Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
DELAPAN BELAS


__ADS_3

Setelah memesan kamar VIP dan mengurus administrasi untuk rawat inap Adinda. Vino segera membawa Adinda ke ruang rawatnya di bantu oleh suster yang membantu Raka. Setelah sampai ke ruang rawatnya Adinda langsung mengganti pakaian nya dengan pakaian pasien dan merebahkan dirinya di ranjang rumah sakit. Tak lama Raka masuk ke dalam ruangannya.


"Udah jangan marahan terus. baikan mending." Ujar Raka sambil mendekati ranjang Adinda.


"Ga semudah itu Dok."


"Jangan panggil dokter dong."


"Baiklah.. Gimana kalo kakak aja?"


"Boleh deh. lebih mending. Jadi gak terlalu formal."


"Aku mau di apain kak?"


"Di infus ya. biar ada cairan yang masuk ke tubuh kamu."


"Jangan sakit ya kak." Tanpa sadar Raka mengacak rambut Adinda.


"Heh.. Suaminya ada di sini loh. Enteng bener tuh tangan main pegang kepala orang seenaknya." Ujar Vino


"Refleks Vin. Lagian dia udah resmi jadi adik gue sekarang. Lo aja yang baru liat Adinda gue giniin udah marah. Apalagi Adinda yang liat video yang kata lo itu."


"Itu tuh ga bener. Kenapa sih gak ada yang percaya sama gue."


"Makanya buktiin dong. Biar orang orang pada percaya lagi sama lo. Udah ah gue mau balik ke ruangan dulu. Kalo ada apa apa hubungi kakak ya Din."


"Iya kak. Makasih ya kak."


Tak lama Vino menelfon Mamahnya untuk memberitahukan kabar yang membahagiakan ini untuk kedua orang tuanya.


"Halo.. Mamah kapan pulang sih?"


"Salam dulu Vin." Terdengar suara mamahnya di seberang telfon.


"Iya lupa.. Hehe.. Assalamualaikum mah. Mamah kapan pulang?"


"Wa'alaikum salam. belum tau Vin. Emang kenapa sih? tumben banget nanya mamah kapan pulang."


"Selamat mamah. Sebentar lagi mamah jadi seorang nenek."


"Beneran kamu. Kamu serius kan? Gak lagi ngerjain mamah kan?"


"Gak mah. aku serius. Saat ini malah Adinda harus rawat inap karena kekurangan cairan dan nutrisi. Adinda semenjak hamil muntah muntah terus. Bener bener gak masuk makanan sama sekali."


"Mana Adinda nya. Mamah pengen ngomong sama dia."


Setelah itu Vino menyerahkan ponsel nya ke tangan Adinda. Adinda langsung mengambil ponsel Vino dan menempelkan ke telinganya.


"Assalamualaikum mah."


"Wa'alaikum salam. Sayang apa yang Vino kasih tau beneran kan? Kalian gak lagi ngerjain mamah kan?"


"Insya Allah mah. Mudah mudahan semuanya lancar. Jadi baby ini bisa bertahan."


"Makasih sayang.. Mamah sangat sangat bahagia mendengarnya. Mamah akan usahakan untuk segera pulang. mamah pengen liat perkembangan janin kamu sayang."


"Sama sama mah. Alhamdulillah kalo mamah bahagia."


"Terus apa kata dokter? kenapa kamu sampe harus di rawat?"


"Kata dokter Raka Adinda kekurangan nutrisi dan cairan. Soalnya Adinda selalu muntah. Dinda bener bener gak bisa masuk makanan maupun minuman sedikit pun mah. Tapi ini gak terlalu serius kok. Mamah jangan khawatir ya. Doain aja biar Dinda sama janin Dinda sehat dan baik baik aja."


"Iya sayang.. Doa mamah selalu menyertaimu Nak. Ya udah kamu isturahat ya. Jangan terlalu banyak pikiran. Mamah tutup telfonnya ya. Assalamualaikum."


"Iya mah.. Wa'alaikum salam."


Adinda langsung memberikan telfon nya kepada Vino. Tanpa sepatah kata pun Adinda langsung merebahkan dirinya lagi.


"Sayang.. Jangan marah dong. Aku berani sumpah sayang, aku di jebak. semua foto yang ada di video itu tuh gak bener."


"Ya makanya buktiin dong. Biar aku bisa percaya sepenuhnya sama kamu."


"Ok.. aku bakal cari bukti. Tunggu ya. Aku mau cari suster Mira dulu."


Selepas perginya Vino Dinda menghubungi para sahabatnya lewat grup yang mereka buat.


