Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
TIGA BELAS


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti biasa Adinda akan bangun terlebih dulu. Ia akan memperhatikan wajah suaminya. Adinda membangunkan Vino agar Vino menjalankan salat subuh.


"Vin bangun. Sembahyang dulu. ini sudah waktunya salat subuh."


"Bentar lagi sayang aku masih ngantuk."


"Cepet bangun. Nanti waktunya keburu habis."


"Iya sayang iya. aku bangun."


Vino masuk ke kamar mandi dengan mata yang masih setengah terpejam karena ia masih merasakan kantuk yang luar biasa. Setelah mengambil wudhu ia menjalankan salat. Sedangkan Adinda ia masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka. Ia berencana membuat sarapan untuk keluarga barunya.


Setelah selesai dengan ritual di kamar mandi, Adinda keluar dan mendapati Vino yang sedang duduk di bibir ranjang mereka.


"Pindah dulu duduknya. Aku beresin dulu tempat tidurnya." Ucap Adinda kepada Vino.


Vino hanya menuruti perkataan Adinda. Ia pindah ke sofa. Sambil pandangannya tak lepas dari istrinya. Setelah selesai Vino memeluk Adinda dari belakang.


"Astagfirullah.. Vino aku kaget tau."


"Maaf sayang. Abisnya kamu cantik banget sih. aku kan jadi gak mau jauh jauh dari kamu."


"Ini masih pagi loh. Udah gombal aja. Oia biasanya disini kalau sarapan makan apa? nasi atau roti?"


"Ga ada aturan harus sarapan apa di sini. yang tersedia di atas meja makan pasti di makan. Emang kenapa?"


"Aku mau buat sarapan."


"Ga usah sayang. udah ada bibi yang siapin sarapan."


"Ini tugas aku sebagai istri kamu Vino. tugas istri itu kan melayani suaminya. Selagi aku mampu. aku pasti layanin kamu."


"Sini aku peluk dulu." Ujar Vino sambil memeluk Adinda. Lalu melonggarkan pelukannya dan mengecup bibirnya singkat.


"Tuh kan. ujung ujungnya pasti modus."


"Bukan modus sayang. Itu morning kiss dari aku. Kamu gak kasih buat aku?"


Cup.. Adinda mencium Vino di pipinya.


"Loh kok di pipi sih. Aku aja cium di bibir masa kamu di pipi."


"Ga usah protes. Udah ah aku ke bawah dulu."


Adinda beranjak dari kamar lalu turun menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga barunya. Saat menuju dapur di lihat nya Bibi sudah mulai mempersiapkan untuk sarapan mereka.


"Mau masak apa Bi?"

__ADS_1


"Ini non. Bibi mau bikin Capcay, Perkedel kentang sama Ayam goreng."


"Biar aku aja yang lanjutin Bi. Bibi bisa mengerjakan yang lain."


"Tapi non ini tugas bibi."


"Ga apa apa bi. Aku di ajari sama Almarhum orang tua aku. kalau sudah berumah tangga wajib hukumnya menyiapkan segala kebutuhan suami. sarapan ini juga termasuk. Udah ga apa apa kok bi. Biar aku aja yang lanjutkan."


"Baik non kalau begitu. bibi permisi."


Adinda mulai berkutat dengan alat memasak di dapur barunya. Ia mulai memasak Capcay dan menggoreng perkedel kentang. Sedangkan untuk ayamnya ia membuat ayam panggang. Setelah kurang lebih 1 jam berkutat di dapur akhirnya masakan yang di masak Adinda pun sudah di hidangkan di meja makan. Ia kembali ke kamar untuk membersihkan dirinya.


"Wangi sekali bi masakannya. Tumben masakan bibi harumnya berbeda." Ucap mamah Falia.


"Ini Non Adinda Nyonya yang memasak."


"Oia? Jadi gak sabar buat coba. Terus Adinda nya kemana bi?"


"Tadi non Adinda izin untuk mandi Nyonya."


"Ya sudah. Bibi boleh kembali." Ucap Mamah Falia.


"Wangi banget masakannya."Sekarang papah Andrew yang mengomentari.


