Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
LIMA PULUH


__ADS_3

Ada beberapa pengunjung yang ikut membantu menekan luka Vino agar darah segera berhenti. Dan ada juga yang menghubungi rumah sakit untuk mengirim ambulance. Adinda masih menghubungi Raka dengan air mata yang tak kunjung berhenti. Kini posisi Vino terbaring dengan kepala di pangkuan Adinda.


"Mas aku mohon jangan tutup mata kamu mas. Bukannya kita akan menikah mas. Kumohon bertahan lah. Jangan sampai kamu menutup mata kamu mas." Ujar Adinda.


"Ma Maafin aku Din." Ucap Vino sambil terbata.


"Aku mohon mas bertahan. Demi Arkana mas." Ucap Adinda lagi.


Tak lama sambungan telfon terhubung.


"Kak.. Hiks.. Hiks.. Vino Kak. Kakak aku mohon dateng kesini. Aku masih di parkiran. aku bingung harus ngapain.." Ucap Adinda saat sambungan telfon telah tersambung dengan Raka.


"Kenapa Din. Ngomong yang jelas. Kamu kenapa nangis? Vino mana dia bilangnya nyusul kamu tadi." Ujar Raka dengan raut cemas.


"Mas Vino ditusuk Kak. Aku mohon kakak kesini. Hiks.. Hiks.. Mas Vino berdarah banyak banget Kak." Jelas Adinda.


Raka langsung mematikan sambungan telfonnya. Dan menitipkan Arkana kepada Vivian dan mengajak Axel untuk mengikutinya.


"Sayang. Kamu disini sama tante Vivian dulu ya. Temenin dulu Nathan. Papah mau keluar sebentar." Ujar Raka kepada Arkana.


"Kenapa Ka?" Tanya Axel.


"Ada yang gak beres. Kita harus ke parkiran. Tadi Dinda nelfon sambil nangis nangis. Gue juga gak tau ada apa. Kev lo tolong jaga yang lain disini ya?" Lanjut Raka.


"Siip. Kabarin kalau ada apa apa." Ucap Kevin.


Raka dan Axel segera berlari ke arah parkiran menuju mobil Vino. Baik Raka maupun Axel kaget melihat Vino sudah berlumuran darah.


"Din. Apa yang terjadi?" Tanya Raka sedangkan Axel langsung memeriksa keadaan Vino dengan peralatan medis yang ada di mobil Vino.


"Dia di tusuk Kak. Hiks.. Hiks.. Aku juga kaget. Tapi yang aku yakin targetnya tuh aku Kak. Bukan mas Vino. Hiks.. Hiks.. Hiks.." Jelas Adinda


"Sekarang pelakunya dimana?" Tanya Axel.


"Udah di bawa ke pos security Kak. Hiks.. Hiks.." Lanjut Adinda.


"Ja.. ngan.. Na.. ngis.. sa.. yang.." Ujar Vino.


"Jangan dulu bicara mas. Hiks.. Hiks.. Aku mohon kamu harus bertahan. Demi Arkana demi aku.." Ucap Adinda.


"Kamu kenal siapa pelakunya?" Tanya Raka


"Manda kak. Hiks.. Hiks.." Jawab Adinda.


Vino langsung mengangkat tangannya untuk mengusap pipi Adinda yang masih berderai air mata "Ja.. ngan.. na.. ngis.." Adinda langsung menggenggam tangan Vino dan menciumi punggung tangan Vino.

__ADS_1


"A.. ku.. ngan.. tuk.. Din." Ujar Vino lagi


"Aku mohon mas.. Kamu bertahan. Kamu harus tetep buka mata kamu. hiks.. Hiks.. Hiks.. " Ucap Adinda. Tak lama mata Vino terpejam.


"Mas. Aku mohon mas bangun. aku mohon.. Hiks.. Hiks.. Hiks.." Adinda menangis semakin kencang sambil mendekap kepala Vino ke pelukannya.


"Ini ambulance mana sih. Lama banget." Ujar Axel sedikit berteriak. "Vin gue mohon bertahan. Demi semua orang yang sayang sama lo." Lanjutnya.


"Gimana Xel?" Tanya Raka


"Dia udah banyak banget ngeluarin darah. Gue gak tau sedalam apa luka tusuk nya. semoga aja gak nyampe kena organ dalamnya yang vital." Jelas Axel.


"Xel nanti lo ikut ambulance aja. Nanti gue nyusul. Gue mau urusin Manda dulu." Ucap Raka.


"Iya gue pasti ikut. Gue yang bakal operasi Vino nanti. Tolong kasih tau Vivian ya. Gue gak mungkin ke resto dulu. Baju gue udah banyak darah." Jelas Axel. "Ni ambulance kemana sih lama banget." Lanjutnya


"Iya nanti gue bakal jelasin sama yang lain. Kalau Vivian mau. Nanti gue yang anterin dia balik." Lanjut Raka.


