Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
LIMA PULUH EMPAT


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, hari ini Vino sudah diperbolehkan untuk pulang. Adinda sedang membereskan barang bawaan Vino.


"Sudah sayang. Nanti kamu kecapean." Ujar Vino.


"Ga apa apa mas. Aku gak cape kok. Tenang aja." Jawab Adinda.


"Mamah sama Papah kok gak dateng kesini. Padahal anaknya udah boleh pulang ini."


"Mamah sama papah tadi pagi pergi ke Solo. Katanya ada urusan. Aku juga gak tanya lebih jauh. Mamah cuma bilang katanya pergi sekitar seminggu."


"Jadi serasa anak tiri."


"Maksud kamu apa mas?"


"Sama kamu bilang sama aku gak bilang. Anaknya tuh siapa sih?"


"Kamu cemburu?" Ujar Adinda sambil tersenyum.


"Pasti gini. Kalau ada kamu. Aku selalu no 2."


"Ga usah ngerajuk gitu mas. Sadar umur." Ucap Adinda sambil terkekeh.


"Kamu ngatain aku tua?"


"Aku gak bilang loh mas. Kamu sendiri ya yang bilang tua. Bukan aku loh."


"Awas ya kamu. Sini sini."


"Gak mau."


Adinda segera berlari menjauh dari Vino. Alhasil mereka saling mengejar di dalam kamar rawat Vino. Meskipun Vino hanya berjalan perlahan.


"Aduh.." Tiba tiba Vino terduduk di sofa sambil memegang perutnya.


"Mas kamu baik baik aja kan. Sakit banget mas? Aku panggilin Kak Axel ya." Ujar Adinda khawatir.


"Nih hukuman dari aku karena udah ngatain aku tua." Vino langsung menggelitik perut Adinda membuat Adinda tertawa.


"Ampun.. Mas.. Ampun.. Udah mas.."


Raka yang mendengar suara Adinda langsung masuk ke ruangan Vino tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Karena takut Vino dan Adinda melakukan hal yang tidak tidak.


BRAK.. Pintu terbuka secara paksa. Adinda dan Vino terhenti menatap ke arah pintu.


"Gue kira kalian lagi ngapain." Ujar Raka tiba tiba


Adinda dan Vino tertawa semakin terbahak bahak.


"Ya ampun Ka. Otak lo kok jadi mesum sih. Pasti mikirnya gue sama Adinda lagi iya iya kan?" Tanya Vino


"Ya kali Adinda teriak kayak tadi. Pikiran gue kan jadi agak kacau." Jawab Raka


"Makasih Kakak sayang. Masih perhatian aja sama aku." Ucap Adinda sambil memeluk Raka.


"Udah gak usah peluk peluk." Vino sambil menarik tangan Adinda.


"Cie cemburu.." Ucap Adinda.

__ADS_1


vino segera membawa Adinda kedalam pelukannya. Adinda segera membalas pelukan hangat dari Vino.


"Kamu gak boleh peluk orang lain kalau lagi sama aku." Ucap Vino.


"Kenapa?" Jawab Adinda


"Kamu kan sebentar lagi bakal jadi isteri aku lagi."


"Tapi kan belum. Boleh dong peluk Kak Raka. Kak Raka tuh udah kayak Kakak aku sendiri."


"Tunggu seminggu dari sekarang. Kita bakalan nikah. Kamu mau kayak dulu atau lebih mewah lagi?"


"Ngadi ngadi kamu mas." Adinda berusaha melepaskan pelukan Vino.


"Aku gak bakal lepasin kamu sampai kamu setuju. Tanggal 24 Juli kita nikah lagi. Terhitung satu Minggu dari sekarang."


"Lepas Vin."


"Aku gak bakal lepas sampai kamu mau nikah lagi sama aku."


"Itu pemaksaan namanya."


"Biarin. Asal kamu balik sama aku. Apapun bakal aku lakuin."


"Dasar kamu ya."


"Jawab dong."


"Kak tolongin dong. Masa cuma liatin doang." Ujar Adinda kepada Raka. Dan Raka hanya terkekeh.


"Itu sih diluar kendali Kakak sayang." Jawab Raka.


"Sip. Lo emang sahabat gue." Ujar Vino kepada Raka lalu melirik ke arah Adinda yang berada di hadapannya. "Gak usah di manyun manyunin itu bibir. Kalau masih manyun aku cium nih." Lanjutnya. Adinda langsung menutup bibirnya dengan telapak tangannya membuat Raka dan Vino tertawa melihatnya.


"Jawab dulu Din." Ujar Raka.


"Aku harus nanya Ibu sama Ayah dulu. Aku gak sendiri sekarang."


