Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
LIMA PULUH TIGA


__ADS_3

Saat ini waktu menunjukkan pukul 11 siang. Raka, Axel dan Kevin sedang bertugas di polinya masing masing. Sedangkan Adinda sedang duduk di sofa sambil memegang sketch book nya untuk membuat desain busana pengantin yang akan dikirimkan pada Yola. Adinda sedang asik dengan sketch booknya, hingga tiba tiba sebuah suata menginterupsi Adinda untuk berhenti melakukan kegiatan saat ini.


"Sayang.." Suara itu terdengar sangat lirih bahkan nyaris berbisik. Namun karena keadaan yang sangat sepi membuat Adinda bisa mendengar suara lirih tersebut.


"Mas.. Kamu sudah bangun? Mana yang sakit mas? Mas ngerasa pusing gak? Sebentar aku telfon Kak Axel dulu." Ucap Adinda. Ya suara tersebut berasal dari Vino yang baru tersadar setelah operasi yang ia jalani.


Adinda segera menelfon Axel melalu ponsel pribadinya.


Tut.. Tut.. Tut..


Hingga sambungan ke tiga Axel baru menjawab.


"Halo Din, ada apa?" Tanya Axel di seberang sana.


"Kak, Mas Vino Kak. Mas Vino sudah sadar." Ujar Adinda.


"Baik kalau gitu. Kakak kesana sekarang." Kevin segera menutup ponselnya dan menyimpannya di saku sneli yang ia kenakan. Ia segera berlari ke ruangan Vino dengan sebelumnya menitip pesan kepada suster yang membantunya jika masih ada pasien suruh saja menunggu atau bisa di alihkan ke dokter lain yang sedang bertugas. Karena menurut Axel, keadaan sahabat serta putra pimpinan rumah sakit paling utama.


Tak lama Axel masuk dengan tergesa dan segera memeriksa keadaan Vino. Axel sangat bersyukur karena keadaan Vino sangat baik untuk ukuran orang yang sudah terkena luka tusuk yang cukup dalam.


"Gimana Kak mas Vino? Baik baik aja kan?" Tanya Adinda.


"Dia baik kok Din. Sangat baik malah. Mungkin karena orang yang sangat dia cintai yang menjaganya." Jawab Axel.


"Gue udah berapa lama tidur?" Tanya Vino. "Gak lama kan?" Lanjutnya.


"Lo udah tidur selama 2 tahun. Untung aja dia setia." Jelas Axel dengan wajah sangat meyakinkan.


"Serius 2 tahun?" Tanya Vino tak percaya.


"Iya 2 tahun. Kalau dihitung jam belum sampai 24 jam sih." Balas Axel sambil terkekeh.


"Sialan lo. Gue kira bneran 2 tahun." Ucap Vino. Ucapan Vino membuat Adinda dan Axel tertawa.


Axel kembali ke poli karena masih ada pasien yang harus dia periksa. Sedangkan Raka sudah selesai dengan urusan polinya. Dan kini sedang menuju kamar rawat Vino. Raka belum tahu kalau Vino sudah sadar dari tidurnya. Tak lupa Raka membawa pizza yang telah ia pesan dan sudah di antar ke ruangannya. Raka masuk langsung duduk di sofa samping Adinda yang masih menyelesaikan desain baju pengantin yang belum selesai.


"Din, mending makan dulu. Nih kakak bawain sesuatu buat kamu." Ujar Raka


"Asiiikkk... Kakak tau aja kalau aku lagi laper." Jawab Adinda.


"Nih makan, atau mau kakak suapin?" Tanya Raka.


"Boleh boleh. Aku lagi nanggung soalnya ini tinggal detailnya aja." Lanjut Adinda.

__ADS_1


"Nih Aaaaa.." Ujar Raka menyuapi Adinda dengan pizza dan Adinda menerima pizza suapan Raka dengan senang hati.


"Gue liat semua loh." Ujar Vino yang membuat Raka tersentak kaget.


"Ya ampun. Gue kira lo belum sadar. Kapan lo sadar?" Ujar Raka sambil mendekati Vino


"Belum lama kok. Gue juga laper." Ujar Vino.


"Lo nunggu jatah makan rumah sakit. Lo belum boleh makan sembarangan. Sabar ya." Jawab Raka


"Boleh ya.. dikit aja. Ngiler gue liat itu. Mana gue laper banget ini." Rengek Vino.


