Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
DUA PULUH ENAM


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 2 malam. Adinda terbangun dari tidurnya karena ia ingin sekali makan ayam crispy dan ice cream.


"Mas.. Bangun mas."


"Kenapa sayang?" Tanya Vino dengan suara khas bangun tidur dan sambil sesekali mengucek matanya


"Aku mau makan ayam crisy dan ice cream."


"Iya sayang. Nanti pagi kita beli ya."


"Aku mau nya sekarang mas. Ayo bangun mas." rengek Adinda


"Iya sayang. Aku siap siap dulu." Pasrah Vino sambil berlalu ke dalam kamar mandi dan segera mengganti pakaian nya.


Ini bukan kali pertama Vino harus keluar di pagi buta karena ngidam Adinda. Tapi Vino menikmati waktu waktu ini karena ia fikir momen ngidam isterinya ini hanya terjadi saat isterinya tengah mengandung. Melihat Adinda yang sudah siap Vino kembali membuka lemarinya dan mengambilkan jaket untuk di kenakan Adinda.


"Pakai ini sayang. di luar pasti dingin."


"Makasih mas. Maaf udah ganggu mas tidur."


"Ga apa apa kok sayang. Aku nikmatin ini semua kok. Cuma selama hamil aja kan kamu mau nya aneh aneh kayak gini."


"Makasih mas. Ayo berangkat." Ujar Adinda dengan semangat.


Vino hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat begitu antusias isterinya tersebut. Vino dan Adinda masuk ke dalam mobil. Vino langsung menjalankan mobilnya mencari restauran cepat saji yang masih beroperasi di pagi buta seperti ini. Setelah berkeliling cukup lama. Akhirnya Vino dapat menemukan restauran yang masih beroprasi saat ini. Ia langsung memarkirkan mobilnya di parkiran restauran cepat saji tersebut.


"Kamu mau makan apa aja sayang? Biar aku pesenin. Kamu duduk aja."


Adinda mengatakan apa yang ia inginkan. Setelah itu ia duduk di salah satu kursi yang tersedia. Sedangkan Vino menghampiri tempat pemesanan. Setelah membayar semua pesanan, Vino membawa nampan yang berisi pesanan isterinya itu dan menghampiri Adinda yang sedang duduk sambil tersenyum ke arahnya. Mata Adinda sangat berbinar senang melihat makanan yang Vino bawa.


"Kamu cuma pesen kentang aja mas? Kok gak pesen yang lain?"


"Aku cuma mau kentang. Makan aja sayang. Nanti kalo aku mau bisa pesen lagi."


Adinda memakan semua makanan yang telah ia pesan. Saat ini Adinda hendak memakan ice cream yang ia inginkan.


"Sayang. Jangan di habisin ya ice cream nya. sedikit aja boleh. Ini masih pagi banget soalnya sayang."


"Iya mas. Asal makan aja udah kok. Gak akan aku habisin juga."


"Oia sayang. Hari minggu aku boleh ke Bandung gak? Udah lama aku gak main ke Cikole. Kangen sama track downhill."


"Sama siapa aja? Aku juga pengen ikut mas."


"Paling biasa lah sama Raka, Axel dan Kevin. Kamu gak boleh sayang. Inget anak kita."


"Iya sayang. Itu kan cuma keinginan aku aja. Ya udah pulang yuk. Udah jam 3 nih."


"Ya udah ayo pulang." Mereka pulang kembali ke rumah setelah Adinda puas memakan apa yang ia mau.


Tak terasa sekarang hari Minggu. Dari jam 4 tadi Vino sudah berangkat ke Bandung. Ia hanya berangkat ber 2 dengan Axel. Sedangkan 2 sahabat yang lainnya tak bisa karena ada kesibukan masing masing.


Vino :


Capture

__ADS_1


Adinda :


Kangen sama tempat itu.


Vino :


Sabar sayang. Nanti setelah anak kita lahir kita main kesini lagi.


Adinda :


Bener ya mas.


Vino :


Iya sayang. Ya udah aku main dulu ya sayang. Nanti aku kabarin lagi kalo udah selesai.


Adinda :


Iya mas. Hati hati mainnya.


Adinda menyimpan ponselnya di meja depan nya. Ia sedang di ruang tv saat ini. Sambil memakan keripik kentang dan meminum susu untuk Ibu hamil. Adinda menghubungi para sahabatnya melalui chat di grup mereka. Grup 'Cewek Kece'


Adinda :


Bt nih. Jalan yuk.


