Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
TIGA PULUH LIMA


__ADS_3

Malam hari Adinda terbangun karena suara tangis Arkana. Raka langsung terbangun dan mengambil Arkana lalu memberikan kepada Adinda untuk di beri ASI. Adinda memakai kain penutup untuk menyusui dan menyusui Arkana.


"Kenapa malah dokter Raka yang dengan sigap membantu. Sedangkan Vino yang notabene suami aku bahkan gak berusaha datang lagi. Aku benci dia. Tapi kenapa sekarang merasa hampa saat gak ada dia." Batin Adinda


"Kenapa kok ngelamun?" Ujar Raka. Saat ini hanya mereka yang berada di ruangan. Dokter Axel dan Dokter Kevin sedang memeriksa pasien darurat yang baru saja datang.


"Ga apa apa kok. dokter Axel sama dokter Kevin kemana kak?"


"Ada pasien kecelakaan yang melibatkan ibu dan anaknya. Mereka sedang memeriksa. Kamu butuh sesuatu?"


"Aku haus kak. Hehe.. maaf aku jadi repotin kakak. Padahal kakak besok harus dinas kan."


"Ga apa apa kok. Anggap aku kakak kamu. Jangan sungkan kayak gitu dong."


"Makasih kak."


"Aku ambil minum sebentar. Tunggu ya. Kebetulan botol minum kamu kosong."


"Maaf ya aku selalu merepotkan."


Raka hanya tersenyum. Adinda jadi berandai andai jika dokter Raka adalah suaminya. Karena dokter Raka selalu ada saat ia membutuhkan bantuan. Namun pemikiran tersebut langsung di enyahkan dari pikirannya. Ia langsung beristigfar karena status ia yang masih memiliki suami malah memikirkan lelaki lain dan berandai jika lelaki tersebut adalah suaminya saat ini.


Tak lama pintu terbuka. Masuk sosok yang saat ini ia rindukan sekaligus ia benci. Sosok itu adalah Vino. Vino langsung menghampiri Adinda dan mencoba bertindak seperti biasanya. Ia merasa bersalah mendengar kisah masa lalu Adinda. Ia tak sengaja mendengar percakapan antara dokter Raka dan Yola tadi.


"Sayang... Kamu belum tidur?"


"Gak usah manggil sayang Vin. Mau bagaimana pun kamu berusaha. Aku tetap sama pendirian aku. Kita akan bercerai secepatnya."


"Aku mohon sayang. Aku sadar sekarang. Rasa aku ke Tissa udah berubah. Sekarang aku hanya cinta sama kamu Din. Aku gak mau kehilangan kamu."


"Aku gak tau harus bahagia atau malah tersiksa. Aku gak tau harus percaya sama ucapan kamu yang mana. Aku bingung."


"Tolong kasih aku satu kesempatan lagi. Aku janji bakal berubah demi keluarga kecil kita."


"Gak usah memaksakan diri Vin. Aku tau kamu terpaksa kan membujuk aku. Pasti karena kesehatan papah kan?"


"Gak sayang. Gak gitu. Kamu itu dunia aku. Dunia aku hanya berputar di sekita kamu sayang. Tolong percaya sama aku."

__ADS_1


"Udah jangan berisik Arkana tidur."


"Kamu mau kemana?" Saat melihat Adinda bangkit dari ranjangnya


"Aku mau naruh Arkana di box nya."


"Biar aku yang membaringkan Arkana."


Adinda memberikan Arkana pada Vino. Karena ia pun tak bisa egois. Karena bagaimana pun Vino adalah Ayahnya. Mungkin untuk sementara sebelum mereka berpisah. Karena setelah berpisah Adinda berniat tinggal di Bandung. Di rumah peninggalan orang tuanya. Adinda tidak akan memberitahu kemana ia akan pindah. Kebetulan Vino juga belum mengetahui rumah peninggalan orang tua Adinda di Bandung.


"Aku ingin tidur. Kamu keluarlah jika urusan mu sudah selesai."


"Tidurlah. aku akan menjaga mu disini."


Adinda hanya membiarkan Vino berada di ruangannya. Tak lama Raka datang dengan membawa air minum. Raka langsung menghampiri Adinda tanpa mengetahui jika ada Vino sedang memperhatikannya dari sofa.


"Nih minumnya. Di minum dulu. Kata nya haus."


"Iya kak. Makasih ya. Maaf aku ngerepotin kakak."


Setelah Adinda selesai minum Raka berniat kembali ke sofa. Namun langkahnya terhenti saat melihat Vino sedang duduk di sofa.


"Ok kalau gitu." Ujar Raka. "Aku pamit ya Din. Kalo ada apa apa jangan sungkan hubungi kakak. Ok." Lanjutnya.


"Iya kak. Makasih ya. Kakak lebih baik istirahat sekarang." Raka hanya menganggukkan kepala sambil berlalu keluar ruangan.


