Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
LIMA PULUH SATU


__ADS_3

Adinda sedang menunggu proses operasi yang sedang di lakukan oleh Axel dengan pasien Vino. Saat ini Raka sudah menemani Adinda. Adinda masih menangis dalam dekapan Raka.


"Kak, Mas Vino pasti selamat kan Kak?" Tanya Adinda di tengah tengah tangisnya.


"Kakak yakin Vino pasti selamat. Kakak tau dia kuat." Ujar Raka menenangkan Adinda.


"Ini semua salah aku Kak. Aku sudah sepatutnya di salahkan." Lirih Adinda.


"Kamu gak salah apa apa Din. Kamu gak boleh nyalahin diri kamu sendiri." Raka berucap sambil menenangkan Adinda.


"Tapi ini memang terjadi karena aku Kak, Ini semua salah aku." Ucap Adinda.


Tak lama ponsel Adinda berdering. Ia melihat nama yang tertera adalah nama Safira yang menelfon dengan video call. Adinda segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya. setelah mengusap air mata di wajahnya.


"Halo Bunda.." Ujar Arkana di seberang sana.


"Halo sayang. Salamnya mana?" Jawab Adinda sambil tersenyum.


"Oia lupa. Assalamualaikum Bunda sayang."


"Wa'alaikum salam kesayangan bunda."


"Bunda gak pulang jemput aku?"


"Maaf sayang. Bunda belum bisa pulang."


"Iya gak apa apa Bunda. Ayah mana Bun?"


Tiba tiba Adinda meneteskan air matanya.


"Bunda jangan nangis. Aku gak nakal kok bunda. Aku baik disini." Lanjut Arkana.


"Bunda gak nangis kok sayang. Bunda cuma kelilipan barusan. Ayah masih sakit sayang. Doakan Ayah mu ya Nak. Semoga Ayah bisa sehat lagi. Jadi nanti kita bisa main bareng bareng lagi."


"Iya Bunda. Aku bakalan ngirim doa buat Ayah. Bunda disana sama siapa?"


"Di sini ada Papah kok sayang."


"Mana Bun, aku mau ngomong sama Papah."


Adinda memberikan ponselnya kepada Raka yang duduk di sebelahnya.


"Papah gak pulang juga?"


"Maaf sayang, Papah harus nemenin Bunda disini. Kasian kan kalau bunda sendiri disini."


"Semua pada sayang Bunda. Gak ada yang sayang aku"


"Kok gitu ngomongnya. Papah sayang banget sama kamu. Gak mungkin papah gak sayang kamu."


"Buktinya Papah nemenin Bunda gak nemenin aku."


"Kamu disana ada tante Safira sama Bianca. Ada Om Kevin juga. Kalau Papah pulang. Bunda disini sendirian. Kamu gak kasian bunda di tinggal sendirian."


"Om Kevin juga katanya mau nemenin Bunda ke rumah sakit."


"Gak ada sayang. Mungkin Om Kevin ke rumah sakit karena ada kepentingan."


"Ya udah deh. Papah tolong jagain Bunda ya. Ayah kan gak bisa jagain Bunda karena sakit. Aku juga gak bisa jagain Bunda soalnya jauh dari Bunda."


"Iya sayang. Papah pasti jagain Bunda. Sekarang jagoan Papah mending tidur. Udah malem loh ini."

__ADS_1


"Iya Papah. Aku tidur dulu kalau gitu."


"Jangan lupa pipis dulu. Terus gosok gigi dulu."


"Kenapa Pah?"


"Gosok gigi duli biar gigi kamu gak sakit. Pipis dulu biar kamu gak ngompol nanti."


"Siap Pah. Aku juga bakalan doain Ayah sebelum tidur biar Ayah sehat lagi. Jadi bisa jalan jalan lagi sama aku."


"Iya Nak. Udah sana tidur. Papah tutup ya telfonnya. Assalamualaikum jagoan Papah."


"Wa'alaikum salam Papah."


Telfon pun telah terputus. Adinda masih saja melihat pintu operasi tanpa mengalihkan pandangannya. Tak lama Kevin datang dengan tergesa.


"Gimana Vino?" Tanya Kevin


"Masih operasi. Kita belum tau. Axel masih di dalem." Jelas Raka.


"Sabar ya Din." Ucap Kevin sambil mengelus lengan Adinda.


