
Setelah kejadian saat Adinda meminta di antar untuk cek kandung ke Vino dan mendapat reaksi yang tak mengenakan dari Vino, Adinda menjadi pendiam. Ia juga memilih tidur di kamar tamu. Seperti malam ini. Setelah pulang mengecek kandungan, Adinda langsung pulang ke rumah. Ia menahan rasa sesak di dada nya sejak ia berangkat tadi. Saat ini ia masuk ke dalam kamar nya dengan Vino dan menangis sesegukan di atas ranjangnya. Saat Vino masuk dan hendak mendekati Adinda, Adinda langsung menghindar dari Vino.
"Aku akan buatkan makan malam" Ujar Adinda sambil berlalu dari hadapan Vino.
Vino sebenarnya sudah berdiri di depan pintu, saat ia mendengar Adinda menangis Vino mengurungkan niatnya untuk masuk. Vino mendengar suara tangis Adinda yang menyayat hati. Ia juga mendengar suara Adinda di sela sela tangis Adinda.
"Kenapa kamu berubah mas? Apa salah aku? Kenapa kamu jadi berbicara kasar sama aku."
Hanya kalimat itulah yang bisa Vino dengar saat Adinda tengah menangis. Kini Vino sudah selesai membersihkan dirinya dan turun ke bawah mendekati Adinda.
"Makanan nya udah siap. Aku ke kamar dulu."
Vino hanya menghela nafasnya melihat Adinda yang dingin dan menghindari dirinya. Namun Vino sedikit heran karena Adinda masuk ke kamar tamu bukan ke kamar mereka. Tak lama Adinda keluar dan menuju ruang tv untuk menonton televisi. Vino sejak tadi hanya melihat Adinda yang sedang mengutak atik ponselnya. Ia sedikit penasaran dengan apa yang sedang di lakukan oleh istrinya itu. Vino ikut terduduk di samping Adinda. Ia sempat melihat ponsel Adinda sejenak. ponsel Adinda menunjukkan jika Adinda sedang memesan sesuatu lewat aplikasi.
"Kamu pesan sesuatu?"
"Iya. Aku ke depan dulu. Sepertinya sudah sampai."
Tak lama Vino melihat Adinda membawa sekantung keresek yang berisi sate dengan bumbu kacang.
"Kenapa gak suruh aku kalo kamu mau sate? Aku kan bisa belikan."
"Aku bisa sendiri kok. Aku gak mau jadi beban buat orang di sekitar aku."
"Maafin aku sayang. Aku gak bermaksud bilang gitu ke kamu. Aku cuma lagi banyak fikiran. Kerjaan di rumah sakit lagi numpuk."
"Kamu mau gak mas?"
"Gak usah. buat kamu aja."
Adinda asik memakan satenya. Di samping nya Vino hanya terdiam menatap Adinda yang sedang memakan satenya. Setelah sate habis, Adinda kembali menonton tv. Vino dengan setia menemani Adinda. Mereka hanya menonton dalam keterdiaman. Adinda yang masih merasa sakit hati atas perkataan Vino hanya fokus ke tv di depannya. Biasanya Adinda selalu membuka percakapan terlebih dahulu.Saat waktu menunjukkan pukul 7 malam, Adinda kembali membuka aplikasi pesan antar nya. Ia sedang ingin memakan pizza. Ia memilih pizza yang ingin dia makan. Sebenarnya Adinda ingin memakan pizza langsung di tempatnya. Namun ia takut mendapatkan penolakan lagi dari Vino.
"pesan apa lagi sayang?"
__ADS_1
"Aku lagi ingin makan pizza."
"Yuk kita berangkat kalo kamu mau?"
"Gak usah. Aku udah pesen kok. Mungkin sebentar lagi datang."
"Aku mohon sayang. Maafin aku. Aku gak mau kayak gini. Aku mau kamu kayak kemarin kemarin yang bersikap manja dan selalu meminta aku untuk pergi membelikan sesuatu. Aku jadi merasa tidak berguna sebagai seorang suami."
"Ga apa apa kok mas. Selagi aku bisa. Aku pasti berusaha sendiri. Aku juga pakai uang aku sendiri kok. Biar aku gak nyusahin kamu mas."
