
Satu minggu sudah umur pernikahan Adinda dan Vino. Saat ini mereka sedang duduk di ruang tv sambil mengobrol ringan dengan papah dan mamah. Setelah makan malam yang baru saja di lakukan.
"Kamu gak kepikiran buat bulan madu Vin?" Tanya Mamah Falia
"Belum mah. Soalnya jadwal operasi aku lagi padet banget sekarang sekarang. Mungkin kita tunda dulu bulan madu nya" Jawab Vino
"Emang rencana kalian mau bulan madu kemana?"
"Gak tau mah. Mungkin ke Bali aja lah yang dekat." Ujar Adinda
"Deket banget ke Bali. Kamu gak pengen ke Eropa?" Lanjut mamah
"Kemana pun mah. yang penting ngabisin waktu berdua itu udah cukup buat aku." Balas Vino
"Ya sudah mamah sama papah mau istirahat dulu ya." Ujar mamah sambil berlalu ke dalam kamar di ikuti papah dari belakang
"Sayang si tamu masih ada gak sih? kok lama banget."
"Kenapa emangnya?"
"Ya pengen aja gitu."
"Gitu apa sih?"
"Masa kamu gak ngerti sih sayang."
"Gak. Aku gak ngerti."
"Aku pengen bikin bayi sama kamu. Yuk kita kasih cucu buat mamah sama papah."
"Kamu tuh yah. masih siang ini."
"Udah jam 8 sayang. ngamar yuk."
"Nanti aja ah. nanggung aku lagi nonton."
"Ayo dong sayang."
"Bentar Vin. Sebentar lagi juga selesai kok film nya."
Lalu Vino tanpa basa basi langsung mengambil remote tv dan mematikan tv. Vino langsung mengangkat tubuh Adinda ala bridal style dan berjalan menuju kamar mereka. Saat di dalam kamar Vino langsung mencium bibir Adinda. awalnya hanya berupa kecupan lalu berubah menjadi sebuah ******* lembut yang membuat Adinda ikut dalam permainan Vino. Direbahkannya tubuh Adinda di atas kasur mereka. Vino melanjutkan ciuman itu semakin dalam dan semakin menuntut. Mereka melepas ciuman itu setelah merasakan kurangnya asupan oksigen ke dalam dada mereka.
__ADS_1
"Sayang boleh ya." Ujar Vino dengan suara berat.
Adinda hanya tersenyum melihat raut wajah Vino. Tak lama Adinda menganggukkan kepalanya. Vino langsung memulai aksinya. Ia kembali mencium bibir Adinda sambil tangannya mulai bergerilya di tubuh Adinda. Ia pun mulai membuka kancing baju yang Adinda kenakan. Setelah baju bagian atas Adinda terlepas, Ia mulai menciumi setiap inci tubuh istrinya itu.
Adinda hanya bisa menikmati perbuatan Vino. Vino membuat beberapa kiss mark di tubuh Adinda. Vino pun memainkan gunung kembar milik Adinda membuat si empunya hanya menggelinjang kegelian. Adinda merasakan ada gelanyar aneh yang menjalari tubuhnya saat Vino mulai menyentuh titik sensitif tubuhnya.
Tanpa menunggu lama Vino membuka celana yang di kenakan Adinda sehingga membuat tubuh Adinda tanpa di tutupi sehelai benang pun. Vino memandang sejenak kemolekan tubuh istrinya itu. Tanpa ba bi bu, ia mulai melepas pakaiannya sendiri. Ia lalu menindih tubuh istrinya. diciumnya lagi bibir istrinya itu dan mulai menyatukan tubuh mereka. Mereka berolahraga malam hingga berulang ulang. sampai waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Mereka tertidur dengan posisi saling berpelukan tanpa memakai sehelai benang pun, hanya selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
Adinda mengerjapkan matanya saat ada cahaya yang masuk melalui jendela kamarnya. Ia berusaha bangun namun tangan kekar Vino terus melingkari tubuhnya.
"Vin. lepas dong aku mau buang air kecil."
