
Saat suster Mira keluar dari ruang rawat Adinda, Vino langsung menghampiri Adinda dan langsung memeluknya.
"Kamu percaya sama aku kan sayang? Aku mohon percaya sama aku."
"Iya aku percaya sama kamu."
"Makasih sayang. Sekarang mending kamu tidur ini udah malem soalnya."
Adinda langsung merebahkan dirinya di ranjang kamar rawatnya. Sedangkan Vino ia tidur di sofa yang terdapat di ruangan tersebut.
Keesokan harinya. Adinda terbangun terlebih dahulu dan langsung berlari ke kamar mandi dengan satu tangan yang memegang cairan infus.
"Hoek.. Hoek.."
Saat mendengar Adinda muntah muntah Vino langsung menghampiri Adinda dan memijit tengkuk leher Adinda. Setelah Adinda selesai dengan kegiatannya Vino hanya mengelus dan membersihkan sisa muntahan yang ada di bibir Adinda dengan sapu tangan yang ia bawa. Sedangkan Adinda mendudukan dirinya di atas closet di kamar mandi tersebut.
"Masih mau muntah lagi?" Tanya Vino dengan raut muka khawatir. Adinda hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya udah mending balik ke ranjang lagi yuk. Jangan disini dingin."
"Lemes Vin."
Tanpa banyak berkata Vino langsung mengangkat tubuh Adinda dan membaringkannya ke atas ranjang nya lagi. Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata Raka, Kevin dan Axel sudah berada di dalam kamar rawat Adinda.
"Cie.. Cie.. Udah baikan nih ceritanya." Ujar Axel
"Udah dong. Gue udah buktiin kalo gue gak bersalah." Balas Vino
"Din lo percaya sama Vino?" Ucap Kevin
"Jangan jadi kompor lo. Gue udah baikan jangan bikin Dinda ragu lagi sama gue." Jawab Vino
"Lucu aja liat lo yang lagi galau. Berantakan banget. Muka kusut kaya belum di setrika." Balas Kevin
"Sialan Lo." Ujar Vino
"Udah udah pada berisik aja lo pada. Kita kesini tuh mau jenguk adik gue. Jangan pada bikin ribut. Kalo mau ribut sana di lapangan parkir." Ucap Raka.
"Sok ngatur lo." ucap Kevin.
"Gimana kabar kamu saat ini?" Tanya Raka ke Adinda
"Masih belum ada perubahan kak. Masih gitu gitu aja." Jawab Adinda
"Tapi coba makan ya. sedikit juga ga apa apa asal ada makanan yang masuk." Balas Raka. Adinda hanya menganggukkan kepalanya karena ia merasa sangat lemas saat ini.
"Din lo pengen makan sesuatu gak? Kalo lo mau bilang sama gue ya." Ujar Axel.
"Ngapain Dinda bilang sama lo. Disini kan ada gue suaminya." Balas Vino
"Ya tau aja lo lagi ada kerjaan gitu. Dinda bisa minta sama kita kita." Lanjut Axel.
"Saat ini aku lagi gak pengen makan apa pun. Makasih ya dok atas perhatiannya." Ucap Adinda sambil tersenyum.
"Ya udah kita balik kerja dulu ya." Kali ini Raka yang berpamitan.
Adinda hanya menganggukkan kepalanya dan langsung memejamkan matanya. Setelah mereka keluar ruangan Vino ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Untung ia selalu menyimpan beberapa set pakaian di dalam ruangannya. Jadi ia tidak usah repot repot untuk mengambilnya di rumah. Tak lama ada yang mengetuk pintu. Dinda melihat suster Mira datang dengan membawa nampan makanan untuk Dinda sarapan.
"Sarapan dulu Nyonya." Ujar suster Mira
__ADS_1
"Jangan panggil Nyonya Mir. Panggil aja Adinda atau Dinda. Biar lebih akrab. terus jangan terlalu formal juga. Kayaknya kita seumuran. Pake lo gue juga ga apa apa kok. Kalo lo formal lagi sama gue. Nanti gue marah sama lo."
"Baik Din. da." Ucapnya sambil terbata.
