Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
LIMA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Beberapa bulan sudah berlalu, hari ini Mamah dan Papah Vino kembali pergi untuk perjalanan bisnis. Hari ini adalah hari ulang tahun Vino. Adinda akan memberikan sebuah kejutan yang mungkin akan membuat Vino bahagia.


Pagi ini Adinda terus bolak balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Vino selalu memijit tengkuk Adinda saat memuntahkan isi perutnya. Adinda sudah terlihat sangat pucat dan sangat lemas. Membuat Vino sangat menghawatirkan kondisi isterinya tersebut.


"Sayang, sini aku gendong balik ke kasur." Ucap Vino saat melihat Adinda yang terlihat sangat lemas. Vino langsung mengangkat Adinda yang membuat Adinda segera melngalungkan tangannya ke leher Vino. Vino segera merebahkan tubuh Adinda ke atas kasur dengan sangat perlahan.


"Kita ke dokter ya sayang." Lanjut Vino namun Adinda hanya menggelengkan kepala.


"Aku ga apa apa mas. Udah kamu ke rumah sakit aja. Bukannya hari ini ada operasi ya mas."


"Aku gak bakal tinggalin kamu sayang. Di rumah juga gak ada siapa siapa. Arkana pergi sekolah. Mamah sama Papah juga ada urusan bisnis di luar. kalau kamu butuh apa apa gimana?"


"Kan ada bibi mas. Aku bisa minta tolong bibi kalau butuh sesuatu."


"Aku gak bisa ninggalin kamu sayang."


"Aku serius gak apa apa kok mas. Pergi aja. Kasian pasien kamu. Masa operasinya di tunda. Udah sana pergi aja. Aku janji kalau ada apa apa aku bakalan telfon kamu. Udah sana gak usah banyak mikir. Waktu kamu tinggal 1 jam lagi loh."


"Ya udah aku berangkat dulu sayang. Aku usahakan pulang secepatnya."


CUP


Vino mencium kening Adinda, dan keluar untuk menuju mobilnya dan segera membelah jalanan ibu kota menuju rumah sakit. Sedangkan Adinda kembali tertidur karena merasa badannya sangat lemas.


Adinda tiba tiba merasakan kasurnya bergerak tanda ada seseorang yang menaiki kasur tersebut. Adinda segera membuka matanya dan melihat pangeran kecilnya sudah duduk di sebelahnya.


"Halo sayang, udah pulang. Pulang sama siapa?" Tanya Adinda


"Pulang sama Pak Yanto Bunda. Bunda sakit?" Tanya Arkana dengan raut cemas.


"Bunda gak apa apa kok sayang. Bunda cuma sedikit pusing tadi. Sekarang udah seger kok. Ya udah Bunda mandi dulu ya."


"Iya Bunda. Aku tunggu disini ya Bunda."


Adinda hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak lupa ia membawa pakaian untuk ia pakai di dalam kamar mandi. Tak berselang lama, Adinda selesai dengan kegiatan mandinya. Ia lalu turun dengan menggandeng tangan pangeran kecilnya. Ia menuju meja makan untuk makan siang. Tiba tiba bibi menghampiri Adinda.


"Non, tadi ada yang kirim kue. Bibi taruh di meja ruang tv Non. Tadi bibi liat Non lagi tidur. Bibi jadi gak tega buat bangunin Non." Ujar Bibi tersebut.


"Iya bi, makasih ya bi. Maaf udah ngerepotin." Balas Adinda


"Ga apa apa kok Non. Itu udah tugas bibi. Ya udah bibi pamit ke belakang lagi Non."

__ADS_1


"Iya Bi."


Adinda langsung mengambil makan siang untuk dirinya dan Arkana. Setelah makan siang, Adinda dan Arkana memilih menonton televisi. Selang 2 jam dari ia makan siang, ponsel Adinda berdering tanda adanya telfon masuk.


"Halo Assalamualaikum mas."


"Wa'alaikum salam. Sayang, aku lagi di jalan nih mau pulang. Kamu mau sesuatu gak?"


