
Adinda, Arkana dan Raka sedang di perjalanan menuju butik. Arkana sudah tertidur lelap di kursi belakang.
"Kenapa diem aja Din? tumben."
"Aku kepikiran omongan Arkana kak."
"Buat masalah fashoin show biar aku yang ikut. Kasian Arkana."
"Iya kak makasih. Maaf ya kak aku sama Arkana selalu merepotkan kakak."
"Kayak sama siapa aja Din. Masih mikirin apa sih? solusi buat fashion show udah ada. Tapi kamu kelihatan masih memikirkan sesuatu."
"Aku baru tau kalau Arkana sering di ejek di sekolahnya. Anak umur 4 tahun mana tahu yang begitu kak. Tapi kok temen temen Arkana kayak yang udah ngerti apa itu anak haram."
"Mungkin mereka denger dari orang tua mereka. Bisa saja orang tua mereka yang melarang untuk dekat dengan Arkana."
"Iya sih kak bisa juga seperti itu. Aku malah jadi mikir apa aku salah langkah. Apa aku begitu egois hanya dengan memikirkan perasaan aku saat itu. Aku harusnya memikirkan masa depan Arkana. Harusnya aku kuat meskipun mendapat penghianatan dari Vino. Mungkin jika aku dulu tak egois dengan menggugat Vino mungkin Arkana tak akan mendapat ejekan dari teman temannya. Aku jadi merasa bersalah kak. Aku jadi gak tau mesti gimana."
"Kamu mau tau solusi nya apa?"
"Apa kak?"
"Nyari Ayah baru. Kalo gak mau nyari yang baru. Ya rujuk aja sama Vino."
"Kakak ya kalo ngomong suka seenak jidatnya sendiri."
"Itu solusi yang bisa kakak pikirkan Din. Buka hati kamu. Biarkan orang mendekat sama kamu. Biarkan Arkana punya Ayah lagi."
"Bisa aja nyuruh orang buat buka hati. Kakak sendiri gak pernah buka hati buat perempuan mana pun. Semenjak kita kenal, aku gak pernah loh liat kakak jalan sama perempuan. Atau jangan jangan..." ucap Adinda sambil menutup mulutnya.
"Mikir apa kamu?"
"Apa jangan jangan kakak suka sesama jenis lagi." Ucap Adinda sambil terkekeh.
__ADS_1
"Jangan suka ngada ngada kamu. Aku masih normal ya."
"Ya abis kakak tuh liat perempuan seksi gak bereaksi. Liat perempuan cantik biasa aja. Lihat yang berhijab juga datar datar aja mukanya. Apa jangan jangan kakak mau sama Vino ya."
"Hush.. Sembarangan. Kakak juga gak tau Din. Belum ada yang bisa menggetarkan hati ini soalnya."
"Ya abis aku sering banget liat kakak entah itu telfon atau video call sama Vino. Aku kira kalian berkencan."
"Kakak tuh lagi berusaha buat kalian rujuk. Kakak kasian sama Arkana. Makanya setiap ada kesempatan kakak selalu melaporkan kegiatan kalian sama Vino."
"Kakak jadi mata mata selama ini? Lagian gak mungkin mau Vino balik sama aku kak. Disisi dia udah ada Tissa. Wanita yang paling berharga buat dia. Aku gak mau ya ngerusak hubungan mereka."
"Yang kakak tau ya. Setelah kalian bercerai Vino gak pernah deket lagi sama Tissa. Dia bilang kalau dia bakal berusaha ajak kamu rujuk. Tapi kamu yang selalu menolak. Dia tuh udah kayak orang gila Din saat cerai dengan kamu. Dia tuh bener bener jadi pribadi yang berbeda. Gak ada lagi Vino yang ceria. Vino yang sok tebar pesona di depan perempuan. Dia tuh bener bener ingin balikan sama kamu. Dia bilang ingin memperbaiki kesalahan dia. Namun kamu pergi ke Bandung saat itu. Karena kamu mengancam akan pergi sangat jauh jadinya aku, Kevin dan Axel gak berani memberitahu Vino dimana keberadaan kamu. Meskipun kita bilang kamu ada di Bandung. Tapi tetap dia gak bisa nemuin kamu. Secara Bandung itu kan luas. Dia sempat berniat mengakhiri hidupnya saking frustasi. Tapi kita selalu mensupport dia. Makanya dia bisa ada sampe sekarang."
