
Mereka masih berjalan menuju ruang papah Andrew. Sesampainya di depan pintu ruang papahnya, Vino dengan ragu mengetuk pintu. dan secara mengejutkan yang membuka pintu adalah mamahnya.
"Mamah ada di sini juga?" Tanya Vino
"Iya mamah udah makan siang sama papah kamu. pas mamah mau pulang papah bilang kamu bawa calon istri. makanya mamah nunggu kalian. Ayo masuk sayang." Ujar mamah Falia ke Adinda.
Mereka masuk beriringan. Vino di depan sedangkan mamah Falia menggandeng tangan Adinda menyusul di belakang Vino.
"Ayo duduk nak. Sini dekat mamah."
"Iya tante."
"Jangan tante dong. panggil mamah kayak Vino manggil mamah."
"Iya mah." Jawab Adinda canggung.
"Kamu punya calon istri cantik gini di sembunyiin aja." Kali ini papah Andrew yang berbicara
"Belum ada waktu yang pas pah. nanti juga pasti aku kenalin sama kalian." Jawab Vino.
"Tangan kamu kenapa sayang? kok bisa sampe di bebat kayak gitu?" tanya mamah Falia
"Kemarin jatuh mah." Jawab Adinda sedikit kaku.
"Ga usah tegang sayang. rileks saja. anggap saja kita ini orang tua kamu." Timpa Papah Andrew sedangkan Adinda hanya tersenyum kikuk.
"Hobi kita sama mah. dia juga suka main sepeda downhill. kemarin pas main di track dia jatuh. sendi sikut nya bergeser. tapi gak ada yang serius kok." Lanjut Vino menjelaskan
"Kamu kok gak jaga menantu mamah. nyampe dia cidera kayak gini. harusnya kamu tuh jaga menantu mamah dengan benar."
"Iya mah Vino salah gak jaga Adinda dengan baik."
"Kalian sudah makan siang?" Tanya Papah Andrew
"Sudah pah sebelum kita kesini saya dan Vino sedang makan di kantin." Jawab Adinda.
Mereka lalu terlibat obrolan ringan. Setelah 1 jam mereka mengobrol tiba tiba handphone Vino berdering.
"Halo.. ada apa?" Tanya Vino.
"Maaf dok. Ini ada pasien yang harus segera di bedah. dokter lain pun sedang melakukan operasi. Jika dokter berkenan bisakah dokter datang ke ruang operasi kamar 5?"
"Baiklah setelah saya bersiap saya segera kesana." Ujar Vino sambil menutup telfonnya.
"Sayang. aku ada operasi. kamu mau nunggu di ruangan aku aja atau gimana?"
__ADS_1
"Aku nunggu di ruangan kamu aja ya."
"Baiklah. Mah Pah aku ada operasi kita pamit turun mah pah."
"Iya sayang. semangat operasinya. semoga lancar ya sayang." Ucap mamah Falia.
Mereka turun ke bawah dan menuju ruangan Vino. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian operasi.
"Kamu tunggu di sini ya. Kalo kamu mau istirahat pindah ke kamar sebelah. pintu yang ujung. itu terhubung ke tempat aku istirahat. jangan lupa kunci pintunya jangan keluyuran. Nanti banyak yang godain kamu lagi."
"Kamu tuh yah protektif banget deh. Kaya beneran aku ini calon istri kamu."
"Aku gak pernah bercanda dengan kata kata aku ya. Kamu udah kenal sama orang tua aku. ngapain aku cuma pura pura. aku tuh maunya kita beneran jadi suami istri."
"Udah sana kasian pasien kamu nunggu. Aku tetep disini. dan aku pastiin aku mengunci pintu ruangan kamu sampai kamu dateng. kecuali jika aku laper aku pasti berkeliaran."
"Ya udah aku operasi dulu."
"Ya. sukses ya operasinya."
Vino hanya menganggukkan kepalanya sambil berlari ke arah ruang operasi. Ia melakukan operasi selama kurang lebih 3 jam lamanya. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Ia bergegas ke ruangannya. Ia membuka pintu dengan kunci cadangan yang ia pegang. Ia langsung mencari Adinda. Ternyata Adinda sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Vino langsung membersihkan dirinya dan mengganti pakaian nya. Lalu ia pun ikut berbaring di samping Adinda. Tak lama Adinda terbangun dari tidurnya. Ia hanya memperhatikan wajah Vino yang sangat dekat dengannya.
