
Tak terasa sekarang bulan Oktober. Hari ini tepat dimana acara fashion show Adinda di gelar. Saat ini Papah Andrew dan Mamah Falia sedang ada urusan di luar Negeri sehingga tidak bisa menghadiri acara fashion show Adinda. Adinda sangat sibuk dengan acaranya dibantu Yola tentunya yang merupakan asisten serta sahabatnya. Safira pun ikut membantu Adinda dengan menjadi salah satu model hari ini.
Vino yang datang segera mencari keberadaan istrinya. Ia sengaja meluangkan waktu untuk menghadiri acara yang begitu berarti bagi istrinya. Ia membawa buket bunga mawar merah kesukaan Adinda.
"Sayang." Ujar Vino saat melihat istrinya. ia langsung menarik lengan istrinya.
"Eh.. kamu udah dateng. kirain masih di rumah sakit."
"Aku pasti dateng lah. ini kan acaranya istriku tercinta."
"Diiiih.. Bisa aja nih dokter satu gombalnya."
"Bukan gombal sayang. tapi ini kenyataannya."
"Iya deh iya. Tunggu sebentar ya. aku masih harus urus yang di belakang. Tinggal 10 menit lagi acara ini berlangsung. Aku gak mau ada sesuatu yang salah di acara ku ini. Sebentar ya sayang. Kamu bisa duduk dulu di sana. Ok."
"Cium dulu dong."
"Vin.. ini di tempat umum loh. Jangan suka ngada ngada deh."
"Ya udah berarti kamu gak akan aku lapasin."Ucap Vino sambil memeluk Adinda.
"Baiklah.. baiklah.. tapi lepas dulu."
Cup Adinda mencium pipi Vino. Banyak orang yang tersenyum melihat keromantisan pasangan itu.
"Kok di pipi.. Di sini dong." Ujar Vino sambil menunjuk bibirnya.
"Itu nanti aja di rumah." Bisik Adinda di telinga Vino.
"Bener ya. Tapi kalo di rumah gak cukup sampe disitu."
"Iya.. iya.. Udah dong lepas dulu. Waktunya udah mepet nih. Aku masih harus periksa sesuatu. Sebentar aja kok."
Vino akhirnya melepas pelukannya terhadap Adinda. Dan ia pun mendudukan dirinya di kursi yang di tunjuk oleh Adinda.
Adinda menuju belakang panggung untuk mengecek para modelnya. Ia juga mengecek baju yang mereka kenakan. Tiba tiba Yola menghampiri dan menanyakan sesuatu sama Adinda.
"Din, Lo udah kasih tau sama Vino kalo lo hamil?"
__ADS_1
"Belum Yol, Rencana gue mau kasih tau dia hari ini. Liat deh kotaknya lucu gak?" Tanya Dinda sambil menyodorkan kotak berwarna biru berhiaskan pita berwarna merah.
"Isinya apa sih? Boleh gue liat?"
"Liat aja. Menurut lo gimana nanti reaksi Vino pas liat isinya?"
Yola membuka kotak yang diberikan Adinda. Ia melihat isinya berupa hasil tes kehamilan dan dua buah foto hasil USG.
"Dia pasti seneng banget Din. Secara dia bakal jadi Ayah. Bukannya dia emang pengen segera punya turunan kan."
"Iya sih. Semoga aja dia seneng."
Acara pun dimulai. Acara yang berlangsung berjalan sesuai rencana. Hingga di penghujung acara Adinda naik ke atas podium Ia memberikan beberapa ucapan terima kasih kepada beberapa orang yang telah membuat acara nya sukses. Lalu Vino ikut naik ke atas podium memberikan buket bunga yang ia bawa kepada Adinda. Lalu lampu mendadak mati dan tiba tiba lampu proyektor menyala dan menampilkan video yang membuat Adinda melototkan matanya.
"ini apa Vin maksudnya?" Tanya Adinda.
Beberapa tamu undangan pun melihat Video yang tengah di putar. Lalu Yola dengan sigap mematikan Video tersebut. Video itu berisikan Vino yang sedang tidur bersama Mira yang tak lain adalah suster yang membantu Vino di rumah sakit. Ada juga adegan Vino sedang mencium suster Mira.
"Jelasin sama aku. Ini maksudnya apa?" Tanya Adinda lagi sambil terisak.
"Aku bisa jelasin semua sayang."
"Udah udah kalian mending pulang ke rumah. Gak enak di liat orang" Sela Yola. "Selesaikan masalah kalian di rumah."
"Sayang.. aku bisa jelasin semua. Aku mohon dengerin dulu."
