
Pagi ini Adinda membuatkan sarapan untuk Vino. Tentu saja untuk dirinya dan Arkana juga. Mamah dan Papah Vino masih belum pulang. Namun mereka sudah mengetahui jika Vino dan Adinda akan kembali bersama dalam waktu dekat. Tepatnya kurang dari seminggu. Mengingat Vino ingin mereka menikah kembali di tanggal yang sama dengan mereka pertama kali menikah. Vino sangat antusias meskipun ini adalah pernikahan kedua untuknya dan dengan wanita yang sama seperti yang pertama. Namun Vino dengan serius menyiapkan segala sesuatunya.
Awalnya, Adinda menginginkan mereka menikah di Bandung. Di tempat kediaman orang tuanya dulu. Namun, Mamah Falia menginginkan menikah di rumahnya. Mengingat Mamah Falia baru akan pulang sehari sebelum Adinda dan Vino menikah. Dengan alasan butuh istirahat, jika harus kembali berkendara ke Bandung bisa dipastikan waktu istirahat untuk Mamah dan Papah Vino akan sangat berkurang. Adinda akhirnya menyetujui menikah di kediaman Vino, dengan pertimbangan kesehatan mertua nya. Ralat calon mertua maksudnya.
Adinda masih berkutat dengan peralatan dapur. Ia menyiapkan hidangan sederhana. Hanya memasak ayam goreng, tempe mendoan dan capcay. Karena persediaan bahan di rumah Vino hampir habis. Karena biasanya Mamah Falia sendiri yang akan berbelanja. Karena Mamah Falia sedang berada di luar kota, Jadi rencananya hari ini Adinda akan pergi belanja bulanan untuk mengisi bahan di kulkas rumah Vino.
Tanpa Adinda sadari sedari tadi Vino duduk di meja bar yang menjadi penyekat antara ruang makan dan dapur. Vino menopang dagu dengan kedua tangannya. Dengan serius ia melihat setiap gerakan Adinda. Adinda yang bergerak kesana kemari tak luput dari pandangannya. Vino tersenyum melihat Adinda yang sedang asik dengan aktifitas memasaknya dengan sesekali bersenandung. Sampai Adinda tidak menyadari Vino sudah berada disana cukup lama. Saat masakan Adinda sudah tersaji di atas piring, wajah Adinda berbinar melihat hasil masakannya hari ini. Vino ikut tersenyum melihat wajah Adinda yang menurutnya sangat menggemaskan. Adinda hendak menyimpan hasil masakannya ke atas meja makan. Ia pun merasa kaget dengan keberadaan Vino yang sedang melihat ke arahnya.
"Astagfirullah.. Kamu tuh ya ngagetin aja." Ucap Adinda
"Aku udah dari tadi loh disini. Kamu nya aja yang gak sadar." Vino
"Sejak kapan? Ko aku gak sadar ya."
"Kamu tuh terlalu asik sama kegiatan kamu. Makanya kamu gak sadar kalau aku ada disini."
"Iya mungkin ya. Oia Arkana mana? Dia belum bangun?"
"Udah. Lagi mandi."
"Ya udah makan duluan aja mas. Kamu harus minum obat. Nanti setelah itu aku ganti perban kamu."
"Siap Nyonya besar."
"Dasar kamu ini ya."
"Suapin."
"Kamu tuh udah gede mas. Nanti kalau Arkana liat gimana?"
"Biarin aja dia liat. Aku gak masalah kok."
Adinda menaruh nasi dan lauk pauknya di atas piring dan memberikannya kehadapan Vino.
"Nih makan. Gak usah banyak protes. Makan sendiri aja. Yang sakit itu perut kamu mas. Bukan tangan kamu." Vino hanya terkekeh mendengar penuturan Adinda.
__ADS_1
Adinda segera masuk ke kamar yang nantinya akan menjadi kamar milik Arkana. Untuk memberitahukan anaknya untuk segera sarapan. Karena hari ini mereka berencana membeli perlengkapan kamar Arkana. Adinda segera menyiapkan pakaian yang akan dipakai oleh Arkana. Setelah Arkana selesai mandi dan berpakaian, Adinda dan Arkana segera menuju meja makan untuk sarapan.
"Mas, hari ini aku ke mall ya sama Arkana. Aku mau beli kebutuhan dapur. Sama sekalian membeli perlengkapan untuk mengisi kamar Arkana. Boleh ya?" Tanya Adinda kepada Vino.
"Yakin pergi berdua aja?" Vino masih mengingat kejadian saat Adinda kecelakaan dulu saat Adinda hanya pergi berdua dengan Arkana.
"Arkana kan udah besar mas, lagian kan masih belanja di dalam kota. Gak sampe ngabisin waktu sampe berjam jam. Aku yakin Arkana bakalan anteng anteng aja kalau perjalanan nya gak terlalu lama." Jelas Adinda. "Aku juga butuh beberapa hiasan untuk baju hari nikahan kita mas."
