
Hari demi hari berlalu. tak terasa satu minggu sudah berlalu sejak Vino melamar Adinda. Hari ini mereka berjanji bertemu untuk melihat lihat tempat untuk mereka melangsungkan pernikahan.
"Sayang mamah ternyata sudah memesan tempat untuk kita melangsungkan pernikahan kita. mamah bilang dia sudah menyewa hotel Mega. Ga apa apa kan sayang?"
"Bagi aku itu terlalu mewah Vin. gak bisa di ganti sama hotel yang biasa aja. secara hotel Mega itu kan hotel paling mewah di kota ini."
"Mamah udah pesan untuk kita sayang. ga enak kalau kita menolak. Mamah udah nentuin tanggal di tanggal 24 Juli. Masih ada waktu 1 bulan sayang. Maaf mamah gak konfirmasi dulu sama kamu."
"Iya ga apa apa kok. malah aku seneng mamah mau turun tangan langsung. Dengan perhatian kecil seperti itu, aku jadi merasa punya ibu lagi."
"Ok kalo kamu gak keberatan. Sekarang kita tinggal nyari gaun dan catering."
"Nyari gaun? Kamu lupa kalau aku seorang desainer?"
"Oia sayang. Maaf aku terlalu bersemangat."
"Kita cari catering aja. untuk desain gaun aku ada beberapa yang belum diperlihatkan sama orang. Nanti kita ke butik ya. kita ambil sketsa nya sekalian kita minta pendapat mamah. Gimana?"
"Ok. Kalo gak salah mamah nyaranin beberapa catering sama aku. katanya itu langganan dari beberapa teman arisan mamah. kita cicip aja dulu. yang serasa cocok di lidah kita ambil catering itu. gimana sayang?"
"Ok sayang."
"Apa sayang. aku gak denger."
"Gak ada siaran ulang. udah sana fokus sama jalanan aja. aku gak mau ya nanti kita kenapa kenapa."
"Siap sayang."
Mereka melajukan mobil yang di kendarai Vino untuk menuju beberapa tempat catering dan mencicipi beberapa menu. Setelah lelah mendatangi catering mereka sepakat untuk memakai jasa Amanah catering. Setelah itu mereka menuju butik Adinda untuk mengambil sketsa gaun untuk pernikahannya. Lalu menelfon Mamah Falia untuk mengajak bertemu.
"Halo Assalamualaikum mah. Ini Dinda."
"Wa'alaikum salam. Iya sayang ada apa?"
"Mah bisa kita ketemu sekarang? aku mau nunjukin beberapa sketsa gaun. Aku udah bikin beberapa rancangan. Tapi aku malah bingung sendiri jadi gak bisa milih sendiri. Vino juga sama bingungnya sama aku. Mamah bisa tolongin pilihin gaunnya gak mah?"
"Bisa sayang. Sekarang mamah lagi di rumah sakit. mamah lagi nemenin papah. kalau kamu gak keberatan kamu bisa kesini. kamu lagi sama Vino kan?"
"Iya mah. Aku lagi sama Vino. ya udah aku ke rumah sakit sekarang ya mah. Assalamualaikum."
"Iya sayang mamah tunggu.Wa'alaikum salam."
"Vin kita ke rumah sakit ya. katanya mamah lagi di tempat papah."
__ADS_1
"Ok sayang."
Vino melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Setelah sampai Vino keluar dari mobil dan memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Adinda. Mereka memasuki rumah sakit dengan bergandengan tangan. Tiba tiba ada seorang anak kecil yang menghampiri Adinda dan menarik ujung baju Adinda. Adinda melirik ke arah anak kecil yang itu. Ia lalu berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak tersebut.
"Halo sayang. ada apa? kamu sakit?"
" Mamah.."
"Mamah kamu kemana sayang? kamu hilang dari mamah kamu?"
Tiba tiba ada seorang pria yang menghampiri Adinda dan Vino. Ternyata pria itu adalah teman Vino saat kuliah.
"Sayang kamu jangan lari lari. nanti kaki kamu sakit kalau kamu lari lari." Ujar ayah dari anak itu.
"Loh Nelson." Ujar Vino.
"Vino ini beneran lo?" Ujar lelaki bernama Nelson itu.
"Apa kabar lo? Udah punya anak aja. gak ngundang lagi pas lo nikah. Bener bener ya lo."
"Sorry. gue hilang kontak sama semua temen kuliah. Kabar gue baik Vin. lo gimana?"
"Gue juga baik. Istri lo mana? kayanya anak lo ini nyari ibunya."