"Gak boleh mas. Sabar ya. Kemarin usus kamu juga kena tusukan. Makanya jangan makan sembarangan dulu. Takutnya malah fatal." Jelas Adinda.


"Baiklah.. Baiklah.." Pasrah Vino.


Tak lama ada pegawai rumah sakit yang mengantarkan makan siang untuk Vino.


Tok.. Tok.. Tok..


"Permisi, saya mau mengantarkan makan siang." Ujar pegawai tersebut.


"Iya masuk." Jawab Raka.


"Tolong taruh di meja itu, dan mejanya bawa kesini." Jawab Raka.


Adinda bergegas membantu Vino untuk bangun. Secara perlahan karena takut melukai bagian bekas operasi Vino yang masih basah.


"Makasih sayang." Ujar Vino bertepatan dengan sampainya meja yang di dorong oleh pegawai rumah sakit ke hadapan Vino


"Semoga cepat sembuh dok. Tapi saya yakin jika dokter akan cepat sembuh karena yang merawat wanita cantik." Ucap pegawai tersebut.


"Terima kasih Pak. Iya saya juga yakin pasti cepat sembuh karena merawat saya itu bidadari tanpa sayap ini." Balas Vino membuat Adinda tersipu.


"Baik dok kalau begitu, saya permisi dok." ujar pegawai itu sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan kamar rawat Vino karena masih harus memberikan makan siang ke kamar yang lainnya.


Sepeninggalan pegawai itu ponsel Adinda tiba tiba berdering. Dilihatnya panggilan video dari Safira. Yang kemungkinan besar yang menelfon adalah Arkana. Adinda segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo Assalamualaikum." Jawab Adinda


"Wa'alaikum salam. Bunda kapan pulang?" Tanya Arkana.


"Nanti sore Bunda pulang sayang. Sabar ya." Jawab Adinda.

__ADS_1


"Ayah nya masih tidur atau udah bangun Bunda?"


"Ayah udah bangun. Mau bicara sama Ayah?"


"Mau bunda. Boleh?" Adinda menganggukkan kepalanya dan memberikan ponselnya kepada Vino.


"Halo jagoan Ayah." Sapa Vino saat menerima ponsel dari Adinda.


"Halo Ayah. Ayah masih sakit? Kok belum pulang?"


"Iya sayang. Ayah masih sakit. doakan agar Ayah cepat sembuh ya Nak. Biar kita bisa jalan jalan lagi."


"Siap Ayah. Nanti pas Ayah sembuh kita jalan jalan lagi ya Ayah."


"Kamu mau jalan jalan kemana sayang?"


"Kemana ya? Aku gak tau. Gimana Ayah aja."


"Baiklah. Ayah pikirkan tempatnya. Nanti setelah Ayah sehat, kita jalan jalan lagi. Kamu udah makan belum?"


"Udah Ayah. Aku udah selesai makan siang. Sekarang aku mau pergi ke rumah Tante Vivian Ayah. Kata Tante Vivian nanti malem aku tidur sama Nathan."


"Jadi Bundanya boleh nungguin Ayah gak?"


"Boleh deh. Aku kan ada Nathan nanti malem."


"Makasih jagoan Ayah. Udah bolehin bundanya jagain Ayah."


"Loh bukannya kamu minta Bunda buat pulang?" Tanya Adinda langsung gabung dengan Vino.


"Aku mau tidur sama Nathan aja Bun. hehe.." Jawab Arkana.


"Ok kalau gitu. Sekarang kamu mau pergi ke rumah tante Vivian?" Tanya Adinda.


"Iya Bunda. Ya udah, aku pergi dulu ya Bunda. Assalamualaikum. Arkana sayang Bunda dan Ayah." Ucap Arkana dengan masih setia menunggu jawaban orang tuanya.


"Wa'alaikum salam. Bunda juga sayang Arkana." Jawab Adinda.


"Wa'alaikum salam jagoan. Ayah juga sayang Arkana juga sayang Bunda." Jawab Vino.


Arkana terkekeh mendengar penuturan orang tuanya. Lalu setelah itu mengakhiri panggilan videonya.


Adinda langsung menyuapi Vino dan memberikan obat yang sudah di tentukan. Setelah itu Vino terlelap efek dari obat yang dia minum. Sedangkan Adinda menyelesaikan rancangan gaun pengantinnya dan mengirimkannya kepada Yola.

__ADS_1


__ADS_2