"Ajak siapa gitu yang bisa. Aku gak bakalan tenang kalau kalian pergi cuma berdua. Atau di anter supir deh. Mau ya?"
"Ya udah terserah mas aja."
"Sebentar, aku bakalan telfon orang yang bisa nyupirin kamu."
Vino segera mengambil ponselnya dan mendial nomor seseorang. Tak lama kemudian orang tersebut sudah berada di depan rumah Vino.
"Permisi. Den Vino." Ucap Bapa tersebut yang bernama Pak Yanto, saat melihat Vino berjalan menghampirinya di ruang tamu.
"Mari Den, mau berangkat sekarang?" Tanya Pak Yanto lagi.
"O iya Den. Bapak siapkan dulu mobilnya." Ucap Pak Yanto sambil berjalan menuju garasi.
Pak Yanto memang sesekali suka mendapat perintah untuk menyupiri Vino ataupun orang tua Vino. Rumah Pak Yanto pun tak jauh dari komplek perumahan Vino.
"Mas, ayo aku gantikan dulu perbannya." Ucap Adinda sambil memapah Vino untuk masuk ke kamarnya.
"Sayang.. Aku gak sabar pengen tidur sambil peluk kamu lagi kaya dulu. Di kasur ini ni. Udah banyak cerita kita disini." Ujar Vino saat sudah sampai di dalam kamarnya.
Adinda hanya tersenyum mendengar penuturan Vino. Adinda saat ini duduk di tepian ranjang, dengan Vino yang tidur terlentang agar Adinda mudah untuk menggantikan perbannya. Sedangkan Arkana sedang menonton serial kartun kesukaannya di ruang tv sambil menunggu Adinda.
"Selesai." Ujar Adinda.
Saat Adinda hendak bangun, Vino tiba tiba menarik tangan Adinda. Adinda yang tidak siap dengan tarikan Vino, seketika jatuh menimpa tubuh Vino. Vino langsung mengaduh kesakitan karena tanpa sengaja luka nya tertidih oleh badan Adinda. Adinda panik dan segera bangun dari atas tubuh Vino.
"Mas.. Kamu ga apa apa kan? Sakit banget ya. Aduh gimana dong ini. Kita ke rumah sakit ya." Ujar Adinda di tengah ke khawatirannya. Sedangkan Vino hanya tersenyum di tengah ringisannya.
__ADS_1
"Aku ga apa apa kok sayang. Udah gak usah panik gitu. Sini duduk disini." Ucap Vino sambil menepuk pinggiran ranjang.
Saat Adinda sudah duduk, Vino segera memeluk pinggang Adinda dan menenggelamkan wajahnya ke perut datar Adinda.
"Mas, apa apaan sih."
"Sebentar sayang." Ujar Vino.
Ia melakukan itu untuk menutupi wajahnya yang sedang menahan sakit yang luar biasa dari luka bekas tusukannya. Adinda merasakan tubuh Vino mulai mengeluarkan keringat.
"Mas, kamu keringatan loh mas. Sakit banget ya. Maaf aku tadi gak siap pas kamu narik aku. Maaf banget mas." ujar adinda dengan mata yang berkaca kaca.
Vino mulai merenggangkan pelukannya dan melihat ke arah wajah Adinda. Adinda dapat melihat wajah pucat Vino yang sedang menahan sakit. Tanpa komando, air mata Adinda luruh begitu saja.
"Bukan salah kamu kok sayang. Jangan nangis dong." Ucap Vino sambil mengusap air mata yang keluar dari mata Adinda. "Kamu pergi aja, kasian Pak Yanto udah nunggu kamu. Aku bakalan tidur setelah minum obat ini." Lanjut Vino.
"Gak mas, aku gak jadi pergi deh. Aku disini aja nemenin kamu." Ucap Adinda.
"Kasian Arkana kalau gak jadi. Dia udah siap loh. Nanti dia malah rewel lagi kalau gak jadi pergi."
"Kamu beneran ga apa apa aku tinggal?"
"Ga apa apa sayang. Kan ada bibi. Kalau aku butuh sesuatu, aku bisa minta tolong sama bibi. Udah pergi aja, kasian Arkana."
"Ya udah, aku pergi dulu ya mas. Kalau ada apa apa langsung hubungi aku ya."
"Iya sayang."
CUP.. Adinda mengecup kening Vino dan mencium punggung tangan Vino sebelum berangakat.
"Assalamualaikum." Ucap Adinda sambil berlalu ke luar.
"Wa'alaikum salam."
Tak lama setelah kepergian Adinda, mata Vino mulai terpejam efek dari ia meminum obatnya.
__ADS_1