"Ini semua gara gara aku Kak. Coba kalau aku gak ada niat buat balikan sama mas Vino. Manda gak akan nekat. Pasti mas Vino masih sehat sekarang. Hiks.. Hiks.. Hiks.." Racau Adinda.


"Dia bahagia banget Din saat kamu nerima dia lagi." Jelas Kevin.


"Harusnya aku yang terluka. Harusnya mas Vino gak perlu jadiin badan dia tameng buat lindungin aku. Harusnya aku yang mati bukan mas Vino. Harusnya aku aja yang terluka. Hiks.. Hiks.. Hiks.." Racaunya lagi.


"Sssstttt.. Kamu gak boleh bilang gitu. Kakak yakin Vino gak bakal suka denger kamu ngomong gitu Din." Ucap Raka menenangkan.


"Iya Din. Kakak juga marah denger kamu ngomong gitu. Apalagi Vino." Kali ini Kevin yang menimpali.


"Jelasin aja apa adanya." Jelas Raka.


"Mereka pasti nyalahin aku." ucap Adinda lagi.


"Gak bakal Din. Kita ber tiga udah kenal sama Tante Falia dari dulu. Dia gak pernah nyalahin siapapun atas apa yang menimpa anaknya. Karena mereka yakin, ini semua sudah menjadi keputusan Vino." Jelas Kevin.


"Sekarang Manda nya gimana Kak?" Tanya Adinda


"Dia udah di amankan oleh pihak kepolisian. Mungkin suatu saat nanti ada panggilan buat kamu jadi saksi atas kejadian hari ini." Jelas Kevin


"Aku kira Manda udah berubah. Udah lama benget dia diem tanpa berulah. Ternyata dia semakin kejam." Ujar Adinda.


"Dia itu sangat terobsesi sama Vino. Mungkin selama ini dia diem karena kalian berpisah. Pasti dia udah denger kalian bakalan balikan lagi. Makanya dia nekad kayak gitu." Balas Kevin.


"Bisa juga sih Kak. Aku gak nyangka aja cewek secantik dia bisa senekat itu karena seorang cowok." Jelas Adinda.


Mereka terdiam setelah obrolan mereka barusan. Mereka sibuk dengan fikiran mereka masing masing. Terlihat jelas kekhawatiran dari wajah mereka. Mereka yakin Axel akan berjuang demi kesembuhan Vino. Tiba tiba ponsel Adinda berdering tanda adanya pesan masuk. Setelah dilihat itu dari grup 'Cewek Kece'


Yola :


Gimana Kak Vino Din?


Adinda :


Operasinya belum selesai.


Safira :


Sabar ya Din. Semoga Kak Vino bisa sembuh lagi.

__ADS_1


Adinda :


Makasih ya doanya.


Vivian :


Sabar ya. Kita pasti doain yang terbaik buat Kak Vino.


Adinda :


Makasih ya. Oia Arkana gimana sekarang?


Safira :


Dia udah tidur. Dari tadi dia nanyain Ayah sama Bunda nya terus. Mana Papahnya juga gak ada.


Adinda :


Sorry ya gue ngerepotin lo Fir.


Safira :


Tenang aja. gue bisa handel Arkana kok. Lo fokus aja sama Kak Vino.


Adinda :


Makasih ya.


Safira :


Lo gak usah sungkan gitu dong.


Vivian :


Lo udah makan belum Din?


Adinda :


Nanti aja. Gue belum tenang kalau operasi mas Vino belum selesai.


Safira :


Tapi nanti setelah Kak Vino selesai operasi lo harus makan ya.


Adinda :


Iya. Gue usahain buat makan.


Safira :


Laki gue udah nyampe Din?


Adinda :


Ini Raka. Kevin udah disini. Dinda tiba tiba pingsan. Dari tadi dia nangis terus. Udah dulu ya chat nya. Kakak mau ngurusin Dinda dulu.


Raka segera menggendong Adinda dan membawanya ke UGD untuk di periksa. Setelah beberapa saat Adinda tersadar dari pingsannya. Ia lalu berusaha beranjak dari ranjang yang ia tempati.


"Gimana Mas Vino Kak?" Tanya Adinda kepada Axel yang sedang berbincang dengan Raka.


"Maaf Din.." Lirih Axel

__ADS_1


__ADS_2