"Udah jangan di liatin aja. nanti hidung aku terbang lagi."
"Baru aja. belum lama kok."
"Oia Vin. aku mau nanya. Sebenernya hubungan kita tuh apa sih?"
"Kamu maunya apa?"
"Di tanya kok malah balik nanya sih. Aku nanya serius loh. Dimana mana perempuan itu butuh kepastian."
"Ok. sekarang aku nanya sama kamu. kalau kita beneran nikah kamu mau?"
"Jujur Vin. Gak tau kenapa aku udah ngerasa nyaman sama kamu. padahal baru kemarin kita ketemu. Aku gak bisa jawab sekarang kalau masalah itu."
"Kenapa gak bisa jawab?"
"Aku perempuan masa ia baru kenal sehari aja langsung mau di ajak nikah. Aku gak mau di cap jadi perempuan murahan. Sejujurnya semenjak kenal dengan kamu. aku ngerasa di perhatiin. Aku juga angerasa punya orang tua lagi pas tadi ketemu orang tua kamu. Aku takut itu hanya sesaat di kala kamu menginginkan aku. Aku juga gak mau terlalu terlena dengan semua perhatian kamu. Aku bingung. Aku gak tau harus melakukan apa."
"Jujur Din. sejak aku liat kamu aku udah tertarik sama kamu. aku juga udah mantap dengan hati aku jika aku hanya menginginkan kamu. Makanya aku gak ragu untuk ajak kamu ketemu sama orang tua aku. Kamu masih ingin bukti apa lagi?"
"Aku masih bingung Vin. Gimana kalo kita pacaran dulu aja. ya itung itung buat masa perkenalan. Gimana?"
"Baiklah. mulai hari ini kita resmi pacaran. kamu gak boleh lirik lirik lelaki lagi ya."
__ADS_1
"Harusnya aku yang bilang gitu. bukannya kamu itu terkenal playboy ya. kamu yang harus jaga mata kamu. Nanti yang ada malah aku yang di tinggal sama kamu."
"Gak akan dong sayang."Ucapnya sambil menghampiri dan memeluk Adinda.
"Kamu tuh ya. main peluk peluk aja."
"Biarin toh kamu pacar aku sekarang."
"Vin nyari makan yuk. laper nih."
"Kalo makan di kantin rumah sakit lagi ga apa apa? atau mau delivery dari tempat lain? Soalnya orang yang baru aku operasi masih harus di pantau."
"Ga apa apa kok. di kantin rumah sakit aja. kalau delivery lagi bakalan lama lagi dong."
"Kamu kaya kelaperan aja sayang."
"Jangan salah ya. gini gini aku makannya banyak loh."
" Tenang aja gak bakalan bikin aku bangkrut kok. Ayo kita nyari makan."
Mereka berdua keluar ruangan Vino sambil bergandengan tangan. Banyak mata yang tertuju pada mereka. Sesampainya di kantin ternyata ke tiga sahabat Vino sedang berada di kantin juga.
"Kayaknya ada yang kita gak tau nih." Ujar Axel
"Mereka udah manggil aku kamu tau gak." Kevin menambahkan.
"Kayaknya ada yang harus dirayakan saat ini." Tambah Raka
"Apaan sih kalian." Ujar Vino sambil duduk di kursi yang tepat berada di sebelah meja para sahabatnya.
"Tadi tante Falia bilang sama gue. katanya dia setuju kalau Vino sama Adinda. Gila kan ternyata mereka udah ketemu. Dan sepertinya respon tante Falia bagus." Ujar Kevin.
Obrolan mereka pun berlanjut. Tak terasa saat ini jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Vino mengantarkan Adinda pulang.
"Nih kunci mobil kamu. Aku pulang ya."
"Loh. terus kamu pulang pake apa?"
"Aku bisa naik angkutan umum nanti."
"Bawa aja nih mobil aku. Aku juga gak bakalan bisa nyetir sampe tangan aku sembuh. Ini cepetan ambil kuncinya."
"Ya udah. aku pinjem dulu mobilnya ya. Aku pulang." Ucap Vino sambil mengecup kening Adinda. "Masuk sana udah malem."
Adinda masuk ke dalam rumahnya yang terletak di lantai 3 butiknya. dan Vino melajukan mobilnya ke arah kediamannya.
__ADS_1