Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
LIMA PULUH DUA


__ADS_3

Adinda terpaku mendengar kata maaf dari Axel. Pikiran wanita itu sudah berkelana kesana kemari. Tanpa disadari air mata Adinda menetes dengan sendirinya. Lalu Axel melanjutkan ucapannya.


"Maaf karena operasinya lama. Sehingga membuat kamu jadi pinsan seperti ini." Lanjut Axel


Adinda terlihat bingung dengan ucapan Axel. Namun ia masih meyakini jika Vino tak bisa diselamatkan.


"Ini semua gara gara aku kan Kak. Gara gara aku Vino jadi pergi untuk selamanya. Semua gara gara aku. Hiks.. Hiks.." Racau Adinda.


"Maksud kamu apa?" Tanya Raka.


"Kak Axel minta maaf barusan. Berarti Mas Vino gak bisa selamat kan. Makanya Kak Axel minta maaf tadi." Ujar Adinda masih dengan tangisannya.


"Hahahahaha.." Kevin langsung tertawa mendengar ucapan Adinda. "Lo jahat Xel. Sampe Dinda berfikiran kayak gitu. Kalau Vino tau Dinda sampe nangis gara gara lo. Gue yakin lo gak bakal selamat. Hahahaha.." Ujar Kevin di sela tawanya.


"Maksud Kakak apa? Kenapa Kakak malah tertawa?" Tanya Adinda.


"Jelasin Xel. Jangan setengah setengah." Ujar Raka


"Gini Din. Alhamdulillah Vino selamat. Dia juga sudah berhasil melewati masa kritisnya. Tinggal nunggu dia siuman. Kakak tadi minta maaf karena sudah membuatmu menunggu lama." Jelas Axel.


"Hua.. Kalian jahat. Kalian sudah menipuku. Sekarang Mas Vino dimana? Boleh kan aku ketemu dengannya?" Ujar Adinda


"Abisin dulu cairan infus kamu. Nanti boleh ketemu Vino. Lagian Vino belum sadar." Ucap Raka


"Katanya operasinya sudah selesai dan sudah melewati masa kritisnya." rengek Adinda


"Iya dia udah melewati masa kritisnya. Tapi dia masih belum sadar." Jelas Axel


"Mending kamu tidur dulu Din. Nanti pagi baru boleh menemui Vino." Ucap Raka.


"Aku gak mau ya di UGD sendirian. Kenapa gak tidur di ruangan mas Vino aja sih Kak."Rengek Adinda lagi.


"Kamu kok jadi kayak anak kecil sih Din. Perasaan tadi kepala kamu gak kebentur deh." Ujar Kevin sambil menahan tawanya.


"Aku kan cuma pengen mastiin aja kalau mas Vino bener bener udah baik baik aja." Sanggah Adinda


"Iya nanti pagi kita ketemu Vino. Sekarang kamu tidur dulu abisin dulu infusnya. Setelah itu habis kita kesana." Ujar Raka. Adinda terlihat cemberut karena keinginannya tak terpenuhi. "Udah sekarang kamu tidur. Kakak temani kamu disini." Lanjut Raka.


"Gue sama Kevin meriksa keadaan Vino dulu. Bye.." Ucap Axel sambil melenggang diikuti Kevin di belakangnya.


Adinda mengikuti saran Raka dan ia mulai berbaring di ranjang UGD. Raka dengan setia menemani Adinda sampai pagi tiba dan cairan infus telah habis. Adinda terbangun saat Raka mencabut selang infus dari tangannya. Dengan segera Adinda mengajak Raka untuk ke ruangan Vino.


"Kak, sekarang boleh kan aku ke ruangan mas Vino?" Tanya Adinda.


"Boleh, yuk sekalian kakak juga mau liat kondisi dia." Ujar Raka


Raka melangkahkan kakinya menuju ruangan Vino diikuti Adinda di belakangnya. Sesampainya di ruangan Vino, Adinda langsung memeluk tubuh Vino meskipun Vino masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Aku kira kamu udah bangun mas. Betah banget sih sama tidurnya. Kamu gak mau ketemu aku sama Arkana ya. Bangun dong mas. Jangan tidur aja." Ujar Adinda saat berada di kursi di samping ranjang Vino


Kevin dan Axel masih tertidur di sofa kamar tersebut. Sedangkan Raka melangkan kakinya kembali menuju kantin rumah sakit untuk membeli sarapan untuk mereka.