"Mamahnya udah gak ada Vin. Tahun lalu gue mengalami kecelakaan mobil. dan itu merenggut nyawa istri gue. Bahkan Kenan pun baru baru ini bisa berjalan kembali setelah dia lumpuh karena kecelakaan tersebut."
"Ga apa apa Vin."
"Pah ini mamah pah. ini mamah." Ucap Kenan sambil melihat ke arah Adinda.
"Maafin anak gue. mungkin dia salah mengira."a Ucap Nelson
Namun Nelson tertetegun saat melihat wajah dari Adinda. ia melihat sosok istrinya saat melihat wajah Adinda yang begitu mirip dengan mendiang istrinya. Adinda hanya tersenyum ke arah Nelson dan berjalan mendekati Vino.
"Dia siapa Vin?"
"Ini calon istri gue. Nanti lo dateng ya ke acara nikahan gue. Gue minta kontak lo dong." Ujar Vino sambil menyodorkan Handphone nya
Nelson segera memasukan no kontak nya ke dalam handphone Vino. Tiba tiba Kenan merentangkan tangan ke arah Adinda minta di gendong.
"Mah Kenan mau di gendong."
"Sini sayang sama papah aja."
__ADS_1
"Ga apa apa kok. mungkin dia sedang rindu ibunya." Ucap Adinda.
Adinda langsung menggendong Kenan. dan kenan langsung memeluk Adinda sambil menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Adinda.
"Mah, Kenan mau makan tapi di suapi sama mamah. mamah mau ya?"
"Baiklah. ayo kita beli makan. Kamu mau makan apa?"
"Aku mau makan pasta mah. di sini pastanya enak loh."
"Maaf. Kenan ga ada makanan yang di larang kan? Atau dia punya alergi makanan? Aku takut salah ngasih dia makan." Ucap Adinda sambil melihat ke arah Nelson.
"Dia bisa memakan apapun kok. dia juga gak ada alergi makanan. Maaf jadi ngerepotin kamu." Ucap Nelson.
"Its ok. ga apa apa kok." Jawab Adinda. "Oia sayang. kamu mau gak nganterin sketsa gaun pernikahan kita ke mamah. aku takut mamah nunggu lama. jadi selagi aku menyuapi Kenan mungkin mamah bisa sambil melihat dan memilih sketsa gaun untuk pernikahan kita. Aku gak tega liat Kenan memohon kayak gini." Lanjutnya.
"Ok sayang. aku ke atas dulu kalau gitu. Nanti aku nyusul ke kantin." Jawab Vino.
"Ok sayang. makasih ya."
Vino menganggukkan kepala sambil berlalu ke arah lift menuju kantor ayahnya berada. ia juga menjelaskan keadaan Adinda yang saat ini sedang bersama Kenan dan Nelson di kantin rumah sakit. Setelah itu Vino kembali ke kantin rumah sakit untuk menghampiri Adinda. Ia melihat Adinda sangat telaten saat menyuapi Kenan. sedangkan ia tak melihat sosok Nelson di sana.
"Kemana Nelson?" Tanya Vino saat sampai di meja Adinda.
"Lagi buang air kecil. Kamu mau makan?"
"Ga usah deh. Kamu telaten banget sayang nyuapin Kenan. apalagi sama anak kita nanti."
"Itung itung latihan Vin."
Tak lama Nelson datang. Ia melihat Kenan yang sudah selesai makan. Ia membujuk Kenan agar mau pulang bersamanya.
"Sayang ayo kita pulang." Ajak Nelson kepada Kenan.
"Mamah ikut pulang kan?" Tanya Kenan kepada Adinda.
"Sayang. maaf tante bukan mamah kamu nak. tante gak bisa ikut pulang sama kamu. Tapi tante bisa ketemu kamu jika kamu merindukan ibumu." Jelas Adinda.
Adinda dan Nelson menjelaskan kepada Kenan bahwa Adinda bukanlah ibunya. Awalnya Kenan tetap memaksa Adinda agar ikut pulang. Ia tetap pada pendiriannya bahwa Adinda adalah ibunya. Namun lama kelamaan setelah Adinda dan Nelson menjelaskan secara perlahan kepada Kenan ia pun akhirnya mengerti.
"Baiklah tante. Maafkan Kenan karena sudah merepotkan tante."
"Ga apa apa sayang. Kalau kamu rindu ibu kamu. Kamu boleh nemuin tante."
__ADS_1
"Benar tante?" Tanya Kenan. Adinda hanya mengangguk."Terima kasih tante. papah ayo kita pulang." Lanjutnya.
Setelah Kenan dan Nelson pulang. Adinda dan Vino berjalan kembali menuju kantor papahnya.