
Keesokan harinya pagi pagi buta Adinda sudah bangun. Ia segera mempersiapkan keperluan saat nanti pergi ke Jakarta untuk mengisi waktu liburan Arkana. Tak lama terdengar Adzan subuh berkumandang. Adinda segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah menunaikan kewajibannya, Adinda segera berlalu ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya, Arkana dan tak lupa tamu yang ada di rumahnya tak lain adalah Vino. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Adinda segera berlalu ke arah kamarnya untuk membersihkan dirinya. Setelah setengah jam, Adinda telah selesai dan sekarang ia menuju ke kamar anak semata wayangnya untuk membangunkan anak serta Ayah dari anaknya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Kan bangun. Ini udah pagi loh." Ujar Adinda
Tak lama pintu terbuka menampakkan Arkana dan Vino yang sudah siap.
"Wah.. Anak Bunda udah wangi. Mandi sendiri?"
"Di mandiin Ayah Bunda. Ga apa apa kan?"
"Ya ga apa apa dong. Ya udah Kamu ajak Ayah kamu buat sarapan. Udah bunda siapin di meja makan. Bunda mau masukin barang kamu dulu ke koper."
"Ayo Ayah. kita makan dulu."
"Kenapa masak? Nanti kamu capek loh. Aku kan udah bilang kita saraapn di luar aja." Tegur Vino
"Arkana gampang masuk angin mas. Kalo dia pergi dengan perut kosong nanti dia bisa muntah muntah di perjalanan." Jelas Adinda
"Emang kamu gak capek nyiapin ini itu dulu?"
"Udah kewajiban mas. Ya udah sana sarapan dulu. Tuh Arkana aja udah anteng di meja makan."
"Aku bantu kamu siapin barang Arkana aja dulu. Bentar aku bilang Arkana dulu." Vino berlalu ke arah meja makan dan Adinda masuk ke kamar Arkana.
Tak lama Vino masuk ke dalam kamar Arkana. Adinda sudah menyimpan baju serta peralatan Arkana di atas ranjang milik Arkana. Saat ini Adinda sedang berdiri di atas kursi belajar Arkana untuk mengambil koper Arkana yang tersimpan di atas lemari pakaian Arkana.
"Astagfirulloh Din. Gimana kalau kamu jatuh. Harusnya kamu minta tolong buat ambilin sama aku. Bukan malah naik naik kursi kayak gini." Omel Vino dengan suara sedikit meninggi.
"Mas kenapa sih? Aku bukan anak kecil ya. Lagian biasanya juga kayak gini. Gak usah di besar besarin deh mas." Jelas Adinda
"Aku cuma khawatir sama kamu Din."
"Tapi gak usah main bentak bentak juga kali."
"Maaf. Aku gak sadar tadi. Maaf ya."
"Ya udah lah. Sini kopernya. Aku masukin dulu barang nya Arkana. Biar kita cepet berangkat. Aku udah kangen sama Mamah sama Papah."
"Kamu gak kangen sama aku?"
"Harus ya kangen kamu mas."
"Dih.. jutek bener jawabnya. Padahal aku kangen banget loh sama kamu."
"Makasih." Ujar Adinda sambil memasukan barang Arkana ke dalam koper. Sedangkan Vino hanya melihat Adinda yang dengan gesitnya menyusun barang Arkana.
Setelah itu mereka menghampiri Arkana di meja makan. Mereka pun mulai sarapan dengan menu yang sudah Adinda sediakan.
"Masakan kamu gak pernah berubah Din. Malah semakin enak." Ujar Vino
"Iya Ayah, masakan Bunda emang paling enak." Tambah Arkana.
"Makasih. Ada apa nih pada muji muji kayak gini." Ujar Adinda sambil memperhatikan Vino dan Arkana, namun mereka hanya fokus pada makanannya.
"Makan yang banyak ya sayang." Ucap Vino sambil mengelus kepala Arkana.
Tak lama setelah mereka sarapan, Mereka memulai perjalan mereka ke Jakarta. Tiba tiba ponsel Adinda berbunyi menandakan adanya pesan masuk. Ternyata dari grup 'Cewek Kece'
__ADS_1
Yola :
Din lo jadi ke Jakarta?