"**Cewek Kece"


Adinda** :


Picture dengan caption. Gue nginep dong disini.

__ADS_1


Yola :


Tuh kan harusnya tadi gue ikut ke dalem. terus siapa yang urusin surat rawat lo?


Adinda :


Suami laknat gue.


Safira :


Sialan lo sama suami sendiri bilang gitu


Adinda :


Gue masih sebel sama dia. gue masih marah sama dia.


Vivian :


Ada masalah apa sih lo sama Vino?


Adinda :


Pokoknya acara fashion show gue kemaren tuh acara fashion show paling menyebalkan


Vivian :


Jadi yang di bilang Yola itu beneran?


Safira :


Ya ampun. Emang laknat tuh cowok. Perlu gue kasih pelajaran gak? Kalo perlu gue ke rumkit sekarang.


Adinda :


Mau ngasih pelajaran gimana emang? Kayak yang berani aja.


Yola :


Iya sok banget lo.


Vivian :


Sok berani dia. Padahal pas udah ada orang nya pasti lo diem.


Safira :


Adinda :


Sialan lo. gue kira beneran.


Yola :


Dasar lo.


Vivian :


Dasar lo (2)


Adinda :


Dasar lo (3)


Yola :


Lah.. kok malah pada ngikutin gue.


Adinda :


Hehe..


Vivian :


Hehe.. (2)


Safira :


Mending ngajarin matematika. daripada ngehajar dia. Gue mana berani.


Saat asik chat dengan para sahabatnya. Tiba tiba Vino datang dengan menyeret suster Mira untuk memberikan penjelasan kepada Adinda.


"Sayang. Aku bawa suster Mira. Dia mau jelasin semua kesalah pahaman ini."

__ADS_1


Adinda melirik sekilas ke arah Vino dan suster Mira.


"Bentar." Ujar Adinda karena ponsel nya terus berbunyi chat dari para sahabatnya ia melihat isi chat tersebut.


Yola :


Gue bentar lagi ke rumkit ya Din. Gue siap siap dulu.


Safira :


Gue juga.


Vivian :


Gue juga. (2)


Safira :


Kebiasaan deh lo copy chat orang mulu.


Vivian :


Biarin..


Yola :


Lah pemeran utama nya mana ini malah ngilang.


Adinda :


Jangan sekarang kalo mau kesini. Besok aja. Udahan dulu ya chat nya. Vino bawa suster Mira. katanya mau jelasin sesuatu. Ntar gue kabarin. Ok kawan kawan.. Jangan kangen loh sama gue. Kangen itu berat.. Hehehe..


Yola :


Ok semoga ada kabar baik setelah ini.


Safira :


Cepet sehat ya sayang ku..


Vivian :


Cepet sehat ya sayang ku.. (2)


Yola :


Cepet sehat ya sayang ku.. (3)


Safira :


Kebiasaan..


Setelah itu Adinda menyimpan ponselnya di meja samping ranjang.


"Ada perlu apa?" Tanya Adinda dengan muka juteknya.


"Maaf.." Ujar Suster Mira


"Untuk?"


"Semua video itu tidak benar. Aku menjebak dokter Vino. Maaf.."


"Dengan tujuan apa kamu menjebak suami saya? Kamu suka sama suami saya?"


"Bukan begitu. Saya di ancam. Jadi saya terpaksa. Jika saya tidak menurutinya orang tua saya akan di celakai. saya mohon maafkan saya Nyonya."


"Siapa yang mengancam kamu?"


"Manda."


"Kamu beneran kan ga bohongin saya kan? Atau jangan jangan kalian berdua bersekongkol bikin ini semua agar saya percaya."


"Tidak Nyonya. demi tuhan. saya tidak berbohong. Memang itu kebenarannya. Tapi yang saya takutkan sekarang keselamatan orang tua saya. Saya takut Manda tau saya membeberkan semuanya."


"Kalau memang kamu jujur. Saya akan suruh orang untuk memberikan pengamanan terhadap orang tua mu. Tapi kalau mereka mau mereka bisa datang kesini dan mereka bisa tinggal di butik. Ya itung itung untuk menjaga butik. Gimana?"


"Terima kasih Nyonya.. Nanti akan saya bicarakan dengan orang tua saya. Sekali lagi terima kasih Nyonya."


"Baiklah.. Kau boleh pergi."


"Sekali lagi terima kasih Nyonya. Saya permisi. Jika anda membutuhkan sesuatu bisa panggil saya Nyonya."

__ADS_1


Adinda hanya menganggukkan kepalanya dan suster Mira keluar dari ruang rawat Adinda.


__ADS_2