"Bentar aja sayang."
"Aku udah gak kuat Vin. Nanti aku ngompol lagi."
Vino lalu melepaskan pelukannya. Adinda sedikit meringis saat hendak berjalan karena merasakan bagian intinya sedikit sakit.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Vino sedikit panik
"Itu aku sakit Vin."
"Kamu mau apa Vino?"
"Aku cuma mau bantu kamu ke kamar mandi. Maaf sayang. kamu jadi kesakitan gini."
"Ga apa apa kok sayang. itu udah kewajiban aku sebagai istri kamu."
"Makasih sayang. Makasih sudah menjaganya untuk aku suami kamu."
"Sama sama sayang. Ya udah kamu keluar dulu gih. Aku mau sekalian bersih bersih. Badan aku lengket semua."
"Gak mau mandi barengan aja?"
"Modus kamu. Yang ada aku makin gak bisa jalan nanti." Vino hanya terkekeh mendengar ucapan istrinya.
"Aku gak bakalan ngapa ngapain kamu lagi kok. Aku gak tega liat kamu kayak gini. Aku siapin air hangat untuk kamu berendam ya. Siapa tahu dengan kamu berendam air hangat bisa mengurangi rasa sakit kamu."
"Iya tapi kamu keluar dulu."
"Kok malu malu sih. Aku udah liat semuanya. Udah kamu berendam aja. aku mandi. Aku janji gak macem macem lagi."
__ADS_1
"Bener ya. Awas kalau kamu bohong dan modusin aku. Nanti malem aku pastiin kamu tidur di sofa."
"Wih sadisnya istri ku ini. Aku janji sayang."
"Baiklah."
Setelah buang air kecil Adinda di gendong lagi menuju bathtub. Sedangkan Vino mandi di bawah shower yang di batasi oleh kaca. Setelah itu mereka turun kebawah untuk sarapan.
"Kenapa muka kamu senyum senyum terus?" Tanya mamah
"Ga kenapa napa mah." Jawab Vino
"Udah goal ya Vin?" Tanya papah
"Hehehe. tau aja papah."
"Tau lah. papah juga kan pernah ngalaminya. berapa ronde semalam?"
"Pah. ga usah nge goda menantu kita. kasian tuh Adinda jadi malu." Ucap mamah yang melihat rona merah di wajah Adinda.
Mereka hanya tertawa melihat raut wajah Adinda.
"Berarti mulai senin besok kamu masuk kerja lagi ya. Jangan lama lama cutinya. kasian pasien kamu nunggu kamu bedah." Ujar papah
"Siap pah. Sekarang aku udah bisa bekerja dengan tenang."
"Ya udah sekarang papah mau antar mamah kamu belanja bulanan dulu. Ayo mah kita berangkat sekarang. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam" Jawab Adinda dan Vino serempak.
"Vin berarti besok aku boleh dong kerja ke butik lagi. Kamu juga kan mulai kerja. Aku juga ya.. ya.. ya.."
"Baiklah. kamu boleh kembali kerja ke butik. Tapi kamu jangan memforsir kerja kamu kayak waktu kemaren kemaren ya."
"Tapi kalau gak salah bulan Oktober aku ada acara fashion show Vin. Boleh gak? Aku janji bakal kerja dari rumah aja buat bikin desain. kecuali saat nyari bahan sama proses jahit. Otomatis aku harus ada di tempat. Takutnya tukang jahitnya bingung sama desain bisa aku langsung jelasin. Boleh ya sayang?"
"Baiklah sayang. Aku gak bakalan menghalangi karir kamu kok. Kamu masih bisa tetap berkarir kok sayang. Terus kepakan sayapmu. Raih mimpi yang belum bisa kamu raih. Aku gak bakal halangin kok. Asal kegiatan itu positif buat kamu."
"Makasih sayang. Aku bakal buat kamu bangga sama aku."
Vino langsung memeluk dan mencium kening Adinda. Mereka pun membicarakan harapan untuk masa depan mereka.
__ADS_1