Don'T Forget Me 2

Don'T Forget Me 2
13. Pancake


__ADS_3

Hari hari berlalu, mereka sudah mempersiapkan keperluan untuk melukis. Daren pun membawa setumpuk daun pandan kering dan Rotan untuk membuat sebuah anyaman yang bisa ia buat. Mereka mengerjakannya di Apartemen Shayla, karna perlengkapan melukisnya lebih lengkap. dan jangan lupakan Felisya, si pendekor ruangan yang sempurna, meski suka sekali usil, dia tetap yang terbaik.


begitu mereka masuk ke Apartemennya, seorang nenek menyambut hangat kedatangan mereka.


"kenalkan ini nenekku, baru saja tinggal disini beberapa minggu lalu!" Shayla memperkenalkan sang nenek yang rambutnya sudah putih semua dan digelung rapi.


"halo nek, nama saya Daren dan ini teman teman saya!" sapa Daren dengan sopan, seraya memperkenalkan Reiga dan Felisya padanya.


Sang nenek hanya tersenyum dan memperlihatkan deretan giginya yang masih lengkap dan rapi.


"silahkan duduk, nenek akan menyiapkan-"


"tidak perlu repot repot nek, kita sudah membeli makanan!" potong Shayla tak mau merepotkan sang nenek.


Merekapun memulai aktifitas mereka sambil berbincang bincang.


"sejak kapan Kak Daren bisa menganyam?" tanya Felisya meraih beberapa daun pandan kering yang entah akan dibuat apa oleh Daren.


"Sejak SD, aku sering ikut lomba antar sekolah dan selalu mendapat juara 1!" jawabnya.


"waw hebat sekali, tapi aku ingin tahu, kenapa kau memilih kerajinan ini? melihatnya saja aku sudah gerah!"

__ADS_1


Daren terdiam sejenak, setelah itu dia tersenyum hambar. "sebenarnya aku lebih tertarik untuk jadi koki, tapi..."


"kenapa?" tanya Felisya dan Shayla hampir bersamaan.


"ah lupakan saja, kau sendiri sejak kapan pandai melukis?" Daren balik bertanya.


"sejak SMP, nenekku yang mengajarkannya!"jawab Shayla.


Mereka tak berhenti bersuara, hanya Reiga yang fokus dan tenggelam dalam kenyamanannya, sampai nenek Shayla datang membawa semangkuk Pancake yang disuguhkan untuk mereka.


"Pancake?" tanya pria itu akhirnya bersuara, yah, itu makanan kesukaannya. Reiga mengambilnya duluan dan mengucapkan terimakasih.


"nenek, kan sudah kubilang tidak perlu menyiapkan apapun!" ucap Shayla.


"aku ambil satu ya nek!" Felisya mengambil Pancake nya dan langsung melahapnya dengan nikmat.


"enak sekali nek, kak Daren harus mencobanya juga!" tutur Felisya dengan mulut penuh.


Sementara Daren hanya diam, wajahnya terlihat murung, tidak semangat seperti tadi. Shayla yang menyadari hal itu langsung memegang pundaknya.


"ada apa?"

__ADS_1


Daren bergeming cukup lama, matanya terus tertuju pada Pancake tersebut.


"Pertama-tama, masukan telur ke dalam wadah, lalu campurkan gula pasir kemudian aduk sampai tercampur rata" ucapnya dengan tatapan kosong, membuat mereka hanya diam memperhatikan.


"setelah itu tuang susu cair, lalu aduk kembali agar tercampur rata, selanjutnya masukan tepung terigu dan baking powder, aduk sampai tercampur rata" tatapannya masih tidak beralih.


"masukan margarin yang sudah dilelehkan dan aduk kembali, setelah itu panaskan teflon, lalu masukan satu centong adonan Pancake kedalam teflon, tunggu sampai adonan muncul lubang-lubang kecil, jika sudah muncul lubang lubang kecil langsung dibalik dan tunggu sebentar, Pancake pun siap dihidangkan" mata Daren sudah berkaca kaca.


"aku berhasil membuatnya, tapi..." suaranya semakin tercekat, seperti akan menangis.


"aku berhasil membuatnya, tapi..." ia masih tak bisa melanjutkan kalimatnya.


"tapi... ibuku tidak pulang pulang juga...Aku menunggunya lama dan memakan Pancakenya sendirian..." matanya sudah memerah, ia menangis seperti anak kecil yang baru lulus TK.


"ya ampun, kau sangat berlebihan!" Ucap Shayla sambil mengelus punggungnya, dan sesekali merangkul bahunya.


"dasar cengeng!" cibir Reiga.


"kakak jangan katakan itu padanya, Kak Daren sangat sedih karna ibunya pergi!" nasihat Felisya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2