Adinda :
Jadi dong. Ni lagi OTW.
Safira :
Pergi sama siapa lo? Sendiri?
Adinda :
Sama Ayahnya Arkana.
Vivian :
Gue kira kemaren dia bohong.
Adinda :
Emang kemaren kenapa?
Vivian :
Kemaren gue nyamperin mas Axel ke rumah sakit. Gue gak sengaja denger pembicaraan mereka. Kak Vino bilang dia mau jemput lo ke Bandung. Gue kira dia bohong. Ternyata bener. Dia kayaknya masih suka deh sama lo Din
Safira :
Bukan suka bego. Tapi sayang. Umur udah tua gak mungkin masih suka sukaan. Lagian mereka kan pernah lebih dari sekedar suka.
Yola :
Safira :
Dia belom bisa baca ini.
Yola :
Dasar lo.
Lo udah nyampe mana Din?
Adinda :
Baru juga berangkat. Belum masuk tol juga. Kenapa?
Vivian :
Kangen..
Yola :
Kangen.. (2)
Safira :
Kangen.. (3)
__ADS_1
Adinda :
Kebiasaan. Udah ah. gue lagi di jalan. Bos kecil marah tuh gue terlalu sibuk sama ponsel.
Safira :
Bos kecil atau bos hati?
Adinda :
Paan sih lo. Udah ah. Bye..
Adinda mematikan ponselnya dan menyimpannya kembali ke dalam tas miliknya.
"Bunda. Lagi ngapain sih? Kok liatin ponsel terus?"
"Ini tante Safira, tante Yola sama tante Vivian nanyain kamu sayang. Katanya mereka kangen sama kamu."
"Aku juga kangen sama mereka Bunda. Ayah, nanti pas kita ke akuarium raksasa ajakin Bianca sama Nathan ya Ayah. Biar seru kalau banyak orang."
"Iya sayang. Nanti kita berangkatnya bareng bareng ya." Ucap Vino
"Ayah, Bunda aku mau bobo."
"Mau bunda pangku di depan sayang?"
"Gak usah Bunda aku mau bobo di sini aja." Ujar Arkana sambil ia tidur terlentang di kursi belakang.
Setelah beberapa saat hening, Vino membuka suara.
"Din, kok kamu gak cari pengganti aku?"
"Aku belum bisa mas. Aku masih takut."
"Takut kenapa?"
"Aku takut di hianatin lagi. Aku takut kejadian kemaren sama kamu terulang lagi. Itu yang bikin aku bertahan hidup sendiri."
"Maafin aku Din." Vino tertohok mendengar ucapan Adinda.
"Udahlah mas. Itu udah masa lalu juga. Cuman aku memang belum siap untuk menjalin suatu hubungan."
"Aku ngerti kesalahan aku sangat besar sama kamu Din. Tapi seandainya nih ya. Kalau kamu nikah sama Raka gimana?"
"Kamu kok ngomong gitu sih mas?"
"Aku juga gak ngerti kenapa Din. Aku cuma mau ada yang jagain kamu sama Arkana."
"Emang kamu gak ada niatan balik sama aku mas?"
"Emang kamu mau balikan sama aku?"
"Aku kan cuma nanya mas."
"Sebenarnya aku bener bener pengen banget balik sama kamu Din. Itu impian aku. Semenjak kita cerai, aku berusaha cari kamu karena aku ingin kita kembali seperti dulu. Tapi entah kenapa akhir akhir ini aku punya perasaan yang aneh. Entah kenapa aku ngerasa aku bakalan pergi jauh. Makanya aku ingin kamu sama Raka bersama, aku udah tau dia seperti apa, aku juga percaya dia pasti bisa jaga kamu."
"Kamu mau ninggalin aku sama Arkana lagi mas? Kamu gak kasian sama anak kita?"
"Aku juga gak ingin pergi Din. Tapi gak tau kenapa aku selalu ngerasa bakalan pergi jauh."
__ADS_1
Adinda hanya terdiam mencerna ucapan Vino. Setelah percakapan itu hanya keheningan yang menyelimuti perjalanan mereka.