"Aku mohon sayang. Jangan kayak gini." Ucap Vino sambil memeluk Adinda.
"Lepas mas. Pesanan aku udah di depan. Aku ambil dulu."
Adinda pun berjalan keluar rumah untuk mengambil pesanannya. Tak lama ia pun kembali ke depan tv dan membuka pizza yang telah ia pesan.
"Ayo mas makan."
"Aku ngantuk mas. Kalau mas mau abisin aja pizza nya. Aku tidur duluan ya mas."
Vino hanya menganggukkan kepalanya. pandangannya tak lepas dari gerak gerik isterinya. Vino sedikit kesal saat Adinda malah masuk kembali ke kamar tamu bukan ke kamar mereka. Vino segera menghampiri Adinda. Ia membuka secara perlahan pintu kamar yang Adinda tempati. Vino melihat Adinda telah meringkuk di atas kasur namun tubuhnya bergetar tanda bahwa ia sedang menangis. Vino langsung ikut merebahkan diri di samping Adinda dan memeluk Adinda dari belakang.
"Maaf sayang. Sungguh tolong maafkan aku. Aku mohon jangan menangis sayang. Aku benar benar minta maaf." Ujar Vino ikut menangis.
Adinda hanya terdiam mendengar perkataan Vino yang di selingi isak tangisnya.
"Aku mohon sayang. Jangan berubah. Aku lebih suka kamu yang manja. Kamu yang selalu mengandalkan aku. Aku bener bener minta maaf atas perkataan ku."
Adinda hanya terdiam. Vino berdiri mengitari ranjang. Lalu bersimpuh di hadapan Adinda. Ia juga masih menitikan air matanya. Ia melihat ke arah Adinda lalu mencium kening Adinda.
"Aku mohon sayang. Maafin aku. Aku mohon."
Adinda masih tidak menanggapi ucapan Vino.
__ADS_1
"Sayang.. Kamu boleh tampar aku. Kamu boleh pukul aku. Tapi jangan kayak gini sayang. Maafin aku. Aku udah salah membawa masalah pekerjaan ke rumah dan melampiaskannya padamu. Aku mohon sayang maafin aku." Ucap Vino sambil menggenggam tangan Adinda dan menciumi punggung tangan Adinda.
"Sayang.. Aku mohon." Ujar Vino sambil terisak di hadapan Adinda.
Adinda yang melihat hal tersebut langsung duduk dan menyuruh Vino untuk duduk di sebelahnya. Tanpa banyak kata Adinda langsung memeluk Vino. Ia melanjutkan menangis di dalam pelukan Vino.
"Maafin aku sayang. Kumohon." Mereka berdua menangis bersama. Biarlah Vino di anggap lelaki cengeng asal dia mendapatkan maaf dari Adinda.
"Aku udah maafin kamu kok. Cuma gak tau kenapa ucapan kamu terus terngiang ngiang. membuat hati aku sakit Vin."
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu gak sakit lagi sayang?"
"Aku gak tau Vin."
Vino hanya memeluk sambil mengelus punggung Adinda.
"Udah sayang jangan nangis lagi. Kalo Bundanya sedih baby juga pasti sedih."
Mendengar perkataan itu Adinda langsung berhenti menangis.
"Maafin Bunda sayang. Bunda terlalu terlarut dalam kesedihan. Bunda gak mikirin kamu sayang. maafin Bunda ya Nak." Ujar Adinda sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit.
"Maafin Ayah juga ya Nak. Ayah sudah membuat Bunda kamu sedih."
Vino lalu merebahkan kepalanya di paha Adinda. Ia mengarahkan bibirnya ke perut Adinda dan menciumi perut Adinda. Baby kembali merespon dengan bergerak lincah di dalam perut Adinda. Vino lalu beranjak dari posisinya dan duduk di samping Adinda.
"Sayang.. Kayaknya baby kangen tuh sama Ayahnya. Minta Ayahnya buat tengokin dia. Gimana dong Bunda?"
"Modus kamu mas."
"Boleh ya." Ujar Vino memohon.
Adinda menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Lalu ia pun mengangguk. Tanpa aba aba Vino langsung membawa Adinda ke kamarnya. Dan terjadilah malam panjang yang diinginkan Vino.
__ADS_1