"Ini masakan menantu kita pah. Gak nyangka ternyata dia gak sungkan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga."


"Katanya dia lagi mandi pah. Mungkin dia kegerahan setelah ia memasak."


"Baiklah. kita tunggu anak dan menantu kita dulu."


Tak lama kemudian Vino turun bersama Adinda. Mereka langsung menuju meja makan. Ia langsung menuangkan air ke dalam gelas yang sudah di sediakan.


"Sudah sayang. sekarang kita makan. Papah gak sabar nyoba masakan kamu." Ucap Papah Andrew.


Adinda dengan telaten melayani Vino dan juga papah dan mamah. Baru ia mengambil untuk dirinya sendiri.


"Makasih sayang." Ujar Mamah, Papah dan Vino.


Mereka pun mulai menyantap sarapan mereka dengan khidmat. Setelah selesai sarapan. mereka bercengkrama ringan sebelum papah Andrew harus ke rumah sakit.


"Masakan kamu enak sayang. Makasih untuk sarapan yang lezat ini." Ucap papah Andrew.


"Papah bisa aja." Jawab Adinda malu malu.


"Tapi beneran sayang. mamah juga setuju sama papah. Masakan kamu lezat. Kenapa gak coba buka restoran sayang?"


"Ah mamah berlebihan. masakan aku biasa aja kok. Masa iya masakan rasa pas pasan kayak gini buka restoran. yang ada bangkrut restoran aku." Ucap Adinda sambil terkekeh.

__ADS_1


"Serius sayang. Papah sama mamah gak bohong. iya kan mah?" Ucap Papah Andrew.


"Bener banget pah." Jawab Mamah Falia


Adinda hanya tersenyum mendengar tanggapan dari mertuanya.


"Oia Vin kamu kapan kembali ke profesi kamu?" Tanya Papah Andrew.


"Ga tau pah. Aku aja belum goal ini. Mungkin setelah aku bisa goal aku bakal kembali ke profesiku."


"Masa?" Tanya papah dengan mengangkat alisnya.


"Iya pah. Lagi ada tamu. jadi belum goal."


"Goal apaan sih pah? Emang Vino main bola?" Tanya mamah Falia.


Vino dan papah Andrew hanya tertawa mendengar penuturan mamah Falia. Sedangkan Adinda hanya tersenyum mendengar percakapan antara papah dan anak di depannya.


"Sabar Vin. Nanti juga kalau tamunya udah pergi pasti bisa goal. iya kan Dinda?" Tanya papah Andrew sambil menaik turunkan alisnya membuat Adinda tersipu malu.


"Papah pergi dulu ya semua. Assalamualaikum." Ucap Papah Andrew sambil berlalu ke pintu utama di ikuti mamah Falia di belakangnya.


"Wa'alaikum salam." Jawab Adinda dan Vino secara bersamaan.


Setelah papah pergi ke rumah sakit mamah kembali ke dalam rumah.


"Apa rencana kamu hari ini Dinda?"


"Aku gak tau mah. Aku belum boleh ke butik sama Vino. Jadi mungkin aku di rumah aja hari ini. Emang kenapa mah?"


"Ga apa apa kok. Kalau kamu mau kamu boleh menemani mamah ke arisan."


"Ga bisa gitu dong mah. masa Vino sendiri di rumah. Vino kan mau ekhem ekhem sama Adinda."


"Ekhem ekhem apa sih Vin?"


"Mamah kayak yang ga ngerti pengantin baru aja."


"Ya udah deh mamah pergi sendiri aja. Cepet bikinin mamah cucu ya."


"Siap mah." Ujar Vino semangat sambil menarik tangan Adinda menuju kamar mereka sedangkan mamah Falia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Sesampainya di dalam kamarnya. Vino langsung mencium bibir Adinda.


"Ih kamu ini. Main nyosor aja."


"Ga apa apa dong. kan udah halal. Kalau kamu nolak dosa loh."

__ADS_1


Akhirnya Adinda pasrah dengan apa yang di lakukan Vino. Meskipun hanya sekedar cumbuan karena tamu bulanan Adinda belum selesai.


__ADS_2