
Adinda sudah berada di pemakaman. Azkana sudah berbaring di tempat peristirahatan terakhirnya. Sedangkan Arkana masih berada di rumah sakit. Ke 3 sahabat Adinda dan Ke 3 sahabat Vino masih setia menunggu Adinda. Mamah Falia dan Papah Andrew pun masih berada di samping Adinda. Adinda saat ini berjongkok di depan nisan putranya. Adinda mengelus nisan putranya itu.
"Sayang." Ucap Adinda sambil mengelus nisan Azkana.
Hiks.. Hiks.. Hiks.. Adinda menangis kembali.
"Sabar sayang. Masih ada Arkana yang membutuhkan mu Nak." Ucap mamah Falia.
"Iya sayang. Kamu harus kuat sayang." Ujar papah Andrew sambil menarik Adinda ke dalam pelukannya.
"Aku gak kuat pah. Aku gak sanggup. Aku gak mau kehilangan dia" Ujar Adinda di selingi isak tangis yang begitu memilukan.
"Om, tante. Sebaiknya kalian pulang dulu. Kalian juga belum sempat istirahat kan? Biar Adinda aku yang temani." Ujar Raka.
"Iya om. Mari saya antar.. Kebetulan saya ada operasi sebentar lagi." Sambung Axel.
"Baiklah.. Sayang.. papah sama mamah pulang dulu ya. Kamu jangan terlalu lama disini. Ingat kondisi kamu yang baru melahirkan." Ujar papah Andrew sambil mengecup puncak kepala Adinda.
"Iya mah. pah. Maaf aku lupa kalau mamah sama papah baru turun dari pesawat." Ucap Adinda tidak enak.
"Ga apa apa sayang. Kami pamit ya." Ujar mamah Falia. Mereka pulang di antar Axel.
"Din kita juga pamit ya. Gue harus ke klinik." Ujar Vivian
"Iya Din. Gue juga mau ketemu klien." Sambung Yola.
"Makasih ya." Ucap Adinda
Posisi Adinda belum berubah. Kini di sampingnya ada Safira yang sedang merangkulnya. Di belakang mereka ada dokter Raka dan dokter Kevin yang masih setia menemani.
"Apa gue bisa melanjutkan hidup gue tanpa Azkana Fir?" Ucap Adinda
"Lo pasti bisa Din. Inget masih ada Arkana yang sangat membutuhkan lo." Balas Safira.
"Gue gak yakin Fir."
"Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan Din. Masih ada satu anak yang butuh kamu." Ujar Raka.
"Iya kak. Makasih." Balas Adinda.
"Ya udah mending kita balik ke rumah sakit. Kakak harus mantau Arkana." Ujar Kevin.
__ADS_1
"Kakak duluan aja. Kalian juga boleh pulang. Aku masih mau disini." Ucap Adinda.
"Ya udah Din. Gue sama dokter Kevin pamit ya. Kita nunggu di rumah sakit. Lo harus cepet balik. Kasian Arkana." Ucap Safira.
"Iya. Sebentar lagi gue balik ke rumah sakit."
Safira dan dokter Kevin keluar dari pemakaman untuk menuju rumah sakit. Safira dengan setia menunggu Adinda di rumah sakit. Karena kebetulan hari ini Safira tidak ada jadwal apapun. Setelah membujuk Adinda, akhirnya Adinda mau kembali ke rumah sakit. Namun saat hendak masuk ke rumah sakit, Adinda melihat mobil Vino keluar dari area parkir rumah sakit.
"Kak itu mobil Vino. Kejar kak. Mungkin Vino udah tau Azkana meninggal. Mungkin Vino mau ke pemakaman Azkana." Ujar Adinda.
"Ok Din. Kita puter balik." ujar Raka.
Raka mengikuti kemana mobil Vino mengarah. Arahnya memang sama dengan arah ke pemakaman, namun Vino membelokan mobilnya masuk ke salah satu perumahan. Adinda terdiam dengan segala pertanyaan di benaknya. Tak lama kemudian mobil Vino menepi di depan sebuah rumah. Ia turun dengan menggandeng tangan seorang wanita. Raka yang melihat semua itu langsung tersulut emosi. Pasalnya Vino malah asik dengan seorang perempuan. Sedangkan isterinya berjuang untuk melahirkan dan menghadapi kematian anak nya. Raka langsung mendial nomor Vino dan menelfonnya.