Tak lama ambulance datang. Vino segera dibawa masuk ke dalam ambulance di ikuti Adinda dan Axel.


"Maaf kalian siapanya ya?" Tanya perawat dari ambulance.


"Dia isterinya. Dan saya sahabat sekaligus dokter yang akan nangani dia. Tolong bawa dia ke rumah sakit Healty. Kebetulan saya tugas disana." Jelas Axel


"Baik dok." Ucap perawat tersebut.


"Lo tenang aja." Balas Raka.


Sepeninggal ambulance, Raka kembali ke resto untuk mengabari yang lainnya.


"Gimana Ka?" Tanya Kevin.


"Dia mengalami pendarahan hebat. Axel iku ke rumah sakit buat operasi Vino. Dinda ikut dampingin Vino. Vino korban penusukan. Semoga aja lukanya gak terlalu dalem." Jelas Raka.


"Terus gimana sekarang?" Tanya Yola.


"Kakak juga gak tau. Mereka udah di bawa ambulance. Sekarang gue mau ngurusin dulu pelaku. Katanya dia di amankan sama petugas security. Karena kebetulan security lewat saat penusukan. Makanya pelaku langsung diamankan." Lanjut Raka.


"Siapa pelakunya?" Kali ini Safira yang bertanya.


"Manda." Jawab Raka


"Wah bener bener gila tuh orang. Aku kira udah bener bener berhenti gangguin orang. Karena selama ini kan gak pernah kedenger lagi dia nyelakain Dinda ataupun Mira." Ujar Vivian.


"Mungkin dia tau kalau Adinda sama Vino mau balikan." Jawab Raka.

__ADS_1


"Arkan. Kamu pulang sama tante ya. Temenin Bianca. Oke sayang." Ucap Safira kepada Arkana.


"Bunda kemana?" Tanya Arkana.


"Ayah kamu sakit. Bunda lagi anter ke rumah sakit dulu. Nanti juga Bunda pulang kok. Di rumah kan Oma sama Opa juga lagi gak ada. Kamu ikut tante Safira aja ya." Jelas Raka.


"Iya Pah." Arkana menuruti kemauan Papahnya.


"Vi lo mau ikut balik bareng gue aja? Tapi gue urusin dulu Manda." Tanya Raka kepada Vivian.


"Gak usah Kak. Aku pulang sendiri aja. Aku bawa baby car seat kok. Jadi aman." Jelas Vivian.


"Nanti juga aku nemenin Vivian dulu kok Kak. Biar nanti Bimo jemput di rumah Vivian." Yola menambahi.


"Ya udah kalau gitu. Aku ke pos dulu. Kamu baik baik ya sama tante Safira." Ujar Raka kepada Arkana, lalu berlalu ke arah pos.


Sesampainya disana Raka melihat Manda dengan raut muka khawatir.


"Lo gak bosen bosen ya nyakitin orang. dulu orang tua Mira lo sering sakitin. Sekarang Vino sampe harus ditindak." Geram Raka kepada Manda.


"Gimana sekarang keadaan Vino?" Tanya Manda.


"Gue gak tau."


"Tolong kasih tau gue. Gue bener bener khawatir."


"Ngapain lo ngekhawatirin korban kejahatan lo sendiri?"


"Target gue tuh Adinda bukan Vino. Vino tiba tiba dateng jadi tameng buat Adinda. Gue gak sempet ngehindar."


"Lo tuh kenapa sih segitu bencinya sama Adinda. Dia salah apa sama lo?"


"Dia udah ngerebut Vino dari gue. Kemaren kemaren gue diem karena mereka udah bubar. Sekarang mereka malah mau balikan lagi. Yang harusnya sama Vino tuh gue bukan Adinda."


"Lo gak sadar. Yang dulu ninggalin Vino siapa? Yang milih laki laki lain yang lebih kaya siapa?"


"Gue nyesel Ka. Tolong biarin gue ketemu Vino."


"Ga usah. Sekarang polisi lagi di perjalanan buat jemput lo."


"Gue mohon jangan penjarain gue."


"Kalau lo gak di kasih pelajaran lo gak bakalan kapok."


Tak lama polisi datang untuk menggiring Manda. Manda berontak tak ingin ikut ke kantor polisi. Namun polisi tetap membawa Manda juga seorang security untuk dimintai keterangan.

__ADS_1


Raka kembali ke resto namun sudah tak mendapati yang lainnya. Akhirnya Raka menuju rumah sakit dengan mengandarai mobil Vino.


__ADS_2