
Adinda terus berjuang saat melahirkan anaknya. Mamah Falia dengan setia memberikan kekuatam kepada Adinda. Sedangkan Vino masih belum bisa di hubungi.
"Ayo Din. Mengejan lebih kuat, sedikit lagi." Ujar dokter Raka.
"Semangat sayang." Ujar mamah Falia.
"Ayo Din. kepalanya sudah terlihat."
Bayi Adinda sudah lahir namun bayi tersebut masih terdiam. Kevin selaku dokter anak langsung memberikan tindakan. Namun semua terasa sia sia. Karena bayi Adinda sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Adinda merasa dunia nya hancur. Karena melihat dokter Kevin menggelengkan kepalanya.
"Bayi aku kenapa kak?" Tanya Adinda diiringi isak tangis nya.
"Kami masih melakukan penanganan Din. Kamu gak usah khawatir ya." Jelas dokter Kevin.
"Kak kok rasanya seperti ada yang mau keluar lagi kak?" Ujar Adinda
Raka yang mendengar hal itu langsung memeriksa dan benar saja bayi kedua yang di kandung Adinda akan segera lahir.
"Kamu memang mengandung bayi kembar Din." Ujar Raka. "Ulangi kegiatan melahirkan seperti tadi ya." Lanjutnya.
Adinda berjuang kembali untuk melahirkan bayi ke duanya. Tak lama lahirlah anak Adinda. Ia menangis dengan sangat kencang. Adinda menitikan air matanya karena rasa bahagia.
"Selamat Din. 2 jagoan kamu telah lahir." Ujar Raka.
"Makasih Kak."
"Selamat sayang. Mamah akhirnya dapat cucu." Ujar mamah Falia.
"Makasih mah. Tapi gimana dengan bayi yang di sana? Aku harus lihat mah."
"Tenang sayang. Dokter Kevin sedang berusaha." Jelas mamah Falia.
Di luar ruangan Papah Andrew, Safira dan Vivian mengucapkan rasa syukur mereka setelah mendengar suara tangis bayi yang sangat kencang.
Setelah selesai penanganan Adinda di pindahkan ke kamar rawat VIP sedangkan 1 bayi Adinda di bawa ke kamar rawat bayi setelah di bersihkan. Sedangkan bayi yang 1 dinyatakan meninggal saat masih di dalam kandungan. Dokter memperkirakan janin mengalami TWIN TO TWIN TRANSFUSION SYNDROME (TTTS). TTTS merupakan terjadinya perubahan sistem pembuluh darah, dimana makanan janin pertama di ambil oleh janin kedua. Hingga pada akhirnya menyebabkan salah satu janin meninggal di dalam kandungan. Namun janin yang satunya lagi masih bisa bertahan hidup.
__ADS_1
Tak lama Dokter Kevin ditemani dokter Raka mengunjungi Adinda di kamar rawatnya dan memberitahukan kabar duka yang terjadi pada salah satu anaknya.
" Kak. Gimana anak aku kak?" Tanya Adinda sambil menangis.
"Maaf Din. Bayi pertama sepertinya sudah meninggal sewaktu di dalam kandungan." Ujar dokter Kevin.
Lalu dokter Kevin menjelaskan beberapa kemungkinan faktor yang menyebabkan salah satu bayi meninggal di dalam kandungan.
"Gak mungkin kak. Gak mungkin anak aku ninggalin aku sendiri. Kak kamu bohong kan kak?" Hiks.. Hiks.. Hiks..
Adinda menangis sejadi jadinya. Karena kelelahan Adinda pun tak sadarkan diri.
Di kamar lain rumah sakit Vino dengan setia senantiasa menemani Tissa. Dia tidak mengetahui jika isterinya telah melahirkan bayi kembar dan salah satunya telah meninggal dunia.
"Kamu gak pulang Vin?" tanya Tissa.
"Aku udah janji kan mau nemenin kamu sampai 3 hari ke depan." Balas Vino
"Kerjaan kamu gimana? Padahal aku bisa sendiri kok. Gak usah di temani juga. Kamu mending kerja aja."
"Bukan ngusir Vin. Aku cuma gak mau kamu lepas tanggung jawab kamu sebagai dokter."
"Aku lagi ambil cuti. Buat nemenin kamu. Aku cuma mau mengganti waktu kita yang hilang."
Mereka larut dalam obrolan mereka.
