
Keesokan harinya. Saat waktu menunjukkan jam makan siang . Adinda masih sibuk berkutat dengan sketchbook nya. tiba tiba ada yang mengetuk pintu ruang kerja Adinda.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk." Ujar Adinda
"Halo sayang. Mamah ganggu kamu gak?"
"Mamah.. gak kok mah. masuk mah. silahkan duduk."
Lalu Adinda menuju meja kerja nya. Memberi tugas kepada Yola untuk membuatkan teh untuknya dan Mamah Falia.
"Mamah kok gak ngasih tau dulu kalau kesini. Aku kan bisa buatkan sesuatu buat mamah."
"Justru mamah gak mau ngerepotin kamu. apalagi tangan kamu masih di bebat kayak gitu. Vino gak kesini?"
"Dia tadi ada operasi, jam 11 baru mulai operasinya."
Tiba tiba Yola datang dengan membawa 2 cangkir air teh dan beberapa camilan. Lalu meletakkan nya di atas meja lalu ia pun kembali ke pekerjaannya.
"Sayang.. mamah mau bahas soal pernikahan kamu. Gimana kamu bersedia kan menikah dengan anak mamah?"
"Aku bersedia mah. tapi tidak dalam waktu dekat ini. Aku ada event fasion show bulan depan. Mungkin saat ini aku harus fokus sama acara itu dulu. mungkin setelah itu aku akan mulai merencanakan hari pernikahanku dengan Vino. boleh kan mah?"
"Boleh sayang. Mamah gak akan menghalangi karir kamu. Makasih sayang sudah menerima anak mamah."
"Justru aku yang harusnya makasih sama mamah dan papah. karena mamah sama papah mau nerima aku. Padahal aku hanya orang dari kalangan bawah. gak setara dengan kalian. dan aku juga hanya seorang yatim piatu yang tak memiliki masa depan yang pasti seperti Vino. Makasih mah udah mau nerima aku. Aku jadi ngerasa punya orang tua lagi."
"Jangan sungkan sama mamah dan papah sayang. Kita udah anggap kamu seperti anak kami. Kami bahagia melihat Vino bahagia. Karena semenjak kamu di kenalkan sama kami. dia selalu ingin segera melamar kamu. makanya mamah kesini dengan tujuan melamar kamu untuk anak mamah. Dan mamah sekarang sangat bahagia karena kamu menerima lamaran mamah. Makasih sayang."
"Sama sama mah."
"Kamu jangan sungkan untuk meminta bantuan mamah. karena sekarang mamah itu mamah kamu. kamu itu anak mamah. Jika ada masalah cerita sama mamah ya sayang."
Mereka mengobrol sambil di selingi makan siang yang Adinda pesan. Sehingga mereka memakan makan siangnya di kantor Adinda. sampai waktu menunjukkan pukul 2 siang. Dan pintu kantor Adinda kembali di ketuk. Saat Adinda membuka pintu ruangannya ia langsung tersenyum melihat lelaki yang datang ke hadapannya. Ia melihat kekasih hatinya.
"Halo sayang. Udah makan siang?"
"Udah tadi sama mamah. Kamu udah makan?"
"Mamah? Belum. tadinya aku mau makan siang bareng kamu."
"Masuk yuk"
Adinda kembali kesofa yang tadi ia duduki. Vino kaget melihat mamahnya ada di hadapannya saat ini.
"Mamah ngapain disini?"
"Biarin aja suka suka mamah dong mau ada dimana. Lagian mamah kesini mau melihat anak gadis mamah. Takutnya kamu apa apain dia. makanya mamah jagain dia. Sini sayang sama mamah aja. kalau sama Vino kamu pasti dalam bahaya. Soalnya papahnya aja gak bisa nahan nafsu. bisa jadi Vino juga gitu." Ujar mamah. sedangkan Adinda hanya menanggapi dengan senyuman.
__ADS_1
"Sayang sini dong. mentang mentang punya mamah baru pacarnya di diemin."
"Aku udah pesenin kamu makan siang. tunggu ya. bentar lagi makan siang kamu datang." Ujar Adinda.
"Sayang. mamah pulang dulu ya. Papah kamu nyuruh mamah ke rumah sakit."
"Iya mah.Mari Adinda antar ke depan." Ucap Adinda
Lalu Adinda mengantar mamah ke depan. Di ikuti Vino di belakangnya.
"Vin kamu kesini pake apa? kok mobil kamu gak ada?"
"Vino pake mobilnya anak gadis mamah. Soalnya kemaren sepulang dari Bandung Vino sibuk sampe pulang kemaleman. anak gadis mamah ini gak ngebolehin Vino pulang naik angkutan. Jadi ya Vino bawa mobil Adinda. Mungkin sampai Adinda sembuh total baru aku balikin."