"Awalnya aku yang mau bikin kejutan buat kamu. Tapi ternyata malah aku yang di kasih kejutan yang menghancurkan duniaku dalam sekejap."
"Sayang aku mohon.. maafin aku. Aku sama dia gak pernah melakukan apapun sayang. Aku di.."
"Cukup Vin. Aku gak mau denger. Cukup kamu sakitin aku sampe di sini aja. Aku udah sangat percaya sama kamu. aku gak nyangka kamu bisa berbuat itu di belakang aku."
"Itu semua gak bener sayang."
"Atau jangan jangan selama kamu gak pulang kamu tidur sama dia? Atau jangan jangan selama kamu bilang sibuk kamu barengan sama dia?"
"Gak sayang. Aku bisa buktiin kalo aku gak bersalah. Aku di jebak sayang. Aku di jebak. Aku bakal buktiin ke kamu kalo aku gak seburuk apa yang kamu kira."
"Aku tunggu pembuktian kamu Vin. Untuk sementara aku bakal tinggal di butik. Kamu gak usah temuin aku selama kamu belum punya bukti apapun."
__ADS_1
Adinda keluar dari mobil Vino dan memanggil taksi. Ia segera pergi ke butik. Sedangkan di tempat acara fashion show. Yola dan panitia acara berusaha menutup mulut para wartawan yang ada agar masalah ini tak tercium oleh masyarakat lain.
Adinda telah sampai di butik. Ia menangis sejadi jadinya saat sampai ke kamarnya yang dulu. Ia berencana jika dalam satu minggu Vino tak bisa membuktikan kepadanya, ia akan meninggalkan Jakarta dan ia ingin menenangkan dirinya.
Vino berusaha mencari bukti bahwa ia hanya di jebak oleh suster Mira. Ia ingin mengembalikan kepercayaan Adinda.
Yola datang ke butik untuk menenangkan Adinda. Tiba tiba ada yang mengetuk pintu butik. Saat di lihat ternyata Vino. Vino berteriak dari luar kepada Yola agar di bukakan pintu. karena ia ingin bertemu dengan istrinya.
"Yol gue mohon bukain pintu. Gue mau jelasin semua sama Adinda. Gue mohon Yol. Gue mau ketemu sama istri gue."
Karena Yola merasa tidak enak dengan sekitar karena ulah Vino yang berteriak teriak. Yola terpaksa membukakan pintu untuk Vino.
"Lo harus janji jangan paksa Dinda. Gue gak mau Dinda tertekan."
"Gue janji. Gue cuma mau ketemu dia. gue mau berusaha ngejelasin sama dia."
Vino pun berlari ke arah kamar Adinda. Ia mendapati Adinda yang sedang menangis dengan memeluk lututnya yang ia tekuk. Ia sendiri saat ini sedang duduk di atas ranjangnya.
"Sayang.. Aku mohon dengerin aku dulu."
"Apa lagi Vin. Aku udah bilang kan sama kamu. Kamu gak usah temuin aku sebelum kamu dapet bukti yang bisa membuktikan semua itu bohong."
"Itu semua gak bener sayang. Aku di jebak. Pasti ada orang yang ingin kita hancur."
"Jujur Vin. rasanya hati aku sakit banget. Aku udah serahin semua sama kamu. semua hati aku. semua kepercayaan aku. Tapi aku dapet apa dari kamu. Kamu selama ini seperti ragu sama aku. Apa karena Tissa? Hingga aku gak bisa menguasai hati kamu?"
Vino tertegun mendengar penuturan Adinda. "Kamu tau dari mana tentang Tissa?"
"Mamah cerita semua tentang kamu. Tentang seberapa berharganya Tissa bagi kamu."
"Sayang denger ya. Tissa itu sahabat aku dari kecil. Tapi sekarang aku gak tau keberadaan dia dimana. Dia pergi saat kita sama sama SMA.Dia pergi tanpa pamit sama aku. Dan kamu benar. Aku memang belum bisa sepenuh hati sama kamu. Tapi aku sedang berusaha agar hanya kamu satu satunya di hati aku."
"Penjelasan kamu malah bikin aku makin sakit Vin. Mending sekarang kamu pulang. Aku lagi pengen sendiri."
"Sayang.."
Ucapan nya terputus dengan suara bentakan dari Adinda.
"PERGI DARI SINI.. GUE BILANG PERGI.." Ucap Adinda sambil membentak Vino.
__ADS_1
"Mending lo pulang dulu. biarin Dinda tenang." Ucap Yola.
Vino pun melangkahkan kakinya menuju mobilnya dan melajukan mobilnya kembali ke rumah.