
Tak terasa kandungan Adinda sudah menginjak 9 bulan. Tapi ia sedang sendiri di rumahnya. Bibi yang sering membantunya sedang pulang kampung karena anaknya sedang sakit. Orang tua Vino pun belum sampai di rumah setelah kepulangannya dari luar negeri. Sedangkan Vino pagi pagi sekali sudah berangkat dengan alasan ada seminar di Bandung selama 3 hari. Padahal Vino berjanji akan menemani Tissa melakukan cuci darah rutinnya. Adinda mulai merasakan kontraksi dari kandungannya. Ia langsung meraih ponselnya dan mencoba menelfon Vino untuk memberi tahukan keadaannya saat ini namun ponsel Vino tidak aktif lalu ia menelfon Yola namun tidak di angkat. Ia lalu mengirim chat di room chat 'Cewek Kece'
Adinda :
Ada yang bisa jemput gue gak? Kayaknya gue kontraksi nih. Ada cairan juga yang ngalir di paha gue. Di rumah lagi gak ada orang.
Yola :
Sorry Din gue lagi di jalan baru balik dari Bandung. Ini juga baru sampe tol Cipularang. masih jauh. Gimana dong?
Safira :
Gue jemput sekarang. Tunggu sekitar 15 menit gue sampe.
Vivian :
Gue juga bisa. tunggu ya sayang.
Adinda :
Maaf gue ngerepotin kalian terus.
Setelah itu Adinda menyimpan ponselnya di meja ruang tamu karena saat ini ia sedang duduk di sofa ruang tamu. Tak lama terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumahnya. Tak lama seseorang memasuki rumahnya. Orang itu adalah dokter Raka. Ia datang kesini karena ada yang harus dibicarakan dengan Vino. Karena Vino sedang mengajukan cutinya 3 hari ke depan.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam."
Raka melihat Adinda yang meringis kesakitan dan ia melihat cairan yang keluar dari bawah rok dress yang di kenakan Adinda.
"Vino kemana?"
"Bukannya ada seminar ya di Bandung? Dia sih pamitnya gitu kak."
"Kamu sendiri di rumah?"
__ADS_1
"I..iya kak." Ucap Adinda sambil terbata.
"Kamu udah telfon dia?"
"Ponselnya gak aktif kak. Sakit kak."
Tanpa pikir panjang Raka langsung menggendong Adinda dan membawanya menuju mobilnya. Setelah itu Raka langsung melesatkan mobilnya menuju rumah sakit.
"Sabar Din. Sebentar lagi kita sampai kok."
Raka melesatkan mobilnya membelah keramaian kota saat ini. Raka sedikit berfikir tentang kemana Vino sebenarnya. Karena setau Raka gak ada seminar saat ini. Setelah sampai Raka langsung membawa Adinda memasuki rumah sakit. Raka langsung membawa Adinda ke ruang bersalin. Sedangkan mobilnya ia biarkan tergelatak di depan lobi dengan pintu terbuka. Satpam yang melihat langsung memarkirkan mobil tersebut dan mengamankan kuncinya.
Di tempat lain tepatnya di rumah Adinda Safira yang baru datang melihat rumah Adinda yang pintunya terbuka lebar tapi tidak ada siapapun di dalam rumah ini. Lalu ia langsung menelfon Adinda, namun ponsel Adinda tertinggal di meja ruang tamu nya. Tak lama ia mendapatkan telfon dari dokter Kevin
"Halo Assalamualaikum dok. Ada apa ya?"
"Wa'alaikum salam. Safira kamu udah di rumah Adinda?"
"Udah. Ini di depan. Tapi di rumah nya gak ada orang sama sekali. Aku juga bingung Adinda dimana. Kok dokter tau aku di rumah Dinda."
"Iya dok. Aku bentar lagi kesana membawa keperluan Adinda."
"Ya sudah kalo gitu aku tutup telfonnya ya."
"Iya dok."