"Lo dimana Vin?" Tanya Raka di sambungan telfon yang sengaja mengaktifan speakernya agar Adinda ikut mendengar.
"Gue di Bandung. Lagi ada seminar." Balas vino dengan entengnya.
"Gue liat lo keluar dari rumah sakit. Dan sekarang lo ada di depan rumah Tissa."
"Lo ngikutin gue?"
"Iya gue pengen nemenin Tissa dan gak mau ada gangguan."
"Lo gila Vin. Sebegitu pentingnya Tissa buat lo? Lebih penting mana Tissa dan Adinda?"
"Tissa itu wanita yang paling berharga buat gue setelah nyokap gue. Gue gak tau perasaan gue ke Adinda sebenernya seperti apa. Namun sekarang gue yakin. Dia gak berarti apa apa buat gue."
"Lo gila Vin. Dia sedang mengandung anak lo."
"Gue gak peduli. Gue bakalan tetep berumah tangga dengan dia. Tanpa melepas Tissa."
Tanpa aba aba Adinda turun dari mobil di ikuti Raka di belakangnya. Adinda berjalan ke arah depan Vino menghadang jalan Vino. Vino tampak terkejut Adinda ada di hadapannya.
"Jadi ini seminar yang kamu maksud?"
"Aku bisa jelasin semua sayang."
"Jelasin apa lagi mas? Aku udah denger semua percakapan kamu sama Kak Raka."
"Ingat kandungan kamu. Kamu jangan emosi."
__ADS_1
"Bahkan perubahan di diri aku aja kamu gak sadar mas."
"Kamu sudah melahirkan? Anak kita gimana?"
"Gak usah peduli mas. Urusin aja cewek kamu itu." Ujar Adinda sambil menunjuk Tissa
Jangan tanya keadaan Adinda saat ini. Dia sudah sangat berantakan dengan air mata yang kembali mengalir tanpa perintah. Mata yang sangat sembab dengan muka yang sangat pucat.
"Ayo kak kita balik ke rumah sakit aja."
"Sayang tunggu. Jelasin ke aku ada apa ini?"
"Gak usah pegang pegang." Ucap Adinda ketus.
Adinda menarik tangan Raka untuk segera pergi dari sini. Namun Raka tetap berada di tempatnya.
"Lo bener bener gak punya hati Vin."
"Gue gak ngerti ada apa ini? Harusnya dia seneng sudah melahirkan anak. Tapi kenapa dia terlihat sangat sedih."
"Lo tanya kenapa? Dia butuh lo saat ini untuk ada disampingnya. Kemana lo saat dia berjuang melahirkan anak? Lo tau dia sangat terpuruk saat ini karena kehilangan anaknya. Lo tuh bener bener ya Vin. Lo tega ninggalin isteri lo yang lagi hamil besar di rumah sendirian. Cuma demi dia." ujar Raka dengan menahan emosi.
Vino tertegun mendengar ucapan Raka. Lalu terdengar suara tangisan pilu dari Adinda. Vino langsung menghampiri Adinda. Saat Vino hendak memeluk Adinda menjauh kan diri.
"Ayo Kak. Rumah sakit udah nelfon. Mending kita balik ke sana."
"Sayang tunggu. sayang.." Ujar Vino sambil mengejar Adinda yang setengah berlari ke arah mobil Raka.
Mobil Raka melesat keluar dari perumahan itu dan membelah ramainya jalanan menuju rumah sakit. Tissa menghampiri Vini yang masih mematung di tempatnya.
"Kamu kok gak bilang sama aku kalo kamu udah nikah?"
"Aku gak mau kehilangan kamu Tissa. Aku cinta sama kamu."
"Kamu jangan gila Vin. Kalo aku tau kamu udah nikah. Aku gak bakal mau deket sama kamu."
"Jangan bilang gitu Tissa. Aku gak bisa hidup tanpa kamu."
"Mending kita ke rumah sakit. Aku mau jelasin semua sama isteri kamu. Aku juga mau minta maaf sama dia."
Vino pasrah mengikuti ke inginan Tissa. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
__ADS_1