Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
DUA PULUH TIGA


__ADS_3

Keesokan harinya Adinda terbangun terlebih dahulu. Ia memandang wajah damai suaminya yang masih tertidur.


"Udah puas liatin nya?"


"Sejak kapan kamu bangun?"


"Sejak tadi pas awal kamu liatin aku."


"Gak tau kenapa semenjak hamil seneng banget liatin wajah kamu."


"Makin sayang deh jadinya." Vino langsung memeluk Adinda.


"Sayang. Panggilan nya bisa di ubah gak? Masa ke suami manggil nama. Ubah panggilannya ya? mau ya?"


"Mau di panggil apa emang?"


"Aku udah manggil kamu sayang. Kamu juga boleh kalo mau manggil aku sayang."


"Jangan sayang deh. Ga biasa aku ngomongnya. Mas aja gimana?"


"Boleh deh. Lebih mending daripada Vino."


"Cepetan mandi. Bukannya kamu ada dinas pagi hari ini?"


"Iya. Bentar lagi. Masih mau meluk kamu."


"Aku boleh ke butik ga mas? Soalnya kata Mira orang tua dia hari ini dateng mas."


"Udah pasti dateng hari ini?"


"Ga tau juga sih. Katanya kalo gak ada halangan apa apa mereka dateng hari ini"


"Mending pastiin dulu. Kalo bener bener jadi hari ini dateng. Kalo kamu mau ke sana boleh. Tapi harus kabarin aku ya sayang."


"Iya mas. Pasti aku kabarin kok. Tenang aja. Aku juga berangkat gak sendiri kok. Kalo ga sama Yola pasti sama Safira."


"Ya udah. Mas mandi dulu ya. Atau mau mandi bareng aja?" Ucap Vino sambil menaik turunkan alis nya.


"Jangan aneh aneh deh mas. Yang ada kamu gak jadi ke dinas kalo mandi bareng. Aku ikut sebentar ya. Mau buang air kecil."


Adinda berlari menuju kamar mandi.


"Jangan lari lari sayang. Nanti kamu jatuh."


"Iya iya maaf.. Aku udah gak tahan."


Tak lama Adinda keluar dari kamar mandi. Vino langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah 15 menit ia turun ke ruang makan untuk menyusul istrinya.


"Kok susu nya gak di minum sayang?"


"Aku suka mual kalo minum susu. Makanya harus sedikit sedikit minum susunya. gak bisa langsung habis."


"Ya udah. Tapi yang penting di minum ya susunya. Kamu udah hubungi Mira? Katanya gimana? Jadi orang tuanya kesini?"


"Belum mas. Aku belum chat dia. Masih terlalu pagi. Mungkin nanti agak siang aku chat dia. Ya udah yuk kita sarapan."


Adinda mulai menaruh nasi beserta lauk pauk di piring Vino. Lalu ia mengambil untuk dirinya sendiri. Setelah mereka selesai makan, Vino pamit untuk pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


"Aku pergi ya sayang. Kalo kamu mau pergi ke butik jangan bawa mobil sendiri. Minta jemput kalo gak hubungi aku aj. Ok sayang."


"Iya mas. Nanti aku kabarin kamu."


Adinda mengantar Vino ke depan rumah. Lalu ia mencium punggung tangan Vino dan Vino membalasnya dengan mengecup Kening Adinda. Setelah mobil yang di kendarai Vino sudah keluar dari rumahnya, ia masuk ke dalam rumah dan mengirim chat kepada suster Mira


Adinda :


Mira gimana orang tua lo jadi ke butik hari ini gak?


Mira :


Kayaknya jadi. Gue juga belum ngehubungi mereka lagi. Gue tanya dulu ya. Nanti gue kabarin lagi.


Adinda menyimpan ponselnya. Lalu ia menonton siaran televisi sendiri di rumah itu. Sambil sesekali menyesap susunya yang masih tersisa. Tak lama ponselnya kembali berdering. Dilihatnya ponsel miliknya ternyata chat dari suster Mira.


Mira :


Jadi katanya. Tapi kemungkinan nyampe kesini nanti sore.


Adinda :


Ok deh kalo gitu. Gue mau ke butik sekarang.


Mira :


Ke butik sama siapa? Bukannya dokter Vino lagi dinas ya?


Adinda :


Gampang. gue bisa suruh Yola jemput gue. Ya udah gue mau siap siap dulu.