Yola :


Gue lagi di Bandung ini. Gak bisa ikut main.


Adinda :


Yola :


Udah kok. Mau ketemu klien. Kebetulan ini job dari cabang Bandung. Pengennya dia ketemu lo. cuma setelah gue jelasin lo lagi hamil besar jadi dia mau ketemu gue.


Adinda :


Oh gitu. Kirain masalah waktu itu belum kelar. Maaf Yola ku sayang. Gue jadi ngerepotin lo terus.


Yola :


Ga apa apa lagi. Nyantai aja. itung itung jalan jalan. Ya udah klien nya udah dateng. Gue kerja dulu.


Adinda :


Iya sayang.


Safira :


Kuy jalan. Gue juga bt di apartemen mulu.


Adinda :


Kuy. Gue tunggu di rumah. Lo ikut ga Vi?

__ADS_1


Vivian :


Kayaknya gue gak ikut. Gue ada acara keluarga. Sorry ya.


Adinda :


Iya ga apa apa kok.


Tak berselang lama Safira sudah sampai di depan rumah Adinda. Adinda segera menuju mobil Safira dan saat ini keduanya tengah membelah kepadatan jalanan di Ibu Kota ini. Mereka sampai di mall sekitar pukul 09.30 pagi.


"Kepagian deh kita kayaknya."


"Biarin. Jadi gue gak perlu takut anak gue kenapa napa. Kalo penuh kan bisa aja perut gue kesenggol senggol orang."


"Mau kemana nih kita?"


"Gak tau.. hehe."


"Dih malah ketawa lagi. Lo yang ngajak malah gak tau mau kemana."


"Gue cuma pengen jalan aja. Bt di rumah sendirian."


"Emang Vino kemana?"


"Dia lagi main di Cikole. Licik ya dia. Di saat isterinya hamil gede dia malah asik main downhill. Gue kan jadi iri. Mana gue gak boleh ikut lagi."


"Ya kali lo lagi hamil mau main downhill. Inget perut bu. Gak bakalan bisa lo main dengan perut segeni ini."


"Iya juga sih."


"Nyengir juga ujung ujungnya."


"Gue cuma ngebayangin aja main downhill sambil bawa perut segede ini."


"Gak usah di bayangin. Yang pasti banyak orang yang takut bayi lo berojol di sana."


"Bisa aja lo."


Mereka asik berkeliling hingga tiba di waktu jam makan siang. Mereka tak sengaja melihat dokter Raka dan Kevin sedang duduk di salah satu meja di restauran yang Adinda masuki.


" Dokter Raka. Dokter Kevin." Ujar Adinda sambil menepuk pundak keduanya.


"Eh. Dinda kamu ngagetin aja." Ujar Raka.


"Kalian ngapain? Kenapa gak ikut Vino main?" Tanya Adinda lagi.


"Lagi males aja. Lagian tadi pagi ada urusan sebentar." Kevin yang menjawab


"Sini duduk. Mau makan siang juga kan? Barengan aja." Ujar Raka sambil menyuruh Adinda duduk di sebelahnya dan Safira duduk berdampingan dengan dokter Kevin.


"Apa kabar dokter Raka. Dokter Kevin." Ucap Safira sambil mendudukan dirinya di samping dokter Kevin.


"Ga usah bawa bawa kerjaan ini di luar bukan rumah sakit." Ucap Kevin.


"Baiklah.. Manggil apa dong? Masa cuma nama doang. Kan gak sopan." Balas Safira

__ADS_1


"Panggil Kakak aja. Sama Kaya Adinda manggil kita. Meskipun lebih sering bawa gelar kalo manggil kita." Jelas Raka sedangkan Adinda hanya terkekeh.


Mereka melanjutkan makan siangnya bersama. Kevin salah tingkah karena kehadiran Safira. Kevin telah mengukai Safira saat mereka pertama bertemu. Namun Kevin tidak ada keberanian untuk mengungkapkan semua. Banyak mata yang tertuju pada meja mereka. Karena mereka mengenal Safira sebagai model dan juga ketampanan dari Raka dan Kevin yang membuat kaum hawa tak bisa mengalihkan pandangannya. Mereka berfikir jika Safira dan Kevin adalah pasangan kekasih. Sedangkan Raka dan Adinda sepasang suami isteri.


__ADS_2