongan Vino dan memberikan kepada Adinda. Awalnya Vino menolak, namun Vino sadar bahwa saat ini Adinda sedang sangat lemah.
__ADS_1
"Maksud kamu apa sayang?" Ujar Vino
"Aku akan melepas kamu biar kamu bisa bersama Tissa. Aku gak akan jadi penghalang buat kamu sama dia."
"Aku gak mau sayang. Aku mau sama kamu."
"Ucapan kamu terlalu menyakitkan. Aku gak bisa melupakan ucapan itu."
"Maaf sayang.. Maaf.. Aku khilaf sayang.. Aku mohon maafin aku."
"Aku yang terlalu bodoh disini. Dari awal aku gak punya pendirian. Aku nerima kamu gitu aja tanpa tahu bagaimana perasaan kamu yang sebenarnya. Aku yang terlalu bodoh karena aku menyerahkan semua sama kamu. Seharusnya aku gak terlalu gampang untuk jatuh ke pelukanmu. Yaa disini memang aku yang bodoh." Ujar Adinda sambil tertawa hambar." Aku menyesal telah memberi semua sama orang sebrengsek kamu. Tapi aku gak pernah menyesal telah melahirkan Arkana dan Azkana."
"Aku mohon sayang jangan bicara seperti itu."
"Sekarang aku mau tanya sama kamu. Sejak kapan kamu ketemu lagi sama Tissa?"
"Saat aku di Bandung terakhir aku main downhill."
"Ok.. Aku jadi tau apa yang harus aku lakukan."
"Maksud kamu apa sayang?"
"Gak usah panggil sayang. Simpan aja buat Tissa."
"Sayang aku mohon jangan kayak gini." Ujar Vino sambil meneteskan air matanya.
"Gak perlu nangis Vin. Itu gak akan berpengaruh apapun buat aku. Keputusan aku udah bulat. Mau kamu suka atau tidak. Setuju atau tidak. Aku tetap akan mengajukan gugatan itu."
"Kalau kita pisah kasian Arkana. Dia juga pasti butuh kasih sayang dari Ayahnya."
__ADS_1
"Aku bisa cari seorang Ayah yang lebih baik dari kamu. Yang bisa memprioritaskan keluarga nya bukan malah memperioritaskan perempuan lain. Mending sekarang kamu pergi dari sini. Aku gak mau liat kamu."
Vino keluar ruangan Adinda dengan pasrah. Ia akan menuruti semua perkataan Adinda. Karena Vino pikir bisa saja itu hanya kemarahan sesaat. Saat Vino keluar dari ruangan, tangis Adinda mulai pecah di pelukan Yola. Dengan segera Safira membawa Arkana ke dalam gendongannya. Sedangkan 3 sahabat Vino yang lain masih setia berdiri di tempat mereka karena mereka tidak tahu harus melakukan apa saat ini.