Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
TIGA PULUH TUJUH


__ADS_3

Hari ini adalah hari Adinda rencana berangkat ke Jakarta. Ia telah bersiap karena mereka janji akan berangkat pukul 8 pagi. Karena katanya Vino juga sudah berada di vilanya di Bandung. Adinda masih setia menunggu Vino dengan sabar ia meladeni rengekan Arkana yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ayahnya.


Namun waktu sekarang sudah menunjukkan pukul 1 siang namun Vino masih belum menampakkan batang hidungnya. Hingga akhirnya ia menelfon Raka untuk menjemputnya. Karena tak mungkin ia membawa mobil sendiri. Karena baik Raka ataupun yang lainnya akan menceramahi Adinda jika nekad membawa mobil sendiri hanya berdua dengan Arkana. Karena mereka pernah mengalami kecelakaan saat perjalanan dari Bandung ke Jakarta saat hanya berdua dengan Arkana.


Jadi ceritanya saat itu Adinda ada pekerjaan mendadak di Jakarta. Ia hanya pergi berdua dengan Arkana. Saat Arkana merengek karena bosan, Adinda mencoba menenangkan Arkana sampai ia tak sadar sudah melewati batas jalur karena fokus Adinda teralihkan oleh Arkana. Hingga akhirnya kecelakaan pun terjadi. Sejak saat itu baik orang tua Vino maupun orang tua Raka selalu melarang Adinda untuk pergi hanya berdua saja dengan Arkana.


Adinda pun menelfon Raka. Terdengar nada sambung, hingga nada sambung ke tiga baru di angkat oleh Raka.


" Halo Assalamualaikum Din. Udah nyampe butik?" Tanya Raka di seberang sana


"Wa'alaikum salam. Boro boro nyampe Kak. Mas Vino sampe sekarang aja gak bisa di hubungi. ponselnya aktif tapi gak di angkat. Dari tadi Arkana ngerengek terus pengen cepet cepet berangkat. Apalagi pas tau Ayahnya yang mau jemput. Dia semangat banget. Tapi Ayahnya malah ingkar. Kenapa sih dia selalu gitu. Apa gak bisa dia tepatin janjinya. Ini sama anaknya loh. Lagian ini juga pertemuan pertama mereka. Kenapa sih baru juga mau ketemu malah bikin kecewa anaknya. Aku udah pusing dari tadi coba nenangin Arkana." Ucapan Adinda terhenti saat terdengar suara Raka di seberang sana.


"Udah ngocehnya? panjang bener kayak kereta api."


"Hehe.. Maaf abis aku kesel sama mas Vino. Arkana jadi rewel seharian ini."


"Terus Arkana nya mana sekarang?"


"Dia tidur kak. Awalnya dia nangis sambil terus ngerengek nanyain Ayahnya. Eh lama lama dia tidur."


"Ya udah Kakak aja yang jemput. Kasian Arkana pasti udah siap mau berangkat kan."


"Ga usah kak. Nanti ngerepotin. Kalau aku berangkat sendiri aja gimana?"


"Kamu mau kejadian waktu itu ke ulang lagi?"


"Tapi kan sekarang Arkana udah agak gede. Waktu itu Arkana masih 2 tahun. Kalo sekarang kan bisa di alihin perhatiannya."


"Gak boleh pokoknya. Nanti Mamah Falia marah kalau tau kamu berangkat bawa mobil sendiri."


"Ya udah aku naik kereta aja. Boleh ya. Itung itung ajak Arkana main."


"Yakin mau naik kereta?"


"Yakin lah. Nanti Kakak jemput di stasiun aja ya. Nanti kalau udah hampir sampai aku telfon kakak. Boleh ya."


"Ya udah kalau kamu mau nya gitu. Hati hati. Awas sama barang bawaan kamu."


"Dih cerewet. Aku bukan anak kecil ya. Selalu anggap aku masih kecil."

__ADS_1


"Kamu tuh adiknya Kakak yang masih bayi. Makanya harus di awasin terus."


"Enak aja. masa iya anak bayi udah punya anak. Udah ah aku mau pergi dulu. Arkana juga udah bangun."


"Ya udah hati hati di jalannya. Nanti kalo udah nyampe kabarin. Biar kakak jemput."


"Ok Kak. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Setelah panggilan telefon terputus. Adinda mengajak Arkana untuk pergi menaiki kereta api. Untung Arkana mau dan mulai melupakan janji Ayahnya. Mereka pun pergi menggunakan taksi menuju stasiun kereta api. Setelah membeli tiket mereka mulai menaiki kereta api tujuan Jakarta. Arkana terlihat sangat antusias menaiki kereta api. Karena ini pertama kalinya ia menaiki kereta api.