"Iya kak. Mamah Falia juga sering bujuk aku sebenernya. Tapi hati aku udah gak bisa nerima kak. Meskipun sampai sekarang perasaan ini masih sama buat dia. Tapi kalau untuk bersatu lagi aku gak tau. Aku takut kejadian itu terulang lagi."
"Kenapa gak di coba Din?"
"Kakak ini. Gimana kalau dia gak mau."
"Demi Arkana kak. Kalau Arkana bahagia aku bakal lakukan apa pun."
"Yakin demi Arkana?"
"Ya gitu deh."
"Dih muka kamu kayak tomat."
"Kakak ih.. seneng banget ngegoda aku."
"Tuh Vin. Gimana jawaban lo?"
"Kakak nanya sama siapa? Disini cuma ada kita loh kak."
__ADS_1
"Kamu gak sadar dari tadi ponsel kakak dalam keadaan nelfon seseorang?"
"Kakak jebak aku dari tadi? Wah gak bisa di percaya."
"Apa kabar Din?" Tanya Vino di sambungan telfonnya.
"Baik. Kamu sendiri gimana?"
"Baik juga. Maaf aku gak bisa jemput kamu. Ada sesuatu yang mendesak."
"Ya tapi kan setidaknya kamu bisa hubungi aku. Bilang kalau gak bisa jemput. Kamu bisa bikin aku kecewa beberapa kali pun. Tapi ini yang kamu kecewain tuh anak kamu Vin. Kamu gak mikir gimana perasaan dia? Dia tuh sangat antusias saat tau kamu yang akan jemput. Aku baru liat dia sesemangat itu. Tapi harapan nya kamu ancurin gitu aja."
"Maaf."
"Gak usah minta maaf sama aku. Minta maaf sama Arkana. Dia yang paling kecewa disini."
"Arkana nya mana sekarang? Biar aku bicara sama dia."
"Dia lagi tidur. Aku gak mau ganggu dia. Nanti aja kalau ada kesempatan bilang maaf sama dia."
"Iya Din. Aku juga mau minta maaf sama kamu. Aku gak bermaksud bikin kamu kecewa."
"Aku gak mempermasalahkan sikap kamu terhadap aku. Aku cuma gak suka liat Arkana kecewa."
"Aku pasti bakal minta maaf sama dia."
"Kenapa lagi sama Tissa?"
"Kamu tau dari mana kalau Tissa gak baik baik aja?"
"Aku hanya asal tebak. Secara dulu aja di momen yang tak akan terlupakan kamu lebih memilih dia. Ya pasti sekarang pun begitu kan. Pasti karena Tissa lagi. Karena dia yang sangat berarti buat kehidupan kamu."
"Aku gak tau kenapa dia pingsan di depan vila aku. Pas aku mau pergi penjaga vila bilang kalau ada orang yang pingsan di depan. Pas aku liat itu Tissa. Dia sampai sekarang belum sadarkan diri. Kondisi ginjalnya sudah semakin parah. Aku.." Ucapan Vino terpotong dengan suara Adinda.
__ADS_1
"Kamu gak perlu jelasin apapun sama aku. Itu hak kamu. Cuman aku minta tolong sama kamu. Jangan pernah bikin Arkana kecewa. Aku gak sanggup liat dia kecewa seperti tadi. Dia sangat berharap bisa ketemu sama kamu. Dia sangat ingin bertemu dengan Ayahnya. Tapi ternyata ayahnya sibuk dengan wanitanya. Maaf kalau aku dan Arkana udah bikin kamu gak nyaman." Ujar Adinda sambil menutup sambungan telfon tersebut.
Di dalam mobil Raka tak berani membuka suara melihat Adinda yang hanya terdiam. Ia bingung harus membuka percakapan dengan membahas apa. Dia juga merasa sedikit kecewa dengan sikap Vino. Ia telah menganggap Adinda sebagai adiknya sendiri.