Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
TIGA PULUH ENAM


__ADS_3

Tak terasa 4 tahun sudah Adinda resmi berpisah dengan Vino. Hari ini tepat hari ulang tahun Arkana yang ke 4 tahun. Akan di adakan pesta kecil kecilan untuk merayakan hari lahir Arkana. Hanya sahabat terdekat dari Adinda dan orang tua Vino. Tak lupa orang tua Raka pun datang. Karena mereka telah menganggap Adinda seperti anak mereka sendiri.


Saat ini Kevin dan Safira telah menikah. Mereka mempunyai anak perempuan yang berumur 3 tahun bernama Bianca. Vivian dan Axel pun sudah menikah. Anak mereka laki laki berumur 2 tahun bernama Nathan. Sedangka Yola sedang merancang hari pernikahan nya dengan seorang model barnama Bimo. Bimo merupakan teman seprofesi Safira. Sedangkan Raka masih setia dengan kesendiriannya.


"Assalamualaikum." Ujar Raka saat memasuki kediaman Adinda diikuti oleh kedua orang tuanya.


"Wa'alaikum salam. Masuk Kak." Ujar Adinda. "Ibu sama Ayah datang juga." Lanjutnya saat melihat keberadaan kedua orang tua Raka


"Kami pasti datang Nak. Arkana cucu kami juga." Ujar Ibu.


"Makasih Bu. Ayo masuk." Ajak Adinda


Di dalam sudah ada orang tua dari Vino sedang bermain dengan Arkana. Namun setiap kali di undang Vino tak pernah datang dengan alasan ia tak pantas karena telah banyak menyakiti Adinda. Padahal Adinda tak pernah melarang Vino bertemu dengan Arkana. Pada awalnya ia melarang, tapi mendengar nasihat dari orang tua Raka hatinya jadi melunak dan memperbolehkan Vino untuk bertemu dengan Arkana. Namun entah apa alasan yang sebenarnya hingga Vino tak mau bertemu dengan Arkana.


Pada awal perceraian saat Adinda melarang Vino bertemu dengan Arkana, Vino seperti orang yang kehilangan arah. Dia tidak lagi memperhatikan penampilannya. Bisa di bilang Vino sangat hancur. Namun saat sudah diperbolehkan Vino malah tak pernah menampakkan batang hidungnya di hadapan Adinda. Meskipun sudah sering di bujuk oleh Raka dan yang lainnya. Vino tetap tak pernah menemui buah hatinya.


Saat semua sudah berkumpul mereka pun memulai acara ulang tahun Arkana. Di awali dengan meniup lilin dan memotong kue seperti acara ulang tahun pada umumnya. Setelah itu di lanjutkan dengan acara makan makan. Raka sengaja menelfon Vino agar Vino bisa berinteraksi dengan Arkana. Terdengar sambungan telfon. Saat sambungan telfon ke tiga Vino mulai mengangkat telfon dari Raka.


"Halo. Ada apa?" Ujar Vino di seberang sana.


"Lo dimana? Kok ga dateng ke acara ulang tahun anak lo?"


"Gue ada urusan."


"Paling juga lo diem di depan makam Azkana kan. Biasanya juga lo gitu. Lo gak mau ketemu sama anak lo?"


"Pengen banget gue ketemu sama dia. Tapi.."


"Tapi apa Vin? Gue ganti sambungan Video call ya."


Tak lama muncul wajah Vino di layar ponsel Raka.


"Ngapain sih lo. Kita kayak pacaran aja main video call segala."


"Anggap aja kita lagi jalin hubungan."


"Najis lo. Gue masih normal ya."

__ADS_1


Raka hanya tertawa mendengar penuturan Vino. Tak lama Arkana mendekati Raka dengan tujuan mengajak bermain bola. Vino hanya terdiam melihat wajah Arkana.


"Om. Main yuk. Ayo main bola. jangan telpon aja om." Ajak Arkana dengan suara khas anak umur 4 tahun.


"Bentar ya. Main sama bunda dulu gih. Om lagi nelfon dulu sebentar." Ujar raka.


"Bunda gak bisa main bola om. Bunda gak jago kaya om." Jawab Arkana.


"Bunda denger loh. Awas ya kalo mau main bola lagi sama bunda." Ujar Adinda tepat di belakang Raka namun tak melihat ke arah layar ponsel. "Jangan ganggu om dulu. om lagi telfon. Main sama Bianca dulu aja gimana?" Lanjutnya


"Gak mau bunda. Aku mau main bola." Rengek Arkana.