Di kamar rawat Vino, Adinda masih setia menunggu Vino terbangun. Adinda masih terduduk di kursi samping ranjang rawat Vino. Tiba tiba ponsel Adinda berdering. Ternyata panggilan dari Mamah Falia.


"Halo Din, Assalamualaikum." Ujar Mamah di seberang sana.


"Iya Mah, Wa'alaikum salam." Jawab Adinda


"Kalian apa kabar sayang? Perasaan Mamah gak enak dari kemarin."


"Aku sama Arkana baik baik aja Mah. Tapi mas Vino." Adinda menggantung ucapannya.


"Vino kenapa Din. Jangan bikin Mamah penasaran dong sayang."


"Mas Vino kemarin jadi korban penusukan Mah." Ucap Adinda lirih. "Maaf mah, Adinda gak bisa mencegah hal tersebut."


"Sekarang Vino nya gimana sayang? Terus pelakunya gimana?"


"Mas Vino semalam sudah di operasi Mah, namun mas Vino masih betah dengan tidurnya. Dia sampai sekarang belum bangun. Mungkin efek dari obat bius."


"Syukurlah kalau begitu. Mamah titip Vino ya sayang. Mamah masih belum bisa kembali ke Jakarta sayang"


"Iya Mah. Aku pasti jagain mas Vino."


"Pelakunya Manda Mah."


"Maksud kamu Manda mantan Vino?"


"Iya Mah. Aku minta maaf sama Mamah. Harusnya aku yang terluka bukan mas Vino. Soalnya yang jadi target Manda itu aku Mah. Cuman mas Vino tiba tiba menghalangi pisau Manda dengan badannya sendiri. Jadi mas Vino yang tertusuk. Aku bener bener minta maaf ya Mah. Gara gara aku anak mamah jadi terluka."


"Bukan salah kamu sayang. Itu sudah jadi kehendak Vino. Pasti dia sangat menyayangi kamu sampai dia rela tersakiti karena ingin melindungi kamu. Kamu gak usah minta maaf sayang. Itu bukan salah kamu."


"Terima kasih mah. Mamah udah maafin aku."


"Ya udah sayang. Mamah di panggil sama Papah kamu. Kabarin Mamah perkembangan Vino ya sayang."


"Iya Mah."


"ya udah ya. Kamu juga jaga kesehatan. Assalamualaikum."


"Iya Mah. Wa'alaikum salam."


Adinda meletakkan ponselnya ke dalam tasnya kembali. Ia masih menunggui Vino. Saat tiba tiba ponselnya berderimg tanda pesan masuk.


Yola :

__ADS_1


Din, lo punya sketsa baju nikahan gak?


Adinda :


Buat apa? Jangan bilang lo masih ketemu klien.


Yola :


Iya betul binggo. Gue masih ketemu klien. Tapi tenang aja. gue mau ketemu asalkan ketemunya di butik.


Adinda :


Nanti gue kirimin. Klien minta berapa contoh? Gue ada 2 masih blm sold.


Yola :


Dia minta 3 sketsa Din.


Adinda :


Oke. Gue bikin dulu 1 lagi. Buat kapan?


Yola :


Lusa. Gue janji ketemu pas jam makan siang.


Adinda :


Siap. Gue bikinin dulu 1 lagi. Inget jaga kesehatan. Jagain ponakan gue. Jangan sampe lo kecapean.


Yola :


Siap Ibu Negara.. Hehe.


Adinda kembali meletakkan ponselnya di dalam tas.


"Siapa Din?" Tanya Raka saat kembali dari kantin.


"Tadi yang nelfon Mamah. Barusan yang chat Yola. Aku ada kerjaan buat lusa." Jelas Adinda.


"Makan dulu yuk. Tuh udah siap di meja."


"Wah.. Langsung bangun aja kalian tau ada makanan." Ledek Adinda kepada Axel dan Kevin.


"Iya dong. Indera penciuman gue masih berfungsi. Kalau masalah makanan pasti langsung melek nih mata." Ujar Kevin


"Ternyata lo perhatian banget sama kita. Makasih loh Raka. Kita sayang Raka." Ujar Axel sambil hendak memeluk Raka.

__ADS_1


"Najis lo berdua." ujar Raka membuat semua tertawa karena ekspresi yang di tunjukkan Raka.


__ADS_2