Adinda :


Ada yang bisa jemput gue gak? Gue mau ke butik. Hari ini orang tua Mira dateng. Gue mau ketemu.


Yola :


Gue otw. Gue juga baru mau berangkat ke butik.


Adinda :


Siip. Gue tunggu ok


Safira :


Gue juga hari ini free. Mau gue temenin juga gak? Kalo mau gue nanti nyusul ke butik.


Adinda :


Asik. Kita kumpul. Vi lo ikut gak?


Vivian :


Ya ntar gue nyusul.


Adinda :

__ADS_1


Ok kalo gitu. sampe ketemu di butik sayang sayangku.


Adinda sedang menunggu kedatanggan Yola sambil menonton televisi sambil mengemil keripik singkong. Tak lama terdengar suara klakson mobil. Ia segera menutup toples dan mematikan televisi. Lalu berlalu ke arah dapur untuk menemui asisten rumah tangga nya.


"Bi aku pamit ya bi. Kemungkinan aku pulang agak malem bi."


"Iya Non. Hati hati non."


"Iya bi. Ya udah aku berangkat. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Adinda lalu keluar rumah untuk menghampiri Yola di mobilnya. Lalu mereka pergi menuju butik. Di perjalanan Adinda melihat penjual cilok dan es krim keliling.


"Berhenti Yol."


"Lo tuh ya nyuruh berhenti ngedadak. Gue kan kaget. Untung di belakang gak ada mobil atau motor. Kalo ada kan bisa jadi kecelakaan."


"Sorry sorry. Gue pengen itu."


"Pengen apa sih?"


"Tuh ada penjual cilok sama es keliling. Gue mau."


"Ya udah bentar gue parkirin dulu."


"Makasih sayangku."


"Ada maunya aja bilang sayang sayang."


Adinda hanya terkekeh mendengar penuturan sahabatnya itu. Mereka keluar dari mobil. Adinda langsung menuju penjuak cilok. Ia memesan 6 bungkus cilok. Dan ia memesan 2 porsi rujak. Dan 1 cup es krim keliling. Yola hanya terdiam melihat sahabatnya membeli banyak makanan.


"Lo yakin bakalan abisin itu?"


"Kalo es buat gue sendiri. Kalo rujak sama cilok siapa tau ada yang mau."


"Ya udah. Masih ada yang mau di beli gak? Kalo gak ada kita jalan sekarang."


"Ga ada kok. Ayo kita jalan."


Adinda dengan asik memakan es yang ia beli. Tak terasa sudah ada di depan butik nya. Ia melihat ada sepasang suami isteri paruh baya berdiri di depan butik yang ia perkirakan orang tua dari Mira. Adinda segera turun dari mobil dan menghampiri sepasang suami isteri paruh baya itu.


"Assalamualaikum. Ibu sama Bapak cari siapa ya?" Tanya Adinda.


"Wa'alaikum salam. Kami orang tua dari Mira Nak. Mira menyuruh kami datang ke butik ini. Mira bilang ia masih berada di rumah sakit karena jam kerjanya belum selesai." Jelas Ibu


"Katanya sore dateng kesini nya. Aku belum siapin apapun loh bu."


"Urusan di kampung udah selesai. Jadi mending dateng kesini pagi. Jadi kalo tersesat pun hari belum menggelap. Ga usah repot repot Nak. Kami jadi gak enak merepotkan Nak Dinda."


"Ga perlu sungkan Bu. Ya udah Bu mending kita masuk yuk. Perkenalkan nama saya Adinda dan ini teman saya Yola. Saya yang menyuruh kalian datang kesini. Mira pasti sudah cerita sama kalian kan?"


"Iya Nak. Maafkan Mira ya Nak. ibu yakin Mira gak ada niat buat hancurin rumah tangga Nak Dinda. dan juga terimakasih. Selama di kampung Ibu juga ada yang menjaga."


"Sama sama Ibu. Saya dengar dari suami saya bahwa ada yang ingin mencelakai Ibu dan Bapak di sana?"


"Benar Nak. Untung saja ada yang membantu dan mereka bilang mereka disuruh oleh dokter Vino. Ibu sangat berterimakasih sama kalian."

__ADS_1


Tak lama Safira dan Vivian datang beriringan di susul oleh Mira yang juga sudah datang ke butik Adinda. Mereka berkumpul dan membicarakan obrolan ringan.


__ADS_2