"Kamu hati hati di jalannya."
"Iya dok. Iya. Cerewet deh." Kevin hanya terkekeh.
"Ya sudah. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah menutup telfonnya, Safira segera melesat menuju kamar Adinda dan membawa koper yang sudah tersedia. Saat ini hubungan Safira dan dokter Kevin semakin dekat. Malah dokter Kevin di isukan berpacaran dengan Safira oleh beberapa media. Karena Safira merupakan seorang model yang populer. Saat turun ke bawah terlihat orang tua Vino sudah datang.
__ADS_1
"Tante.. Om.."
"Eh.. Kamu siapa?" Tanya Mamah Vino
"Aku Safira tante temannya Adinda. Saat ini Adinda sedang di rumah sakit. Sepertinya ia hendak melahirkan. Aku kesini mau membawa perlengkapan Adinda tante."
"Dinda mau melahirkan? Tadi Dinda sempet telfon tante sih. Cuma gak ke angkat. Tante kira dia cuma mau nanya keberadaan tante. Ya sudah ayo kita ke rumah sakit. Bentar tante ajak Papahnya Vino dulu."
Mamah Vino memasuki kamarnya dan memberitahukan hal yang sedang terjadi kepada suaminya. Dengan segera mereka pergi ke rumah sakit. Tak lama mereka sampai di rumah sakit dan segera menuju ruang bersalin. Mereka langsung memeluk Adinda secara bergantian dengan maksud menyalurkan tenaga kepada Adinda.
"Kok om gak liat Vino. Vino kemana?" tanya papah Andrew kepada dokter Raka.
"Kita ngobrol di depan om." Kata Raka sambil mengajak papah Andrew keluar ruang bersalin. Di dalam sudah ada mamah Falia, Safira dan Vivian.
"Kenapa Raka?"
"Gini om. Aku udah tanya ke Adinda. Katanya Vino sedang ada seminar di Bandung selama 3 hari. Tapi setau aku untuk 1 bulan kedepan gak ada seminar. Aku juga gak tau sih om itu bener atau gak. Makanya aku ajak om kesini karena aku mau tanya itu bener atau gak.Karena biasanya om tau tentang seminar."
"Setau om juga gak ada seminar sih. Tapi nanti biar om yang tanya langsung ke Vino."
"Baik om kalau gitu aku permisi mau melihat kondisi Adinda."
Tak lama jalan lahir Adinda sudah terbuka sempurna. Raka segera memanggil tim nya dan juga dokter Kevin selaku dokter anak untuk menangani anak yang nanti di lahirkan oleh Adinda
"Maaf cukup 1 orang yang menemani di dalam. Siapa yang mau menemani?"
"Biar saya dan Safira tunggu di luar tante. Aku jamin Adinda lebih membutuhkan tante daripada kami."
"Baiklah kalau begitu."
Safira dan Vivian keluar dari ruang bersalin dan duduk di kursi tunggu. Sedangkan papah Andrew terus berusaha menelfon seseorang. Tak lain adalah anaknya Vino. Namun ponsel Vino tidak aktif.
"Kemana anak ini? istrinya hendak melahirkan malah ngilang dan gak bisa di hubungi." Gumam Papah Andrew.
Didalam Adinda sedang berjuang untuk melahirkan anaknya dibantu oleh dokter Raka selaku dokter kandungan. Mamah Falia pun dengan setia menggenggam tangan Adinda dan memberi semangat kepada Adinda. Serta meyakinkan Adinda bahwa semua akan baik baik saja. Sedangkan di sisi lain rumah sakit yang sama. Vino dengan setia menggenggam tangan seorang wanita yang sedang menjalani cuci darah. Wanita itu tak lain adalah Tissa. Vino dengan sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengganggu waktunya bersama Tissa. Tak ada suster ataupun sesama dokter yang memberitahukan bahwa isterinya sedang berjuang melahirkan anaknya.
__ADS_1