Don'T Forget Me 2

Don'T Forget Me 2
12. Cinta pertama yang tidak sempurna


__ADS_3

Reiga yang kebosanan menunggu, diapun mengetikan pesan singkat diponselnya untuk Melody.


:selamat bercinta, aku pulang duluan ma


setelah itu dia memutuskan untuk pergi saja, dan tidak mengganggu malam indah mereka.


Tidak ada tujuan berikutnya, hanya menikmati hiruk pikuk suasana kota dengan mobil hitam kesayangannya. sampai membawanya ke Toserba tempat Shayla bekerja, diapun mampir sebentar ke sana. Namun hal yang tak ingin dilihatnya terjadi, dimana saat ini Shayla tengah bermesraan dengan Daren,


"Aku mau naik ke punggungmu" pinta gadis itu


"tidak tidak, kau kan berat,aku tidak kuat!" tolak Daren.


"ayolah, kumohon..." Shayla mengedipkan mata indah dengan bibir yang mengerucut tanda memohon, dan itu sukses membuat Daren tidak tahan untuk menarik hidung mungilnya.


"baiklah, tapi hanya tiga detik!"


"yeay terimakasih!"


Bruk!


langsung saja dia melompat ke punggung Daren, mengapitkan kakinya diantara paha pria itu.


"1..2..3..turun!"


"tidak mau!"


"Ayolah, ini sudah lebih dari tiga detik, turun dari punggungku!" Daren berusaha melepaskannya, namun Shayla malah semakin menempel seperti seekor koala.

__ADS_1


dia tertawa penuh cinta, sementara pria itu hanya mengoceh dan terus mengatakan Shayla mangga muda yang menyebalkan.


Reiga kembali memutar langkahnya, seharusnya dia tidak mampir kesini dan tidak perlu melihat itu tadi, bahkan Shayla tidak pernah melihatnya seperti itu, sudah terlihat jelas dimatanya kalau dia menyukai Daren.


"Reiga!" teriak seseorang dari belakang.


Reiga menghentikan langkahnya dan berbalik, melihat Daren yang berlari ke arahnya.


"aku melihatmu, kenapa kau tidak masuk?"


"tidak mau mengganggu!" jawabnya.


"dasar kau ini, boleh aku menumpang?" tanyanya.


"hmm"


"bagus, aku yang menyetir!" Daren mengambil kunci mobil ditangan Reiga, dan mereka langsung masuk ke mobil.


"jadi, bagaimana?" tanya Daren, saat ini mereka tengah diperjalanan menuju pulang.


"apanya?"


"hubunganmu"


"dengan siapa?"


Daren menarik nafasnya panjang dan menghembuskan secara perlahan.

__ADS_1


"ayahku dan ayah kandungmu!"


Reiga terdiam, dan memilih untuk menghening dengan tatapan lurus ke depan, tidak ada yang perlu dia ceritakan, karna seperti yang orang bilang, kisah kelahirannya itu mustahil dan mereka akan menganggapnya dongeng belaka.


"aku seperti berbicara dengan batu!" ucap Daren karna tak mendapat responnya.


"baiklah, kau tidak mau bicara, biar aku saja yang bicara" ucapnya lagi.


"sebenarnya, saat pertama kali aku tinggal dengan ayahku, dia orang yang terlihat membosankan, selain kerja dikantor pekerjaannya hanya melamun dan melamun, tidak pernah melakukan hal lain seperti mengajakku liburan atau bermain, dan itu membuatku selalu bosan saat dirumah. Tidak ada tempat untuk bicara karna ibuku meninggalkanku saat usiaku 10 tahun, entah kemana dia.." Daren menjeda kalimatmya, melihat Reiga yang setia memdengarkan.


"dan sekarang aku tahu" Daren melanjutkan "kenapa ayah selalu melamun seperti itu, karna dia mengingat penyesalan tentang kehilangam adiknya, yah itu ayahmu...Aku pun mulai bertanya padanya mengenai siapa itu Glan, dan ayah bercerita tentangnya sembari memperlihatkanku sebuah foto ayahmu, aku begitu terkejut karna kau sangat mirip dengannya, karna itu aku membawamu pulang, dan sekarang ayah sudah tidak khawatir lagi, dia mengajaku bicara dan tidak pernah melamun seperti biasanya" jelas Daren panjang lebar.


"syukurlah!" sahut Reiga singkat jelas dan padat.


"sekarang kita saudara!" Daren memasang senyum bahagianya meski Reiga tak begitu merespon. dia hanya menganggukan kepala dengan pelan.


"dan..bagaimana hubunganmu dengan ayah tiri sekarang?." Daren kembali bertanya.


"seperti biasanya..." jawabnya dengan fikiran melayang, mengingat semua itu sepertinya dia harus meminta maaf pada Aldrich, karna bagaimanapun, yang membiayai hidupnya dan ibunya adalah ayah tirinya.


"sudah sampai, terimakasih tumpangannya!" ucap Daren membuat Reiga langsung tersadar dari lamunannya. Daren langsung turun dari mobil dan menutup pintu.


"tunggu!" teriak Reiga sebelum dia pergi.


"terima kasih, Daren!" ia melambai dengan wajah datarnya.


"jangan berterima kasih, aku tidak melakukan apapun untukmu, oh ya aku baru ingat, Shayla bilang dia ingin berlatih melukis bersamamu untuk pameran sekolah bulan depan, kita berlatih bersama ya, aku juga tidak akan menyia-nyiakan bakat menganyamku"

__ADS_1


"baiklah!" ucapnya lalu melajukan mobilnya kembali.


Yah, dia tidak akan mengatakan apapun tentang perasaannya baik pada Shayla ataupun Daren, mereka baru saja mulai berteman, dan tidak akan menghancurkan pertemanan mereka karna rasa cinta. Meskipun cinta pertamanya tak sempurna.


__ADS_2