"Ya udah kalo gitu Arkana diem dulu. Om selesaikan dulu telfonnya. Ok sayang." Ujar Adinda. "Ya udah Bunda siapin makan kamu dulu ya. Jangan nakal. Jangan ganggu om kamu." Lanjutnya.


"Siap bunda." Ucap Arkana


Tanpa Vino sadari ia telah meneteskan air matanya. Ia sangat merindukan suara itu. Ia juga sangat merindukan sosok itu. Ia sangat merindukan omelan itu. Segala tentang Adinda masih terpatri di dalam hatinya.


Lalu Raka yang melihat itu langsung membujuk Arkana untuk mau berbincang sama Vino.


"Itu siapa om?"


"Ini Ayah kamu. Kamu mau bicara sama Ayah?"


"Ayah? Mau om."


Arkana langsung mengambil ponsel Raka dari tangan Raka. Dan langsung melihat layar.


"Ini ayah aku?" Tanya Arkana


"Iya sayang. Ini Ayah." Ujar Vino di seberang sana.


"Ayah kok gak dateng ke sini. Di sini banyak balon loh Ayah. Banyak yang kasih kado juga. Ayah kesini dong. Aku mau ketemu Ayah." Ucap Arkana langsung terisak karena merindukan sosok Ayahnya.


"Maaf sayang. Ayah masih banyak pekerjaan. Nanti Ayah pasti kesana. Nanti kita jalan jalan bareng ya. Udah jangan nangis." Ucap Vino sambil ia pun meneteskan air matanya. Rasanya Vino semakin merindukan anak nya.


"Arkana ingat kan kata Bunda kamu apa. Ayah kan lagi cari uang buat beliin kamu pesawat terbang. Ayah masih harus nyari uangnya. Buat beli pesawat kan uangnya harus banyak." Ucap Raka

__ADS_1


"Tapi aku mau ketemu Ayah om." Arkana menangis semakin kencang. Mendengar suara tangis Arkana, Adinda langsung menghampiri


"Kamu kenapa sayang? kok nangis?" Tanya Adinda


"Aku mau ketemu Ayah secara langsung Bunda. Gak mau lewat telfon." Ucap Arkana


Adinda langsung melihat ke arah layar ponsel Raka. Adinda hanya tersenyum. Vino yang melihat Adinda tersenyum ikut tersenyum dan berkata. "Kamu apa kabar Din?"


"Baik mas." Balas Adinda singkat. Adinda langsung menggendong Arkan untuk menenangkan. Setelah tenang Arkana kembali pada Raka.


"Ayah.. Bunda bilang nanti waktu ante Yola nikah aku mau ke Jakarta. Dan bunda bilang nanti kita ketemu Ayah. Bunda juga bilang Ayah bakalan ajak aku ke akuarium besar ya Ayah." Ujar Arkana dengan mata berbinar.


"Iya sayang. Nanti saat kamu ke Jakarta kita bakal main bersama. Kita liat akuarium besar. Kamu mau kemana lagi?" Tanya Vino


"Gak tau Ayah." Balas Arkana polos Vino hanya terkekeh.


"Sayang. Ayah boleh bicara sama bunda kamu nak. Kamu main sebentar sama om ya." Ucap Vino


"Baik Ayah." Balas Arkana sambil berlari ke arah bundanya dan memberikan ponsel Raka.


"Halo Assalamualaikum mas. Ada apa?"Tanya Adinda


"Wa'alaikum salam. Maaf aku gak bisa dateng. Aku ngerasa gak pantes kalau harus bahagia. Karena aku pasti bahagia kalau ketemu kalian."


"Jangan gitu mas. Arkana selalu nanyain kamu. Aku emang sakit hati sama kamu. Tapi Arkana gak tau apapun. Dia layak dapat perhatian dari Ayahnya. Aku gak bakal ngelarang kamu buat ketemu Arkana."


"Nanti biar aku yang jemput saat kamu akan ke Jakarta."


"Baiklah. Nanti aku bilang Arkana kalo kamu bakal kesini. Dia pasti senang."


"Kapan kamu rencana ke Jakarta?"


"Mungkin hari kamis. Acara pernikahannya kan hari Minggu. Kalau terlalu di dadak takutnya Arkana kecapean."


"Baiklah. Nanti aku yang jemput."


Obrolan mereka berlanjut. Mereka hanya membicarakan tentang Arkana. Vino sangat senang ternyata dugaannya selama ini salah. Vino selalu takut Adinda menolak. Namun ternyata Adinda dapat menerima meskipun status mereka telah berubah.

__ADS_1


__ADS_2