"Kakak udah tanya sama Ibu sama Ayah. Mereka sih setuju aja asal kamu bahagia Din."


"Jadi gimana sayang jawabannya?" Tanya Vino lagi.


Adinda tiba tiba memeluk Vino dengan erat. Adinda membenamkan kepalanya ke dada bidang Vino. Lalu menganggukkan kepalanya yang masih berada di dada Vino.


"Makasih sayang. Aku bakal siapin semuanya. Kamu mau pernikahan seperti apa sayang?"


"Gak perlu ada pesta mas. Malu sama anak. Kita akad aja itu udah cukup buat aku mas."


"Baiklah kalau itu mau kamu. Aku akan suruh mamah dan papah pulang sebelum hari pernikahan kita."


Vino melepaskan pelukannya kepada Adinda.


"Selamat adik ku tersayang." Ujar Raka.


Adinda langsung mengahambur memeluk Raka.


"Kakak kapan? cepetan halalin. Daripada keburu di halalin orang lain loh." Celetuk Adinda.

__ADS_1


"Kamu ini jangan ngedoain Kakak yang enggak enggak ya."


Ponsel Adinda berdering. Saat di lihat telfon masuk dari Safira.


"Halo Fir, kenapa?" Tanya Adinda


"Gue udah di bawah ini. Arkana ngerengek pengen ketemu Ayahnya. Tapi gak boleh masuk sama security karena masih di bawah umur." Jelas Safira.


"Ok. ok. Kita turun sekarang. Kebetulan mas Vino juga udah boleh pulang. Tunggu sebentar ok."


"Iya. Gue tunggu di ruang tunggu di lobi."


"Siap."


Adinda langsung memutuskan sambungan telfonnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas miliknya.


"Anak kalian udah nunggu di bawah. Yuk pulang." Ajak Adinda


"Serius? sama siapa dia kesini?" Tanya Vino


"Sama Safira. Tapi kayaknya Kak Kevin masih di poli deh. Soalnya Safira bilang dia gak bisa masuk sama security." Lanjut Adinda


"Ya udah buruan. Gue gak sabar ketemu sama jagoan gue." Ujar Raka.


"Enak aja dia anak gue." Ucap Vino tak mau kalah.


"Tapi gue yang selalu jaga dia." Lanjut Raka


"Mulai sekarang gue bisa jagain dia. Lo gak perlu repot repot lagi jagain jagoan gue." Lanjut Vino tak mau kalah.


"STOP.." Ujar Adinda. "Kalian tuh ya kaya anak kecil tau gak. Kamu Ayahnya. Dan Kakak itu Papahnya. Kenapa masih ributin hal yang ga penting sih. Buruan turun. Kasian Arkan udah nunggu." Lanjut Adinda membungkam kedua pria yang ada di hadapannya. Dan kedua pria itu hanya terkekeh.


Mereka segera turun ke lobi dan segera bertemu dengan Arkana, Safira dan Bianca tentunya. Vino berjalan dengan perlahan, karena masih merasa ngilu di perutnya. Awalnya Adinda memaksa Vino agar menaiki kursi roda. Namun, Vino menolak dan memilih berjalan meskipun hanya pelan.


"Ayah.. Papah.. Aku kangen." Ucap Arkana sambil memeluk Raka dan Vino yang sedang duduk di kursi lobi.


"Papah juga kangen Arkan." Ujar Raka


"Ayah juga kangen banget sama kamu sayang." Ucap Vino


"Mentang mentang ada Ayah sama Papah. Bunda jadi di lupain." Ucap Adinda. Arkana yang mendengar itu langsung berlari dan memeluk Adinda.


"Bunda yang paling di rindukan tentu saja." Jawab Arkana.


"Fir, kamu naik apa kesini?" Tanya Raka.


"Aku naik taksi Kak, Gak mungkin kan aku bawa mobil sendiri dengan membawa 2 anak." Jawab Safira.


"Mau nunggu Kevin?"


"Kayaknya gak deh Kak. Soalnya mas Kevin tadi bilang kalau dia lagi banyak banget pasien hari ini."


"Ya udah kamu ikut mobil Kakak aja ya. Vino sama Dinda juga." Jelas Raka.


"Gak usah Kak, aku bawa mobil sendiri aja. Mobil mas Vino kan ada di parkiran sini."


"Baiklah kalau gitu. Hati hati ya Din." ujar Raka.

__ADS_1


Adinda hanya menyatukan jari telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran dengan ketiga jari lainnya terangkat. Raka membantu Vino memasukan dirinya ke dalam mobil. Arkana duduk di belakang, Mereka pun berpisah dan kembali ke kediaman masing masing.


__ADS_2