"Kamu ini pinjem kok lama banget."
"Mamah ini kayak yang ga pernah muda aja. Jadi aku selalu ngerasa ada Adinda di dekat aku saat aku pake mobilnya. Lagian kok mamah yang sewot sih. Adinda nya juga ngebolehin."
"Karena ini kepunyaan anak gadis mamah."
"Dih over protektif banget sama anak gadisnya. Sama aku aja mamah gak gitu loh."
"Iri dia Din. Ya udah mamah pulanh ya. Vino jagain anak gadis mamah. Awas aja kalau kamu apa apain dia."
"Siap Bu Bos. udah sana pulang. Kasian papah nunggu mamah."
"Bukan ngusir mamah ku sayang. tapi biar aku bisa berduaan sama Adinda. biar bisa lepas rasa lelah aku "
"Awas ya kamu macem macem sama Adinda."
"Iya mamah ku sayang. Aku bakal jagain anak gadis mamah."
Tak berselang lama mamah Falia pun pergi menuju tempat Papahnya. Pesanan makan siang Vino datang. Lalu Adinda membawa ke dalam di ikuti Vino di belakangnya.
"Yola gue naik ke atas dulu. kalo ada apa apa telfon aja ya."
"Siap bu bos. lo ada hubungan apa sih sama Vino. sampe orang tuanya Vino dateng kesini. Pasti ada yang ga lo ceritain ke gue."
"Nanti gue pasti cerita sama lo. Ok. Jangan marah dong sayangku." Ujar Adinda sambil berlalu ke arah rumah yang ia tempati yang berada di lantai 3 gedung kantornya.
"Masuk Vin."
Vino langsung memeluk Adinda dari belakang.
"Biarin kayak gini dulu sebentar. Aku lelah. Aku lagi ngisi baterai diri aku dulu."
"Baiklah. tapi duduk ya. pegel loh lama lama berdiri kayak gini."
Mereka pun duduk di sofa yang biasanya digunakan Adinda untuk menonton televisi. Lalu Vino memeluk Adinda lagi tapi sekarang dari arah depan.
__ADS_1
"Jangan kenceng kenceng Vin. sakit nih tangan aku."
"Sorry sayang. aku terlalu bersemangat. Aku rubah posisi aja deh." Ujarnya sambil menidurkan kepalanya di pangkuan Adinda.
Vino mengambil tangan Adinda yang tidak di bebat untuk membelai kepalanya.
"Ternyata kamu manja yah."
"Biarin sama pacar sendiri ini. Oia tadi mamah ngapain ke sini?"
"Ada deh. itu rahasia perempuan."
"Mulai main rahasia ya sama aku."Ujarnya sambil menggelitik perut Adinda.
"Ampun Vin.. Geli tau." Vino masih menggelitik perut Adinda sampai tanpa sengaja tangan yang di bebat tertindih oleh badannya sendiri.
"Aduh.. aww." Ucap Adinda sambil meringis kesakitan
"Sayang.. kamu ga kenapa napa? Duh maaf ya bercanda aku malah bikin kamu sakit. Maafin aku sayang."
"Ga apa apa kok Vin. Udah mending sekarang kamu makan. katanya tadi pengen makan siang."
"Kamu gak ikutan makan?"
"Aku udah makan tadi sama mamah. Tenang aja. aku temenin kamu disini."
Saat Vino selesai memakan makan siangnya Adinda mulai membicarakan pertemuannya dengan mamah Falia.
"Tadi mamah kesini dengan niat ngelamar aku buat anaknya."
"Oia? buat aku maksud kamu?"
"Ya iya lah buat kamu. orang kamu anak satu satunya dari mamah."
"Terus kamu terima kan?"
"Maaf Vin aku nolak kamu."
"Kok di tolak sih sayang. Kamu gak mau nikah sama aku sayang?"
"Jangan marah dong. bulan depan aku ada event. Jadi untuk saat ini aku hanya fokus pada event tersebut. setelah event ini selesai baru aku mau membagi fikiranku untuk pernikahan kita."
"Kamu serius kan sayang? Aku kira kamu beneran nolak lamaran aku. Makasih sayang. Makasih." Ujar Vino sambil memeluk erat Adinda
"Jangan terlalu kenceng dong meluknya. sakit ini tangan aku."
"Maaf sayang.. maaf.. aku terlalu senang."
Obrolan mereka berlangsung cukup lama. Mereka asik membahas pernikahan mereka. meskipun Adinda tidak ingin membahas itu terlebih dahulu. Adinda meneruskan pekerjaannya sedangkan Vino ia tertidur di sofa depan televisi.
__ADS_1