"Lo udah ajak orang tua lo untuk tinggal di butik gue?"
"Udah Din. Cuma mereka gak mau. Katanya kebun di kampung gak ada yang urus. Penghasilan mereka kan dari sana."
"Bilang aja nanti gue bayar selama mereka tinggal di butik. Itung itung mereka jaga di butik gue kan."
"Iya Din. Nanti saya bicarakan lagi sama mereka. Sekarang makan dulu. Meskipun hanya sedikit tapi harus ada makanan yang masuk. Kasian baby kamu kalo kamu gak makan sama sekali."
" Jangan saya kamu dong. Formal banget sih. Gue lo aja ya. Mau ya. Kalo gak gue marah sama lo."
"Iya iya. Bumil emang suka aneh aneh ya. Kalo ketahuan sama dokter Vino mampus gue akrab bener sama istrinya."
"Ga bakalan nanti gue yang jelasin ke Vino kalo dia marah."
"Ya udah sekarang lo makan sedikit sedikit aja. Ga usah terlalu maksa sampe abis. yang penting ada makanan yang masuk."
"Yang gue malas untuk makan tuh pasti ujung ujungnya keluar lagi. Tapi gue bakal makan kok tenang aja."
"Ya udah kalo gitu gue kembali bekerja dulu. Sampai nanti Din. kalo butuh sesuatu hubungi gue aja ya."
"Iya."
Adinda mulai memakan sedikit demi sedikit makanan yang tersedia. Tak lama ia melihat Vino yang sudah segar habis selesai mandi.
"Siapa barusan yang kesini?"
"Suster Mira. Kamu mending sarapan dulu sana."
"Tapi nanti harus makan ya."
"Iya sayang nanti aku makan di kantin."
"Hari ini kamu ada jadwal operasi?"
"Ada nanti siang jam 10. Tapi mungkin jam 8 ini aku harus cek poli dulu."
"Ya udah sana makan dulu. ini udah jam setengah 8 loh. Waktu kamu untuk makan mepet."
"Kamu nanti siang sama siapa?"
"Aku bisa minta Yola atau Safira buat temenin aku disini. Kalo Vivian dia pasti buka klinik hewan dia sampe sore."
"Ya udah kalo gitu. Aku ke bawah dulu ya. Kabarin aku kalo ada apa apa."
"Iya. Ya udah sana. Nanti kamu telat loh."
CUP Vino mencium sekilas bibir Adinda dan langsung keluar ruang rawat Adinda untuk melanjutkan aktifitasnya.
"**Cewe Kece"
Adinda** :
Ada yang mau nemenin gue gak?
Yola :
__ADS_1
Iya gue temenin bentar lagi gue meluncur
Safira :
Gue juga.
Vivian :
Sorry.. Gue gak bisa. gue harus buka klinik dulu.
Adinda :
Bener ya kalian. Gue tunggu loh. Soalnya Vino cerewet banget. masa dia sampe mau ngebatalin operasinya cuma gara gara gue gak ada yang nunggu. Kan kasian pasiennya.
Ga apa apa Vi. Lo juga kan punya tanggung jawab atas klinik lo.
Yola :
Iya beneran kok. Gue OTW sekarang.
Safira :
Gue juga. Yol jemput gue ya. Gue males bawa mobil.
Yola :
Lo kira gue supir lo apa?
Safira :
Bantu temen kali kali gak apa apa dong.
Yola :
enak di lo gak enak dingue kalo gitu.
Safira :
Mau dong ya ya ya..
Yola :
Iya cerewet banget sih lo. Din lo mau titip sesuatu gak? Gue lagi di jalan nih. Mau jemput dulu kanjeng ratu Safira.
Safira :
Makasih sayang ku..
Yola :
Sama sama sayang.
Adinda :
Gue titip kue brownis ya. sama Coklat juga.
Yola :
Siap bu bos cantik. Tunggu ya. Aku segera meluncur.
__ADS_1
Setelah chat itu Adinda langsung menyimpan telfonnya di meja dekat ranjang. Dan ia berbaring karena sangat lemas. Tak lama ia pun tertidur.