Dokter Hatiku

Dokter Hatiku
DUA PULUH TUJUH


__ADS_3

Di Kota lain tepatnya di Bandung. Vino telah selesai bermain saat waktu menunjukkan pukul2 siang. Ia segera mengabari Adinda. Ia sendirian di vila. Sedangkan Axel sedang pergi entah kemana. Vino mendudukan dirinya di kursi yang berada di teras villa nya. Sambil meminum kopi instan yang di buatnya sendiri.


Vino :


Sayang aku baru selesai main nih.


Adinda :


Asik bener sampe lama gitu mainnya.


Vino :


Keasikan yang. hehe.. Maaf ya. Lagi apa sayang? Kok aku kangen kamu ya.


Adinda :


Lagi jalan di mall sama Safira terus gak sengaja ketemu sama dokter Raka dan dokter Kevin.


Tak lama Vino menelpon Adinda. Adinda langsung mengangkat telfon dari suaminya itu.


"Halo Assalamualaikum mas."


"Wa'alaikum salam. Sayang kok kamu malah jalan sama Raka sama Kevin sih."


"Kan ga sengaja ketemu mas. Anggep aja aku bawa bodyguard." Ucap Adinda sambil terkekeh.


"Kamu tuh ya. Kalo mereka denger bisa ngamuk mereka di katain bodyguard."


"Ya jangan bilang bilang dong. Biar mereka gak tau."


"Mana coba kasihin telfonnya ke Raka atau Kevin. Aku mau ngomong sesuatu."


"Kamu gak lagi dalam mode cemburu kan mas?"


"Gak sayang. Aku percaya sama kamu. Lagian 2 makhluk itu gak mungkin ngerebut isteri dari sahabatnya sendiri."


"Ok sayang bentar ya." Adinda memberikan ponsel nya ke Raka karena Kevin sedang asik mengobrol dengan Safira.


"Apaan lo mau ngomong sama gue? Kangen lo sama gue?" Tanya Raka saat menempelkan telfon Adinda di telinganya.


"Diih najis gue kangen sama lo."


"Terus mau ngomong apa?"


"Jagain isteri gue ya."


"Ga usah lo suruh. Gue pasti jaga dia."


"Oia Kevin lagi PDKT sama Safira? Udah mulai maju tuh anak."


"Iya. gue sengaja ajak ngobrol isteri lo. Biar Safira sama Kevin bisa ngobrol. Siapa jadi kayak lo dan Adinda."

__ADS_1


"Bagus deh gue dukung mereka."


"Gue juga dukung mereka makanya gue kasih kesempatan mereka buat berdua."


"Lo berdua sama isteri gue?"


"Iya. Kenapa? cemburu lo? Gak bakalan gue embat kok. Tenang aja.Dia udah kayak adik buat gue."


"Ok deh kalo gitu. Gue tutup dulu telfonnya. Bye." Tanpa menunggu jawaban Vino langsung mematikan sambungan telfonnya.


Vino melihat seseorang melewati villanya. Seseorang itu adalah Tissa. Ya Tissa yang merupakan sahabat dan cinta pertama Vino.


"Tissa." Panggil Vino


Tissa yang merasa namanya di panggil langsung menoleh ke sumber suara. "Eh.. Vino?"


Vino langsung memeluk Tissa saat Tissa berbalik menghadapnya. Vino masih merasakan getaran yang sama di hatinya seperti dulu. Ternyata perasaan untuk Tissa tak pernah berubah meskipun ia telah menikah.


"Iya ni aku Vino. Kamu lupa sama aku?"


"Gak kok aku gak lupa. Gimana kabar Raka, Kevin dan Axel?"


"Mereka baik kok. Axel sebenarnya ada di sini juga. Cuma dia lagi keluar. kok malah nanyain yang lain sih?"


"Masa iya aku nanya keadaan kamu sedangkan jelas jelas kamu ada di hadapan aku sekarang."


"Iya juga sih. Kamu gak kangen sama aku?"


"Eh... Kok nanya gitu..Kamu ngapain di sini?"


"Masih suka main juga kamu?"


"Masih. Ini kan tempat favorit kita main Tis. Emang kamu udah gak main?"


"Enggak Vin. Aku udah berhenti main sekarang."


"Kenapa?"


"Ga kenapa napa kok."