Di kamar rawat Adinda mereka yang berada di ruangan itu terlihat begitu sedih melihat kondisi Adinda. Mamah Falia menangis di dalam pelukan Papah Andrew. Raka senantiasa menenangkan Adinda yang masih menangis. Ke tiga sahabat Adinda pun sudah berkumpul dan mencoba memberikan kekuatan kepada Adinda. Meskipun mereka juga sedih kehilangan salah 1 anak dari sahabatnya. Dokter Kevin pun masih terlihat di dalam ruangan ini.
"Kak aku mau lihat anak aku kak. Aku mau peluk dia untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Boleh ya kak? Aku mohon kak izinin aku untuk peluk anak aku." Ujar Adinda sambil menangis.
Raka yang mendengar tangisan Adinda hanya terdiam. Lalu melirik ke arah papah Andrew. Papah Andrew yang mengerti dengan maksud Raka langsung menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Ayo Kakak antar menuju anak mu. Tapi kamu harus siapkan diri kamu ya."
Adinda langsung di bawa ke kamar jenazah memakai kursi roda. Raka mendorong kursi roda Adinda. Mamah dan Papah mengikuti Adinda. Sedangkan dokter Kevin dan ke 3 sahabat Adinda menunggu di dalam kamar rawat Adinda. Saat sampai di kamar jenazah Adinda langsung memeluk saat melihat jenazah anaknya yang sudah terbujur kaku.
__ADS_1
"Sayang.. Jangan tinggalin bunda Nak. Bunda ingin melihat kamu tumbuh dewasa bersama dengan saudara mu. Bunda mohon jangan tinggalkan Bunda." Hiks.. Hiks.. Hiks.. Ucap Adinda di sela tangisnya sambil senantiasa memeluk dan menciumi wajah anaknya.
"Kita akan memakamkan anakmu hari ini juga. Papah sudah memesan tempat untuk tempat peristirahatan anak mu." Ujar papah Andrew.
Adinda hanya menangis. Papah Andrew yang tak kuasa melihat kerapuhan Adinda segera memeluk Adinda.
"Pah.. Kenapa dia tega ninggalin Adinda pah. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Adinda juga ingin merawatnya."
"Sabar sayang.Masih ada anakmu yang menunggu mu disini." Ujar papah Andrew.
"Kamu harus memberi nama padanya sayang." Ucap Mamah Falia.
"Nama anak ini Azkana Abraham Dinata dan yang berada di kamar bayi Arkana Abraham Dinata."
"Nama yang bagus." Ucap Papah Andrew.
"Ayo sayang. Anakmu harus segera menjalankan prosedur untuk pemakaman. Biar tidak terlalu sore nanti saat di makamkan." Ucap Mamah Falia
"Tapi Mah, Ayahnya belum melihatnya." Ucap Adinda yang masih senantiasa meneteskan air matanya.
"Tidak apa apa sayang. Vino pasti mengerti. Ponsel dia masih belum aktif sampai saat ini." Ucap Mamah Falia
"Baiklah Mah Pah. Aku hanya ingin yang terbaik untuk anakku. Biarkan aku memeluknya untuk yang terakhir kalinya mah." Ujar Adinda.
Adinda memeluk Bayinya dengan sangat erat. Air mata yang masih setia membanjiri pipinya membuat semua orang yang melihat merasakan betapa sedihnya Adinda saat ini.
Setelah itu Adinda kembali ke kamarnya. Ia melihat Arkana sudah berada di dalam kamarnya. Ia segera menggendong Arkana.
"Sayang.. Doakan saudara mu ya nak. Semoga dia bahagia disana. Semoga dia mendapatkan tempat terbaik. Kamu harus sehat ya sayang. Temani Bunda disini. Iya sayang." Cup. Adinda mengecup kening Arkana sambil meneteskan air matanya.
"Kamu bisa memberikan ASI mu untuk Arkana Din." Ujar Raka.
"Iya sayang Arkana pasti sangat menginginkan ASI dari mu. Setelah itu bersiaplah. Kita akan ke pemakaman Azkana. Tadi Yola sudah membawa pakaian ganti untukmu." Ujar Mamah Falia.
Adinda memberikan ASI kepada Arkana. Setelah Arkana tertidur Adinda segera menidurkan kembali Arkana di box bayi rumah sakit. Setelah itu Adinda bersiap untuk mengantarkan Azkana ke tempat peristirahatan terakhirnya.
__ADS_1