"Gak usah mas. Aku masih lemes ini. Masih gak berselera buat makan apa pun."


"Tapi kamu harus makan sayang. Kalau gak mau makan kamu nanti lama sakitnya."


"Nanti aja mas. Mas pulang aja."


"Ok deh kalau gitu. Tunggu aku di rumah ya sayang. Aku pulang sekarang."


"Iya mas, hati hati di jalannya. gak usah ngebut."


"Iya sayang. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Setelah menutup telfonnya, Adinda segera mengajak Arkana ke gazebo belakang rumahnya. Untuk menyiapkan pesta kecil kecilan untuk merayakan ulang tahun suaminya. Tak lupa kado dengan kotak berukuran kecil dan juga kue di bawa olehnya. Saat mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumahnya, Adinda segera menyalakan lilin yang ia simpan di atas kue tersebut. Sedangkan di depan, Vino langsung berjalan dengan tergesa gesa menuju kamarnya untuk menemui 2 malaikat di hidupnya.


"Aku kira kamu kemana sayang." Ujar Vino.


"Make a wish dulu mas. Lalu tiup lilinnya." Ucap Adinda. Vino segera menutup matanya untuk meminta permohonan dan meniup lilin yang menyala di atas kue tersebut.


"Selamat ulang tahun Ayah." Ujar Arkana sambil berlari ke pelukan ayahnya.


"Makasih sayang." Jawab Vino


"Aku masuk dulu Ayah, aku lupa ada janji mau main sama temen sebelah rumah. Aku main dulu ya Ayah." Lanjut Arkana sambil turun dari pangkuan Vino


"Jangan nakal ya mainnya." Balas Vino.


"Siap Ayah." Arkana segera berlari keluar rumah dan menuju rumah tetangganya yang merupakan rumah teman barunya.


"Nih kado dari aku mas." Adinda menyodorkan sebuah kotak berwarna biru dengan pita di atasnya.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Buka aja."


Vino membuka kotak tersebut dan langsung tersenyum bahagia.


"Ini serius sayang?" Tanya Vino dan Adinda hanya menganggukkan kepalanya.


Vino langsung memeluk Adinda dan menciumi wajah Adinda hingga membuat Adinda tertawa.


"Ini kado paling terindah buat aku sayang. Terimakasih."


"Sama sama mas."


Vino tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat membuka kotak yang berisi alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis yang berarti positif. Vino langsung membungkukkan badannya dan berbicara pada perut Adinda.


"Baik baik di dalam sana ya sayang. Jangan bikin Bunda kamu kewalahan. Jangan bikin Bunda kamu muntah muntah terus. Kamu juga perlu makanan bergizi. Kalau Bunda kamu muntah terus, asupan gizi kamu juga bakalan kurang sayang. Ayah gak sabar menanti kamu Nak." Ujar Vino diakhiri kecupan di perut Adinda yang masih terlihat rata.


"Geli mas." Ucap Adinda yang membuat Vino terkekeh.


"Ini orang yang pertama tau aku atau Raka lagi?"


"Kamu mas. Kamu orang yang pertama tau. Kenapa sih sensi banget sama Kak Raka?"


"Ya bagus deh kalau aku orang pertama yang tau. Aku gak rela kalau Raka yang tau lebih dulu kayak waktu kamu hamil Arkana."


"Gak usah cemburu gitu dong. Kak Raka itu dokter kandungan aku. Kalau mas itu Dokter Hatiku."


Vino langsung membawa Adinda ke dalam pelukannya. Dan berulang kali mengucapkan rasa syukur.


- TAMAT -


Yeay.. Akhirnya author bisa menyelesaikan cerita ini. Makasih untuk semua para pembaca yang setia nunggu update. Maaf kalau ada banyak kata yang kurang berkenan.


Jangan lupa mampir di karya author yang lain.


**1. Suamiku Calon Suami Sahabatku



Kisah Cassandra**


__ADS_1


Happy reading semua. Jangan lupa vote sebanyak banyaknya.


__ADS_2