"Kamu kemana aja sih selama ini? Aku bingung nyari kamu yang pergi tanpa pamit. Makanya aku sering kesini berharap akan ketemu kamu."


"Aku selama ini tinggal di Singapur Vin."


"Kenapa sampe ke luar negeri? Kamu juga pucet banget sih? Kamu sakit?"


"Aku gak kenapa napa kok Vin."


"Ga usah bohong sama aku. Aku dokter. Dengan liat aja aku tau kamu sakit. Kamu sakit apa?" Mendengar penuturan Vino Tissa hanya tersenyum. "Jangan cuma senyum tapi jawab dong."


"Ginjal aku udah rusak Vin. Sekarang aku harus rutin cuci darah. Aku ke Singapura ikut tante ku di sana. Berharap pengobatan disana bisa bikin aku sembuh. Sekarang aku tinggal di rumah aku yang dulu. Aku ke Bandung jengukin Nenek. Udah ke jawab kan semua pertanyaan kamu?"

__ADS_1


"Iya. Maaf aku gak tau kamu sakit."


"Ga apa apa kok. Doain aja aku bisa sembuh lagi."


"Mana ponsel kamu?"


"Buat apa?"


"Sini aja" Vino mendial nomornya di ponsel Tissa dan menelfon ke ponselnya. "Save itu no ponsel aku. Kabari ya kalo kamu udah balik ke Jakarta."


"Iya. Ya udah aku pulang dulu ya. Nenek pasti nunggu di rumah."


"Mau aku antar?"


"Gak usah. Rumah Nenek deket kok dari sini.Lagian mau anter aku pake apa? Pake sepeda?"


"Oia ya. Mobil lagi di pake Axel. Ayo kalo mau di anter pake sepeda. Biar romantis."


"Jangan gila kamu. Udah ah. Aku pulang ya."


"Hati hati ya." Ucap Vino sambil mengecup kening Tissa.


Tissa kemudian terdiam seperti patung. Merasakan jantungnya yang berdetak tak karuan. Sebenarnya Tissa juga memiliki perasaan yang sama seperti Vino. Namun ia tak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Ia juga takut akan penolakan dari Vino. Ia berfikiran Vino hanya menganggapnya sahabat. Tak lama Tissa mulai membalikan badannya dan pergi meninggalkan Vino. Di dalam mobil Axel melihat apa yang Vino lakukan. Ia memarkirkan mobil dan keluar dari mobilnya.


"Lo apa apaan Vin nyium cewek seenak jidat lo?"


"Dia Tissa."


"Gue tau dia Tissa. Ngapain lo bertindak kayak gitu? Mau nyakitin 2 wanita sekaligus lo?"


"Gue gak tau Xel. Perasaan gue ke Tissa gak pernah berubah sampai saat ini. Gue pengen miliki dia. Tapi gimana dengan Adinda. Gue bingung."


"Inget.. Dinda lagi mengandung anak lo. Jangan sampe lo nyesel."


"Jujur gue gak cinta sama Dinda. Gue cuma liat kemiripan antara dia dan Tissa. Makanya gue deketin dia dan nikahin dia. Hanya sekedar tuk melepaskan rindu gue ke Tissa."


"Lo brengsek Vin. Gue gak nyangka punya temen sebrengsek lo."


"Gue cuma cinta sama Tissa. Apa yang salah sama perasaan gue ini?"


"Jelas lo salah. lo udah punya isteri. Sadar lo."


"Gue bakal ceraikan Dinda demi Tissa."


"Bangsat lo."


BUGH.. BUGH.. BUGH..


Axel memukuli Vino berulang kali. Hingga meninggalkan memar di wajah tampan Vino. Vino hanya diam mendapat perlakuan dari sahabatnya.


"Kalo sampai lo nyakitin Dinda.Lo bakal berurusan sama gue. Gue yakin Raka dan Kevin gak akan tinggal diem. Dinda udah seperti adik buat kita bertiga. Inget itu." Ancam Axel.

__ADS_1


Axel pergi meninggalkan Vino dan masuk ke dalam villa. Vino segera membersihkan dan mengolesi luka nya dengan obat berharap memar yang ia dapat bisa segera menghilang dan tidak membuat Adinda bertanya tanya.


Saat ini Axel dan Vino sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Axel senantiasa mendiami Vino sepanjang perjalanan. Ia masih kesal dengan pernyataan Vino.


__ADS_2