"Arkana seneng?" Tanya Adinda


"Seneng bunda. Arkana baru kali ini naik kereta api." Jawab Arkana dengan mata yang berbinar.


Arkana tak henti hentinya tersenyum. Terlihat dari raut muka Arkana bahwa ia sangat senang. Adinda bersyukur ia bisa mengalihkan perhatian Arkana. Sehingga Arkana bisa melupakan kekesalannya karena Ayahnya yang ingkar janji. Setelah beberapa saat Adinda dan Arkana sampai di stasiun Jakarta. Setelah turun, Adinda mengajak Arkana menuju tempat makan siap saji. Karena Arkana ingin memakan ayam crispy. Setelah memesan Adinda menelfon Raka dengan tujuan memberi tahu jika ia sudah berada di stasiun di Jakarta.


"Halo Assalamualaikum. Udah nyampe?"


"Wa'alaikum salam. Iya kak. Aku udah nyampe."


"Aku lagi di restauran siap saji. Arkana ingin makan ayam crispy. Kakak ke sini aj."


"Ok. Aku kesana. Tunggu ya."


"Ok."


Raka langsung masuk dan mencari keberadaan Adinda. Setelah melihat sosok yang di carinya. Raka langsung menghampiri.


"Halo jagoan. Lagi makan apa sih serius banget."


"Aku lagi makan ayam crispy om. Om mau?"


"Kakak mau aku pesenin apa?"


"Gak usah Din. Aku udah makan tadi di rumah sakit."


"Lah.. Kakak lagi dinas?"

__ADS_1


"Udah selesai kok. Makanya bisa kesini."


"Beneran gak akan pesen?"


"Beneran. Kamu lanjut aja makan."


Adinda melanjutkan makannya sambil mendengarkan obrolan Arkana dan Raka.


"Om hari senin aku ada fasion show di sekolah. Tapi temanya ayah dan anak. Tadinya aku mau ajak Ayah. Tapi Ayah nya gak dateng dateng."


"Mungkin Ayah kamu lagi sibuk. Ayah kamu kan dokter yang hebat."


"Jadi Ayah aku dokter juga kayak Om?"


"Iya sayang. Ayah kamu dokter sama seperti om."


"Berarti nanti senin gak akan bisa nemenin aku fashion show dong ya."


"Kamu mau ikutan fashion shownya?"


"Mau om. Tadinya aku mau ajak Ayah. Aku mau buktiin ke temen temen yang suka ngejek aku kalau aku juga punya Ayah."


"Kamu suka di ejek sama teman teman kamu?"


"Iya om. Mereka bilang aku anak haram. Aku gak ada Ayahnya. Aku selalu di ejek sama temen temen om. Hiks.. Hiks.. Hiks.." Mendengar penuturan anaknya. Adinda hanya meneteskan air mata tanpa ikut dalam obrolan tersebut.


"Bunda kamu tau kalau kamu sering di ejek?"


"Aku gak bilang sama bunda om. Aku gak mau bunda sedih."


Mendengar penuturan itu Adinda langsung memeluk Arkana sambil menangis.


"Bunda kenapa nangis? Bunda jangan nangis bunda.Hiks.. Hiks.. Hiks.."


"Maafin bunda sayang. Bunda gak tau kamu sering di ejek. Bunda gak pernah dengar dari pihak sekolah. Maafin Bunda udah lalai jagain kamu nak."


"Itu bukan salah bunda kok. Temen temen aku aja yang nakal. Bunda jangan nangis lagi ya." Arkana melepaskan pelukannya dengan Adinda dan mengusap air mata Adinda dengan tisu karena tangannya kotor.


Tanpa di sadari sedari awal Raka masuk ia sedang melakukan video call dengan Vino. Raka awalnya menceramahi Vino tentang janjinya dengan Arkana. Vino lupa karena ia sibuk mendampingi Tissa yang tiba tiba pingsan. Padahal sejak perpisahan dengan Adinda, Vino tak pernah bertemu lagi dengan Tissa. Namun saat kemarin ia di Vila, tiba tiba ada yang mengetuk pintu vila dan mengatakan ada yang pingsan. Orang yang mengetuk mengetahui jika Vino seorang dokter, karena ia adalah penjaga vila. Setelah mengikuti penjaga vila tersebut, ternyata Vino mendapati Tissa sedang pingsan di depan vilanya. Dengan sigap ia membawa Tissa ke dalam vilanya. Ia menemani Tissa sehingga ia melupakan janji dengan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2