"Aku ingin melihat makam Azkana. Dimana dia di makamkan?"


"Buat apa? Gak ada gunanya juga datang kesana."


"Aku hanya ingin minta maaf sama anak aku. Sungguh Din. Aku sangat sangat menyesal."


"Udah lah. Gak usah di bahas."


"Tolong kasih tau aku dimana dia di makamkan?"


"San Diego Hills. Tempat yang waktu itu kita booking untuk keluarga kita."

__ADS_1


"Aku akan kesana besok."


"Terserah kamu. Aku mau istirahat."


"Iya sayang. Istirahatlah."


Adinda langsung tertidur pulas. Tak seperti tadi ia selalu gelisah. Namun saat ada Vino di sampingnya ia bisa tertidur dengan pulas. Setiap Arkana bangun Vino selalu dengan sigap menggendong Arkana dan kembali menidurkan Arkana. Karena ASI Adinda masih kurang.Jadi masih di bantu dengan susu formula. makanya Vino bisa kembali menenangkan dan menidurkan Arkana.


Beberapa hari kemudian Adinda sudah diperbolehkan pulang. Di rumah ada mamah Falia dan papah Andrew yang menunggu kedatangan Adinda dan Cucu mereka Arkana. Setelah Adinda masuk ke rumah, ia langsung menidurkan Arkana di dalam kamar. Adinda lalu menghampiri kedua orang tua beserta Vino yang sedang menonton tv.


"Mah, Pah. Aku mau bicara sesuatu sama kalian. Bisa minta waktunya sebentar?"


"Ada apa sayang?" Tanya mamah


"Maaf kalau keputusan aku bikin kalian kaget atau kecewa."


"Ada apa ini sayang. mamah kok jadi gak enak hati ya." Ujar mamah Falia. Sedangkan Papah Andrew hanya diam. Sedangkan Vino hanya tertunduk ia tahu maksud dari perkataan isterinya.


"Aku ingin bercerai dari mas Vino."


"Kenapa sayang. Kenapa tiba tiba? Ada apa ini?" Tanya Papah Andrew.


"Aku udah gak sanggup hidup bersama dengan mas Vino Pah. Ia telah banyak membohongi Dinda."


"Tolong jelaskan secara rinci sayang. Biar papah sama mamah bisa mengerti."Ujar Mamah Falia.


"Mamah ingat kemarin saat aku melahirkan dan kehilangan salah satu anak ku mas Vino tak bisa di hubungi? Ia sengaja mematikan ponselnya karena tak ingin di ganggu saat sedang bersama Tissa. Dia dengan setia menunggui Tissa yang menjalani cuci darah. Sedangkan aku yang sangat membutuhkan kehadirannya hanya berjuang sendiri." Ujar Adinda sambil menangis. "Dan aku punya rekaman suara mas Vino saat di telfon oleh dokter Raka. saat itu aku dan dokter Raka pulang dari pemakaman tak sengaja melihat mas Vino keluar dari rumah sakit. Karena penasaran aku menyuruh dokter Raka mengikuti kemana mas Vino pergi. Mamah sama Papah bisa mendengarkannya sendiri." Ujar Adinda sambil membesarkan suara rekaman antara Vino dan dokter Raka. Percakapan mereka terekam tanpa ada yang terlewat sedikit pun.


Mamah Falia dan Papah Andrew terlihat sangat marah terhadap Vino. Bahkan Papah Andrew tak segan menampar wajah Vino.


"Kamu keterlaluan Vino. Papah tak pernah mengajarkan kamu jadi anak brengsek seperti ini. Papah sangat kecewa sama kamu." Ujar Papah Andrew setelah menampar Vino dengan nafas yang memburu.


"Mamah sangat kecewa sama kamu Vin. Ternyata selama ini mamah telah salah mendidik kamu." Ujar mamah Falia.


"Ini bukan salah mamah. Tolong jangan menyalahkan diri sendiri. Ini semua salah aku Mah. Bukan salah Mamah." Ujar Vino sambil terisak.


"Tolong maafkan Vino sayang. Tolong jangan tinggalkan keluarga ini." Ujar Mamah Falia sambil menggenggam tangan Adinda.

__ADS_1


"Kita masih bisa ketemu Mah. Aku akan tetap menganggap mamah dan papah seperti orang tua aku. Tapi untuk tetap bersama dengan Vino aku gak bisa. Maafkan aku. Keputusan aku sudah bulat." Jelas Adinda.


Mereka hanya terdiam dengan pemikiran masing masing. Adinda dan Mamah Falia terlihat sedang menangis sambil berpelukan. Mamah Falia memberikan kekuatan kepada Adinda. Sedangkan Papah Andrew sudah kembali ke kamarnya dengan segala macam kemarahan di hatinya. Sedangkan Vino duduk sambil terisak menyesali semua perbuatannya.


__ADS_2